
Reya dan Citra terus mengejar mobil yang di kendarain Erina yang semakin lama semakin melaju dengan kencang dan juga sudah menuju jalan sepi yang tidak melewati jalan lintas lagi dan hanya ada beberapa kendaraan yang melintas.
Reya semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi dengan kedekatan mobil Anggika dan juga Erina yang begitu dekat dan dengan tiba-tiba mobil Erina berhenti membuat Reya yang kaget dan merem tiba-tiba.
Bruk.
Reya tidak dapat mengelakkan mobil di depannya yang akhirnya menabrak belakang mobil Erina yang membuat Reya dan Citra maju kedepan dan dahi Reya terbentur pada stir mobil. Karena yang tiba-tiba merem mendadak.
"Auh," lirih Reya memegang kepalanya saat mengangkat dari stir mobil yang ternyata dahinya terbentur parah sampai berdarah.
"Reya kamu tidak apa-apa?" tanya Citra yang panik. Apa lagi melihat Reya yang terluka.
"Tidak Citra, maaf ya Citra, aku juga sudah membuat kamu terluka, maafkan aku," ucap Reya yang merasa bersalah dengan Citra. Karena Citra juga terbentur dan hanya saja tidak terluka seperti Reya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja," sahut Citra. Reya mengangguk dan mereka yang masih mengatur napas mereka sama-sama melihat ke mobil yang di depan mereka.
"Tante Erina!"
"Mama!" lirih ke-2nya.
Saat melihat Erina yang turun dari mobil dengan membawa kayu pemukul bola dan berjalan dengan langkah yang Arrogant menuju mobil yang ada Citra dan Reya di dalamnya yang membuat Citra dan Reya saling melihat dengan wajah terkejut mereka di tambah panik dengan ke-2 tangan mereka yang saling menggenggam dengan melihat apa Erina yang semakin lama semakin mendekati.
Pranggg.
"Aaaaaaa!" teriak Reya dan Citra ketika Erina memecahkannya kaca mobil di bagian depan dan membuat Citra dan Reya berlindung dengan menundukkan kepalanya.
Bukan sekali pukulan saja bahkan beberapa kali yang tadinya kaca hanya retak yang sampai detik ini. Kaca menjadi pecah yang membuat Reya dan Citra benar-benar takut dan bahkan pecahan kaca mengenai mereka berdua.
"Arggggg!" teriak Citra dan Reya dengan menutup telinga mereka. Karena benar-benar sangat terkejut.
__ADS_1
"Rasakan kalian berdua, siapa suruh kalian berdua berani sekali mengikutiku dan ini yang terjadi, rasakan!" Erina dengan kemarahannya terus melakukan semuanya dengan sesukanya yang membuatnya tidak peduli dengan pada Reya maupun Citra dan terus menghancurkan kaca mobil yang bagian depan sudah hancur dan sekarang pindah memecahkan kaca mobil di bagian pintu di samping Reya.
"Mama hentikan! apa yang mama lakukan, hentikan mah!" teriak Reya.
"Kalian berdua rasakan. Makanya jangan mencampuri urusanku!" teriak Erina yang benar-benar sudah kesetanan dengan.
Citra yang melihat keadaan itu langsung membuka pintu mobil di bagian dirinya dan langsung menarik Reya keluar dari tempat itu yang menyelamatkan diri dari wanita yang ternyata bukan lawan mereka yang akhirnya mereka berdua berhasil keluar dari mobil itu dan untungnya pecahan kaca tidak mengenai mereka.
"Cukup!" bentak Citra yang menghampiri Erina, "kau ingin membunuh kami berdua? apa kau tidak puas karena sudah ingin membuat papa mati hah! dan sekarang kau ingin membunuh kami. Kau itu benar-benar bukan manusia. Kau itu iblis!" teriak Citra dengan suaranya yang menggelar.
"Kau!" umpat Erina yang ingin memukul Citra dengan kayu yang di pegangnya. Namun Reya menghalanginya.
"Cukup mah!" bentak Reya yang menantang Erina dan membuat Erina menurunkan tangannya yang tidak jadi memukul Citra.
"Mama benar-benar keterlaluan. Kenapa mama sejahat ini hah! kenapa mama melakukan semua ini. Kenapa begitu jahat pada papa dan juga pada Tante Anggika!" teriak Reya dengan suaranya yang menggelegar.
"Aku hanya memihak pada siapa yang benar dan mama yang salah dan wajar aku memihak pada mereka. Karena mama sangat keterlaluan. Mama sudah menghancurkan keluarga orang lain dan apa mama bilang. Aku harus berterima kasih. Apa aku pantas mengucapkan terima kasih pada wanita yang sudah menghancurkan hidupku, yang memanfaatkanku dan membuatku menderita sampai detik ini, apa aku harus berterima kasih yang di jadikan alat untuk menghancurkan keluarga orang lain. Justru aku sangat menyesal jika harus menjadi anakmu!" teriak Reya dengan menekan suaranya.
"Berani kau mengatakan semua itu," sahut Erina yang tidak terima.
"Kenapa? sekarang aku bertanya dulu pada mama. Apa mama pernah menganggapku sebagai anak. Tidak mah! mama tidak pernah memggapku sebagai anak. Kau sangat terluka dengan semua yang mama lakukan dan ini yang sekarang ini mama bahkan membuat papa hampir mati," ucap Reya.
"Kau menuduhku melakukannya?" sahut Erina yang tidak mengakui perbuatannya.
"Jika bukan kau siapa lagi dan jika bukan kau, kenapa kau lari," sahut Citra.
"Jangan menuduh sembarangan kalau tidak ada bukti," sahut Erina.
"Kalau begitu ayo kekantor Polisi dan kau bisa membela dirimu di kantor Polisi," sahut Citra.
__ADS_1
"Hahahahahahahah," Erina tertawa terbahak-bahak, "kamu menyuruhku kekantor polisi hah! untuk apa hah! kau pikir aku mau hah! aku sudah mengatakan aku tidak ada urusan dengan ayahmu!" ucap Erina yang masih mengelak.
"Jika mama memang tidak melakukan apapun pada papa. Kenapa gelang mama ada di sana. Mama sudah membuat semua cerita, melibatkan Tante Anggika dan semuanya berantakan dan semua itu karena mama!" teriak Reya.
"Jadi gelang itu yang menjadikan ku tersangka. Sial kenapa aku ceroboh sekali," batin Erina yang baru menyadari jika dia memang meninggalkan jejak.
"Sudahlah mah, sebaiknya mama menyerah saja. Mama harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mama. Sudah cukup semua ini mah, membuat semua orang menderita, cukup aku yang mama korbankan. Mama harus bertobat dan menghentikan semua ambisi mama hanya untuk ingin mendapatkan papa. Karena semua itu tidak ada gunanya," sahut Reya merendahkan suaranya yang berusaha untuk membujuk sang mama.
"Jangan mengguruiku Reya. Aku sudah mengatakan. Kau tidak tau apa-apa tentang semua ini. Jadi stop mengguruiku dan aku tidak akan menyerahkan diri kekantor Polisi," ucap Erina.
Citra dan Reya saling melihat dan sepertinya dari tatapan mata mereka seakan merencanakan sesuatu dan melihat Erina yang terlihat linglung dengan pemikiran yang tidak dapat di mengerti dan membuat Reya dan Citra dengan cepat berlari kearah Erina dan memegang tangan Erina di kiri dan kanannya.
"Apa yang kalian lakukan! lepaskan aku! lepaskan.
"Kali ini kau tidak akan bisa lolos kau akan mempertanggung jawabkan perbuatan mu," ucap Citra dengan kuat memegang tangan Erina.
"Jangan kurang ajar kepadaku. Aku bilang lepaskan aku! lepaskan!" Erina berusaha untuk melepaskan diri dari 2 wanita yang tangannya begitu kuat. Mungkin itu semua tenaga yang di kumpulkan Reya dan Citra. Namun kekuatan Erina jauh lebih kuat sampai bisa melepaskan diri dari Reya dan malah membuat Reya terjatuh dan terduduk di tanah.
"Reya!" teriak Citra yang kaget melihat Reya yang kesakitan dengan memegang perut Reya. Lengahnya Citra juga membuat Erina melepaskan diri dari Citra dan melarikan diri. Citra yang sempat terjatuh langsung menarik kaki Erina dan membuat Erina terjatuh dan tersungkur dan Citra tidak akan melepaskan Erina.
"Lepaskan aku anak Sialan! lepaskan!" Erina berusaha mendorong tangan Citra yang ada di kakinya.
"Aku tidak akan melepaskan wanita sepertimu yang sudah menghancurkan keluargaku!" teriak Citra dengan berusaha semampunya yang terus menarik kaki Erina yang berusaha untuk melepaskan diri dan Reya yang merasa dirinya tidak apa-apa ikut membantu Citra agar Erina tidak lolos kali ini.
Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu
Suara sirene polisi terdengar begitu dekat membuat Erina terkejut yang di pastikan Polisi sudah tiba di lokasi tersebut.
Bersambung
__ADS_1