Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 126


__ADS_3

Acara kemping Citra pun di laksanakan di mana ini acara kampus terakhir kali untuk mereka sebelum mereka wisuda. Satu persatu Mahasiswa/i langsung memasuki bus Pariwisata yang sudah di sediakan. Wajah mereka semua tampak sangat happy saat mereka akan melaksanakan Study tour yang pasti bisa merefleksikan otak mereka.


Saat Citra ingin menaiki bis tersebut. Bersamaan dengan Regina yang juga menaiki Bis dan mereka hanya saling melihat. Regina sebenarnya masih sangat takut pada Citra. Dia tau Citra sangat marah dan membuat Regina tidak berani menegur Citra.


Sama dengan Citra yang pasti masih kesal dengan temannya itu. Makanya Citra juga tidak menegurnya sama dengan detik ini. Begitu berdekatan dengan Regina Citra memilih naik terlebih dahulu.


Sementara dari sisi yang berbeda Barra dan 2 temannya terlihat memperhatikan Citra. Tidak tau apa yang di pikirkan 3 Pria itu. Namun mereka sama-sama berbisik dengan seriangi nakal di wajah mereka dan terus melihat Citra yang sudah menaiki bis yang terlihat dari jendela kaca bis yang mana Citra sedang mencari tempat duduk.


Barra dan teman-temannya terlihat tos yang sepertinya mereka memang merencanakan sesuatu tetapi tidak tau apa yang mereka rencanakan.


"Ayo kita naik," ucap Barra. Ke-2 temannya mengangguk dan mereka langsing menaiki bis tersebut.


"Citra memilih-milih tempat duduk yang mana sudah banyak terisi dan di belakang Citra ada juga Reval yang memantau para mahasiswa/i apakah ada yang belum naik.


"Kamu duduklah di sana!" ucap Reval membuat Citra kaget dan melihat kebelakang.


"Duduk di sana!" tunjuk Reval pada kursi yang kosong, "nanti saya akan menyusul," ucap Reval yang ternyata ada rencana ingin duduk di samping Citra.


"Kamu tidak mau?" tanya Reval.


"Oh tidak kok kak, ya sudah saya duduk di sana," sahut Citra dengan cepat yang menduduki kursi yang di tunjuk Reval dia bahkan meletakkan ranselnya di kursi sebelahnya agar Reval nanti duduk di sebelahnya. Karena Reval mengatakan itu sebelumnya.


Tidak lama Citra duduk di tempatnya. Rose tiba-tiba datang dan melihat bangku di sebelah Citra kosong.


"Citra geser tas kamu!" ucap Rose.


"Untuk apa?" tanya Citra heran.


"Ya aku mau duduklah. Pakai banyak lagi," jawab Rose.


"Nggak boleh. Ini sudah ada yang punya," jawab Citra dengan cepat.


"Siapa?" tanya Rose dengan dahinya yang mengkerut.


"Ihhhh pokoknya ada deh. Kamu cari tempat lain aja. Ini sudah ada yang punya yang jelasnya. Jadi nggak boleh ada yang duduk di sini," tegas Citra.


"Siapa yang punya orang tidak ada siapa-siapa kok," sahut Rose.

__ADS_1


"Isssss, nggak usah banyak tanya. Sana cari tempat lain aja. Jangan di sini. Sudah ada yang punya," tegas Citra lagi.


"Pelit amat," sahut Rose yang mau tidak mau akhirnya harus mencari tempat yang lain dan ternyata di depan Citra ada bangku yang kosong dan mau tidak mau Rose duduk di sana dengan salah satu mahasiswi.


Setelah semua mahasiswa/i menaiki bis dan 3 dosen pembimbing sudah memastikan semuanya aman terkendali. Akhirnya Reval menepati janjinya untuk menghampiri Citra yang duduk di sebelah Citra.


Citra tersenyum dan mengambil tasnya dengan senang hati mempersilahkan dosennya tersebut untuk duduk.


"Terima kasih," ucap Reval.


"Saya yang berterima kasih. Karena sudah di pilihkan tempat duduk," jawab Citra. Reval hanya tersenyum tipis dan Rose yang duduk di depan Citra melihat kebelakang dan melihat heran 2 orang itu yang terlihat sangat dekat.


"Jadi ini yang duduk di sebelah kamu. Sampai aku tidak boleh duduk di dekat kamu," cicit Rose yang protes.


"Apaan sih Rose," sahut Citra.


"Ayo kalian ada hubungan apa!" ucap Rose menatap curiga 2 orang itu bahkan menunjuk Citra dan Reval secara bergantian.


"Issss Rose kamu ini benar-benar ya," geram Citra yang malu dengan Rose menggodanya di depan Reval. Namun Reval hanya mengeluarkan senyum tipisnya saja.


"Ya ampun wajahnya pakai memerah segala, ayo lagi pedekate ya," goda Rose lagi.


Rose hanya tertawa yang sangat puas menggoda Citra. Namun tidak ingin Citra terus malu di samping Reval membuat Rose kembali melihat kedepan.


"Issss tuh anak benar-benar bikin malu," batin Citra.


"Kak Reval maaf ya, Rose memang kadang-kadang sangat aneh. Maaf kak Reval tidak nyaman. Lagian dia juga tumben-tumbenannya sangat berani dengan kakak," ucap Citra.


"Santai aja Citra. Tidak ada masalah bagi saya. Kamu tidak perlu minta maaf," ucap Reval.


"Baiklah, tapi tetap aku takut, kakak tidak nyaman," ucap Citra.


"Saya nyaman, saya nyaman di sini di dekat kamu," jawab Reval yang membuat Citra tersenyum. Lagi-lagi kata-kata Reval sangat manis dan bisa memabukkan. Tetapi tetap sebenarnya hubungan Reval dan Citra seperti apa karena sampai detik ini belum ada kejelasan status hubungan mereka.


Dan tetap Barra yang duduk di sudut sana terus memperhatikan Reval dan Citra dengan tangan Barra yang terkepal.


"Kalian memang pasangan yang serasi. Lihat saja apa yang akan aku lakukan. Kalian sudah menganggapku remeh. Aku tidak akan membiarkan kalian terus bersenang-senang dan kau Citra kau akan menjadi milikku. Aku tidak akan pernah berhenti sebelum kau menjadi milikku," batin Barra yang tersenyum penuh dengan rencana saat melihat Reval dan Citra secara bersamaan dengan penuh kemarahan dan dendam yang terlihat dari raut wajah Barra.

__ADS_1


***********


Perjalanan mereka sangat panjang. Mereka berangkat dari sore hari dan sekarang hari sudah gelap dan mereka belum sampai tujuan. Sebelumnya para penghuni bus itu sudah melakukan banyak kegiatan. Dari bernyanyi-nyanyi, membuat lelucon untuk hiburan mereka agar mereka tidak jenuh.


Dan sekarang mereka sudah pada lelah dan ada yang tertidur ada yang bermain handphone dengan segala aktivitas mereka masing-masing.


Citra sendiri juga tampak sangat jenuh yang juga tidak bisa tertidur dan hanya melihat ke arah jendela menghitung setiap pohon yang di lewatinya.


"Kamu tidak tidur Citra?" tanya Reval.


"Tidak mengantuk kak," jawab Citra.


"Begitu rupanya," sahut Reval.


"Apa kita masih lama sampainya?" tanya Citra menoleh ke arah Reval.


"Tidak lama lagi kita akan sampai," jawab Reval.


"Hmmm, baiklah," sahut Citra, "Hmmm oh iya kak Reval kenapa mau duduk sama Citra?" tanya Citra yang butuh alasannya.


"Bukannya tadi di katakan, jika saya nyaman jika berada di sebelah kamu dan iya papa kamu juga berpesan pada saya untuk menjaga kamu," jawab Reval.


"Jadi sebenarnya. Kak Reval duduk di sebelah Citra karena nyaman atau karena papa?" tanya Citra yang butuh jawaban.


Reval menghela napasnya dengan perlahan kedepan lalu mengubah posisi tubuhnya dengan melihat Citra yang membuat mereka saling bertatap muka dengan mata yang saling melihat dengan tatapan dalam-dalam.


Reval menggenggam tangan Citra yang ada di atas paha Citra yang membuat Citra heran dengan perlakuan Reval. Namun tetap dia sangat dek-dekan dengan debaran-debaran hebat yang di rasakannya.


"Ya ampun Citra, kondisi kan suara jantungmu," batin Citra yang begitu gugup dan berusaha untuk tenang.


Namun bagaimana bisa tenang saat sebelah tangan Reval membelai rambut Citra membuat anak-anak rambut itu kebelakang daun telinga Citra dan jarinya sembari mengelus pipi Citra.


"Citra saya begitu nyaman dengan kamu. Dengan semua alasan yang terjadi di antara kita. Semua itu beralasan dan bukan kebetulan," ucap Reval dengan suara seraknya yang menatap Citra dalam-dalam.


"Apa maksud kak Reval. Apa itu artinya dia sedang...." batin Citra dengan penuh kebingungan.


"Jadi jangan tanya lagi alasan apapun. Karena saya sangat nyaman bersama kamu dan saya ingin kamu terus di dekat saya," ucap Reval.

__ADS_1


Citra hanya diam yang tidak bisa mengatakan apa-apa. Atau harus menjawab apa. Dalam lamunan Citra tiba-tiba benda kenyal.audah hinggap di keningnya. Reval telah menciumnya yang membuat Citra terkejut. Namun ciuman itu sudah sebagai alasan yang tepat.


Bersambung


__ADS_2