Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 79 Melamar.


__ADS_3

Percintaan itu tidak tau selesai jam berapa. Kamar itu sudah berantakan dengan pakaian yang berserakan di atas lantai dan di mana 2 insan yang saling memberi kepuasan itu sedang berada di atas ranjang dengan Sean memeluk Reya dan mereka sama-sama terbangun.


Setelah melakukan perang di atas ranjang ke-2nya tidak tidur sama sekali dan terlihat mengobrol dengan dekat sembari Sean mengusap-usap pucuk kepala Reya yang tubuh mereka ber-2 masih polos yang tertutupi dengan selimut.


"Apa kamu lelah?" tanya Sean.


"Tidak aku tidak capek," jawab Reya.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Sean.


"Tidak sama sekali," jawab Reya.


"Apa kamu lapar?" tanya Sean. Reya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Sean.


"Kenapa bertanya terus? aku tidak apa-apa dan sebenarnya apa yang ingin kamu dengarkan dari ku Sean. Apa kamu ingin aku menjawab sesuatu?" tanya Reya yang sepertinya ada maksud dari pertanyaan Sean yang begitu banyak.


"Apa kamu menyesal Reya melakukan yang ke-2kalinya dengamu? apa kamu terpaksa?" tanya Sean yang itulah inti pertanyaannya sama sekali.


"Aku tidak terpaksa Sean. Aku tidak menyesal melakukannya. Aku memang menginginkannya, tubuhku menginginkannya," jawab Reya apa adanya. Sean menghela napasnya dan mencium kening Reya dengan lembut.


Dia takut saja jika Reya marah dengan kejadian tadi dan itu membuat pikiran Sean sama sekali tidak tenang.


"Sean jangan berpikiran jika kamu merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Aku tidak apa-apa sama sekali dan tadi kamu tidak memaksaku," ucap Reya.


"Aku hanya takut kau kenapa-kenapa," sahut Sean.


"Tetapi aku tidak kenapa-kenapa sama sekali," jawab Reya.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Sean yang merasa lega.


"Lalu bagaimana dengan kamu Apa kamu tidak pulang?" tanya Reya yang kembali meletakkan wajahnya didada bidang Sea


"Aku akan menemanimu sampai besok pagi. Bukannya kamu masih merindukanku," ucap Sean.

__ADS_1


"Kapan aku mengatakannya," sahut Reya dengan mengangkat kepalanya yang membantah tuduhan Sean.


"Saat di telpon. Kenapa pura-pura amnesia, aku jelas mengingatnya. Jika kamu sangat merindukanku," ucap Sean dengan menaikkan 1 alisnya.


"Aku tidak mengatakannya. Bukannya aku sudah meralatnya yang mana aku mengatakan aku hanya....hanya...,"


"Hanya apa?" tanya Sean menunggu jawaban itu.


"Tidak jadi," sahut Reya dengan kesalnya yang malu di hadapan Sean membuat Sean tersenyum.


"Jika merindukan. Maka katakan saja jangan gengsi," sahut Sean.


"Siapa juga yang merindukanmu," sahut Reya masih mengelak dan tidak mau mengakui perasaannya itu.


"Reya aku itu tau dari wajahmu. Jika kamu merindukanku. Makanya jujur saja padaku," sahut Sean yang menggoda Reya.


"Aku juga tidak tau kenapa. Tiba-tiba sangat merindukanmu. Aku rasanya tidak ingin jauh-jauh dari kamu, ya aku tidak tau alasannya," ucap Reya yang jujur dengan perasaannya.


"Kamu sudah membuka hati mu kembali kepadaku dan apa yang kamu rasakan itu tidak salah," ucap Sean. Reya hanya diam dengan wajahnya yang penuh pemikiran.


"Apa iya?" tanya Reya.


"Iya. Dengan kita selalu bersama akhir-akhir ini. Kamu sudah mulai membuka kembali hatimu untukku. Jadi makanya kamu begitu merindukanku," ucap Sean membuat Reya berpikir.


Mungkin memang iya. Karena dia sangat nyaman dengan Sean dan apa yang di lakukan Sean mampu meluluhkan hatinya. Hal itu tidak akan di pungkirinya sama sekali.


Tangan Sean membuka laci di sampingnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana yang berupa kotak kecil yang membuat Reya heran.


"Apa itu?" tanya Reya dengan wajah penasarannya.


Sean membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah cincin. Sean langsung meraih tangan Reya dan memasukkan cincin itu ke jari manis Reya membuat Reya menjadi dek-dekan dengan penuh pertanyaan kenapa Sean memasukkan cincin itu kejarnya.


"Sean kenapa memasangkannya?" tanya Reya begitu gugup melihat indahnya cincin yang terpasang di jari manisnya itu.

__ADS_1


"Kamu milikku Reya dan kita akan menikah," ucap Sean menatap Reya dalam-dalam.


Mata Reya berkaca-kaca dengan penuh kegelisahan saat Sean melamar dirinya. Gelisah, panik, cemas, shock bercampur menjadi satu dengan kata-kata Sean yang sangat mengejutkan.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Reya yang merasa tidak mungkin.


"Kita akan menikah. Kamu akan menjadi istri ku," jelas Sean.


"Apa itu mungkin?" tanya Reya.


"Kamu sudah menerimaku Reya. Kamu sudah membuka hatimu kembali padaku dan tidak ada alasan untuk kita tidak menikah. Jika kamu menerimaku itu artinya kamu juga sama sepertiku menolak takdir yang salah di hubungan kita. Bukan cinta kita yang terlarang. Bukan kesalahan kita. Tetapi taksir yang salah dan cinta kita akan melawan semuanya," ucap Sean dengan tegas membuat air mata Reya jatuh.


Posisi itu semakin sulit baginya. Tetapi Sean benar. Dengan percintaan mereka tadi dan Reya memberi izin itu sudah membuktikan jika Reya pun tidak ingin kenyataan itu dan melawan takdir itu.


"Kita hidup bahagia bersama anak kita. Dan jika ada yang menegang. Aku tidak akan peduli. Bagiku hanya kamu yang aku inginkan dan aku akan meninggalkan segalanya. Jika harus meninggalkannya. Aku bukan hanya ingin kepuasan di setiap saat Reya. Tetapi bertanggung jawab kepadamu," ucap Sean dengan tulus bicara membuat Reya meneteskan air mata.


"Percayalah kepadaku Reya apa yang aku katakan hanya demi kebaikanmu. Kebaikan anak kita dan juga untuk hubungan kita," ucap Sean lagi membuat Reya semakin terharu.


"Kita jangan membahas hubungan di antara kita yang menjadi kesalahan. Karena itu bukan kesalahan kita. Melainkan orang tua kita. Kita saling mencintai dan itu adalah kekuatan untuk kita berdua," ucap Sean yang benar-benar tulus kepada Reya.


"Aku juga mencintaimu," ucap Reya yang akhirnya mengungkapkan perasaannya yang memang pada akhirnya jujur dia sangat mencintai Pria di pelukannya itu.


Mendengarnya membuat mata Sean berkaca-kaca. Pasti tidak pernah di duganya. Jika Reya akhirnya mengatakan hal itu yang membuat debaran jantungnya berdetak kencang.


"Aku mencintaimu dan awalanya aku takut dengan semua ini. Aku takut dengan perasaanku yang aku rasa perasaan ini salah dan tidak akan ada ujungnya. Tetapi ternyata tidak sama sekali. Aku justru semakin takut jika aku harus kehilanganmu untuk yang kesekian kalinya," ucap Reya dengan air matanya yang menetes terus.


Sean mendengarnya terharu dan tidak terasa air matanya juga jatuh dan membuat Sean mencium lembut kening Reya.


"Jangan takut. Aku tidak akan pernah pergi darimu. Apapun yang terjadi aku akan bersamamu. Mari kita tentang takdir ini sama-sama. Biar cinta yang menjadi kekuatan kita. Aku mencintaimu Reya aku sangat mencintaimu," ucap Sean yang terus mengucapkan cinta.


"Aku juga sangat mencintai. Sangat mencintaimu," sahut Reya yang langsung memeluk Sean dengan erat. Di mana mereka menangis terharu karena perasaan yang akhirnya saling di ungkapkan. Awalnya hanya Sean yang mencintai Reya dan Reya masih menutup hatinya. Namun sekarang tidak sama sekali. Reya pun luluh dan sangat mencintai pria yang di pelukannya itu yang pasti memberikan banyak kebahagiaan untuknya


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2