
Sean sekarang bicara serius dengan Citra di belakang rumah yang terdapat kursi di sana dan Citra yang duduk sementara Sean yang berdiri di depannya yang terlihat sedang marah-marah.
"Kamu tidak pernah mau mendengarkan kakak. Kamu selalu membelanya. Lihat apa yang terjadi. Laki-laki brengsek itu hampir saja menghancurkan hidup kamu," ucap Sean yang marah-marah pada Citra.
"Dari mana kak Sean tau. Jika Barra melakukan hal itu kepadaku. Padahalkan aku tidak mengatakan apa-apa. Kecuali memang benar jika dugaan ku tepat. Jika Reya ada saat itu dan makanya kak Sean tau," batin Citra.
"Aku tidak akan mengampuninya. Aku akan membuatnya membayar semua ini," ucap Barra dengan penuh emosi.
"Kak Citra tau Citra gegabah dan tidak pernah mendengarkan kata-kata kakak. Tapi biarkan Citra yang menyelesaikan masalah ini," sahut Citra yang tidak mau jika Sean nantinya akan membuat keributan.
"Apa yang bisa kamu selesaikan hah! kamu selalu membelanya dan pasti kamu akan percaya kata-katanya dan kamu akan terus menjalankan hubungannya dengannya," sahut Sean yang bisa menebak jalan pikiran Citra.
"Citra sadar. Dia bukan laki-laki yang baik. Dia itu brengsek. Dan satu lagi dia dan juga wanita yang kamu katakan teman telah berkhianat di belakang mu. Tanpa kamu ketahui mereka berdua punya hubungan!" ucap Sean yang menguatkan volume suaranya yang membuat Citra terkejut mendengarnya.
"Apa maksud kakak?" tanya Citra dengan wajah terkejutnya.
"Apa kamu tau Regina dan Barra punya hubungan di belakang kamu," ucap Sean yang semakin membuat Reya terkejut.
"Dari mana kakak tau?" tanya Citra dengan wajah shocknya. Sehingga apa yang di pikirkannya benar apa adanya.
"Kakak memang tidak punya bukti. Tetapi sadarilah orang yang kamu anggap baik menusuk kamu dari belakang," ucap Sean.
Sebenarnya belum ingin mengatakannya. Karena pasti Citra tidak percaya. Namun Sean harus melakukannya.
"Kakak berharap Citra. Kau tidak menjadi wanita bodoh yang di tipu daya oleh Barra dan juga Regina yang hanya menjebakmu dan kau akan masuk perangkap mereka karena kebodohan merek," ucap Sean yang memperingati Citra yang mana Citra mengepal tangannya yang terlihat dengan wajahnya yang begitu marah.
Dratt-dratt-Dratttt.
Tiba-tiba handphone Sean yang berada di atas meja berdering dan Citra melihat panggilan masuk itu dan melihat jelas nama Reya yang tertera dan membuat Citra terkejut dan Sean buru-buru mengambil handphone sebelum Citra melihatnya yang padahal Citra sudah melihatnya.
"Hallo!" sapa Sean yang berusaha tenang uangi mengangkat di depan Citra. Agar Citra tidak curiga.
"Apa! baiklah aku akan segera kesana," sahut Sean yang tiba-tiba menjadi panik dan Citra melihat kakaknya itu dengan penasaran. Dan Sean dengan cepat mematikan panggilan itu dengan wajahnya yang menunjukkan kecemasan.
"Kakak minta sama kamu untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Barra. Dan jika kamu masih berhubungan dengan dia. Jangan salahkan jika kakak akan ikut campur," tegas Sean yang memberikan ancaman serius dan langsung pergi meninggalkan Citra. Karena Sean kelihatan sangat khawatir.
__ADS_1
"Mau kemana kak Sean dan yang menelpon adalah Reya," batin Citra yang penuh dengan penasaran.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.
Ponsel Citra juga berdering dan Citra langsung mengangkatnya.
"Ada apa Rose?" tanya Citra.
"Citra kamu di mana? Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Rose yang suaranya terlihat panik.
"Aku ada di rumah. Kamu datang saja kerumah," jawab Citra.
"Baiklah, aku akan datang," sahut Rose yang langsung mematikan panggilan itu yang membuat Citra semakin heran.
"Sebenarnya ada apa. Kenapa Rose kelihatan begitu panik," batin Citra yang merasa ada sesuatu. Masalah memang sebanyak itu.
*********
Sementara di sisi lain Sean yang sudah sampai kerumahnya dan langsung buru-buru keluar dari mobil dan memasuki rumah dengan berlari yang sepertinya begitu panik.
"Ada di kamar tuan," jawab pelayan tersebut dan Sean langsung buru-buru memasuki kamar Reya yang sepertinya Sean begitu khawatir kepada Reya.
Ceklek.
"Reya!" lirih Sean yang menghampiri Reya berada di atas ranjang yang mana Reya begitu lemas.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sean dengan wajah paniknya yang duduk di samping Reya.
"Tidak apa-apa. Perutku terasa sangat sakit," ucap Reya yang mengeluh kesakitan. Sampai tadi dia menelpon Sean.
"Apa yang terjadi. Kenapa bisa tiba-tiba sakit?" tanya Sean dengan wajahnya yang begitu panik memegang pipi Reya yang mana Reya juga terlihat sangat pucat.
"Aku tadi jatuh di kamar mandi dan tiba-tiba perutku sangat sakit," jawab Reya dengan suara lemasnya.
"Kamu jatuh, Apa yang terjadi Reya. Kenapa bisa seperti itu," ucap Sean dengan wajahnya yang penuh dengan ke khawatiran.
__ADS_1
"Kita sekarang kerumah sakit. Kau takut terjadi sesuatu pada bayi kita," ucap Sean panik.
"Tapi Sean!" sahut Reya yang menolak.
"Jangan pakai tapi-tapian. Ayo kita kerumah sakit sekarang!" ajak Sean yang langsung bertindak dengan menggendong Sean Reya ala bridal style yang harus memastikan jika keadaan Reya tidak terjadi apa-apa.
***********
Citra turun dari mobil yang di setiri oleh supir yang berjalan cepat memasuki kampusnya. Wajah Citra terlihat penuh dengan amarah dan tangan yang terkepal dengan langkahnya yang menunjukkan ada emosi di dalam dirinya.
Lurus di depannya dia melihat Regina dan Barra yang berjalan bersebelahan dan sangat dekat menyadari kehadiran Citra membuat ke-2nya langsung menjauh dan Citra terus melangkah sehingga sudah berada di depan 2 orang itu.
"Citra!" lirih Regina.
"Sayang!" sapa Barra.
Plakkkkk.
Tanpa basa-basi Citra langsung melayangkan tamparan kepada Barra yang mengejutkan Barra dan juga Regina yang berada di samping Barra yang menutup mulutnya yang sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya.
Bukan hanya mereka ber-3 yang ada di sana. Ada juga beberapa orang yang menyaksikan hal itu dan pasti begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat dan bertanya-tanya mengapa Citra menampar Barra.
"Citra apa yang kau lakukan? kenapa kau menamparku?" tanya Barra.
Plakkkkkkk.
Citra kembali menampar di pipi yang berbeda yang semakin mengejutkan Barra. Dengan wajah Citra yang sudah tidak terkendalikan lagi emosi yang merasuki dirinya.
Sekarang mata tajam Citra yang melotot berpindah pada Regina yang terlihat masih terkejut.
Plakkk.
Regina juga mendapatkan tamparan dari Citra yang membuat Barra terkejut dengan melihat Regina yang wajahnya miring kesamping dengan tangannya yang memegang pipinya yang di pastikan sangat panas dengan tamparan yang di berikan Citta.
Apa yang terjadi di tempat itu membuat orang-orang semakin berkerumun yang ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya. Maklum akan di jadikan hiburan untuk mereka.
__ADS_1
Bersambung