Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 140


__ADS_3

Setelah menjenguk mama Reval dan juga merayakan ulang tahun bersama. Reval mengajak Citra kerumahnya yang katanya Reval ingin mengambil sesuatu di rumahnya yang di bawa kekampus.


Reval berada di kamarnya dan Citra sendiri di ruang tengah melihat-lihat ruangan tersebut, sembari melihat-lihat foto-foto yang di dalam bingkai yang tersusun rapi.


"Citra!" tegur Reval.


"Kak Reval," sahut Citra menoleh kebelakang.


"Kakak sudah selesai?" tanya Citra.


"Iya sudah?" jawab Reval menunjukkan apa yang di bawanya, "kamu mau minum tidak?" tanya Reval.


"Boleh tenggorokan Citra memang lagi kering," jawab Citra sembari memegang lehernya.


"Baiklah kalau begitu, kamu tunggu sebentar," ucap Reval. Citra hanya menganggukkan kepalanya dan Reval membuatkan minum untuknya yang kebetulan dapur Reval juga tidak jauh dari tempat Citra berdiri.


"Ini papa kak Reval?" tanya Citra melihat foto wanita dan Pria dengan anak laki-laki yang berusia masih kecil.


"Iya," jawab Reval sembari membuat jus.


"Tampan, mirip dengan kak Reval," puji Citra.


"Dia seorang Dosen," sahut Reval.


"Oh iya. Jadi kak Reval jadi Dosen karena mengikuti papa kak Reval, terinspirasi seperti papa kak Reval?" tanya Citra cukup kaget.


"Tidak juga. Namun banyak alasan kenapa aku menjadi Dosen," sahut Reval menghampiri Citra yang Reval sudah selesai membuat orens jus untuk Citra.


"Salah satu alasannya?" tanya Citra menghadap Reval.


"Mama," jawab Reval singkat dan memberikan minuman itu pada Citra, "aku tidak punya kepikiran atau tidak bercita-cita sama sekali untuk menjadi seorang Dosen. Bahkan aku sangat tidak menyukai profesi tersebut. Bisa di katakan aku sangat membenci profesi sebagai Dosen. Namun karena mama itu yang membuatku harus menjadi Dosen," jelas Reval.


"Pasti mama kakak sekarang bangga banget sekarang. Kak Reval sudah menjadi seorang Dosen," ucap Citra.


"Ya dia akan bangga. Ketika aku berkorban demi dirinya," sahut Reval.


"Lalu sekarang papa kak Reval ke mana?" tanya Citra.

__ADS_1


"Dia sudah pergi," jawab Reval.


"Maksudnya sudah tiada?" tebak Citra dengan hati-hati.


Reval tersenyum mengandung arti dan beralih dari hadapan Citra menuju jendela yang menatap ke luar jendela.


"Lebih baik di katakan tiada. Karena jika hidup hanya membuat orang setengah tiada. Dia pergi setelah membuat mama sakit sampai sekarang," ucap Reval yang membuat Citra heran dan Citra menghampiri Reval.


"Maksud kak Reval?" tanya Citra heran


"Sangat brengsek, Dosen yang brengsek yang telah menjalin hubungan dengan mahasiswanya di tengah pernikahannya. Dia memilih mahasiswinya di bandingkan istri dan anaknya," ucap Reval yang terlihat sangat membenci papanya.


"Kak Reval!" lirih Citra memegang pundak Reval. Dari kata-kata Reval. Citra pasti sudah tau apa yang di maksud Reval. Reval membalikkan tubuhnya menghadap Citra.


"Mama tidak bisa terima dengan apa yang terjadi kepadanya. Penghiyanat cinta yang di lakukannya membuat mama harus mengalami semua ini sampai sekarang. Karena dia memilih wanita lain di bandingkan aku dan mama dan aku harus hidup sebagai anak yang mentalnya di rusak dan semua itu gara-gara wanita itu. Wanita yang menghancurkan keluarga kami," ucap Reval yang dari matanya terlihat kemarahan.


"Kak ini pasti sulit untuk kakak. Maafkan Citra. Citra tidak bermaksud untuk mengungkit hal itu," ucap Citra merasa tidak enak.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Tidak apa-apa. Itu hanya masa lalu," sahut Reval tersenyum yang menutup kesedihannya dan Citra langsung memeluknya dengan erat dengan meletakkan gelas yang di pegangnya di atas meja.


Reval melepas pelukannya dari Citra dengan menatap intens Citra, memegang pipi Citra sembari membelai rambut Citra.


"Tapi aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Karena aku sudah menjadi Dosen dan akan membuat mama mendapatkan keadilan," ucap Reval. Citra mengangguk-angguk dengan tersenyum.


"Kak Reval Dosen yang hebat. Selain itu juga anak yang hebat. Mama kak Reval akan sangat bangga dengan pencapaian kak Reval," ucap Citra dengan tersenyum. Reval menganggukan kepalanya yang juga tersenyum pada Citra.


Cup


Citra mencium pipi Reval dengan lembut, "tetap semangat," ucap Citra memberikan dukungan pada Reval.


"Terima kasih Citra," sahut Reval menatap intens Citra. Bahkan sangat dekat dengan Citra dan mencium bibir Citra dengan lembut yang mana Citra memejamkan matanya saat mendapatkan ciuman itu.


Ke-2nya berciuman dengan romantis yang sama-sama saling membalas satu sama lain dengan kenikmatan yang mereka rasakan yang seolah tidak mau lepas dari ciuman tersebut.


***********


Citra dan Reval berada di dalam mobil dengan tangan mereka yang berpegangan. Reval juga sembari menyetir dan sekali-kali melihat ke arah Citra dengan tersenyum.

__ADS_1


"Citra hari ini sangat happy," ucap Citra.


"Aku juga," jawab Reval tersenyum lebar.


Dan tidak lama mereka sudah sampai di rumah Citra.


"Ya sudah kak Reval. Citra masuk dulu ya!" ucap Citra pamit pada Reval.


"Iya masuklah Citra. Kamu langsung istirahat dan Terima kasih kamu sudah mau ke ulang tahun mama hari ini," ucap Reval.


"Iya kak Reval sama-sama. Ya sudah Citra masuk dulu. Kakak pulangnya hati-hati ya," ucap Citra. Reval mengangguk saja dan Citra langsung keluar dari mobil Reval dengan hatinya yang berbunga-bunga. Karena memang begitu bahagia sekali.


Namun Citra melihat mamanya keluar dari rumah yang terlihat buru-buru sekali.


"Mama, kenapa buru-buru sekali," gumam Citra menghampiri Anggika saat ingin memasuki mobil.


"Mah tunggu!" panggil Citra menghentikan mamanya, "mama mau kemana? kenapa buru-buru sekali?" tanya Citra heran. Apa lagi melihat wajah sang mama terlihat marah yang tidak tau apa yang terjadi.


Plakkk.


Anggika langsung menampar Citra yang membuat Citra kaget. Begitu juga dengan Reval yang tadinya ingin pergi melihat dari kejauhan Citra yang di tampar.


"Kamu sekarang menjadi sekutu papamu. Kamu juga menghiyanati mama," teriak Anggika.


"Apa maksud mama?" tanya Citra dengan meneteskan air matanya, selain shock mendapat tamparan pertama kali. perkataan sang mama juga bukit terheran-heran.


"Jangan pura-pura tidak tau Citra. Kamu pikir mama tidak tau. Bagaimana kamu, Argantara, dan Sean menyembuyikan wanita itu dari mama," teriak Anggika dengan suaranya yang menggelar yang membuat Citra terkejut.


"Sekarang mama akan menyeret dia ke hadapan kalian semua dan mama ingin tau bagaimana sandiwara kalian selama ini!" teriak Anggika yang langsung memasuki mobil.


"Mah tunggu! mah!" Citra yang schok berusaha mengejar mamanya yang sudah melajukan mobilnya bisa di pastikan Anggika akan ke tempat Reya. Tidak tau apa yang membuat Anggika yakin dan dari cara marahnya sudah menjelaskan dia tau semauanya dan sampai-sampai menampar Citra.


Citra pasti takut dan berusaha menghentikan Anggika namun apa daya mobil itu melaju kencang dan bahkan Citra sampai terjatuh saat mengejar mobil Anggika.


"Maaaaaa!" teriak Citra yang sudah berlutut di atas aspal.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2