
Mereka melanjutkan makan malam sembari mengobrol bersama Renita.
"Kamu bekerja di rumah sakit mana Renita?" tanya Anggika.
"Di rumah sakit sejahtera Tante," jawab Renita.
"Itu kan rumah sakit aku memeriksa kandungan," sahut Reya.
"Oh iya benarkah. Sama Dokter siapa?" tanya Renita dengan sedikit terkejut.
"Sama Dokter Vanya," jawab Reya.
"Ohhh Dokter Vanya. Ya ampun Reya seperti mulai sekarang kamu akan memeriksa denganku," sahut Renita.
"Kok gitu?" tanya Reya heran.
"Kamu tunggu saja Dokter Vanya menghubungi mu. Dia akan mengatakan akan pergi ke Luar Negri dan akan mengatakan aku penggantimu," ucap Renita.
"Sungguh!" pekik Reya dengan wajahnya yang sedikit terkejut.
"Ya aku tidak mungkin bohong," sahut Renita.
"Hmmm, aku sih belum mendapat kabar dari Dokter Vanya terakhir periksa dia belum mengatakan apa-apa. Tetapi ya siapapun Dokternya itu tidak masalah. Karena semua itu sama saja dan lagian juga kalau Dokternya teman sendiri itu jauh lebih enak," ucap Reya.
"Ya semoga saja aku cocok ya untuk kamu dan juga janin di kandungan kamu," ucap Renita.
"Amin," sahut Reya.
"Jadi kamu itu Dokter kandungan?" tanya Anggika yang sejak tadi hanya menyimak saja pembicaraan Renita dan juga Reya.
"Iya mah," Reval yang menjawab pertanyaan itu, "Renita ini sejak dulu suka sekali dengan bayi. Jadi tidak heran dia sekarang menjadi Dokter kandungan," ucap Reval yang seakan paling tau Renita.
"Reval benar, dia ini sudah sangat telaten. Bahkan punya panti asuhan bayi. Dan dia sendiri yang mengutusnya," sahut Reya menambahi yang tidak kalah memuji temannya itu.
"Dan kamu masih ingat tidak Reya. Jika Renita pernah mengajak kita untuk tinggal di sana dan ya kita setiap waktu harus mendengar tangisan bayi," sahut Reval.
"Tetapi itu sangat seru Reval, itu menjadi pengalaman untuk Kita.
Reval dan Reya sama-sama bernostalgia dengan Renita dan tertawa-tawa menceritakan semuanya yang membuat Renita juga ikut tertawa dengan menjadi topik dalam cerita itu. Argantara, Anggika dan Sean yang menyimak cerita itu juga ikut tersenyum.
Berbeda dengan Citra yang sepanjang suaminya bercerita dengan ini dan itu dan seperti mengingat semua tentang pertemanan itu yang sangat lempang dan luas menceritakannya hanya membuat Citra terus melihat wajah suaminya itu dengan datar.
Citra juga mendadak diam dan tidak ikut menyahut dalam cerita itu.
"Aku tidak percaya jika kalian berdua masih mengingat semuanya, aku sangat berharap persahabatan kita tetap seperti ini," ucap Renita.
__ADS_1
"Amin," sahut Reval dan Reya serentak.
"Makasih ya Tante. Sudah sangat baik mengijinkan saya untuk makan malam bersama Tante dan yang lainnya. Padahal kita baru bertemu dan Tante, juga Om Sanga mau mendengarkan cerita random kami yang sangat tidak enak di dengar itu," ucap Citra.
"Apa yang kamu katakan Renita. Apa yang tidak enak. Justru sangat menghibur," sahut Argantara.
"Om bisa saja," sahut Renita, "oh iya Tante Om, saya juga harus pulang duluan. Soalnya harus kembali ke rumah sakit. Jadi bukan maksud apa-apa yang sudah selesai makan langsung pulang. Maaf jika tidak sopan," ucap Renita.
"Tidak apa-apa Renita. Namanya juga kamu seorang Dokter jadi itu tidak masalah sama sekali," sahut Reya.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi ya," ucap Renita yang berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Reval.
"Aku sudah pesan taxi kok," jawan Renita.
"Ya sudah kamu hati-hati ya," ucap Reval.
"Iya, semuanya permisi. Citra aku pamit ya," ucap Renita yang pamitan dengan Citra.
"Oke," sahut Citra yang mengangguk saja dengan tersenyum tipis dan Renita pun sudah pergi meninggalkan Restaurant tersebut.
***********
Reya menoleh ke arah Citra dan Citra yang diam dengan pekerjaannya yang biasanya pasti menyapa Reya terlebih dahulu.
"Kamu baik-baik aja Citra?" tanya Reya yang melihat adiknya itu tampak tidak baik-baik saja.
"Iya kak aku baik-baik aja kok," jawab Citra dengan datar.
Reya hanya mengangguk saja yang tidak tau harus bertanya apa lagi.
"Oh iya Citra. Nanti kamu temani kakak kerumah sakit ya," ucap Reya.
"Iya kak," sahut Citra yang tersenyum mengangguk.
"Sayang!" panggil Reval membuat Citra menoleh ke belakang yang ternyata suaminya itu memanggilnya dan menghampirinya.
"Aku menunggu kopiku. Kamu tidak mengantarnya?" tanya Reval yang belum mendapatkan kopinya.
"Oh iya. Ini aku lagi buat," jawab Citra.
"Aku tunggu di teras ya sayang," ucap Reval.
"Iya," sahut Citra dengan datar dan sepertinya mood Citra sedang tidak baik dan sejak tadi Reya terus memperhatikan nada bicara adiknya itu dan juga memperhatikan wajah adiknya itu.
__ADS_1
***********
Reya dan Citra hari ini kerumah sakit dan bertemu dengan Dokter Renita yang memang menjadi Dokter baru Reya.
Renita langsung memeriksa kandungan Reya dan Citra hanya menunggu saja di dalam ruangan itu yang berdiri di samping Reya yang juga ikut melihat layar monitor. Betapa aktifnya bayinya itu.
"Sangat baik Reya," ucap Renita dengan tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu. Aku benar-benar lega mendengarnya," jawab Reya.
"Ya sudah aku sudah selesai periksa kamu," ucap Renita.
"Makasih ya Renita," ucap Reya yang langsung duduk dan di bantu dengan Citra.
"Kamu jangan lupa terus minum vitamin aja ya," ucap Renita yang memberikan saran.
"Iya pasti," jawab Reya.
"Ya sudah kak Reya kita pulang yuk?" ajak Citra.
"Buru-buru sekali Citra kebetulan aku tidak ada pasien bagaimana kalau kita makan siang," sahut Renita menwarkan.
"Bagaimana Citra. Kamu ada perlu. Jika tidak kita makan siang sebentar?" tanya Reya pada adiknya itu.
"Ya sudah kak tidak apa-apa. Citra juga tidak mau ngapain-ngapain kok," sahut Citra.
"Baiklah, Renita kita makan siang bersama," ucap Citra.
"Oke. Oh iya kita ajak Reval yuk. Kalau mengintil pasti sangat enak," sahut Renita yang tiba-tiba punya ide.
"Kak Reval pasti lagi sedang sibuk. Dia banyak pekerjaan," sahut Citra.
"Tidak ada salahnya di tanya dulu," sahut Renita.
"Baiklah aku akan menelponnya," sahut Citra.
"Tidak usah Citra. Biar aku saja yang menghubunginya,"sahut Renita yang langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Reval.
Suaminya siapa yang menelpon siapa. Citra juga sampai tidak bisa berkata apa-apa dan hanya melihat Renita yang mengobrol di telpon dengan suaminya.
"Reval setuju dan dia akan menyusul," ucap Renita yang menutup telpon itu dan mendapatkan kabar baik itu.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Reya yang tersenyum.
Bersambung
__ADS_1