Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 58 Melihatnya


__ADS_3

" Anak keras kepala!" Erina melepaskan kasar jambakan nya dari Reya dan Reya langsung terjatuh kelantai dengan terduduk.


" Apa kau pikir kau selalu merasa paling pintar dan tetap memilih di sini hah! Kau itu anak kurang ajar yang selalu merasa pintar. Kau tidak sadar banyak masalah yang terjadi gara-gara dirimu," ucap Erina yang terus memaki Reya. Dan Reya hanya menangis mendengar kata-kata itu.


Erina melihat di sekelilingnya barang-barang dan melihat ada pecahan cermin yang cukup lebar yang ingin memukulkan pada Reya.


Reya kaget dan langsung mengalihkan wajahnya kesamping dengan matanya terpejam dan wajahnya yang tertutup rambutnya saat akan yakin pecahan cermin itu akan mengenainya.


Namun lama menunggu ternyata tidak mengenainya dan membuat Reya melihat ke arah mamanya. Betapa terkejutnya Reya saat melihat seorang pria berdiri di depannya yang menahan kaca itu.


" Sean!" lirih Reya dengan terkejutnya.


" Apa yang kau lakukan lepaskan!" teriak Erina menekan suaranya saat retakan cermin itu di tahan Sean.


" Aku tidak akan melepaskannya. Tante benar-benar keterlaluan yang mencelakai anak sendiri, dia bisa mati di tangan Tante," teriak Sean yang menatap Erina dengan tajam.


" Jangan sok pintar. Lalu bagaimana dengan Argantara yang membuang anaknya sendiri," teriak Erina.


" Jika itu kesalah papa. Maka jangan limpahkan kepada Reya dia tidak tau apa-apa!" tegas Sean.


Kata-kata Sean adalah kata-kata yang sering Reya katakan di mana dia sangat di benci dan mengatakan dirinya tidak tau apa-apa. Lalu kenapa dia yang di salahkan.


" Kalau tau dia tidak apa-apa. Lalu kenapa kalian sekeluarga membuangnya!" teriak Erina. Sean terdiam yang tidak bisa berbicara.


" Kau diam. Kalian semua memang bajingan!" teriak Erina menarik cermin itu dari pegangan Sean dan terdengar sayatan yang kuat membuat darah bercucuran.


" Sean!" lirih Reya dengan terkejutnya melihat darah yang berceceran dan Sean hanya memejamkan matanya sebentar yang menahan rasa sakit akibat sayatan itu.


Namun Reya panik dengan ke-2 tangannya berada di mulutnya yang melihat Sean terluka sangat parah.


" Itu kesalahanmu yang berani mencampuri urusanku, pergi dari sini. Kau tidak di butuhkan di sini!" usir Erina Erina.


" Dan kau!" Erina kembali kepada Reya yang kelihatan belum puas pada Reya. Namun Sean langsung menghalangi Erina.


" Minggir kau!" teriak Erina.

__ADS_1


" Jangan menyakitinya. Aku akan melaporkanmu ke polisi!" Bentak Sean memberi ancaman.


" Kau mengancamku. Aku ibunya dan terserah mau melakukan apa kepadanya dan kau tidak seharusnya mencampuri urusanku. Untuk apa kau datang kemari. Jika hanya untuk menceramahiku seperti papamu!" teriak Erina.


" Aku datang untuk menjemputnya. Jadi stop jangan menyakitinya. Aku bilang stop!" tegas Sean. Erina terdiam dan Reya terkejut kala Sean mengatakan menjemput dirinya.


Sean membalikkan tubuhnya dan mata Reya fokus pada tangan Sean yang masih keluar darah.


" Aku di suruh papa untuk menjemputmu. Jadi kau harus ikut bersamaku! jadi bersiaplah," tegas Sean.


" Aku tidak mau!" tolak Reya.


"Jangan keras kepala Reya. Kau harus ikut bersamaku. Aku bilang!" teriak Sean.


" Aku bilang tidak mau!" tegas Reya. Sean langsung menarik tangan Reya membuat Reya berdiri.


" Kemasi barang-barang mu. Kita harus pergi dari sini!" tegas Sean.


" Kau jangan aneh-aneh Sean. Aku mengatakan tidak mau maka tidak mau. Apa kau mengerti!" tegas Reya yang menolak sangat keras.


" Aku tidak akan mendengarkanmu. Aku bilang kemasi barang-barang mu!" Sean yang tidak peduli kepada Reya dan langsung menari Reya ke lantai atas yang di pastikan akan membawa Reya kekamarnya untuk mengemasi barang-barangnya.


Sementara Erina menyunggingkan senyumnya melihat Sean yang memaksa Reya pulang. Memang itulah keinginannya Reya tetap berada di Jakarta.


" Akhirnya kau kembali juga ketempatmu. Kau harus di sana Reya untuk menghancurkan keluarga itu," batin Erina dengan tersenyum penuh kebahagiaan.


Sesampai di kamar Reya. Sean langsung membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaian Reya dari dalam lemari. Dia juga mengambil koper Reya dan memasukkan sembarang pakaian itu dengan buru-buru yang membuat Reya terkejut.


" Sean apa yang kau lakukan hentikan Sean. Sean kau jangan melakukan ini. hentikan!" Reya berusaha untuk menghentikan Sean. Namun Sena terus memasukkan asal-asalan pakaian Reya kedalam koper.


" Aku bilang kita pergi dari sini!" tegas Sean.


" Aku tidak mau Sean. Kau jangan gila!" teriak Reya.


" Diamlah Reya!" bentak Sean membuat Reya terdiam.

__ADS_1


" Apa yang kau harapkan di sini hah. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana kau yang terluka karena perbuatan Tante Erina. Lihat dirimu Reya. Apa kau ingin mati di tangan ibumu!" teriak Sean.


" Itu jauh lebih baik!" sahut Reya merendahkan suaranya.


" Apa lagi artinya hidup. Aku memutuskan pergi dari Jakarta karena sudah tau resiko apa yang aku ambil dan kau tidak bisa membawaku kembali. Karena aku tidak ingin hal itu. Aku akan tetap di sini," ucap Reya yang terus keras kepala.


" Aku tidak akan membiarkanmu di sini. Tidak akan Reya," ucap Sean menegaskan.


" Sean!" Lirih Reya.


" Aku mohon Reya dengarkan aku sekali ini saja. Jangan di sini," ucap Sean dengan wajahnya yang penuh permohonan. Melihat Reya yang terluka membuat dirinya ikut terluka.


Sean dan Reya saling melihat dengan air mata Reya yang terus keluar. Sean langsung menarik tangan Reya dan langsung membawanya kedalam pelukannya. Pelukan yang di antara ke-2nya sama-sama saling merindukan satu sama lain.


Reya tidak memberontak di pelukan itu dan menagis terisak-isak di pelukan Sean. Dia sudah tidak mempunyai arahan hidup dan lelah dengan semuanya. Dia pikir dia mampu. Ternyata tidak dan ternyata Sean yang di butuhkannya untuk menengakannya. Dia sangat begitu lelah dengan hidupnya.


*********


Beberapa menit berlalu. Sekarang Reya dan Sean duduk di pinggir ranjang dengan Reya yang mengobati luka bekas sayatan di telapak tangan Sean. Mereka sudah sama-sama tenang dan tidak marah-marah lagi.


Sebenarnya tadi Sean melupakan rasa sakit itu dan mementingkan Reya yang bagaimana caranya Reya harus ikut bersamanya. Namun ketika Reya mengobati luka di tangannya. Dia terlihat menahan rasa sakit dan beberapa kali terdengar suara lirihan dari mulutnya. Yang kepedihan dengan tangannya yang di teteskan alkohol yang sangat dingin.


" Maaf aku akan lebih pelan-pelan lagi," ucap Reya yang jadi khawatir. Sean hanya mengangguk dan terus melihat Reya yang mengobatinya.


2 Minggu lebih mereka tidak bertemu dan bertemu ketika melihat kondisi Reya yang juga terluka. Lengan Reya masih memar dan wajah itu di pastikan juga terdapat bekas tamparan. Hati Sean sangat tersayat dengan melihat kondisi Reya yang sangat memperihatinkan.


" Tolong pegangkan!" ucap Reya memberikan ujung perban pada Sean. Karena Reya harus melilit telapak tangan itu dengan perban tersebut. Sean pun melakukannya dan dengan perlahan Reya memberi perban untuk luka itu.


Mata Sean tidak berhenti melihat Reya dengan tatapan yang sangat dalam dan bahkan sampai Reya sudah menyelesaikan pekerjaannya.


" Sudah selesai," ucap Reya melihat ke arah Sean yang mata mereka akhirnya bertemu,


" Lain kali jangan melakukan ini Sean. Ini tidak main-main. Kau bisa terluka yang lebih parah lagi," ucap Reya yang mengkhawatirkan Sean.


Sean memegang pipi Reya sembari mengusapnya dengan lembut. Di ujung bibir itu terlihat luka yang mungkin masih baru.

__ADS_1


" Apa semenjak papa mengirimmu dan Tante Erina keluar Negri kau mendapatkan semua ini?" tanya Sean. Air mata Reya menetes dengan mengangguk pelan memang itu kenyataan dan dia tidak punya tempat untuk berbagi cerita.


Bersambung


__ADS_2