Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 119


__ADS_3

"Apa maksud kamu Sean?" tanya Argantara saat berbicara berhadapan dengan Sean di ruangannya.


"Iya pah, mama menyuruh Karin untuk mengikutiku dan pasti mama mencurigai sesuatu mengenai Reya," ucap Sean.


"Kenapa tiba-tiba seperti itu Sean. Papa sampai lengah dengan masalah ini. Anggika dia semakin curiga dan bahkan sampai melibatkan Karin," ucap Argantara dengan suara beratnya yang mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Aku juga tidak tau pah. Jika selama ini mama melakukan hal ini dan aku tidak tau di mulai kapan," ucap Reya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Argantara yang sepertinya buntu untuk berpikir.


"Aku akan mengurus Reya. Aku hanya ingin papa mengurus Karin," ucap Sean.


"Maksud kamu?" tanya Argantara.


"Aku sudah tidak bisa menghadapinya. Dan aku serahkan pada papa saja dan masalah Reya serahkan padaku. Dia akan baik-baik saja dan pasti akan lebih hati-hati lagi selanjutnya," ucap Sean dengan keputusannya.


"Baiklah jika itu yang kamu mau. Papa akan menyelesaikannya dan kamu terus jaga Reya. Ada apa-apa langsung katakan pada papa," ucap Argantara.


"Baik pah. Kalau begitu Sean keluar dulu," ucap Sean berdiri dari tempat duduknya sembari merapikan jasnya. Sebelum keluar Sean menundukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan papanya. Yang penting dia sudah mengatakan apa yang harus di katakan. Walau sudah tertunda. Karena waktu yang membuat mereka tidak punya kesempatan untuk bicara. Dan baru hari ini berbicara di kantor.


**********


"Nona Karin!" panggil Diki saat melihat Karin berjalan melenggak-lenggok.


"Diki! ada apa?" tanya Karin pada Diki yang berada di depannya.


"Tuan Argantara memanggil Nona Karin keruangannya," ucap Diki.


"Untuk apa?" tanya Karin dengan dahinya yang mengkerut.


"Masalah itu saya tidak tau," jawab Diki mengangkat ke-2 bahunya.


"Baiklah kalau begitu," sahut Karin yang langsung pergi untuk menghadap Argantara.


Tidak lama Karin sudah berada di ruangan Argantara. Yang berdiri menunduk di hadapan Argantara yang duduk di Sofa.

__ADS_1


"Ada apa ya tuan memanggil saya?" tanya Karin begitu dek-dekan dengan ke-2 tangannya yang mengatup di bawah sana.


"Ini!" Argantara menggeserkan kertas di mejanya pada Karin membuat Karin bingung.


"Apa ini?" tanya Karin heran.


"Kamu buka saja," sahut Argantara. Karin mengangguk dan langsung membuka kertas putih itu. Mata Karin melotot melihat istri kertas itu.


"Ma-ma-maksdud tuan apa. Saya di pindahkan ke Kalimantan," ucap Karin yang berbicara terbata-bata yang jelas sangat shock melihat isi dari kertas putih itu.


"Iya itu surat pemindahan kamu. Kamu silahkan tanda tangan. Karena kamu akan di pindahkan," jawab Argantara dengan santai.


"Tapi tuan. Kenapa saya yang di pindahkan. Bukannya saya sudah lama di perusahaan ini dan lagian saya juga Sekretarisnya Sean," protes Karin.


"Justru kamu karena lama di Perusahaan. Makanya tim memutuskan untuk memindahkan kamu. Karena pengalaman kamu pasti banyak dan bisa membantu Perusahaan di Kalimantan dan masalah Sekretaris Sean. Jangan khawatir dia bisa mengatasi pekerjaannya dan Diki akan membantunya," jelas Argantara.


"Tapi tuan..."


"Karin. Kamu boleh keluar dan kembali lagi setelah suratnya sudah di tandatangani dan Iya kamu bekerja dengan baik di Perusahaan. Dan bekerja sesuai bidang kamu. Jangan lari dari jalur. Mungkin saya tidak akan memindahkan kamu lagi. Tapi akan membuat kamu jadi pengangguran. Kamu bekerja untuk saya, Sean dan Perusahaan. Bukan untuk istri saya," tegas Argantara dengan wajah seriusnya.


"Kamu boleh keluar sekarang," ucap Argantara yang mempersilahkan Karin keluar. Karin tidak bisa protes lagi dan hanya menundukkan kepalanya dan dengan tidak bersemangat langsung keluar dari ruangan Argantara.


Argantara menghela napasnya dengan perlahan kedepan.


"Dia yang menginginkan semua ini," gumam Argantara.


Ya keputusan Argantara untuk memindahkan Karin sudah keputusan yang tepat. Dengan begitu Anggika tidak bisa lagi menyuruh Karin untuk menyelidiki Sean dengan memanfaatkan Karin dan Karin harus mendapatkan resiko. Itu kesalahannya. Karena sebelumnya Sean sudah berkali-kali memperingatinya.


**********


Citra duduk di salah satu bangku yang ada di kampus di mana wajahnya terlihat sangat lesu. Mata Citra tiba-tiba melihat ke arah Reval yang berjalan yang sangat cool dan terlihat berbincang-bincang dengan mahasiswa.


"Kenapa mama bisa menilai seorang Dosen seperti itu. Kak Reval sangat baik. Dia juga bukan tipe orang yang suka tebar pesona dengan wanita-wanita di kampus ini. Aku juga tidak pernah melihat hal itu. Justru wanita-wanita di kampus ini yang menyukainya. Tetapi aku melihat kak Reval tidak pernah menanggapinya dan itu sudah menandakan jika kak Reval m see memang baik. Dia juga menyelamatkan ku dari Barra," batin Citra.


Citra jadi kepikiran dengan perkataan sang mama yang jelas-jelas sudah melarang dirinya untuk berhubungan dengan Reval. Padahal baru kali ini Citra merasakan kebahagiaan yang tidak pernah di rasakannya bersama lawan jenisnya.

__ADS_1


"Citra!" tegur Rose yang tiba-tiba datang dan mengagetkan Citra yang duduk di sampingnya.


"Rose,"sahut Citra yang tidak semangat.


"Kamu kenapa. Aku perhatikan kamu banyak pikiran. Ayo apa yang kamu pikirin?" tanya Rose.


"Menurut kamu seorang Dosen itu seperti apa?" tanya Citra tiba-tiba yang membuat Rose bingung.


"Kenapa tanya seperti itu?" tanya Rose.


"Kamu jawab aja," sahut Citra.


"Ya tergantung sih. Ada Dosen yang baik, ada yang merepotkan dan lain-lain ya tergantung sih," jawab Rose.


"Jadi kalau Dosen yang masih single, punya tampang good looking. Apa menurut kamu itu dia itu suka mempermainkan wanita?" tanya Citra.


Rose mendengarnya semakin heran sampai dahinya mengkerut, "kamu ini bicara apa sih aku tidak mengerti," sahut Rose bingung.


"Arghh sudahlah," sahut Citra tidak mau membahas hal itu lagi.


"Ohhhhh, Citra kamu ini aneh sekali. Buat orang penasaran aja," ucap Rose.


"Sudahlah lupakan semuanya. Hal itu jangan di bahas lagi," ucap Citra.


"Baiklah kalau begitu. Oh iya sekarang kita sebaiknya pergi ke Mall," ucap Rose.


"Untuk?" tanya Citra heran.


"Citra bukannya kita akan mengadakan acara kemping. Jadi kita harus ke Mall bukan untuk memenuhi barang-barang yang akan kita bawa nantinya," sahut Rose.


"Baiklah kalau begitu sekalian. Aku juga pengen reflesing," sahut Citra. Rose tersenyum mendengarnya. Kalau sudah urusan Mall siapa yang tidak heboh.


"Kalau begitu let's go," sahut Rose yang langsung berdiri dengan semangat dan Citra pun ikut berdiri. Dan Citra kembali melihat ke arah Reval yang ternyata melihat dirinya dan Reval tersenyum pada Citra.


"Ayo Citra," sahut Rose yang menarik tangan Citra. Membuat Citra tidak sempat membalas senyum Reval.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2