
Sean hari ini menemani istrinya untuk periksa ke kehamilan bersama Dokter baru yang sudah beberapa kali menangani Reya. Sekarang Dokter itu sedang memeriksa Reya dengan alat yang di putar-putarkan di perut buncit Reya.
Sementara Reya dan Sean saling melihat ke monitor layar yang melihat bayi mereka yang semakin jelas.
"Sangat aktif Bu Reya," ucap Dokter tersebut.
"Alhamdulillah Dokter. Jika bayinya aktif," sahut Reya.
"Ini karena ibunya yang kuat, sehingga bayinya sangat sehat. Insyallah nanti lahirannya juga akan di permudahkan," ucap Dokter.
"Amin," sahut Reya dan Sean secara serentak.
"Oh iya Dokter bayi kami perempuan apa laki-laki ya?" tanya Sean yang sepertinya Reya dan Sean belum tau jenis kelamin untuk bayi mereka.
"Sayang, bukannya kita tidak mau tau dulu jenis kelaminnya, biar jadi Supraise untuk kita," sahut Reya dengan wajah cemberutnya.
"Oh iya sayang, aku sampai lupa sayang, ya sudah Dokter jangan di beritahu jenis kelaminnya. Biar menjadi Supraise untuk saya dan istri saya," sahut Sean.
"Iya-iya Pak Sean dan Bu Reya. Hanya saja jangan khawatir Alhamdulillah bayi kalian sehat dan ini sudah memasuki bukan ke-9 yang insyallah 2 Minggu lagi akan lahir," ucap Dokter.
Reya dan Sean saling melihat yang mana wajah pasangan suami istri itu tampak sangat bahagia.
"Saya bisa melahirkan normal kan Dokter?" tanya Reya.
"Sepanjang saya melihat kesehatan Bu Reya. Tidak ada masalah untuk kehamilan Bu Reya sangat sehat dan baik-baik saja dan tidak ada masalah untuk lahiran normal. Tetapi tetap harus menjaga kestabilan tubuh. Karena kadang-kadang semuanya bisa berubah," ucap Dokter memberikan saran.
"Itu pasti dokter saya akan terus melakukan semua yang Dokter katakan dan insyallah pasti saya akan terus menjaga kesehatan saya," sahut Reya.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Dokter.
"Apa ini akan menjadi pemeriksaan terakhir Dokter?" tanya Sean.
"Iya benar sekali pak Sean. Ini menjadi pemeriksaan terakhir. Hanya saja kalau ada apa-apa. Semisal Bu Reya mengalami sakit itu yang biasa di katakan kontraksi kecil. Itu bukan hal besar. Namun jika Bu Reya khawatir. Bu Reya bisa kabari saya. Kita akan konsultasi," jelas Dokter memberi arahan.
"Baiklah Dokter kalau begitu. Kami akan terus merepotkan Dokter," ucap Sean.
"Itu sudah menjadi tugas Dokter. Jadi tidak ada yang di repotkan," sahut Dokter.
"Ya sudah pemeriksaan kali ini sudah cukup!" ucap Dokter.
Reya dan Sean mengangguk dan Sean langsung membantu istrinya untuk duduk dan juga turun dari ranjang.
"Terima kasih ya Dokter untuk pemeriksaannya," ucap Sean.
"Iya pak Sean sama-sama," sahut Dokter.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya Dokter," ucap Sean.
__ADS_1
"Baik pak Sean. Bu Reya terus jaga kesehatan ya," pesan Dokter.
"Pasti Dokter," sahut Reya.
"Kalau begitu kami permisi," ucap Dokter Reya.
"Iya mari silahkan," sahut Dokter mempersilahkan. Reya dan Sean pun akhirnya keluar dari ruangan Dokteran setelah melakukan pemeriksaan.
***********
Reya dan Sean berjalan di koridor rumah sakit.
"Kita langsung pulang atau cari makan dulu?" tanya Sean.
"Terserah kamu saja," jawab Reya.
"Hmmmm, kenapa sih sayang wanita itu selalu punya kata terserah. Apa tidak bisa punya kata yang jelas dan jangan pakai kata terserah," ucap Sean.
"Ya habisnya mau mengatakan apa lagi. Kalau bukan kata-kata terserah. Karena kata-kata terserah itu kata andalan yang membuat kamu bingung," ucap Reya.
"Iya-iya deh sayang terserah sayang aja," sahut Sean yang pasrah.
"Tuh pakai kata-kata terserah," sahut Reya.
"Ikutan kamu," sahut Sean membuat Sean tertawa.
"Sip bos," sahut Reya yang membuat Sean tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala istrinya dan juga mencium kening istrinya.
"Reya!" panggil seseorang ketika Reya dan Sean pergi. Ke-2nya berbalik badan yang ternyata Renita yang memanggil Reya. Sudah sangat lama Renita dan Reya tidak bicara dan bahkan semenjak kejadian Citra baru pertama kali mereka bertemu yang mungkin pernah berpapasan tapi Reya malas untuk menegur.
"Hay Reya kamu apa kabar?" tanya Renita yang tersenyum ramah.
"Aku baik!" jawab Reya dengan datar.
"Oh begitu. Kamu sedang periksa kandungan ya?" tanya Renita basa-basi.
"Iya," jawab Reya datar.
"Kandungannya bagaimana apa baik-baik saja?" tanya Renita yang sok akrab.
"Iya baik," Reya hanya menjawab dengan singkat saja.
"Oh iya untuk aja kita ketemu di sini dan iya Sean aku ingin mengembalikan jam tangan kamu," ucap Renita yang memberikan jam tangan pada Sean.
Raya mengkerutkan dahinya dan melihat ke arah Sean dengan penuh pemikiran. Reya juga melihat jam tangan yang di berikan Renita memang itu punya Sean.
"Kok bisa ada di kamu?" tanya Reya yang melihat ke arah Sean. Sean juga bingung kenapa jam tangannya ada pada Renita.
__ADS_1
"Ini ketinggalan di Badung kemarin," jawan Renita.
"Di bandung maksudnya?" tanya Reya dengan perasaannya yang tidak enak.
"Hmmm, kebetulan aku Dokter dari pasien yang merupakan klien Sean yang ada di bandung dan jam tangan Sean ketinggalan di kamar mandi mereka. Jadi makanya aku berniat mengembalikannya," jelas Renita yang sejak tadi senyum-senyum.
Sean langsung mengambil jam tangan itu dari tangan Renita, "kenapa harus kamu yang mengembalikkan nya." tanya Sean.
"Kita saling kenal dan aku hanya meringankan pekerjaan mereka saja. Jadi tidak ada salahnya aku menyimpannya dalam 3 hari ini dan baru bertemu kamu. Makanya aku kembalikan," ucap Renita yang tersenyum kepada Sean.
Reya tidak tau harus bicara apa lagi. Dia hanya memperhatikan tatapan Renita pada suaminya yang terlihat aneh dan apalagi senyum Renita senyum yang mengandung arti.
"Kalau begitu terima kasih," sahut Sean dengan datar.
"Sayang ayo kita pulang!" ajak Sean. Reya hanya mengangguk dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Sean dan Reya pun meninggalkan tempat itu dan Renita hanya mengeluarkannya senyumnya terus melihat kepergian Reya dan Sean.
**********
Sean dan Reya berada di dalam mobil dengan Sean yang menyetir dan Reya di duduk di sebelahnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau di bandung bertemu Renita?" tanya Reya yang kelihatan memang tidak tau hal itu.
"Aku juga tidak tau dia Dokter persalinan dari klienku dan aku rasa tidak penting untuk menceritakannya," jawan Sean yang memang hal itu tidak perlu di bahas.
"Berarti saat di bandung kamu tidak menginap di hotel. Kamu menginap di rumah klien kamu?" tanya Reya.
"Iya. Karena sudah larut malam, aku dan tim kantor yang lainnya memutuskan untuk menginap di rumahnya," jawan Sean dengan apa adanya.
"Dan Renita juga menginap di sana?" tanya Reya yang ingin tau segalanya.
"Iya sayang," jawan Sean.
Reya diam yang sudah tidak tau mau mengatakan apa lagi dengan masalah Renita.
"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Sean melihat perubahan wajah istrinya. Reya tidak menjawab dan Sean memegang tangan istrinya.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak mikir yang aneh-aneh kan. Kamu tidak memikirkan hal itu kan," ucap Sean.
"Nggak tau. Hanya saja rasanya sangat kesal. Jika wanita lain satu kamar mandi dengan suami sendiri," ucap Reya.
"Maksudnya bagaimana sayang?" tanya Sean.
"Ya kamu sama dia sama-sama menginap di rumah klien kalian dan pasti sama-sama memakai kamar mandi yang sama sampai dia menemukan jam kamu. Dan aku tidak tau apa-apa. Jadi pasti itu pemikiran yang aneh bagiku," ucap Reya yang merasa perasaannya sangat aneh. Apa lagi tadi melihat Renita yang menatap Sean dengan aneh.
"Sayang kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya. Maaf jika aku tidak mengatakannya kepada kamu. Karena seperti yang aku bilang awalnya. Hal itu sangat tidak penting bagiku. Jadi kamu jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan," ucap Sean.
"Iya, ya sudahlah itu hanya pemikiran ku saja yang terlalu aneh," sahut Reya yang tersenyum tipis. Sean lega dengan Reya yang akhirnya bisa tenang.
__ADS_1
Bersambung