Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 93


__ADS_3

Sean beres-beres di kamarnya yang akan berangkat besok pagi ke Luar Negri.


Toko-tok-tok-tok.


Pintu di ketuk membuat Sean melihat kearah pintu.


"Iya masuk!" sahut Sean dari dalam dan pintu langsung terbuka yang ternyata Citra yang masuk dengan membawakan secangkir kopi.


"Kakak sedang siap-siap?" tanya Citra mendekati Sean dan memberikan Sean secangkir teh tersebut.


"Iya tinggal sedikit lagi," jawab Sean.


"Biar Citra bantu kak," ucap Citra yang langsung mengambil alih dan Sean sendiri langsung duduk di atas tempat tidur untuk menikmati teh buatan adiknya itu membiarkan Citra yang menyusun pakaiannya ke dalam koper.


"Kakak pergi sendiri?" tanya Citra sembari menyusun pakaian itu dan tidak melihat kearah Sean sama sekali.


"Iya pergi sendiri. Mau sama siapa lagi," jawab Sean yang sebenarnya heran dengan pertanyaan Citra.


"Ohhh Citra pikir pergi dengan orang special," sahut Citra dan lagi-lagi Sean heran dengan kata-kata adiknya itu.


"Special apa nya. Kamu itu aneh-aneh saja," sahut Sean geleng-geleng.


"Ya kan Citra hanya menebak-nebak saja," sahut Citra yang sejak tadi bicara yang membuat Sean bingung dengan Citra.


"Apa yang kamu tebak Citra. Tidak ada yang perlu di tebak," ucap Sean. Citra mengangguk dengan tersenyum.


Citra menghela napasnya dan melihat ke arah kakaknya dan langsung mendekati Sean yang duduk di samping Sean.


"Kenapa Citra merasa jika kakak sekarang semakin jauh dari Citra," ucap Citra yang menatap nanar wajah Sean.


"Maksud kamu?" tanya Sean heran.


"Kakak sudah sangat jauh dari Citra. Sangat jarang mengobrol dengan Citra. Bahkan kita hanya bicara. Jika kakak mengantar dan menjemput Citra dan itu juga kadang kakak punya kesibukan sendiri dan lupa pada Citra," ucap Citra," ucap Citra yang mengeluh dengan Sean beberapa hari ini yang membuatnya sangat bingung.

__ADS_1


"Itu hanya perasaan kamu saja Citra," sahut Sean dengan mengalihkan pandangannya dari asiknya yang bicara begitu serius.


"Bukan perasaan Citra. Tetapi itu kenyataan, Citra seakan tidak melihat kakak Citra yang dulu, Citra merasa ada rahasia yang Citra tidak boleh tau dan kakak Citra rasanya sudah tidak peduli pada Citra dan tidak menganggap Citra ada, kakak sudah sangat jauh dari Citra," ucap Citra yang mengeluarkan isi hatinya yang di simpannya selama ini.


"Bukan kakak yang jauh dari kamu. Tetapi kamu. Citra semenjak kamu mengenal Barra. Kaka juga melihat perubahan dari kamu. Baik dari sikap kamu dan juga lainnya. Kamu tidak terbuka, tidak mendengarkan kakak dan kakak juga kehilangan adik kakak yang seperti dulu," ucap Sean yang membalikkan semuanya kepada Citra.


"Apa maksud kakak. Kenapa jadi membawa nama Barra," sahut Citra.


"Karena kamu memang seperti itu. Tanpa kamu sadari kamu yang membuat kamu sendiri jauh dari kakak," ucap Setan.


"Tetapi Barra tidak sejahat itu kak," ucap Citra yang membela Barra.


"Ini salah satunya. Kamu akan membelanya dan membuat kakak merasa kamu seperti orang asing. Jika kakak bicara apapun mengenai Barra. Kamu tidak akan peduli sama sekali. Karena ini yang terjadi kamu akan membelanya. Karena sudah sangat terpengaruh dengan Barra," ucap Sean.


"Bukan begitu kak," sahut Citra.


"Sudahlah Citra. Kakak akan ke Luar Negri dan iya kakak tidak mau kamu terlalu sering bertemu dengan Barra dengarkan kata-kata kakak sekali ini. Jangan membantah apa yang kakak katakan. Kakak mengatakan semua ini demi kebaikan kamu," ucap Sean menegaskan dan Citra hanya diam.


"Benar kata Reya. Karena tidak mungkin aku mengatakan semuanya kepada Citra. Aku tidak mempunyai bukti apa-apa dan Citra tidak akan mendengarkan ku," batin Sean.


***********


Rose dan Citra berjalan berdampingan di koridor kampus.


"Jadi Kak Sean sedang ada perjalanan bisnis?" tanya Rose.


"Iya sekitar 1 mingguan lebih gitu. Baru kemarin berangkat," jawab Citra.


"Hmmm begitu rupanya. Oh iya Citra besok kamu datang kan ke acara kampus kita?" tanya Rose.


"Belum tau sih," jawab Citra.


"Kok belum tau. Harus datang dong. Acaranya di adakan di hotel mewah dan aku dengar-dengar ada DJ yang di undang. Lumayan buat party2," sahut Rose yang terlihat semangat.

__ADS_1


"Kamu ini kalau masalah party juaranya," sahut Citra geleng-geleng.


"Iya dong buat hilangin penat," ucap Rose, "oh iya Citra aku tidak melihat Barra. Di mana dia?" tanya Rose.


"Kenapa bertanya padaku. Aku mana tau," sahut Citra.


"Kok gitu jawabnya. Kamu sedang tidak ada masalahkan dengan Barra?" tanya Rose dengan mengkerutkan dahinya.


"Sudah ah. Aku mau pergi dulu. Aku harus menemui Dosen Reval. Jadi aku pergi dulu," ucap Citra tersenyum dan langsung pergi dengan tangannya yang di lambaiannya.


"Kenapa sih dia? aneh sekali? apa dia dan Barra ribut lagi," batin Rose geleng-geleng.


*********


Citra sekarang berada di ruangan Reval yang sibuk mengerjakan beberapa tugas yang telah di berikan Reval kepadanya. Sebagai hukuman untuknya. Citra kembali mendapatkan nilainya dan dia juga mendapat hukuman dan Citra menerima dengan lapang dada.


Sama dengan seperti sekarang ini Citra yang sangat serius mengerjakan tugas dari Reval dan Reval juga berada di depannya yang juga sibuk mengerjakan sesuatu pada laptopnya.


Bahkan sesekali Reval melihat ke arah Citra yang sangat serius. Kalau masalah belajar Citra memang sangat serius dan dia memang salah satu mahasiswi yang pintar.


"Pak!" ucap Citra dengan pelan melihat ke arah Reval.


"Ada apa?" tanya Reval dengan suara dinginnya.


"Saya tidak mengerti dengan yang ini?" tanya Citra yang ada sesuatu yang tidak di pahami nya. Reval menghela napasnya dan berdiri dari tempat duduknya yang langsung menghampiri Citra.


"Biar saya lihat," ucap Sean yang langsung mendekati Citra dan Citra menunjukan laptopnya. Di mana Sean yang membungkuk di sebelah Citra dan melihat serius pada layar laptop tersebut.


"Ini kami buat seperti ini, lalu seperti ini dan seperti ini," jelas Reval. Citra mengangguk dan berusaha untuk memahami penjelasan dari Reval.


"Apa kamu mengerti?" tanya Reval yang melihat ke arah Citra dan Citra juga melihat ke arahnya yang sekarang wajah mereka saling berdekatan dan saling beradu pandang dan bukannya saling mengalihkan dan malah betah saling melihat dengan adanya debaran- debaran yang tidak dapat di mengerti.


Dan hingga beberapa detik mereka berdua sama-sama tersadar dan terlihat saling gugup.

__ADS_1


"Kamu sudah paham?" tanya Reval. Citra mengangguk yang terlihat menghela napasnya.


Bersambung


__ADS_2