
" Aku dari tadi mengerjakan apa yang kau perintahkan. Dan aku tidak mungkin menginap di perusahaan ini untuk menyelesaikan apa yang tidak masuk akal," sahut Reya menjelaskan dan tidak bodoh- bodoh amat yang harus mengerjakan hal yang tidak masuk akal.
" Kau mengatakan pekerjaan yang di berikan kepada mu tidak masuk akal," sahut Sean dengan menatap tajam Reya. Paling tidak suka jika ada yang membantahnya.
" Kau seorang pimpinan dan kau tau mana pekerjaan masuk akal dan mana tidak. Dan pasti tau batas pekerjaan itu sampai mana dan Jangan hanya kebencian mu kepadaku. Kau melakukan semua dengan suka-sukamu," sahut Reya yang penuh sindiran.
Sean diam dengan tangannya yang terkepal. Setelah sekian lama ini pertama kalinya dia dan Reya berbicara lebih dari 1 kalimat.
" Apa maksud dari perkataan mu?" tanya Sean.
" Aku tau kau hanya membenciku dan makanya melakukan semua ini. Tetapi ini tidak adil untukku dan aku juga adikmu Sean," sahut Reya.
Terlihat Sean bertambah emosi mendengar perkataan Reya. Kata yang mengatakan Reya sebagai adiknya. Sean mendekati Reya dengan mencengkram tangan Reya dengan kuat mendorong tubuh Reya kedingding dapat di pastikan punggung Reya pasti kesakitan.
" Kau bukan adikku. Sampai matipun kau tetap bukan adikku. Apa kau mengerti," ucap Sean dengan menekan suaranya menegaskan pada Reya. Menatap Reya dengan tajam.
Tidak sampai di situ. Sean menarik tangan Reya dan langsung membawa Reya kembali ke tempat ruangan Reya, membuka pintu dengan kasar dan menghempaskan Reya masuk kedalam sampai Reya kembali terduduk di sofa.
" Bukan kau yang mengatur di tempat ini. Ini Perusahaan bukan permaina. Jadi selesaikan pekerjaanmu. Baru kau bisa pulang! jika kau tidak suka dengan peraturan ku. Kau bisa mengadukan diriku!" tegas Sean dengan emosinya yang menggebu-gebu. Reya hanya diam melihat Sean yang begitu marahnya kepadanya.
Sean pun tidak berlama-lama di ruangan itu dan memilih langsung pergi meninggalkan Reya. Reya menghembuskan napasnya perlahan kedepan menetralkan dirinya yang mana dia juga terasa begitu sesak dengan memegang dadanya yang sejak tadi kembang kempis.
" Apa semua ini adalah kesalahanku? kenapa kalian semua membenciku. Termasuk kau kak. Kau dulu tidak membenciku. Dan aku pikir setelah semua kejadian itu kita bisa saling menerima atau saling memaafkan," batin Reya di dalam hatinya yang tidak bisa banyak bicara untuk apa yang terjadi.
Hanya air matanya yang akhirnya menetes dengan apa yang terjadi saat ini. Dia merasa sakit dengan keadaan dirinya yang pasti bukan keinginannya yang ingin seperti itu.
**********
Setelah tadi sempat mengeluarkan emosi yang menggebu-gebu pada Reya Sean kembali Keruangannya dengan napasnya yang naik turun dan mengusap kasar wajahnya.
" Dia yang membuatku seperti ini. Ini bukan keinginan ku!" batin Sean yang terlihat masih mencoba mengendalikan dirinya yang terlihat emosi karena permasalahannya dengan Reya sebelumnya tadi.
***********
Barra mendatangi rumah Citra. Di mana Barra berbincang-bincang pada orang tua Citra Anggika dan juga Damian.
__ADS_1
" Berarti jika lulus kuliah nanti kamu akan bekerja di perusahan papa kamu?" tanya Anggika.
" Benar Tante, papa sudah menyediakan posisi untukku. Padahal aku tidak mau bekerja di sana. Aku ingin membangun perusahaan sendiri. Tetapi papa malah memaksa ya mau bagaimana lagi sebagai anak hanya bisa mengikuti apa kata papa saja," ucap Sean.
" Namanya kamu anak tunggal pasti orang tua kamu berharap banyak pada kamu. Jika bukan kamu siapa lagi coba, masa iya sama anak orang," sahut Damian.
" Ya itu menjadi salah satunya," sahut Barra. Tampaknya Barra sangat cepat dekat dengan orang tua Citra. Padahal Citra baru saja memperkenalkannya.
Tuk, tak, tuk, tak.
Suara heels terdengar membuat mereka yang mengobrol-ngobrol santai membuat mata mereka menuju anak tangga melihat Citra yang begitu cantik menuruni anak tangga.
Di mana Citra yang memakai dress merah mencolok tanpa lengan dan yang panjangnya sepahanya dan dengan Selayar bagian sampingnya yang menyapu anak tangga yang membuat Citra bertambah cantik. Rambutnya di biarkan tanpa kucuran apa-apa lurus sebahunya yang membuat Citra semakin anggun.
Barra tidak mampu mengedipkan matanya untuk tidak melihat cantiknya Citra yang menuruni anak tangga. Saking panglingnya dengan Citra, Barra sampai tidak menyadari jika Citra sudah berada di depannya.
" Aku sudah siap ayo!" ajak Citra pada Barra. Barra masih bengong dengan matanya yang tidak berkedip sama sekali.
" Barra!" tegur Citra yang melihat Barra bengong. Namun Argantara dan Anggika saling melihat dengan tersenyum seolah mengerti dengan 2 anak muda di depan mereka itu.
" Hah, iya kenapa," sahut Barra menjadi gugup dengan menggoyang-goyangkan kepalanya.
" Aku sudah siap kamu kenapa malah bengong," sahut Citra.
" Oh, Sorry, Sorry, aku kurang fokus," sahut Barra dengan mengusap wajahnya kasar yang berusaha kembali menetralkan dirinya.
" Maaf ya Citra, habisnya kamu cantik banget," sahut Barra yang akhirnya mengeluarkan apa yang sudah tertanam. Namun Barra yang menyadari ada orang tua Citra jadi malu sendiri.
" Maksud aku," sahut Barra seperti kehilangan muka di depan orang tuanya. Yang mana Anggika dan Damian senyum-senyum terus.
" Sudahlah Barra, memang anak Tante cantik," sahut Anggika.
" Iya Tante," sahut Barra tersenyum malu dengan kebodohannya di depan orang tua Citra.
" Ya sudah bagaimana kita jadi pergi atau tidak?" tanya Citra.
__ADS_1
" Ya jadilah Citra," sahut Barra dengan cepat.
" Ya sudah ayo," ajak Citra..
" Hmmm, yang ulang tahun siapa yang di jemput siapa. Apa anak mama ini terlalu special sampai di jemput untuk datang ke acara ulang tahun Barra," sahut Anggika dengan menggoda pasangan muda itu.
" Dia memang special Tante," sahut Barra yang menatap Citra dalam-dalam.
" Sudahlah, jangan bicara terus, ayo kita pergi, kakiku sudah pegal dengan berdiri terus," ucap Citra mengeluh.
" Iya Citra," sahut Barra.
" Hmmm, oh iya ma kak Sean belum pulang?" tanya Citra.
" Belum, mungkin lembut," jawab Anggika.
" Reya juga belum pulang," sahut Argantara.
" Aku tidak menanyakannya," sahut Citra kesal.
" Reya. Siapa Reya?" tanya Barra heran.
" Bukan siapa-siapa. Arghh sudahlah. Ayo kita pergi," ajak Citra yang moodnya bisa hilang karena ada nama Reya terdengar.
" Baiklah Citra," sahut Barra, " Ya sudah Tante, Om, kami pergi dulu ya," ucap Barra pamit dengan sopan mencium punggung tangan ke-2 orang tua Citra.
" Kalian hati-hati. Om titip Citra pada kamu," ucap Damian.
" Pasti om, saya akan cepat-cepat bawa Citra pulang," sahut Barra dengan yakin.
" Ya sudah sana kalian berangkat nanti yang lain pasti sudah menunggu," ucap Anggika. Barra dan Citra sama mengangguk dan akhirnya mereka pergi bersama.
Argantara dan Anggika saling melihat dengan sama-sama tersenyum. Dari wajah pasangan suami istri itu menjelaskan bahwa mereka sangat menyukai Barra.
Bersambung
__ADS_1