Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 72.


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba. Di kamar Apartemen Barra. Terlihat Barra dan Regina yang masih tertidur dan dengan selimut yang menutup tubuh polos mereka


Sinar matahari membuat Regina membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa remuk dengan ulah Barra yang tadi malam tidak henti-hentinya menyerangnya. Membuat Regina memijat kepalanya dan mencoba duduk.


"Auhhh!"lirih Regina yang merasa sangat sakit di bagian intinya. Bagaimana tidak sakit Barra tidak peduli kepadanya dan membuatnya merasakan sakit yang berlebihan.


"Astaga aku sampai terlambat. Padahal Aku ada kuliah pagi. Aku harus cepat-cepat ke kampus, jangan sampai aku terlambat, belum lagi dosennya galak," ucap Regina yang mengingat jadwalnya dan Regina langsung turun dari ranjang. Namun tiba-tiba tangannya tertahan membuat Regina melihat ke belakangnya dan ternyata Barra yang menahannya.


"Kamu mau kemana?"tanya Barra dengan suara seraknya khas bangun tidur yang menghentikan langkah Regina.


"Barra aku ada kuliah pagi. Aku harus cepat ke kampus, kami ada ujian praktek hari ini. Nanti aku bisa telat," ucap Regina.


Barra menarik regina sehingga Regina sudah berada di bawah Barra dengan tangan Regina yang memegang erat selimut dan dia begitu dek-dekan. Apa lagi di tatap dengan intens oleh Barra.


"Ini masih pagi Regina. Jangan buru-buru pergi dari ku. Aku masih menginginka mu," ucap Barra dengan menyeriangi nakal di wajahnya sembari tangannya mengelus-elus pipi Regina dengan lembut yang membuat Regina gugup.


"Ta-tapi Barra!" Regina tidak bisa berbicara lagi. Ketika Barra langsung membungkam mulutnya dengan ciuman sebentar dan Barra langsung melepasnya.


"Kau sangat cantik Regina dan mampu membuatku sangat bahagia bersamamu. Aku benar-benar sangat menyukaimu dan menginginkan mu lagi. Kamu wanita yang mampu membuatku sebahagia ini. Kamu memberiku kebahagiaan tadi malam," ucap Barra yang kembali mengeluarkan rayuan mautnya dan kata-kata manis itu mampu membuat Regina tersenyum. Maklum saking polosnya hari jadi hanya tersenyum saat di rayu Barra.


" Sekarang aku bertanya padamu. Apa kamu menyukaiku?" tanya Barra.


"Jika tidak menyukaimu mana mungkin aku menyerahkan kesucian ku kepadamu," jawab Regina dengan polosnya yang membuat barra tersenyum.


"Sama aku juga menyukaimu dan memberikanmu kenikmatan yang tidak akan pernah kau dapatkan dari manapun dan aku akan memberikannya lagi supaya kita bisa membuat kenangan yang manis di dalam hidup kita," ucap Barra.

__ADS_1


"Apa kita akan melakukan hal itu lagi?"tanya Regina dengan polosnya dan Barra mengangguk-angguk.


"Tapi jangan sekarang. Aku harus kuliah dan lagian masih sakit," ucap Regina dengan suaranya yang pelan membuat Barra tersenyum lebar dengan mengecup berat bibir Regina.


"Justru aku melakukannya. Karena ingin menghilangkan rasa sakitnya. Agar kamu bisa kuliah dengan konsentrasi tanpa rasa sakit," ucap Barra.


Wajah Regina tampak bingung. Yang berpikir terlihat begitu keras. Namun Barra memanfaatkan situasi itu untuk mencium dalam-dalam Regin dan Regina tidak bisa menolak ciuman dari Barra yang membuat Regina kembali hanyut dalam ciuman itu dengan matanya yang terpejam.


Barra benar-benar ketagihan dengan tubuh Regina yang dia laki-laki pertama yang menyentuhnya. Dia bahkan tidak peduli dan mengabaikan Regina yang akan ada kuliah pagi. Baginya hanya kenikmatan yang dia cari dan sekarang terus mencumbui wanita yang di bawahnya yang terus mendesah kenikmatan dengan sentuhan Barra.


"Regina maukah kau menjadi pacarku," ucap Barra dengan suara seraknya di tengah percintaannya dengan Regina yang sudah terbang ke awang-awang.


"Lalu bagaimana dengan Citra?" tanya Regina dengan suara menahan.


Regina terdiam yang wajahnya terlihat menikmati dan mungkin dia menyetujuinya permintaan Barra. Regina sudah kehilangan kesadarannya karena masuk dalam jebakan Barra yang memberinya kenikmatan.


**********


Hamilnya Reya membuat Sean terus kepikiran. Di meja makan di rumahnya yang sarapan bersama mama, papa dan adiknya Sean terlihat banyak pikiran dan sarapan tidak fokus. Bukan hanya Sean bahkan Citra juga yang sarapan seperti biasanya selalu ada saja uang di bicarakannya. Citra begitu gelisah yang sebentar-bentar melihat handphonenya.


"Kenapa Barra tidak menghubungiku sama sekali. Apa dia benar-benar sangat sibuk. Biasanya juga datang menjemputku. Bagaimana kak Sean mau percaya padanya. Jika dia saja tidak berusaha untuk melakukan pendekatan," batin Citra yang terus gelisah memikirkan pacarnya yang sedang asyik bercinta dengan sahabatnya.


"Apa yang harus aku lakukan. Reya tetap tidak ingin mama dan papa tau semua ini. Tapi aku tidak mungkin membiarkannya sendirian memikirkan semua ini. Bagaimanapun pun anak yang di kandungan Reya adalah darah dagingku,"batin Sean yang pikirannya berfokus pada Reya.


"Sean, Citra!" tegur Anggika membuat adik kakak itu tersentak kaget.

__ADS_1


"Iya mah," jawab Citra dan Sean serentak dan malah saling melihat karena sangat ketara jika mereka memang tidak fokus.


"Kenapa kalian berdua. Apa ada yang di pikirkan?" tanya Anggika.


"Nggak mah," jawab Citra dan Sean lagi-lagi serentak dan mereka kembali saling melihat.


"Sejak kapan kalian berdua latihan bicara seperti ini,"sahut Argantara tersenyum. Citra dan Sean saling melihat dan mereka pun ikut tersenyum.


"Ayo ada apa sebenarnya. Kalian berdua tidak lagi bertengkarkan?" tanya Anggika.


"Nggak kok mah," sahut Citra.


"Benar mah tidak apa-apa. Sean hanya memikirkan pekerjaan saja,"sahut Sean.


"Citra juga memikirkan kuliah," sahut Citra. Mereka sama-sama berbohong untuk menutupi pikiran mereka masing-masing.


"Jangan terlalu di pikirkan. Masa iya makan juga harus memikirkan hal itu," sahut Anggika.


"Benar kata mama kamu tidak baik makan harus memikirkan pekerjaan atau kuliah. Nanti kalian berdua bisa stres. Kalau stres sekali dua papa jadi ikutan. Karena ke-2 anak papa sudah di rumah sakit jiwa," ucap Argantara dengan bercandaan.


"Isss papa," sahut Citra berdesis yang mengundang tawa. Anggika tersenyum melihat anak-anak dan suaminya yang saling becanda.


"Mas Argantara sudah lama tidak sehangat ini kepada anak-anak. Sekarang dia begitu hangat pada anak-anak. Kebahagiaan keluargaku yang dulu seakan kembali. Andai saja wanita itu tidak datang di kehidupan kami. Pasti tidak akan ada luka di hatiku, hati anak-anak ku. Pasti kebahagiaan, tawa dan kecerian ini akan selalu menghiasi kehidupan kami, aku berharap hal ini akan terus berlanjut sampai kapanpun," batin Anggika yang begitu bahagia dengan keharmonisan keluarga kecilnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2