
Reya dan Sean berada di rumah sakit yang mana Reya dan Sean sekarang berada di depan Dokter yang memeriksakan kandungan Reya. Kandungan Reya sudah selesai di periksa dan sekarang Dokter memberikan hasil pemeriksaan kandungan Reya. USG ke-2 Reya.
"Apa kandungan saya baik-baik saja Dok?" tanya Reya
"Baik tidak ada masalah sama sekali dan apa yang pak Sean khawatirkan tidak terjadi. Tetapi saran saya. Pak Sean dan Bu Reya harus jarang-jarang melakukan hubungan tersebut. Karena takutnya janin yang masih lemah kenapa-kenapa nantinya. Hal ini masih rentan soalnya," ucap Dokter menyarankan.
Sean dan Reya saling melihat dan sangat gugup dengan apa yang Dokter bicarakan, masalah keintiman yang membuat mereka masih sangat kaku membahas masalah vulgar seperti itu.
"Kenapa juga Dokter harus membahas masalah itu sih," batin Reya yang begitu gugup dengan memencet-mencet jarinya.
"Saya sangat mengerti Bu Reya dengan perasaan Bu Reya," sahut Dokter.
"Maksudnya?" tanya Reya heran dengan pernyataan Dokter.
"Bu Reya pasti berat dengan hal ini. Saya sangat paham masalah itu. Karena hormon ibu hamil muda memang bawaannya seperti itu yang ingin terus dekat-dekat dengan suaminya. Jadi memang hal yang wajar dan ini menjadi kesulitan sendiri untuk ibu," sahut Dokter lagi yang membuat Reya semakin malu. Namun Sean tersenyum mendengarnya.
"Jadi itu alasannya dia menelponku malam-malam. Pasti dia begitu gelisah," batin Sean dengan senyum penuh arti membuat Reya tiba-tiba menjadi kesal.
"Tidak kok Dokter saya tidak keberatan dengan saran Dokter," sahut Reya yang langsung dengan cepat bicara. Karena takut Sean akan berpikiran yang tidak-tidak kepadanya.
"Iya Bu Reya saya mengerti, pak Sean juga ya jaga-jaga," ucap Dokter.
"Baik Dokter, tergantung ibu bayinya," goda Sean
"Oh iya apa Bu Reya apa sering mual-mual lagi?" tanya Dokter.
"Sudah berkurang Dokter. Hanya terkadang kalau dekat-dekat dengannya. Aku merasa mual," sahut Reya melirik Sean, membuat Sean mendengarnya kaget dengan menautkan ke-2 alisnya.
Dokter juga tertawa mendengar ucapan Reya yang seakan dia mengerti, "itu sangat biasa Bu Reya. Banyak ibu yang hamil muda. Tiba-tiba tidak menyukai suaminya dan suka mual-mual, ilfil dan bawahannya rasanya marah terus pada suaminya. Gejala itu memang sering saya temui pada pasien-pasien yang datang konsultasi dan mengeluhkan hal itu," sahut Dokter.
"Oh begitu ya Dokter pantas saja," sahut Reya.
Sean mengepal tangannya yang terlihat sangat kesal mendengar pernyataan Reya membuat Sean merapatkan giginya yang menahan amarahnya.
"Pak Sean harap di maklumi ya. Terkadang memang aroma yang biasa kita hirup membuat ibu hamil sangat merasa berbeda. Jadi pak Sean harus jauh-jauh untuk sementara. Tidak akan lama pastinya," saran Dokter. Mendengar hal itu membuat Reya menahan tawanya.
Bagaimana tidak ingin tertawa melihat wajah Sean yang begitu kesal.
__ADS_1
"Oh baik Dokter tidak masalah kok Dokter. Saya akan melakukannya, akan menjauh demi kenyamanannya," sahut Sean dengan berusaha santai dan tidak masalah.
"Baiklah kalau begitu. Kalian saling menjaga kandungannya. Semoga baik-baik saja kedepannya," ucap Dokter.
"Ya sudah Dokter kalau begitu kamu permisi dulu!" ucap Sean yang langsung pamit.
"Baik silahkan!" sahut Dokter.
Sean yang tampak kesal langsung pergi terlebih dahulu tidak menunggu Reya dan Reya tertawa yang langsung mengejar Sean. Reya memang paling suka mencari masalah dengan Sean. Namun itu sangat menghibur untuk Reya.
**********
Sean bahkan tega-teganya meninggalkan Reya dan berjalan dengan cepat.
."Sean tunggu aku!" panggil Reya yang mengejar Sean dan berhasil memegang lengan Sean.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Reya dengan suara manjanya.
"Kau tidak mual dekat-dekat denganku?" tanya Sean dengan ketus membuat Reya tertawa.
"Malah tertawa lagi. Aku sedang tidak menjadi pelawak di sini," ucap Sean dengan kesalnya, dengan wajahnya yang sangat merah.
"Jadi kamu pikir aku bercanda. Oke sekarang kita jaga jarak. Aku tidak ingin rumah sakit ini kotor karena muntahan mu yang dekat-dekat denganku," ucap Sean yang langsung menjaga jarak dengan Reya membuat Reya semakin tertawa melihat Sean yang menjadi marah karena masalah itu.
"Jangan tertawa. Aku serius. Kita jaga jarak saja demi kebaikanmu," ucap Sean dengan tegas.
"Tapi mana mungkin itu baik untukku," sahut Reya.
"Kau yang mengatakan seperti itu sangat mual jika dekat-dekat denganku," sahut Sean menegaskan.
"Sean aku..." Reya melangkah mendekati Sean dan Sean mengangkat tangannya untuk menyuruh Reya stop.
"Jangan mendekat. Kita jaga jarak," tegas Sean yang begitu seriusnya.
Reya menghela napasnya dan langsung melangkah mendekati Sean dan langsung memeluk Sean.
"Kenapa mudah sekali marah. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku, mual, ilfil dan marah-marah dekat kamu. Aku justru tidak ingin jauh-jauh dari kamu. Buktinya lihat aku baik-baik saja. Justru sangat ingin memelukmu seperti ini," ucap Reya memeluk Sean dengan erat membuat Sean tersenyum yang akhirnya amarah kekesalannya hilang dengan pelukan dan kata-kata Reya yang sangat manis.
__ADS_1
Reya melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Sean dengan mengangkat kepalanya.
"Jangan marah aku hanya bercanda," ucap Reya dengan suara pelannya.
"Benarkah?" tanya Sean. Reya menganggukkan kepalanya
"Aku tidak percaya. Aku sudah terlanjur marah dan ingin jauh-jauh darimu, karena ini merupakan permintaan yang sangat menyinggungku," ucap Sean.
"Isssss jangan seperti itu. Aku mana bisa kalau seperti itu," sahut Reya yang begitu sangat manja kepada Sean. Hormonnya berubah menjadikan dirinya sangat manja.
"Kamu yang memulainya," sahut Sean
"Aku kan hanya bercanda," ucap Reya.
"Aku tidak percaya," sahut Sean.
Reya berdecak kesal dan langsung jinjit mengecup bibir Sean.
"Aku benar-benar bercanda," ucap Reya membuat Sean tersenyum mendapatkan kecupan bibir itu.
"Kau sekarang mulai berani. Ini tempat umum. Kau sangat berani menciumku," ucap Sean dengan berbicara pelan.
"Aku tidak bermaksud hanya saja," sahut Reya yang mendadak gugup. Dia menyadari tempat itu banyak orang yang berlewatan. Namun namanya sudah spontan mau bagaimana lagi.
Sean menyunggingkan senyumnya dan mendekatkan wajahnya lada Reya membuat Reya panik yang tau apa maksud Sean
"Sean!" Lirih Reya panik dengan menutup mulut Sean dan melihat ke kiri-kanannya yang takut di lihat orang. Namun Sean tersenyum dengan sengaja membuat Reya panik.
"Isss, kamu ini benar-benar," geram Reya.
"Aku tidak mungkin mencium mu di depan orang ramai. Ayo kita pulang!" Ajak Sean dengan menggenggam tangan Reya.
Reya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Astaga aku harus menebus obat kamu. Kamu tunggu di sini ya. Biar aku yang tebus," ucap Sean yang baru teringat.
"Iya baiklah," sahut Reya dengan tersenyum mengangguk.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana," ucap Sean. Reya mengangguk-angguk dan Sean langsung pergi sementara Reya yang duduk di salah satu bangku untuk menunggu Sean.
Bersambung