
"Percuma aku bicara padamu. Kau itu laki-laki yang paling pengecut yang pernah aku temui. Aku sangat muak dengan laki-laki pengecut sepertimu dan sebaiknya kau enyah dari hidupku dan juga dari kampus," ucap Citra dengan menunjuk tepat di wajah Reval.
"Apa yang kau katakan. Kau ingin mengeluarkan ku dari kampus?" tanya Reval.
"Bukannya dendammu sudah terbalas, kau sudah berhasil menghancurkan ku. Jadi apa lagi yang kau inginkan," sahut Citra
"Kau tidak tenang jika kita akan bertemu terus di kampus?" tanya Reval.
"Apa katamu aku tidak tenang. Aku sama sekali tidak peduli. Karena aku tidak pernah menganggapmu ada. Aku hanya tidak ingin jika mataku sakit karena melihat kehadiran mu," tegas Citra yang menunjukkan kebenciannya kepada Reval
"Kau dengarkan aku Reval, jangan mentang-mentang kau masih aman di kampus, lalu kau pikir kau aman dari segalanya. Aku hanya menahan kakak ku untuk tidak melakukan apa-apa kepadamu. Yang bukan berarti kau akan aman dari segalanya. Karena kau pikir aku tidak tau jika kau sama Barra itu sama saja. Kalian laki-laki licik," umpat Citra.
"Jangan menyamakan ku dengan Barra," sahut Sean yang kelihatannya tidak terima di sama-samakan.
"Iya seharusnya aku tidak memang menyamakan kau dengan dia. Karena kau jauh lebih buruk di bandingkan Barra. Kau lebih pengecut di bandingkan Barra," ucap Citra.
"Cukup Citra kau jangan bicara lagi. Aku sudah mengatakan jangan menyamakan ku dengan dia," tegas Sean.
"Kenapa tidak terima. Jika kau lebih kejam darinya. Lebih parah darinya," sahut Citra.
"Sudahlah tidak ada gunanya aku bicara denganmu. Sekarang aku sudah menegaskan kepadamu apa yang harus aku katakan. Sebaiknya pergilah dari kampus sebelum aku sendiri yang bertindak untuk menghempas mu dari tempat itu," ucap Citra dengan menyampaikan apa yang harus di sampaikannya dan Citra langsung pergi dari hadapan Reval dengan tarikan napas panjang.
Namun baru membalikkan badannya tubuh Citra terasa lemas dengan tangannya yang memegang kepalanya yang membuat nya hampir jatuh dan lagi-lagi Reval dengan cepat menahan tubuh Citra membuat ke-2nya saling melihat dengan Reval yang berada di belakang Citra yang menahan tubuh Citra.
Reval bisa melihat wajah Citra sangat pucat yang membuat Reval tidak bisa bohong jika dia sangat khawatir.
Ternyata di sebrang jalan yang kebetulan Anggika ada di dalam mobil yang di setiri supirnya melihat kearah Citra dan Reval.
"Citra. Jadi dia masih bertemu dengan laki-laki itu," umpat Anggika dengan tangan yang terkepal melihat Citra dan Reval tampak mesra.
"Pak tunggu sebentar di sini," ucap Anggika yang langsung menuruni mobil dan langsung menghampiri Citra dan Reval.
"Citra!" sentak Anggika membuat Citra kaget dan begitu juga dengan Reval dan Citra langsung melepas diri dari Reval.
__ADS_1
"Mama!" lirih Citra.
"Kamu benar-benar keterlaluan. Jadi selama ini kamu tidak pulang karena ini hah! karena kamu yang sudah bersama dengan dia hah! kamu selama ini bersama dengan laki-laki ini. Apa kamu sudah tidak punya rumah hah!" ucap Anggika yang marah-marah.
"Apa yang mama katakan. Aku tidak pernah bersamanya," sahut Citra memang apa adanya.
"Jangan alasan kamu. Mama sudah berkali-kali melarang kamu untuk tidak bertemu dengannya. Kali ini mama tidak akan membiarkan kamu semena-mena lagi dengan mama.
"Ayo ikut mama!" Anggika langsung menarik tangan Citra.
"Mama mau bawa Citra kemana, Citra tidak mau tinggal sama mama. Citra tidak mau!" berontak Citra tidak mau ikut dengan Anggika yang menyeretnya dan Reval rasanya ingin membantu Citra.
"Kamu jangan ikut-ikutan!" sentak Anggika dan Reval hanya diam yang tidak bisa melakukan apa-apa yang membiarkan Citra pergi yang di seret paksa Anggika.
Walau memberontak dan tidak ingin pergi nyatanya Citra sudah di bawa Anggika masuk mobil dan Reval hanya diam di tempatnya sampai melihat mobil itu sudah pergi.
Reval juga ingin meninggalkan tempat itu. Namun saat matanya turun kebawah terlihat 1 tablet papan obat yang ada di atas tanah dan sepertinya itu punya Citra yang membuat Reval langsung berjongkok untuk mengambil obat itu.
"Obat apa ini?" tanyanya dengan bingung.
**********
Akhirnya Citra dan Anggika sampai juga kerumah dengan Anggika yang masih menyeret Citra dan begitu sampai di ruang tamu Citra langsung melepas kasar tangannya dari sang mama.
"Cukup mah!" bentak Citra dengan penuh emosi.
"Kamu berani membentak mama. Kamu memang semakin menjadi-jadi semenjak mengenal dia. Apa kamu tidak pernah mendengarkan mama hah! mama sudah mengatakan jangan pernah mendekatinya lagi. Tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan mama!" teriak Anggika dengan penuh emosi.
"Iya aku memang tidak mendengarkan mama sehingga aku menjadi korban dari perbuatan mama," sahut Citra dengan berteriak.
"Apa maksud kamu?" tanya Anggika.
"Argghhh!" teriak Citra dengan memegang kepalanya yang histeris berteriak membuat Anggika heran dengan Citra yang seperti kesetanan.
__ADS_1
"Apa mama puas sekarang, kenapa harus aku yang menanggung dosa-dosa mama. Mama telah memaki Tante Erina yang merebut suami mama. Tapi pada kenyataannya mama lah yang merebut suami orang lain," teriak Citra.
"Citra jaga bicara kamu!" sentak Anggika.
"Apa yang aku katakan adalah kebenarannya jika mama sudah menjadi perusak dalam hubungan orang lain mama sama Tante Erina tidak ada bedanya!" teriak Citra.
Plakkkkkkk.
Anggika langsung melayangkan tamparan panas ke pipi Citra, membuat Citra tersenyum mendapat tamparan keras itu.
"Kamu benar-benar semakin tidak bisa di kasih tau," ucap Anggika dengan menekan suaranya.
"Mama sangat mudah sekarang menampar ku. Tampar aku lagi mah, aku sudah tidak berguna lagi, aku menanggung semua perbuatan mama. Aku terjebak dengan perbuatan mama yang mana aku harus menanggung dosa-dosa mama. Apa sudah puas sekarang melihat Citra seperti ini," ucap Citra yang menangis.
"Apa yang kamu bicarakan Citra?" tanya Anggika yang benar-benar bingung dengan perkataan Citra.
Citra mengambil sesuatu dari tasnya dan melempar kelantai beberapa foto yang langsung terlihat oleh Anggika. Di mana foto-foto itu adalah foto Anggika dengan Pria masalalunya dan foto Pria itu dengan istrinya dan juga anaknya.
"Mama mengingat dosa itu?" tanya Citra yang mana Anggika begitu shock melihatnya dengan mulutnya yang tertutup.
"Dari mana kamu mendapatkan semua ini?" tanya Anggika.
"Jangan tanya dari mana aku mendapatkannya. Tapi tanya siapa anak kecil itu. Mama tau anak kecil itu adalah Reval," ucap Citra dengan suaranya tertahan yang membuat Anggika kaget dengan melihat Citra dengan serius.
"Dia adalah Reval, anak yang kehidupanya mama hancurkan dengan merusak kebahagian mereka, ibunya di rumah sakit jiwa sampai detik ini dan Citra yang harus menanggung dosa-dosa mama, hidup Citra berantakan karena perbuatan mama!" teriak Citra dengan air matanya yang terus mengalir.
"Apa yang kamu katakan Citra. Apa yang sudah terjadi?" tanya Anggika dengan suaranya yang tertahan.
"Mama masih bertanya apa yang terjadi. Yang terjadi ada di depan mama. Mama bisa melihat aku yang tidak tau apa-apa harus menjadi korban akibat perbuatan mama. Dia menghancurkan hidupku yang menginginkanku seperti ibunya yang gila dan dia pikir mama akan merasakan itu. Mama akan peduli dan mungkin akan gila. Tapi tidak semuanya salah. Karena mama tidak peduli karena hanya Citra yang harus menanggung semuanya. Semua dosa-dosa mama Citra yang menanggungnya!" teriak Citra dengan suaranya yang semakin habis.
"Apa mama sudah puas dengan semua ini. Apa mama sudah puas!" teriak Citra dan Anggika sama sekali tidak bisa berbicara apa-apa.
"Arggh mama benar-benar sangat kejam, mama jahat!" teriak Citra yang langsung pergi dari hadapan Anggika.
__ADS_1
Bersambung