
Reya menunggu Sean dengan sambil melihat handphonnya.
"Reya!" tiba-tiba terdengar suara pria yang membuat Reya langsung melihat kearah suara itu.
"Reval!" sahut Reya dengan terkejutnya melihat Reval yang tiba-tiba ada di sana dan Reya langsung berdiri.
"Kamu kok ada di sini?" tanya Reval dengan terkejutnya.
"Oh aku, aku lagi, aku sedang menunggu teman," jawab Reya dengan gugup yang tidak mungkin menjawab sedang cek kandungan.
"Oh begitu. Memang kamu sudah tidak tinggal di Paris lagi?" tanya Reval.
"Kebetulan sudah tidak tidak," jawab Reya yang begitu gugup.
"Tinggal di mana sekarang?" tanya Reval.
"Hmmm, nanti saja aku bilang ya," sahut Reya yang tidak ingin orang tau tempat tinggalnya di mana.
"Oh begitu ya sudah tidak apa-apa," sahut Reval dengan tersenyum.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Reya.
"Aku lagi menebus obat," jawab Reval.
"Oh begitu ternyata," sahut Reya.
"Kita sudah lama tidak ketemu. Semoga nanti kita bisa bisa mengobrol," ucap Reval.
"Oh baiklah tidak masalah, nanti kita atur saja jadwal pertemuan kita," sahut Reya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku permisi dulu ya," ucap Reval pamit.
Baiklah hati-hati," sahut Reya. Reval mengangguk dan langsung pergi.
Reya menghela napasnya setelah kepergian Reval, " huhhhhh, kami bisa-bisanya bertemu di sini. Untung saja dia tidak tau banyak tentangku," batin Reya yang bernapas lega.
"Reya!" tegur Sean yang mengejutkan Reya.
"Ha, iya Sean," sahut Reya.
"Kamu kenapa?" tanya Sean.
"Tidak apa-apa. Sudah selesai?" tanya Reya.
Sean menganggukan kepalanya, " ayo kita pergi!" ajak Sean.
Reya mengangguk-angguk dan mereka berpegangan tangan yang sama-sama pergi dari tempat itu.
__ADS_1
**********
Ternyata di rumah sakit yang sama Citra juga ada di sanna yang selesai dari kasir yang sepertinya Citra ada urusan.
"Makasih Suster," ucap Citra. Suster mengangguk dan Citra langsung pergi dengan membawa kantung obat tersebut.
Sean dan Reya yang berjalan saling melihat dengan yang yang bergenggaman tangan yang sama dengan Citra yang juga berjalan dengan berlawanan arah yang hanya ada pembatas lorong.
Hingga dalam beberapa langkah lagi Citra dan Sean di pastikan bertemu.
"Auhhhh!" Pekik Citra saat seseorang menabraknya dan membuatnya terduduk di lantai.
Langkah Sean dan Reya berhenti ketika mendengar suara dan jatuhnya seseorang yang tidak jauh dari mereka.
Sean dan Reya saling melihat yang hanya melihat seorang pria berdiri yang menutupi wajah Citra dan obat-obatan yang berserakan di lantai.
"Ayo Reya!" ajak Sean yang menurutnya bukan urusannya siapa yang jatuh itu dan Reya menganggukkan kepalanya dan merekapun pergi yang untung saja tidak terlihat Citra.
Yang mana sekarang Citra mengeluh sakit pada pingganga.
"Apa kau tidak bisa berjalan pakai mata," ucap Citra dengan marah yang mengangkat kepalanya melihat siapa yang menabraknya dan hal itu sangat mengejutkan yang ternyata Pria yang menabraknya adalah Reval.
"Pak Reval!"
"Citra!" Ucap mereka secara bersamaan.
Citra yang tadinya emosinya. Menjadi gugup dan takut karena dia sempat mengeluarkan kata-kata kasar pada dosennya.
Reval menghela napasnya. Lalu berjongkok membantu Citra.
"Makanya kalau berjalan itu fokus. Jangan melamun terus," ucap Reval sembari membantu Citra.
"Isss, kenapa jadi aku yang di salahkan. Dia yang jelas-jelas berjalan tidak benar," batin Citra dengan kesalnya.
"Maaf pak," sahut Citra. Kalau berurusan dengan dosennya lebih baik meminta maaf. Dari pada nanti akan di salahkan lagi. Sangat tidak ada gunanya dan dia hanya akan mendapat masalah nantinya.
Sudah selesai membereskan obat-obatan itu dan Reval langsung berdiri dab Citra yang sakit pinggang pun ikut berdiri. Namun dia tampak lemas dan hampir jatuh dan untung saja Reval menahan tangannya sehingga Citra tidak jatuh dan membuat mereka saling berdua saling beradu pandang dengan tatapan yang cukup lama.
Namun tiba-tiba Citra langsung melepaskan diri dari Reval, "maaf pak," lirih Citra yang jadi salah tingkah.
"Baiklah pak, kalau begitu, saya permisi dulu, sekali lagi saya mohon maaf, tidak bermaksud mengatai bapak tadi dan bicara begitu kasar," ucap Citra yang merasa tidak enak.
"Tidak masalah," sahut Reval santai.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Citra langsung pamit dengan menundukkan kepalanya.
Reval hanya menghela napas dengan alisnya yang terangkat. Lalu meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1
**********
Setelah mengantarkan Reya ke Apartemen Sean kembali kerumahnya dan langsung memasuki mobilnya.
"Sean!" tegur Anggika yang ada di ruang tamu membuat langkah Sean terhenti.
"Eh mama," sahut Sean.
Anggika berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Sean.
"Kamu ganti sandi Apartemen?" tanya Anggika tiba-tiba membuat Sean terkejut mendengarnya dengan Sean menelan salivanya.
"Maksud mama apa?" tanya Sean dengan gugup.
"Mama bertanya pada kamu. Apa kamu mengganti sandi Apartemen yang ada di gedung city?" tanya Anggika lebih detailnya.
"Memang kenapa mah? tumben sekali mama menyakannya Apartemen Sean. Apa mama kesana?" tanya Sean yang berusaha untuk tenang.
"Iya mama kesana?" jawab Anggika membuat Sean terkejut mendengarnya.
"Kapan?" tanya Sean.
"Tadi pagi," jawab Anggika.
"Dan kamu sudah mengganti sandinya. Jadi mama tidak bisa masuk," ucap Anggika.
"Untuk apa mama kesana?" tanya Sean.
"Mama hanya ingin membersihkan Apartemenmu itu dan melihat saja. Itu saja," jawab Anggika.
"Tumben sekali tidak biasanya," sahut Sean.
"Kata Karin. Kamu sering ke sana. Jadi mama ingin mastikan tempat itu bersih atau tidak. Supaya kamu juga nyaman di sana," ucap Anggika.
"Tidak perlu mah. Tempatnya bersih kok," sahut Sean yang berusaha setenang mungkin agar sang mama tidak mencurigai dirinya dan memang untung dia punya pikiran untuk mengganti sandi Apartemen tersebut kalau tidak mamanya akan melihat semua pakaian Reya di sana dan tadi untung saja Reya pergi bersamanya.
"Kalau begitu apa kata sandinya?" tanya Anggika. Sean terkejut mendengarnya dengan menatap mamanya serius.
"Untuk apa mama tau?" tanya Sean.
Anggika menautkan ke-2 alisnya mendengar pertanyaan Sean, "aneh sekali pertanyaan kamu, memang kenapa mama tidak boleh tau," sahut Anggika yang melihat Sean penuh kecurigaan.
"Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu di sana kan. Atau ada wanita di sana lagi," sahut Anggika membuat Sean panas dingin.
"Sean mama tau Citra terkadang sangat posesif melihat kamu yang punya pacar sampai-sampai kamu harus sembunyi-sembunyi dari Citra," ucap Regina dengan tertawa-tawa.
"Apa yang mama bicarakan. Sean tidak menyembunyikan apa-apa," ucap Sean.
__ADS_1
"Ohhhh, begitu," sahut Anggika, " ya sudah apa sandinya. Biar nanti kapan-kapan kalau mama mau kesana tidak bertanya lagi pada kamu," ucap Anggika yang masih ingin meminta sandi Apartemen yang di sana ada Reya.
Bersambung