Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 327


__ADS_3

"Sial kenapa tidak bisa di buka sih," umpat Renita dengan kesal yang menyibak rambutnya kebelakang. Napasnya sudah habis karena ngos-ngosan yang terkurung dan bahkan suaranya juga sudah hampir habis karena berteriak-teriak.


"Bagaimana ini. Aku tidak mungkin terkurung di sini. Bagaimana jika Sean datang dan aku harus mengatakan apa," Renita yang benar-benar kebingungan karena ulahnya sendiri yang tidak tau harus melakukan apa.


"Arghh, sial, benar-benar sial," Renita memijat kepalanya yang frustasi yang terjebak di ruangan Arga.


Sampai beberapa detik terlihat kenopi pintu yang bergerak membuat mata Renita melotot dengan perasaannya yang takut-takut dan pasti jantungnya berdebar kencang. Wajah paniknya semakin jelas saat pintu di dorong masuk.


Renita seperti melihat setan yang mana langsung berhadapan dengan Citra yang membuka pintu dan Karin berdiri di samping Citra dengan wajah Karin yang menantang wanita yang berdiri dengan penuh ke panikan itu.


"Citra, sial kenapa dia ada di sini. Bagaimana ini," batin Renita dengan kesulitan menelan salavinanya saat Citra sudah berdiri di hadapannya dan Citra memasuki ruangan itu yang membuat Renita refleks mundur.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Citra dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.


"A_ a aku_ aku hanya_ aku_..."


"Aku apa jawab," desak Renita dengan menekan suaranya.


"Aku ada keperluan. Tadi aku ingin bertemu dengan..."


"Pasienku," sahut Renita memotong pembicaraan itu yang sudah tau apa yang ingin di jawab Renita.


"Sial. Kenapa juga wanita ini ikut-ikutan," umpat Renita di dalam hatinya kesal dengan Karin.


"Memang ini ruangan pasien kamu apa. Makanya masuk-masuk ruangan orang sembarangan," ucap Karin yang rasanya ingin menerkam Renita.


"Jangan salah paham dulu. Aku datang kemari karena di suruh dan aku juga tidak tau kenapa tidak ada orang yang menyuruhku datang keruangan ini dan ketika tidak ada aku langsung ingin pergi. Tetapi pintunya di kunci," ucap Renita yang masih bisa mengelak dengan alasan yang di berikannya.


"Itu mulu alasannya. Apa urusannya pasien kamu ada di sini. Kamu itu nggak usah bohong. Kamu pasti aneh-aneh kan di ruangan Sean," sahut Karin yang tidak percaya dengan Renita.


"Aku mengatakan apa yang aku katakan dan itu benar. Lagi pula untuk apa aku aneh-aneh. Kalian berdua itu tidak menyukaiku. Jadi aku tau apa yang kalian pikirkan," ucap Renita.


"Memang aku tidak menyukaimu. Karena tau kamu itu wanita nggak benar," sahut Karin apa adanya.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu ya. Aku itu tidak tau siapa kamu dan kamu tidak punya hak untuk mengataiku," sahut Renita tidak terimah.


"Percuma juga aku bicara dengan kalian. Tidak ada gunanya," ucap Renita yang ingin pergi melewati Citra dan Karin. Namun Citra menahannya dengan menghadang jalan Renita dan bahkan memundurkan Renita dengan jari telunjuk Citra berada di dada Renita dan mendorong Renita yang membuat Renita kaget dengan Citra kelihatan menantangnya.


"Apa yang kau lakukan Citra," ucap Renita menekan suaranya dengan jari Citra yang masih berada di dada Renita.


"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu apa yang kau lakukan di ruangan kak Sean?" tanya Citra dengan suara menantang.


"Apa kau tuli. Aku sudah mengatakan apa yang aku lakukan tadi. Jadi jangan bertanya lagi," jawab Renita.


Citra menyunggingkan senyumnya dan menyinggirkan jarinya dari dada Renita. Lalu Citra menghela napas dan melangkah mendekati meja Sean.


"Bekal," ucap Citra membuat Renita kaget dengan matanya yang membulat sempurna dan membalikkan tubuhnya yang melihat ke arah Citra yang sekarang Citra memegang kotak bekal yang di keluarkan dari paper bag itu dan hal itu membuat Renita kaget.


"Kamu menyiapkan bekal untuk kak Sean?" tanya Citra sinis dengan melangkah kembali mendekati Renita dengan tetap memegang bekal tersebut.


"Ohhhh, jangan-jangan kamu sering ya melakukan hal ini. Masuk diam-diam keruangan kak Sean dan memberinya bekal. Atau jangan-jangan kamu menukar bekal yang di berikan istrinya dengan bekal yang kamu buat," ucap Citra dengan sinis yang langsung to the point.


Renita mengepal tangannya saat mendengar kata-kata Citra.


"Jangan sembarangan kamu bicara," ucap Renita.


"Aku sembarangan. Sudah tertangkap masih aja mengelak dengan alasan yang tidak masuk akal. Kamu menyukai kak Sean ya. Ingin menghancurkan rumah tangganya. Tidak mendapatkan suamiku. Lalu kamu sekarang ingin suami dari temanmu," sinis Citra dengan menatap jijik Renita.


"Murahan sekali caramu dengan kotor seperti ini, sangat pengecut dan sungguh begitu murah," lanjut Citra yang berbicara tepat di wajah Renita.


"Tutup mulutmu Citra. Kau jangan sembarangan menuduhku!" sentak Renita yang tidak terima.


"Aku tidak menuduhmu. Tetapi ini kenyataannya. Kau selama ini di balik rusaknya rumah tangga kak Sean dan kak Reya dengan caramu yang sangat murahan dan hina," kecam Citra.


"Kau!" Renita mengangkat tangannya yang ingin menampar Citra. Namun Citra menangkis tangan Renita.


Plakkk.

__ADS_1


Renita yang akhirnya tertampar membuat Karin kaget dengan mata melotot Karin dan tangannya yang menutup mulutnya melihat Renita tertampar dan sebenarnya Karin sangat suka dengan hal itu.


Namun pasti Renita yang kaget menerima tamparan di pipinya sampai wajahnya miring kesamping dengan pipinya yang tertutup rambutnya.


"Dasar wanita murahan!" umpat Citra dengan kesal dan sentakan kuat.


"Kau berani melakukan ini!" sentak Renita yang ingin membalas Citra dengan mendorong Citra dan Citra yang terdorong mendapat kesempatan seperti itu membuat Karin melayangkan tangannya untuk membalas Citra. Citra memejamkan matanya saat tangan itu hampir melayang ke wajahnya.


Namun ternyata tidak jadi karena sebuah tangan memegang pergelangan tangan Renita dan bukan Karin yang memegangnya saat Renita melihat siapa yang memegang tangannya yang ternyata adalah Sean yang membuat Renita semakin kaget dan Sean langsung menjatuhkan kasar tangan Renita.


"Sean!"


"Kak Sean!" lirih Citra yang lega dengan kedatangan kakaknya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Berani sekali kau ingin memukul Citra," ucap Sean dengan menekan suaranya yang sangat emosi dengan Renita.


"Kak Sean ini wanita yang sengaja merusak hubungan kakak dan kak Reya," sahut Citra yang langsung mengatakan apa adanya.


"Jaga bicaramu Citra. Kau jangan menuduhku yang tidak-tidak. Dan asal kau tau Sean aku ingin menampar mulut adikmu itu. Karena ulahnya sendiri yang mengataiku dan menghinaku," tegas Renita yang masih membantah saja.


"Aku mengatakan apa yang sebenarnya dan kak Sean lihat ini. Dia memberi makan siang untuk kakak dan ini bukan hanya sekali. Selama ini dia diam-diam masuk ruangan kakak memberi makan siang untuk kakak dan juga menukar bekal yang di berikan kak Reya. Bekal yang di berikan kak Reya di yang membuangnya," tegas Citra yang sembari menunjuk-nunjuk Renita.


"Itu tidak benar Sean," bantah Renita yang masih mengelak.


"Memang kok Sean aku sendiri sering mendapatinya keluar dari ruanganmu dan aku pikir kamu ada di dalam dan ternyata tidak. Jadi dia sebenarnya sering diam-diam keruanganmu dan kamu tidak ada di dalam," sahut Renita menambahi.


"Dan foto yang di kirim di hp kak Reya itu ulah dia. Dia yang hampir terjatuh di tangga dan kakak menariknya yang mana dia mencari kesempatan untuk memeluk kakak dan mengirim foto itu pada kak Reya," lanjut Citra lagi.


"Dan ternyata bukan 1 bekal yang di buang di tong sampah. Bahkan sangat banyak dan aku menemukannya dan di cek dari Cctv dia pelakunya," sahut Karin dengan menunjuk Renita lagi.


Renita sudah tidak bisa berkutik lagi dengan semua pernyataan Citra dan Karin dan semua pernyataan itu ada buktinya dan bahkan sudah melihat dari Cctv.


Sementara Sean sudah mengepal tangannya dengan melihat tajam Renita yang sudah merusak hubungannya dengan istrinya dan sampai sekarang dia dan Reya masih saja marahan tidak jelas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2