
Setelah pulang dari acara Reya Renita yang di dalam mobil menyetir dengan kecepatan tinggi dengan wajahnya yang menyimpan amarah yang sangat besar.
"Sial!" umpatnya dengan penuh kemarahan yang memukul-mukul stir mobil.
"Apa yang di katakannya tadi berani sekali dia mengatakan itu kepadaku. Dia memperingatiku dan menghinaku. Kau benar-benar menantangku Citra. Kau sangat takut jika aku merebut suamimu dan baiklah aku akan membuat ketakutan mu menjadi kenyataanya," ucap Renita dengan penuh rencana buruk.
"Kau yang memulai semuanya Citra dan aku tidak akan tinggal diam. Aku yang pertama kali mengenal Reval dan kedatanganku ke Jakarta untuk Reval. Dan kau yang merebutnya dari ku. Jadi jika aku yang merebutnya dari mu itu bukan kesalahan ku. Karena aku hanya mengambil milikku saja," ucap Renita dengan menyunggingkan senyumnya.
"Dan aku tidak akan membiarkan siapapun yang menghalangiku. Walau itu kamu Reya. Jangan mentang-mentang Citra adikmu. Jadi aku akan mendengarkan perkataan mu. Tidak sama sekali Reya. Kamu sangat mengenalku Reya dan kamu tau aku tidak mudah menyerah dan apa lagi jika sudah di tantang,"
Renita yang sepertinya benar-benar akan serius untuk merebut Reval dari Citra. Dari sorot matanya yang tajam dan penuh dengan rencana dalam niat jahatnya yang pasti dia tidak mau kalah dari Citra.
*********
Citra dan Rose sedang berbincang-bincang sembari menikmati orens jus yang menjadi salah satu menu di tempat acara Reya.
"Mana pacar kamu?" tanya Citra yang melihat Rose tidak dengan pengikutnya.
"Lagi ngobrol sama mama dan papa," jawab Rose.
"Ohhh," sahut Citra.
"Oh iya Citra, siapa sih wanita yang ngobrol sama kamu tadi?" tanya Rose yang ternyata tadi memperhatikan Citra.
"Yang mana?" tanya Citra heran.
"Yang tadi. Aku melihat kalian itu ngobrol sangat serius dan sebelumnya juga menyapa Reya dan terlihat dekat dengan Reya," jawan Rose dengan penasaran.
"Ohhh, itu. Dia Renita Sabahat kak Reya dan kak Reval," jawab Citra.
"Sahabat toh. Tetapi kok kalian ngobrolnya begitu serius. Apa ada masalah?" tanya Rose yang sejak tadi memang memperhatikan mimik wajah Citra saat mengobrol dengan Renita.
"Ya aku hanya mengobrol santai saja. Aku hanya mengatakan kepadanya untuk tidak mendekati suamiku," jawab Citra membuat dahi Rose mengkerut.
"Maksudnya?" tanya Rose heran.
__ADS_1
"Jangan bilang dia itu pelakor?" tebak Rose.
"Kalau menurut kamu bagaimana? Apa ada bibit pelakor di wajahnya?" tanya Rose.
"Hmmmm, ada sih sedikit. Tetapi ini serius Citra. Kalau dia itu pelakor?" tanya Rose yang merasa Citra hanya becanda. Namun ekspresi Citra begitu santai.
"Citra kamu jangan santai begini, aku serius bertanya," ucap Rose yang malah semakin penasaran.
"Ya jika kamu sudah menebak seperti itu. Ya maka seperti itu," sahut Citra dengan santainya.
"Serius!" pekik Rose yang adanya tidak percaya.
"Iya," jawab Citra.
"Lalu kamu kok santai gini?" tanya Rose heran.
"Menghadapi pelakor memang harus santai. Jangan emosi," sahut Citra dengan santainya yang malahan Rose yang panik.
"Tetapi nggak gini juga Citra santainya. Kamu ini ya aneh-aneh aja. Kamu nggak takut apa jika dia benar-benar akan merebut Reval dari kamu?" tanya Rose.
"Aku sama kak Reval saling percaya dan cinta sebagai kekuatannya. Namun pasti aku tidak pernah Santa dan aku juga takut jika nanti hubunganku kenapa-kenapa dengan kak Reval. Tetapi kembali lagi. Kita saling percaya," ucap Citra dengan santai.
"Itu kamu tau," sahut Citra santai dengan tersenyum.
"Aku memang tidak akan membiarkan ada yang berusaha untuk memisahkan aku dan kak Reval. Walau itu dia dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," batin Citra yang akan berjuang untuk hubungannya dan suaminya.
**********
Acara 7 bulanan Reya sudah selesai. Namun ternyata Reya dan suaminya masih belum berbicara sama sekali yang mana Sean masih saja mendiamkan Reya. Karena masalah Renita.
Reya yang memasuk kamar dan melihat kamar yang kosong. Suara di kamar mandi juga tidak terdengar ada aktivitas.
"Di mana kak Sean," batin Reya dengan kebingungan yang mencari tau keberadaan suaminya.
Reya melihat ke arah pintu teras kamar yang terbuka yang ternyata Sean ada di sana yang berdiri di dekat pagar dengan ke-2 tangannya yang berada di saku celananya yang membuat Reya menghela napasnya dan langsung menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Kak Sean belum tidur?" tanya Reya.
Sean hanya melihat Reya dengan ekor matanya, "tidurlah terlebih dahulu aku belum mengantuk," jawab Sean dengan nada suara yang dingin.
Reya menghela napasnya dan melangkah mendekati suaminya dengan memeluk pinggang suaminya dari belakang.
"Masih marah pada Reya?" tanya Reya dengan dengan memeluk erat.
"Maaf kak Sean. Aku tidak bermaksud apa-apa untuk semua ini. Aku benar-benar minta maaf dan seharusnya aku minta izin dulu pada kak Sean baru melakukan semua ini. Aku benar-benar sangat menyesal..Tolong jangan marah pada ku," ucap Reya.
Sean masih diam yang tidak merespon perkataan istrinya.
"Sayang. Kita baru saja tadi merayakan 7 bulanan untuk anak kita dan tadi aku sangat bahagia dengan semua acara yang lancar. Tetapi apa kebahagiaan ku akan menjadi hambar dengan kamu yang masih marah kepadaku," ucap Reya.
Sean menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu Sean membalikkan tubuhnya menghadap Reya.
"Aku sangat kecewa kepada kamu Reya," ucap Sean.
"Aku tau itu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi," jawan Reya.
"Kamu janji?" tanya Sean. Dengan cepat Reya menganggukkan kepalanya.
"Lain kali kalau ada apa-apa. Mau hal besar atau sekecil apapun. Kamu harus bilang padaku. Aku tidak ingin kejadian tadi terulang lagi," ucap Sean yang mengingatkan istrinya.
"Iya kak Sean aku janji dan mulai sekarang aku juga akan benar-benar membatasi komunikasi dengan Renita," ucap Reya dengan keputusannya.
"Aku tidak meminta hal itu Reya. Aku hanya ingin kamu bisa melihat situasi kapan dan tidak ada Renita," ucap Sean.
"Baiklah kak. Reya akan mengingat apa yang kak Sean katakan," sahut Reya.
"Ya sudah kalau begitu kita lupakan semua ini," ucap Reya.
"Lalu kak Sean sendiri tidak akan marah lagi kan pada Reya," tanya Reya.
Sean menggelengkan kepalanya dan memeluk istrinya, "aku tidak bisa marah pada kamu dan ini salah komunikasi saja dan itu artinya next kita harus berkomunikasi lebih banyak lagi," ucap Sean.
__ADS_1
"Iya kak Sean," sahut Reya yang lega. Karena suaminya sudah tidak marah lagi kepada-nya.
Bersambung