Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 146


__ADS_3

"Apa yang mama katakan?" tanya Sean dengan dadanya yang kembang kempis mendengar apa yang di katakan Anggika.


"Reya tidak mungkin melahirkan anak yang seharusnya tidak di lahirkannya. Darah daging kamu yang artinya kalian itu sedarah. Reya tidak mungkin melahirkan anak hasil sedarah. Untuk mengakhirinya hubungan kalian. Hanya dengan menghilangkan anak yang di perut Reya," jelas Anggika dengan ide yang pasti sangat konyol yang membuat Sean tidak mungkin menerima ide itu.


"Tidak mah. Apa yang mama katakan tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," sahut Sean yang pasti membantah hal itu.


"Sean semua ini di lakukan hanya untuk kebaikan kamu dan juga Reya. Karena kamu tidak mungkin menikahi Reya," ucap Anggika menegaskan.


"Mah mengugurkan kandungan Reya sama saja membunuh anak yang tidak berdosa dan mama sanggup melakukan semua itu!" tanya Sean.


"Hanya itu pilihan yang terbaik. Tidak ada solusi untuk kalian berdua. Cinta kalian jelas salah. Kalian adik kakak dan apa yang terjadi. Kebodohan yang kalian lakukan. Melakukan hubungan terlarang. Itu adalah petaka," ucap Anggika penuh dengan penekanan dan penegasan.


Sean geleng-geleng apapun yang dikatakan sang mama pasti dia tidak akan pernah setuju. Sementara Argantara tetap diam, berdiri di tempatnya yang tidak mengeluarkan pendapat. Setuju atau membantah ide istrinya tersebut. Sama dengan Citra yang juga bingung yang tidak tau mau mengatakan apa. Namun tampaknya Citra tidak bisa menerimanya apa yang di katakan mamanya.


"Maaf mah, tapi aku tidak setuju dengan apa yang mama katakan. Aku tidak mungkin membunuh darah dagingku sendiri," sahut Sean menegaskan.


"Jangan keras kepala Sean. Apa yang kamu harapkan dari hubungan yang salah ini hah! hubungan ini terlarang. Kenapa kamu tidak mengerti juga. Kamu itu orang pendidikan. Kenapa tidak paham dengan hal ini," ucap Anggika yang mulai emosi.


"Tetapi ini tidak mungkin mah. Sangat tidak mungkin! pah. Papa tidak akan setuju kan dengan apa yang di katakan mama?" tanya Sean yang mencari pembelaan dari Argantara


"Ini jalan satu-satunya pah dan seharusnya papa tau keputusan mana yang harus papa ambil," sahut Anggika yang mempengaruhi jalan pikiran suaminya.


Argantara menarik napasnya panjang kedepan dan membuatnya perlahan kedepan dan melihat kearah Sean dan Anggika secara bergantian, "Jalan itu memang harus kita lakukan," sahut Argantara yang setuju dengan apa yang di katakan Anggika.


"Pah!" ucap Sean dengan melotot yang tidak percaya dengan papanya yang setuju dengan kekonyolan itu.


"Apa yang di katakan mama kamu benar Sean. Reya harus menggugurkan kandungannya. Dia tidak mungkin melahirkan anak kalian," tegas Argantara yang langsung setuju dengan apa yang di katakan Anggika.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin pah. Papa harus tau apa yang papa dan mama lakukan itu hanya akan mencelakakai Reya. Nyawa Reya bisa dalam bahaya dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan!" tegas Sean.


"Kita tidak punya pilihan Sean dan semua yang terjadi itu karena kesalahan kamu," sahut Argantara dengan menekan suaranya yang sedikit berteriak.


"Aku mengakui kesalahan ku. Tetapi seperti yang aku katakan. Aku tidak pernah menganggap Reya sebagai adikku dan aku tidak akan membiarkan Reya menggugurkan kandungannya. Aku mencintainya dan semua ini tidak pernah berakhir. Aku dan Reya akan menghadapi apapun termasuk mama dan papa. Aku akan tetap menikahi nya. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padanya," tegas Sean dengan keputusannya yang tidak akan berubah.


"Sean cukup kamu mengatakan cinta itu. Apa kamu tidak tau malu dengan perkataan kamu!" teriak Argantara.


"Lalu bagaimana dengan mama dan papa. Apa kalian tidak malu dengan tindakan kalian. Bagaimana mana mungkin. Kalian akan membunuh anak yang tidak bersalah. Apa kalian tidak punya hati melakukan semua itu. Kalian juga orang yang punya pendidikan dan agama dan tau itu kesalahan!" tegas Sean menggurui ke-2 orangtuanya.


"Kamu!" Argantara yang tampak emosi ingin melayangkan tangan kembali ke pipi Sean yang belum sembuh sama sekali.


"Pah cukup!" sahut Citra yang berlari yang menghentikan tindakan sang papa dengan memeluk Sean, "papa mau berapa kali lagi memukul kak Sean. Sudah pah semuanya sudah cukup pah. Papa jangan lakukan hal itu lagi," ucap Citra yang pasang badan untuk kakaknya.


"Kamu jangan ikut campur Citra. Anak ini semakin tidak bisa di kasih tau. Sangat keterlaluan. Yang terjadi pada Reya karena perbuatan kakak mu," sentak Argantara.


"Stop menyalahkanku Anggika. Aku juga tidak ingin semua ini terjadi," sahut Argantara yang tidak terima di salahkan terus.


"Mah, pah sudah jangan bertengkar lagi. Citra pusing melihat mama dan papa terus ribut. Mama juga terus menyalahkan papa dan papa terus menyalahkan kak Sean, memukulnya dan ini itu. Apapun yang kalian lakukan. Kak Sean tidak akan mengubah keputusannya," tegas Citra yang tau apa yang akan di lakukan kakaknya.


"Citra benar. Aku tidak akan menggugurkan kandungan Reya. Aku akan bersamanya selamanya," tegas Sean dengan merendahkan suaranya.


"Sean mama masih orangtuamu. Jadi mama minta sama kamu untuk mendengarkan mama demi kebaikan keluarga ini," tegas Anggika.


"Maaf mah, pah. Tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar minta maaf aku mencintai Reya dan akan hidup bersamanya. Maaf," ucap Sean yakin dengan menundukkan kepalanya dan pergi dari hadapan ke-2 orang tuanya.


"Mau kemana kamu Sean?" panggil Anggika.

__ADS_1


"Aku ingin membawa Reya pergi dan kami akan hidup bersama. Tanpa persetujuan atau Restu dari mama dan papa," jawab Sean.


"Kamu pikir papa akan setuju kamu membawa Reya. Itu tidak akan Sean," sahut Argantara.


"Tapi aku akan tetap membawanya," sahut Sean yang langsung pergi dari hadapan orang tuanya dan juga adiknya.


"Kak Sean!" panggil Citra.


"Sean!" panggil Argantara.


"Sean!" panggil Anggika.


Namun Sean tetap pergi yang tidak peduli dengan orang tuanya dan Citra pun mengejar Sean yang keluar rumah.


"Kak Sean tunggu!" panggil Citra yang menghentikan kakaknya, "kakak mau kemana? jangan pergi kak!" ucap Citra.


"Kakak tidak akan pergi kemana-mana. Kakak hanya pergi sebentar untuk menyelesaikannya masalah kakak," jawab Sean.


"Apa kakak tau Reya ada di mana. Kakak juga tidak tau di mana Reya?" tanya Citra begitu khawatir pada Sean.


"Kakak akan menemukannya. Kamu jangan Khawatir. Kamu jaga diri saja dan rajin belajar. Sebentar lagi kamu juga akan sidang. Jadi kamu harus benar-benar bagus dalam belajar," ucap Sean yang memberi pesan pada adiknya.


"Tapi kak!"


"Kakak pergi ya," ucap Sena pamit dengan mencium kening Citra dan dengan berat hati pergi meninggalkan Citra.


"Kak!" Citra tidak bisa apa-apa dan hanya meneteskan air mata saat sang kakak benar-benar pergi yang menentang keluarganya demi cinta yang salah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2