Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 246


__ADS_3

Setelah Anggika menemui Erina dan mengatakan semua yang seharusnya di katakannya dengan berkelas. Anggika pun langsung keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Erina yang pasti sekarang mengumpat penuh dengan kekesalan dengan mendengar kata-kata Anggika.


Namun Erina merasa lega dengan menghela napasnya yang telah menyampaikan semua yang di sampaikannya.


"Aku berharap dua bisa berubah dan bisa bertobat dengan semua yang di lakukannya," gumam Erina dengan menghela napas berat yang memberikan harapannya pada Erina untuk bertobat.


Tiba-tiba Reval juga ada di kantor Polisi yang sepertinya juga ingin berkunjung.


"Reval!" lirih Anggika yang melihat kedatangan Reval.


"Tante," sahut Reval menundukkan kepalanya saat berdiri di depan Anggika.


"Kamu ada di sini juga?" tanya Anggika.


"Iya Tante aku tidak percaya Tante juga ada di sini ternyata. Apa Tante menemui Tante Erina?" tanya Reval yang menduga-duga.


"Kamu benar, saya sedang menemui Erina. Sudah selesai hanya berbicara sebentar saja," jawab Anggika.


"Begitu rupanya. Apa Tante Erina menyakiti Tante?" tanya Reval yang kelihatannya khawatir.


"Tidak sama sekali," jawab Anggika.


"Ya sudah kalau begitu Tante, saya masuk dulu, saya ingin menemui Tante Erina,"ucap Reval. Anggika mengangguk dan Reval langsung memasuki ruangan kunjungan untuk bertemu Erina dengan Anggika yang membalikkan tubuhnya yang terus melihat Reval sampai memasuki ruangan tersebut.


"Dia sudah tau. Jika itu adalah ibu kandungnya. Tetapi sangat bisa di lihat. Jika Reval tidak menginginkan Erina untuk menjadi ibu kandungnya. Aku tidak bisa berpendapat apa-apa untuk mereka berdua. Aku berharap Reval juga bisa bijak dan mengatasi masalah yang di hadapinya," batin Anggika yang kembali menghela napasnya.


**********

__ADS_1


Akhirnya Reval dan Erina bertemu dengan duduk berhadapan dengan ke-2nya yang masih diam tanpa mengeluarkan 1 patah katapun.


"Aku sungguh kecewa kepadamu," ucap Erina yang memulai pembicaraan dengan aura dinginnya yang menatap Reval.


"Kata kecewa itu seharusnya aku yang mengatakannya. Apa Tante tau dengan perbuatan Tante yang gelap mata sudah menyakiti banyak orang. Bukan hanya tante Anggika, menghancurkan keluarganya dan merusak kehidupan anak-anaknya, merusak kebahagian Citra dan Sean. Tetapi Tante juga sangat jahat yang sudah membuat Reya dan Citra keguguran. Tante menghilang cucu Tante sendiri. Apa Tante sangat puas menghancurkan kehidupan mereka," ucap Reval dengan penuh penekanan yang terlihat sangat emosi dengan perbuatan Erina.


"Reval jika kamu bicara. Seharusnya menggunakan kata yang benar yang pertama panggil aku mama. Karena aku adalah ibu kandungmu yang ke-2 aku tidak ada urusan dengan kehamilan Reya dan anak yang di kandungnya. Itu bukan cucuku dan dia sendiri yang mencari masalah sampai akhirnya seperti itu. Jadi jangan menyalahkanku," sahut Erina dengan santai yang seolah-olah merasa tidak bersalah.


Reval sampai geleng-geleng dengan perkataan Erina yang memang tidak akan pernah mengakui kesalahannya dan malah bisa tersenyum ketika semua yang di lakukannya.


"Aku tidak pernah bertemu dengan wanita jahat sepertimu dan sangat mustahil kau adalah ibuku," sahut Reval dengan sinis membuat Erina menyunggingkan senyumnya.


"Kau benar-benar tidak tau terima kasih Reval. Aku sudah melahirkanmu dan bahkan aku menyelamatkan nyawamu di saat kamu kritis. Tetapi kau malah mengatakan kata-kata seperti itu. Aku ini adalah ibu kandungmu dan seharusnya kau berpihak padaku dan bukan pada keluarga itu," tegas Erina.


"Aku sudah mengatakan tidak akan mengakuimu sebagai ibu kandungku. Karena seorang ibu tidak akan pernah melakukan hal seperti ini. Jika aku anakmu. Kau tidak akan membuangku, jika aku anakmu kau tidak akan membiarkan hubungan ku dengan Citra bahkan sengaja melakukannya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengakui jika kau itu ibu kandungku!" tegas Reval dengan penuh penekanan terhadap Erina yang membuat Erina mengepal tangannya yang tidak terima dengan Reval yang tidak mau mengakui dirinya.


"Aku datang kemari hanya ingin memastikan. Jika kau sudah pada tempatmu. Aku sangat lega melihat mu berada di sini dan sangat berharap kau mendapatkan hukuman yang berat. Kalau perlu hukuman mati atas perbuatan mu yang menyakiti banyak orang dan mencelakakai banyak orang. Kau seharusnya tidak ada lagi di dunia ini," tegas Reval yang tidak bisa mengontrol kata-katanya.


"Kau benar-benar anak tidak tau diri. Aku yang melahirkanmu membuatmu melihat dunia ini. Tetapi kau malah mendoakanku mati hanya karena kau berpihak pada keluarga sialan itu!" bentak Erina dengan marah-marah sembari menunjuk Reval.


"Aku hanya berpihak pada manusia saja," sahut Reval menekankan.


"Apa katamu. Jadi kau tidak menganggapku manusia," sahut Erina yang semakin menggelar emosinya dengan perkataan Reval yang semakin sakit.


"Tidak ada manusia seperti mu yang menyakiti putrinya sendiri. Dan aku katakan sekali lagi aku bukan anakmu. Jika benar aku anak kandungmu. Maka aku akan memilih untuk tidak pernah melihat dunia ini!" tegas Reval dengan sini.


"Reval!!!!" teriak Erina dengan suaranya yang semakin kuat bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya dan mendatangkan 2 polisi karena suara teriakan Erina.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Polisi tersebut.


Reval berdiri dari tempat duduknya.


"Kedatangan ku hanya ingin mengatakan itu saja. Aku tegaskan aku bukan anakmu dan selamat untuk hukuman berat yang akan kau dapatkan," ucap Reval dan langsung pergi.


"Reval mau kemana kau? aku ini ibumu! aku sudah melahirkanmu! aku membesarkan mu! Reval mau kemana kau? Reval!!!" Erina berteriak-teriak yang ingin mengejar Reval. Namun pasti Polisi menahannya dan menariknya paksa kembali kedalam sel. Erina dengan histerisnya terus memanggil-manggik Reval.


Namun Reval yang baru keluar dari ruangan pengunjung menghela napasnya yang terlihat benar-benar lega.


"Reval!" tegur Anggika yang ternyata belum pulang.


"Tante Anggika. Tante belum pulang?" tanya Reval yang masih mengatur napasnya.


"Menunggu kamu," jawab Anggika.


"Menunggu saya. Kenapa?" tanya Reval heran.


"Bagaimana perasaan kamu? apa sudah jauh lebih baik? apa kamu sudah merasa sangat plong?" tanya Anggika yang tidak menjawab pertanyaan Reval sebelumnya.


"Aku merasa jauh lebih baik dan aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan dan jika memang benar aku anak kandung Tante Erina. Aku tidak tau apakah aku menjadi orang yang durhaka. Karena tidak ingin menjadi anaknya," ucap Reval. Mendengarnya Anggika tersenyum tipis dengan mengusap-usap punggung Reval.


"Kamu sudah dewasa dan setiap keputusan kamu pasti sudah memikirkannya dengan baik. Dan semua ini tidak mudah untuk kamu. tidak mudah menerima wanita yang sangat jahat di hadapan kita dengan mudah menerima dia begitu saja. Tante mengerti apa yang kamu rasakan. Dan kamu tidak akan menjadi anak durhaka. Karena kamu hanya berpihak pada kebenaran," jawab Anggika yang memberi penjelasan dan masukan pada Reval.


"Tante benar. Selagi aku berpihak pada kebenaran. Maka tidak ada yang salah. Biar itu menjadi urusanku dengan Tuhan. Namun sekarang aku benar-benar lega mengeluarkan semua kata yang harus aku keluarkan dan aku hanya berdoa tidak ada kebencian di dalam hatiku," ucap Reval.


"Kamu anak yang baik dan Tante percaya tidak akan yang sia-sia dengan semua yang kamu lakukan," ucap Anggika.

__ADS_1


"Makasih Tante. Tante memberiku kata-kata yang sangat menenangkan," ucap Reval. Anggika mengengguk dengan tersenyum yang mereka sama-sama tersenyum dengan ketulusan.


Bersambung


__ADS_2