
Sean dan Citra memasuki ruangan perawatan Citra. Setelah hampir 3 jam setelah kabar itu di terimanya yang mana Sean tidak sanggup menemui Citra dan sekarang baru menemui Citra dan posisi Citra masih sama yang membelakangi dirinya yang juga tidak berani melihat wajah kakaknya yang pasti penuh dengan kekecewaan kepada-nya.
"Siapa orangnya Citra?" tanya Sean dengan suaranya yang tertahan. Citra hanya diam yang tidak mengatakan apa-apa.
"Apa kamu tidak punya mulut Citra?" ucap Sean dengan menekan suaranya yang terlihat menahan emosinya. Reya langsung mengusap bahu Sean untuk meredakan emosi Sean yang di mana tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Citra.
"Citra kenapa semua ini bisa terjadi. Apa yang sebenarnya kamu alami selama ini. Kenapa merahasiakan semuanya dari kakak Citra. Kenapa menyembunyikan semua ini Citra. Citra jawablah!" ucap Sean yang lama-kelamaan kesal. Karena tidak mendapat jawaban apa-apa dari Sean.
"Kak tenanglah. Ayo kita keluar. Kita biarkan Citra untuk istirahat, kita harus dengarkan kata Dokter, pikiran Citra sedang tidak baik-baik saja dan percuma bicara padanya. Ayo kak kita tinggalkan Citra sendiri dia butuh ketenangan," ucap Reya dengan lembut. Lebih baik Reya membawa suaminya pergi dari pada suaminya berada di sana yang masih penuh dengan amarah dan kekecewaan. Sena menghela napasnya yang mencoba untuk menenangkan dirinya.
Dan akhirnya menuruti istrinya untuk meninggalkan tempat itu dan Citra menyeka air matanya yang sudah membanjiri wajahnya.
"Maafkan Citra kak! maaf Citra sudah melakukan semua ini. Citra memang salah. Citra sudah mengecewakan kakak. Maaf kak Reval, maafkan Citra," batin Citra yang hanya bisa meminta maaf dengan kesalahan yang paling besar yang di lakukannya.
"Kakak boleh membenci Citra, silahkan marah pada Citra. Citra akan menerima semua kemarahan kakak. Citra pantas untuk di marahi dan mendapat hukuman kak. Karena ini semua sudah takdir Citra," batin Citra pasrah dengan dirinya.
Citra lebih takut melihat Sean penuh dengan kekecewaan di bandingkan dengan Anggika dan juga Argantara. Ya kalau Anggika sudah jelas. Jika semua yang terjadi pada Citra adalah kesalahan Anggika yang mana Citra harus membayar dosa-dosa Anggika pada keluarga Reval.
**********
Reya dan Sean berada di luar rumah sakit dengan wajah Sean yang penuh dengan pemikiran. Bagaimana tidak jadi pemikiran dengan kondisi Citra yang hamil di luar nikah dan dia tidak tau siapa orangnya.
"Kak!" lirih Reya yang mengusap wajahnya bahu Sean yang mencoba untuk menenangkan Sean yang penuh dengan masalah, "kakak harus tenang dulu. Citra sedang tidak baik-baik saja pemikirannya sangat tidak tenang, pemikirannya sedang buruk dan apa yang di katakan Dokter jika Citra mengalami tekanan yang sangat banyak," ucap Reya yang mengingatkan Sean.
__ADS_1
"Apa ini karma untukku," ucap Sean tiba-tiba. Reya mengkerutkan dahinya mendengar apa yang di katakan Sean.
"Apa maksud ka Sean?" tanya Reya.
Sean melihat ke arah Reya, "Kamu adalah korban keegoisan ku Reya. Kamu juga hamil dan itu karena perbuatanku yang telah menghancurkan hidupmu dan aku tidak tau apa yang kamu alami. Sama dengan apa yang terjadi sekarang ini Citra mengalami semua ini dan ini karma untukku di mana aku menghancurkan seorang wanita dan adikku di hancurkan orang lain," ucap Sean.
Mungkin itu yang membuat Sean tidak terlalu marah, atau membentak Citra. Mungkin karena Sean menyadari jika apa yang terjadi pada Citra semua itu karena dirinya yang telah menghancurkan wanita di sampingnya dan adiknya juga mendapat karma dari perbuatannya.
"Kak Sean apa yang kakak katakan?" tanya Reya dengan matanya yang berkaca-kaca. Sean tersenyum kaku dengan air mata Sean yang jatuh.
"Adikku hancur Reya. Aku gagal menjaganya, Seharusnya aku berpikir sebelum memaksamu melakukan semua itu. Citra tidak seharunya menanggung karma dari perbuatanku. Aku tidak tau apa lagi yang di alaminya selama ini pasti banyak yang di alaminya," ucap Sean yang benar-benar begitu hancur dengan kenyataan yang di terimanya dan Reya langsung memeluk Sean untuk menenangkan Sean yang merasa bersalah dengan semua yang di alaminya.
"Jangan mengatakan itu Sean. Kamu tidak pernah memaksaku dan kamu tidak menghancurkan ku. Jangan menyalahkan dirimu. Kamu selalu berusaha untuk menjaga Citra. Jangan menyalahkan dirimu Sean," ucap Reya yang berusaha untuk menenangkan suaminya.
Sean melepas pelukan itu dari Reya dengan memegang ke-2 bahu Reya. Di mana Reya juga sudah menangis.
"Maksud kamu apa?" tanya Reya.
"Vidio Citra dan Barra Reya apa jangan-jangan Barra melakukannya yang menjebak Citra!" ucap Sean dengan bibirnya yang bergetar yang takut. Jika apa yang di pikirkannya adalah kebenarannya.
"Tidak mungkin. Aku jelas-jelas menolong Citra saat itu dan aku yakin bukan Barra," ucap Reya yang yakin dengan hal itu.
"Lalu jika bukan Barra siapa Reya?" tanya Sean.
__ADS_1
"Reval!" batin Reya yang tiba-tiba kepikiran dengan Reval.
"Bukannya Citra sangat dekat dengan Reval dan saat itu juga banyak keganjalan di antara mereka dan hubungan mereka tidak sedekat dulu lagi akhir-akhir ini dan masalah Citra di kampus di biarkan Reval begitu saja tanpa ada pembelaan dan Citra tiba-tiba mengatakan jika mereka tidak ada hubungan apa-apa ini sangat aneh," batin Reya yang kepikiran dengan hal itu.
"Reya!" tegur Sean yang melihat Reya bengong.
"Iya kenapa?" tanya Reya.
"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Sean.
"Tidak apa-apa. Kamu jangan Khawatir Reval aku akan coba untuk bicara pada Citra dan aku yakin Citra akan memberitahu siapa orangnya," ucap Reya yang mencoba untuk menenangkan Sean agar tidak gegabah dengan semua yang telah di pikirkannya.
"Kamu bicaralah padanya. Mungkin denganku dia sangat takut. Jadi aku titip dia untukmu. Kamu lebih tau apa yang harus kamu lakukan," ucap Sean.
"Jangan khawatir. Kita akan hadapi semua ini sama-sama. Kita akan mendampingi Citra," ucap Reya. Sean menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Reya.
"Aku akan menemui Reval. Aku sangat yakin ini ada hubungannya dengan Reval," batin Reya dengan penuh pendirian.
*********
Argantara memasuki ruang perawatan Citra yang mana posisinya masih sama yang berbalik badan yang pasti menangis.
"Apa yang terjadi Citra?" tanya Argantara.. Citra hanya diam dengan pikirannya yang memang sudah kosong yang tidak tau mau mengatakan apa. Dia tidak berani bicara pada papanya ataupun siapa.
__ADS_1
"Citra katakan pada papa apa yang terjadi kenapa kamu diam saja Citra. Citra katakan lah," ucap Argantara yang terus berbicara pada Citra. Namun Citra tetap diam.
Bersambung