
Pengaduan Citra pada papanya. Membuat Anggika juga terkejut dengan mendapat tatapan tajam dari Argantara yang pasti tidak menyangka dengan perbuatan istrinya.
"Kamu melakukan semua itu Anggika!" lirih Argantara.
"Mas aku tidak melakukannya. Citra kamu kenapa bisa menuduh mama melakukan itu," sahut Anggika yang membantah hal itu.
"Mama masih saja mau mengelak. Mama sudah melakukan semua itu pada Citra dan masih saja mengelak. Kak Reval terluka parah karena perbuatan mama. Mama itu jahat mama kejam," umpat Citra yang marah-marah dan langsung pergi menaiki anak tangga dengan tangisan yang di bawanya.
"Anggika kamu benar-benar keterlaluan ya. Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu kepada Citra dan Reval Kamu ini benar-benar ya," ucap Argantara dengan tidak mengangkanya.
"Mas aku memang tidak menyukai Citra dengan pria itu. Tapi aku tidak melakukan apa kepadanya apa lagi dengan apa yang di katakan Citra sampai menyuruh orang untuk menghajarnya. Mas jika aku ingin memberinya pelajaran. Pasti bukan dengan kekerasan," tegas Anggika yang masih mencari pembelaan dari sang suami.
"Sudah cukup. Dia saat masalah yang begitu banyak. Kamu malah ikut-ikutan membuat masalah lagi dan sampai-sampai tega-teganya mengurung Citra. Kamu itu sangat kelewatan. Apapun alasan kamu melarang Citra dengan Reval, aku tidak akan setuju hal itu. Bagiku dia pria baik," tegas Argantara yang berbeda pendapat dengan Anggika dan Argantara langsung pergi meninggalkan Anggika.
"Mas!" panggil Anggika. Namun tidak di respon Argantara.
"Argggg," teriak Anggika dengan penuh emosi.
"Masalah semakin banyak dan mas Argantara tidak mendengarku dan Citra pasti akan semakin merajalela berhubungan dengan pria itu," umpat Anggika dengan memijat kepalanya yang terasa begitu berat dengan masalah yang datang bertubi-tubi.
***********
Citra berada di kamar mandi yang duduk di lantai dengan memeluk ke-2 lututnya yang di bawah guyuran air shower dengan Citra yang pastinya menangis.
Bayangan lintasan percintaan panas dia dan Reval teringat di pikiran Citra yang membuat Citra semakin tidak ada harganya. Merasa tubuhnya sangat kotor. Citra pasti sangat menyesal yang dengan mudahnya memberikan tubuhnya pada Reval. Apa lagi dengan sikap Reval setelah hal itu sangat dingin kepadanya.
__ADS_1
Merasa di campakkan dan tidak di inginkan lagi membuat Citra semakin hancur dengan menangis terisak-isak di dalam kamar mandi.
"Jahat, kamu sangat jahat, jahat!" teriak Citra dengan menunjukkan rasa kecewanya yang hanya bisa menangis dengan menggosok-gosok tubuhnya yang Citra merasa sangat kotor.
*********
Sejak kejadian dia dan Reval membuat Citra menjadi gadis yang pemurung yang lebih banyak mengurung diri di dalam kamarnya. Bahkan Reval tidak pernah menghubunginya setelah kejadian itu. Huhhhh tidak tau apa yang di rasakan Citra sekarang ini. Sama dengan sekarang ini yang mana Citra tertidur di dalam kamarnya di atas tempat tidur.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka yang ternyata Argantara yang memasuki kamar Citra. Argantara menghela napasnya dan menghampiri ranjang dengan duduk di pinggir ranjang di sebelah Citra dengan membelai rambut Citra yang membuat Citra membuka matanya.
"Papa!" lirih Citra.
"Maaf papa mengganggu tidur kamu," ucap Argantara dengan tersenyum.
"Papa yang bertanya sama kamu. Kamu ada apa. Kenapa sudah beberapa hari ini tidak keluar kamar bahkan tidak kekampus?" tanya Argantara yang memperhatikan putrinya itu.
"Citra hanya kurang enak badan aja pah," sahut Citra.
"Kalau begitu papa telpon Reval, supaya menjenguk kamu. Biar kamu cepat sembuh," seloroh Argantara.
"Papa apa-apaan sih," sahut Citra dengan suara manjanya.
"Anak papa ini sangat dewasa. Dia sudah tidak manja lagi dengan kakaknya dan mungkin karena telah jatuh cinta dengan pria yang tepat. Jadi sekarang sedang galau karena hubungannya sedang bermasalah," ucap Argantara yang sepertinya tetap mendukung Citra dan Reval. Citra tidak tau apakah bahagia atau tidak dengan kata-kata papanya.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir papa tidak akan setuju dengan mama kamu yang melarang kamu dengan Reval. Kalau perlu papa akan suruh datang dan bicara pada mama kamu. Agar mama kamu tidak melarang-larang kamu," ucap Argantara yang sangat sayang pada Citra dan ingin melakukan banyak hal demi kebahagiaan putrinya itu membuat mata Citra berkaca-kaca.
Dan langsung memeluk pinggang Argantara dengan wajahnya di paha Argantara.
"Maafkan Citra pah," ucap Citra dengan menangis yang pasti menyadari kesalahan besar yang di lakukannya.
"Hey kenapa minta maaf, kamu tidak salah apa-apa. Papa sangat paham dengan perasaan kamu," sahut Argantara.
Citra semakin mewek dengan papanya yang justru tidak tau apa-apa. Papanya tidak tau kalau dia sudah kelewatan berhubungan dan tidak tau bagaimana papanya tau nanti. Pasti sangat kecewa dengan Citra.
Argantara memegang ke-2 bahu Citra dan membuat putrinya itu tegap tepat di hadapan dengan mengusap air mata Citra yang mengalir begitu deras.
"Kamu merindukan kakakmu?" tanya Argantara. Citra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memang sangat membutuhkan Sean.
"Maafkan papa sudah membuat kamu merindukannya seperti ini," ucap Argantara.
"Kalau begitu bawa kak Sean pulang. Jika papa tidak melarang Citra bersama kak Reval. Papa juga tidak seharusnya melarang kak Sean bersama Reya. Apa lagi berniat jahat pada janin yang tidak berdosa," ucap Citra yang berbicara dengan sengugukan.
"Citra kamu taukan bagaimana hubungan mereka?" tanya Argantara yang juga berkaca-kaca. Seolah merasa Citra begitu menderita dan seakan dia yang salah.
"Jika papa membiarkan kak Sean di luaran bersama dengan Reya. Itu artinya papa juga tidak akan pernah bisa melarang hubungan mereka dan sama saja pah. Alangkah baiknya papa bawa kak Sean pulang dan Citra yakin Maslaah ini akan terselesaikan. Tanpa harus memisahkan mereka. Mereka tidak bersalah pah. Citra masih ingat sebelum semuanya terbongkar. Bagaimana mana kak Sean sangat menyukai Reya saat itu. Citra masih ingat semua itu pah, jadi apa yang terjadi tidak seharusnya menjadi kesalahan mereka berdua," ucap Citra yang mencoba untuk membuka pikiran Argantara untuk mengalah dalam hal ini.
"Citra mohon. Tolong bawa kak Sean pulang. Citra mohon pah," ucap Citra dengan suaranya yang semakin serak.
Argantara langsung memeluk Citra dengan erat sembari mengusap-usap pucuk kepala Citra. Dia sangat tau Citra dan Sean itu bagai magnet dan sekarang terpisah. Jadi Argantara merasa bersalah pada Citra. Namun dia juga tidak tau bagaimana untuk bersikap dengan masalah yang ada.
__ADS_1
"Papa bawa kak Sean pulang jangan marah lagi pada kak Sean Citra sangat merindukan kak Sean, Citra merindukannya," ucap Citra yang menangis sengugukan di pelukan Argantara dan Argantara masih belum bisa memberikan jawaban apa-apa.
Bersambung