Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 325


__ADS_3

Sean kembali keruangannya setelah hampir 1 jam meninggalkan ruangannya. Sean menghampiri mejanya dan melihat ada paper bag di atas mejanya.


"Apa ini?" tanyanya dengan heran dan langsung membuka paper bag tersebut yang mengeluarkan isinya yang ternyata kotak bekal.


"Bekal! ini punya siapa?" tanyanya dengan kebingungan.


"Tidak mungkin Reya kan yang memberikannya. Dia lagi marah kepadaku dan sangat mustahil dia memberikan bekal makan siang kepadaku," batin Sean yang penasaran dengan bekal itu. Entah siapa yang membuat dia atas meja.


Sean kembali memasukkannya kedalam paper bag tersebut dan langsung membuangnya ke tong sampah.


"Aku tidak tau itu punya siapa dan apa untukku atau tidak dan itu tidak mungkin Reya yang membuatnya," gumam Sean yang memijat kepalanya dan kembali duduk di kursinya dengan memejamkan matanya. Dia tidak tidur hanya saja menenangkan dirinya.


Pilihan Sean membuang bekal itu sudah sangat tepat. Karena dia yakin bukan untuknya maka lebih baik di buang dari pada nanti akan menimbulkan masalah lain.


*********


Malam ini, Argantara, Anggika, Sahila, Sean, Reya, Citra dan Reval sedang makan malam di salah satu Restaurant mewah. Hari ini acara makan malam yang di adakan Sahila karena Sahila merayakan ulang tahunnya yang 52 tahun.


Mereka semua makan dengan nikmat yang kebetulan Sean juga tadi sebenarnya ada pekerjaan. Namun dia menyempatkan untuk datang ke Restauran tersebut.


"Terima kasih ya untuk waktu kalian semua. Saya benar-benar senang dengan kalian semua yang menyempatkan diri untuk makan malam sederhana ini," ucap Sahila yang merasa sangat bahagia.


"Ya ampun Sahila. Tidak perlu berterima kasih hanya makan malam saja. Itu bukan hal yang sulit," sahut Anggika.


"Benar Sahila. Lagian kita harus sering-sering makan bersama dan bukan hanya karena ada acara saja," sahut Argantara.


"Iya-iya. Nanti kita akan adain lagi acara makan malam. Yang penting saya tetap berterima kasih. Waktu kalian pasti padat. Tetapi menyempatkan hal ini. Termasuk kamu Sean. Kamu pasti lelah dari kantor. Tapi masih sempat mampir," ucap Sahila.


"Tidak juga kok Tante. Tadi memang waktunya masih terbagi. Jadi tidak ada masalah," jawab Sean dengan santai yang duduknya bersebelahan dengan Reya.


"Tante juga berterima kasih pada kamu ya Reya. Kamu lagi hamil besar dan pasti sangat sulit bergerak. Tetapi masih mau keluar untuk makan malam," ucap Sahila.


"Tante Sahila jangan seperti itu. Lagian banyak-banyak bergerak sangat bagus untuk kelahiran nanti. Jadi tidak ada yang harus di terima kasihkan," ucap Reya dengan santai.

__ADS_1


"Reya benar Sahila. Banyak gerak membuat proses lahiran Reya akan lancar. Makanya sampai sekarang Reya itu sangat aktif dia itu terus saja mengerjakan apa-apa aja. Termasuk masih sempat-sempatnya membuat makanan untuk Sean dan mengantarkannya kekantornya bersama Citra," sahut Anggika.


Apa yang di katakan Anggika, membuat Sean, Reya, Citra dan Reval terlihat diam.


"Jadi makanan itu juga tetap dari Reya," batin Sean yang mengingat makanan di atas mejanya tadi siang.


"Jika aku tau. Seharusnya aku memakannya dan jika Reya tau tidak memakannya lagi Reya pasti bertambah marah," batin Sean yang sekarang menyesal karena tidak memakan bekal yang di pikirkannya istrinya yang menyiapkannya.


"Ya ampun Reya kamu ini memang bumil yang aktif. Citra harus banyak belajar dari kamu," sahut Sahila.


"Citra juga aktif kok mah, aktif manjanya," sahut Reval dengan canda.


"Sayang jangan bongkar rahasia dong," tegur Citra kesal.


"Iya aku hanya berusaha aktif. Walau tidak di hargai," sindir Reya dan pasti itu untuk Sean.


Reval dan Citra kembali saling melihat dan sementara, Anggika, Sahila dan Argantara hanya heran dengan celetukan Reya yang sepertinya mereka memang tidak tau apa yang terjadi antara Reya dan Sean.


"Hmmm, mama mau pesan apa lagi. Ini ulang tahun mama. Jadi mama harus makan banyak," sahut Reval yang mengalihkan ketegangan di meja itu.


"Iya-iya mama akan makan yang banyak. Kalian juga dan ingat ini mama yang traktir lo. Jangan ada yang bayar," ucap Sahila menegaskan.


"Iya-iya mah," sahut Reval dan syukurlah suasana bisa mencari dan para orang tua itu tidak memikirkan apa-apa.


"Papa sedang apa?" tanya Citra yang melihat sang papa kelihatan mencari-cari sesuatu.


"Lagi cari pulpen Citra. Mau tanda tangan ini sebentar, mau di jemput asisten papa," jawab Argantara yang kelihatan ada hal yang mendadak.


"Biar aku minta sama pelayan dulu," sahut Reval.


"Aku punya kok," sahut Sean yang membuat Reval tidak jadi meminta pada pelayan dan Reval yang langsung merogoh jasnya untuk mengambil pulpen yang selalu di bawanya.


"Ini pa," ucap Sean saat memberikan apa yang di ambilnya dari saku jasnya. Namun semua orang melihat benda di tangan Sean yang membuat mereka bingung.

__ADS_1


"Kak Sean itu lipstik," sahut Citra, membuat Reya menoleh ke arah Sean dan melihat apa yang di pegang Sean yang ternyata lipstik dan bukan pulpen. Sean kelihatan terkejut melihat benda yang tidak tau kenapa ada bisa di saku jasnya.


"Ya ampun Sean. Kamu itu ada-ada aja ya. Lipstik Reya sampai di bawa-bawa. Kamu itu tipe suami yang bucin banget," ucap Anggika geleng-geleng yang membuat Sahila dan Argantara juga ikut tersenyum.


"Itu bukan punya Reya mah," sahut Reya apa adanya.


Sahutan Reya membuat Anggika, Argantara dan Sahila yang tadinya senyum langsung hilang dengan cepat.


"Bukan punya kamu?" tanya Sahila. Reya menganggukkan kepalanya. Reval dan Citra saling melihat dengan pemikiran mereka yang mungkin sama.


"Lalu jika bukan punya kamu. Punya siapa lagi. Kok bisa ada di jas Sean?" tanya Anggika.


"Dia ada di hadapan mama. Tanya saja padanya. Lipstik wanita siapa itu," jawab Reya dengan dingin yang membuat Sean panik dan hanya terus melihat Reya yang mana tangan Reya bergetar saat melihat ada saja lagi hal yang di lakukan Sean yang menyakiti hatinya.


"Raya aku tidak tau kenapa ini ada di jasku," ucap Sean yang berusaha untuk menjelaskan.


"Sudah tertangkap masih mengelak," desis Reya yang menekan suaranya.


"Mungkin itu punya Citra," sahut Citra yang mengalihkan suasana yang hampir meledak-ledak itu.


"Ya itu pasti punya Citra. Tadi Citra kekantor kak Sean. Pinjam jas kak Sean karena baju Citra sobek di bagian belakangnya dan mungkin aja Citra lagi pakai lipstik dan sembarangan taruh," jelas Citra yang mengakui itu miliknya untuk mengalihkan suasana agar tidak terlihat tegang.


"Kamu ini benar-benar ceroboh sekali sayang," sahut Reval.


"Iya maaf, maaf ya kak Sean," sahut Citra.


Sean hanya mengangguk dan masih melihat Reya yang mana Reya menahan sesak di dadanya.


"Kenapa aku merasa Sean dan Reya sedang tidak baik-baik saja," batin Anggika yang bergantian melihat Sean dan Reya.


"Biar aku cari pulpennya," sahut Reval. Argantara mengangguk.


Citra memang sengaja mengakui jika itu miliknya. Agar Reya dan Sean tidak semakin panas dan lagian itu juga ulang tahun Sahila mama mertuanya yang sangat tidak mungkin kacau dengan permasalahan Sean dan Reya.

__ADS_1


"Lipstik siapa lagi ini. Kenapa bisa ada di jas ku dan Reya pasti sudah berpikiran yang tidak-tidak," batin Sean yang menghela napas yang terlihat pusing dengan masalah yang semakin bertambah.


Bersambung


__ADS_2