
Regina yang sudah terlanjur setuju awalnya sekarang kalau mau mundur pun sudah ragu dan dia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
" Ya sudahlah!" sahut Regina pasrah.
" Ya sudah sekarang kamu pergi buruan!" perintah Citra dan Regina mau tidak mau akhirnya pun pergi.
" Ayo Rose!" ajak Citra.
" Mau kemana?" tanya Rose heran.
" Mengurus Bodyguard wanita itu," jawab Citra meraih tangan Rose dan akhirnya Rose hanya pasrah mengikut saja.
Wanita bernama Regina bukanlah manager yang harus melakukan meeting bersama Reya. Namun Regina adalah teman Citra yang di ajaknya untuk ikut bersandiwara. Karena saat ke Bali Citra membawa beberapa teman yang akan ada di acara Perusahaan keluarganya dan Regina salah satunya dan yang lainnya masih menyusul.
***********
Regina pun kembali ke tempat duduknya bersama dengan Reya yang mana Reya sudah terlihat memijat kepalanya yang terasa berat dan suhu tubuhnya yang seketika berubah.
" Reya!" tegur Regina memegang bahu Reya.
" Regina," sahut Reya yang berusaha untuk menetralkan kondisinya yang di pastikan memang sangat tidak baik.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Regina.
" Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing saja. Mungkin suasana tempat ini tidak cocok untukku," jawab Reya.
" Hmmm, begitu rupanya. Minum ini. Ini bisa mengurangi rasa pusingmu!" ucap Regina yang menyodorkan segelas kecil yang di pastikan itu alkohol.
" Tidak usah Regina. Aku tidak apa-apa kok," jawab Reya yang menolak minuman yang menyengat itu.
" Tidak apa-apa Reya. Kamu cobalah sedikit saja," bujuk Regina yang mendekati Reya bahkan mendekatkan gelas pada bibir Reya dan Reya menolak minuman itu.
Regina kelihatan tidak menyerah sama sekali dan terus memaksa Reya sampai akhirnya minuman beralkohol itu terasa juga di lidah Reya dan Reya mengkerutkan dahinya.
" Hanya sedikit. Itu namanya obat pusing," ucap Regina tersenyum. Reya tidak tau harus melakukan apa, seakan tidak bisa menolak minuman itu. Reya bukannya semakin sembuh malah merasa semakin sakit di bagian kepalanya yang terasa berat.
" Bisa kita mulai?" tanya Reya yang suaranya sudah semakin serak.
" Pasti!" sahut Regina tersenyum mengangguk.
__ADS_1
***********
Sementara Citra sekarang berada di luar Club bersama dengan Rose yang menghampiri mobil yang ada Bodyguard Reya.
toko-tok-tok-tok. Citra mengetuk jendela mobil dan membuat Bodyguard itu langsung keluar dari dalam mobil dan langsung menundukkan kepalanya pada Citra.
" Ada apa nona Citra?" tanya Bodyguard tersebut.
" Kamu antar Rose ke Villa!" perintah Citra.
" Tapi saya pergi bersama Nona Reya," jawab bodyguard tersebut.
" Saya juga kemari bersama Bodyguard. Jadi kami akan pulang bersama. Jadi kamu antar saja dia," tegas Citra yang membuat alsan agar bodyguard itu tidak memeriksa kedalam sana.
" Sudah ayo antar aku," sahut Rose yang terlihat memaksa.
" Saya berpamitan degan nona Reya sebentar," ucap bodyguard tersebut.
" Tidak usah. Kau mau membuat Rose semakin lama menunggu. Lagian aku juga akan masuk kedalam. Aku juga akan berbicara padanya," tegas Citra.
" Bahkan kalau begitu. Mari Nona!" sahut bodyguard itu yang tidak punya pilihan sama sekali dan langsung mempersilahkan Rose masuk.
" Dada," sahut Citra yang juga melambaikan tangan. Bodyguard itu menundukkan kepalanya sebelum memasuki mobil.
" Rencana berikutnya berhasil," batin Citra dengan menyunggingkan senyumnya yang benar-benar merasa bahagia. Karena rencananya begitu sempurna semuanya.
*********
Pesawat Sean landing tepat jam 9 malam. Di mana Sean berangkat juga langsung setelah pekerjaannya selesai. Dia memang seharunya menyusul besok pagi. Tetapi tidak yakin dengan Reya atau Citra yang mengurus Event tersebut yang akhirnya membuatnya menyusul secepatnya.
Sean pasti bersama dengan Sekretarisnya Karin yang mana mereka sudah duduk di dalam mobil yang di kendarai Karin.
" Apa kita langsung ke villa?" tanya Karin.
" Kita langsung saja ke hotel tempat perayaan Event tersebut," jawab Sean.
" Baiklah Sean," sahut Karin dengan tersenyum.
" Kau mau minum?" tanya Karin.
__ADS_1
" Boleh!" sahut Sean kelihatan memang sangat haus. Karin tersenyum dan langsung mengambilkan air mineral dan memberikannya pada Sean.
" Minumlah!" ucap Karin. Sean hanya mengambilnya saja dan langsung meminum air tersebut dan melihat ke arah Karin.
" Apa ini bekas mu?" tanya Sean.
Karin mengkerutkan dahinya, " sembarangan mengatakan hal itu," sahut Karin yang tidak mau menjadi tersangka.
" Lalu kenapa botolnya gampang di buka. Seperti sudah di buka," ucap Sean.
" Itu hanya perasaanmu saja. Jangan bicara yang aneh-aneh," sahut Karin. Sean pun tidak peduli dan melanjutkan meminum air mineral itu karena memang dia sudah kehausan.
**********
Lain di tempat Reya yang sekarang Reya sudah benar-benar kacau balau, kepalanya semakin berat dan pandangan matanya yang mulai tidak stabil. Bahkan regina yang berbicara di depannya di pastikan Reya sudah tidak tau apa yang di katakan Regina.
" Ya Allah kenapa kepala ku seberat ini dan tubuhku kenapa begitu panas. Apa yang terjadi ya Allah," batin Reya yang merasakan kurang nyaman dengan dirinya.
" Kau tidak apa-apa Reya?" tanya Regina.
" Aku tidak apa-apa," jawab Reya.
" Obat itu memang mungkin bereaksi. Tetapi Reya masih saja duduk di sini. Dia seharusnya terus minum, tetapi hanya minum sedikit dan bahkan tidak menari-nari bersama laki-laki yang seperti di inginkan Citra, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan," batin Regina yang sepertinya rencananya tidak sesuai dengan apa yang di katakan Citra.
" Sebaiknya aku harus bertindak. Aku harus melakukan sesuatu. Aku panggil saja Pria yang akan menggodanya dan mengajaknya menari-nari. Aku yakin Reya pasti tidak menolak. Karena obat itu sudah bereaksi," batin Regina yang mempunyai rencana baru.
" Reya sebentar ya, aku ke toilet dulu!" ucap Regina pamit. Reya hanya menjawab dengan anggukan yang melihat kepergian Regina.
" Kepalaku semakin sakit apa yang harus aku lakukan. Sebaiknya aku mencari obat sakit kepala dulu. Aku minta tolong pada Bodyguard yang menemaniku tadi. Pasti dia akan membantuku. Aku juga tidak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini," ucap Reya yang merasa dia hanya sakit kepala.
Reya yang tidak ingin membuang waktunya akhirnya perlahan berdiri. Memijat kepalanya yang terasa begitu berat, Reya harus berjalan sekuat tenaganya dengan memegang kepalanya yang mungkin nanti akan kembali jika dia sudah tidak sakit kepala lagi.
***********
Di dalam mobil Sean dan Karin. Terlihat Sean yang duduk di sebelah Karin merasa mulai tidak nyaman dengan Sean yang memijat kepalanya yang terasa berat dan suhu tubuhnya yang mulai berubah yang seperti bergairah.
Karin menoleh ke samping dan melihat ke arah Sean. Karin tidak bicara apa-apa dan menyunggingkan senyumnya. Karin mengingat apa yang terjadi sebelumnya di mana Karin memasukkan obat kedalam air mineral yang barusan di berikannya kepada Sean.
Bersambung
__ADS_1