Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 121


__ADS_3

"Apa maksud kamu Citra. Kamu melihat Erina?" tanya Argantara yang pasti terkejut.


"Iya aku melihatnya dan papa jangan pura-pura tidak tau," sahut Citra.


"Apa kamu yakin Citra?" tanya Sean.


"Aku yakin. Aku melihatnya di Mall," sahut Citra dengan tegas.


"Pah. Apa papa berhubungan dengannya?" tanya Sean yang juga harus tau kebenarannya Apa selama ini papanya juga masih berhubungan dengan ibu Reya.


"Sean apa kamu bicarakan. Papa tidak pernah berhubungan dengan Erina dan papa tidak tau. Kalau Erina ada di Jakarta. Citra, Sean. Papa mengakui kesalahan papa dan mengakhiri pernikahan papa dengan perceraian pada Erina dan saat papa tidak pernah berhubungan. Citra Reya mungkin iya. Dia ada di Jakarta dan kamu sudah tau itu. Papa juga membawanya ke Jakarta justru menyelamatkan dari Erina. Kamu bisa tanya kakak kamu seperti apa Reya. Bahkan kakak kamu saat membawa Reya kemari. Dia juga menyaksikan perbuatan Erina. Jadi tidak mungkin papa juga ikut membawa Erina ke Jakarta yang hanya akan membuat Reya mati di tangannya," jelas Argantara dengan penegasan yang memang benar apa adanya.


Sean juga berpikiran seperti itu. Sangat tidak mungkin jika papanya ikut menyembunyikan Erina dan selama ini Reya juga tidak pernah berhubungan dengan Erina.


"Percayalah Sean Citra pada papa. Papa tidak melakukan hal itu. Papa sudah memutuskan hubungan dengan Erina. Dan hanya Reya. Karena Reya itu juga darah daging papa dan dia juga berhak bahagia," ucap Argantara dengan wajahnya yang meyakinkan. Jika memang tidak berhubungan dengan Erina selama ini.


"Citra apa yang di katakan benar. Sangat tidak masuk akal. Jika papa berhubungan dengan Tante Erina. Karena Reya juga pasti mengatakan hal itu," sahut Sean.


"Lalu kenapa dia ada di Jakarta juga?" tanya Citra.


"Kamu yakin benar-benar melihatnya?" tanya Argantara.


"Aku memang hanya bertemu beberapa kali dengannya. Tetapi aku sangat yakin. Wanita Tante Erina," tegas Citra.


"Jika seperti itu pasti ada sesuatu. Kenapa dia ke Jakarta," sahut Argantara.


"Papa benar, aku jadi khawatir dengan Reya," sahut Sean yang langsung fokus pada Reya.


"Citra papa sungguh-sungguh tidak tau menau dengan hal ini. Dan papa akan menyuruh Diki untuk mencari tau keberadaan Anggika ada di Jakarta atau tidak. Percayalah pada papa. Papa tidak menghiyanati mamamu dan masalah Reya yang papa sembunyikan dari kamu dan mamamu. Itu karena suatu alasan yang besar. Papa tidak bermaksud apa-apa. Papa sangat tau kamu kecewa dan papa hanya berusaha memberikan yang terbaik," ucap Argantara yang berbicara sangat lembut kepada Citra. Agar Citra paham.


"Jadi benar. Papa benar-benar sudah tidak berhubungan lagi dengan wanita itu?" tanya Citra yang masih tidak percaya.


Argantara mengangguk dan mendekati Citra dengan mengusap air mata Citra, "papa tidak bohong. Karena papa tidak ingin kamu kecewa. Sudah cukup untuk semuanya. Urusan papa hanya Reya bukan ibunya dan Diki akan mencari tau keberadaannya," ucap Argantara yang meyakinkan Citra.

__ADS_1


"Citra percayalah pada papa. Kakak juga percaya pada papa," sahut Sean.


Citra mengangguk-anggukkan kepalanya dan langsung memeluk Argantara.


"Jangan menghiyanati Citra lagi, Citra tidak mau papa berselingkuh lagi. Pelan-pelan Citra akan menerima Reya. Tapi bukan ibunya. Dia merusak hidup Citra," ucap Citra menangis senggugukan. Argantara mengangguk dengan mengusap-usap rambut Citra.


Sean tersenyum dengan matanya berkaca-kaca. Citra sangat anti dengan perselingkuhan. Sangat wajar baginya jika adiknya itu langsung marah-marah tanpa tau kebenarannya. Ya sejak dulu Citra jika sudah berhubungan dengan Erina dan Reya pasti emosinya tidak stabil. Namun sekarang banyak perubahan. Citra menerima Reya dan menganggap Reya sebagai korban sama dengan dirinya.


"Aku pergi dulu pah. Aku juga akan tanyakan ini pada Reya dulu," ucap Sean pamit.


"Iya Sean," sahut Argantara. Sean mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Citra dan Argantara yang masih berpelukan dengan Citra yang masih menangis. Argantara memang berusaha untuk menenangkan Citra.


********


Karena Citra tadi sempat marah-marah dan menagis. Akhirnya Argantara mengajak Citra untuk makan siang bersama di Restaurant favorite Citra. Argantara memesan semua makanan kesukaan Citra. Dulu dia selalu melakukan itu saat membuat Citra ngambek dan do sogok dengan makanan dan sekarang dia melakukannya lagi.


"Ayo makan yang banyak!" ucap Argantara.


"Makasih pah untuk waktu dan traktiran papa," ucap Citra yang begitu senangnya di traktir papanya.


"Isssss papa," sahut Citra merengek.


"Papa hanya bercanda. Ayo makan lagi!" ucap Argantara. Citra mengangguk dan makan sangat lahap.


"Maafkan papa ya Citra," ucap Argantara tiba-tiba membuat Citra berhenti makan dan melihat papanya.


"Papa jangan mulai deh. Citra tidak mau bahas apa-apa. Citra mau makan. Jangan sampai Citra tidak jadi makan," ucap Citra yang malas mewek.


"Baiklah. Papa hanya bercanda saja. Papa tidak akan mengganggu makan kamu," ucap Argantara. Citra tersenyum dan kembali makan dengan semangatnya.


"Citra!" tiba-tiba suara Pria menegur Citra membuat Citra dan Argantara saling melihat ke arah suara itu.


"Kak Reval!" pokok Citra terkejut dan langsung berdiri.

__ADS_1


"Siapa Citra?" tanya Argantara.


"Oh ini pah kenalin. Ini Dosen di kampus Citra. Kak Reval," ucap Citra langsung memperkenalkan. Argantara berdiri dan menyambut uluran tangan dari Reval.


"Saya Reval Om," sapa Reval dengan ramah.


"Saya Argantara papanya Citra, senang bertemu dengan kamu," ucap Argantara yang menyambut baik Reval. Dan Citra tersenyum dengan papanya yang sepertinya santai-santai saja saat berkenalan dengan Reval.


"Saya juga sangat senang bertemu dengan Om," sahut Reval.


"Kak Reval ngapain di sini?" tanya Citra.


"Tadi sedang janji dengan teman sesama Dosen juga untuk makan siang bersama. Tetapi ternyata batal. Jadi saya ingin kembali kekampus," jawab Reval.


"Lalu begitu makan bersama kami saja. Ini sudah waktunya makan siang," sahut Argantara yang menawarkan langsung.


"Tidak usah Om," sahut Reval menolak.


"Tidak apa-apa. Anggap sana ini jamuan perkenalan," sahut Argantara yang sangat ramah.


"Iya kak, ayo makan bersama," ucap Citra yang pasti senang. Jika Reval ikut makan bersamanya apa lagi papanya sepertinya sangat welcome.


"Baiklah," sahut Reval yang akhirnya mau. Citra begitu senangnya ketika Reval sudah duduk di sebelahnya.


"Kaka mau pesan apa?" tanya Citra yang begitu semangatnya saat menunjukkan menu.


"Ini saja," jawab Reval. Citra mengangguk dan langsung memesankan pada pelayan yang sudah menghampiri meja mereka.


"Mata kamu kenapa Citra?" tanya Reval memperhatikan wajah Citra, "kamu habis menagis?" tebak Reval.


"Oh tidak kok," sahut Citra bohong. Mungkin malu mengatakan jika memang dia habis menagis.


Argantara hanya melihat saja kedekatan Reval dan Citra yang sepertinya Argantara setuju-setuju saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2