
Sudah jam 10 malam dan semua mahasiswa kembali ketenda dengan membawa bendera masing-masing yang di temukan mereka dan Reval terlihat memberi nilai pada mahasiswa atau mahasiswi yang sudah berusaha dalam menyelesaikan tugas mereka.
Namun Citra belum ada di sana, sama dengan Rose dan juga Edo yang tidak ada di Sana dan sepertinya Reval menunggu-nunggu kedatangan Citra yang sejak tadi tidak fokus yang terus melihat ujung jalan yang menunggu kedatangan wanita yang sudah ada di hatinya itu.
Dan akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba. Namun tidak ada Citra hanya ada Edo dan Rose yang membuat Reval bingung. Ketika 2 orang itu semakin mendekat dengan wajah penuh ke khawatiran.
Bahkan Rose juga melihat di sekitaran teman-temannya yang mencari Citra apa ada atau tidak. Karena dia dan Edo sudah lelah mencari dan berpikir untuk kembali ke tenda yang berharap Citra sudah ada di sana. Namun ternyata nihil. Karena tidak ada Citra sama sekali.
"Kenapa kalian datang berdua?" tanya Reval.
"Pak Reval apa Citra belum sampai?" tanya Rose.
"Apa maksud kamu?" tanya Reval.
"Pak kami tidak tau di mana Citra, tiba-tiba Citra menghilang dan kami pikir dia sudah pulang," kelas Edo dengan gemetar yang bercerita yang membuat Reval terkejut.
Bukan hanya Reval murid-murid yang mendengarnya juga panik dengan saling berbicara dan saling melihat yang memang tidak ada yang melihat Citra.
"Benar pak Reval. Kami tidak tau di mana Citra," sahut Rose semakin panik.
Reval melihat ke semua murid-murid. Tidak ada yang absen selain Citra. Regina yang terikat tadi bahkan ada di sana dengan menunduk yang seperti ada sesuatu. Barra juga ada di sana dan memang hanya Citra yang tidak ada di sana.
"Kenapa bisa dia terpisah dengan kalian," sahut Dosen yang satunya yang juga ikutan panik.
"Kami juga tidak menyadari pak," jawab Rose.
"Aku akan mencarinya," sahut Reval yang langsung bertindak yang berlari menuju hutan untuk mencari Citra. Barra melihat kepergian Reval dengan menyunggingkan senyumnya yang seperti ada sesuatu.
Regina juga melihat Reval yang berlari dan Regina terlihat sangat takut. Apa lagi sekarang Barra menatapnya membuat Regina menunduk kembali.
__ADS_1
"Untuk kalian semua harap tenang di sini. Untuk yang para wanita kalian tetap di tenda bersama dengan Miss Novia dan saya dan juga laki-laki yang lainnya akan menyusul pak Reval untuk mencari Citra," sahut Dosen pria yang memberikan solusi.
"Baik pak," sahut mereka dengan serentak dan langsung bubar sesuai dengan arahan.
"Semoga saja Citra di temukan. Semoga tidak terjadi apa-apa padamu Citra. Kamu pasti baik-baik saja. Kau yakin itu," batin Rose dengan wajahnya yang penuh dengan kepanikan pada teman dan juga sepupunya itu yang tidak menemukan Citra.
**********
"Citra di mana kamu!" panggil Reval yang mencari-cari Citra di dalam hutan dengan berteriak- teriak memanggil Citra yang tak kunjung di temukan.
"Citra! Citra! Citra!" Reval terus berteriak dengan sekencang-kencangnya. Reval mencari Citra hanya menggunakan senter saja yang menyenter di sekitar hutan.
"Di mana kamu Citra," lirih Sean yang sudah begitu lama mencari Citra. Namun tetap tidak ada hasilnya. Reval juga terpisah dari yang lainnya. Karena Reval tadi terlebih dahulu pergi.
"Aku berharap kamu benar-benar tidak apa-apa Citra," lirih Reval mengusap kasar wajahnya dan melangkahkan kembali kakinya untuk mencari Citra. Namun langkahnya terhenti ketika menginjak sesuatu membuat Reval melihat kebawah yang ternyata menemukan senter.
Tempat itu adalah tempat di mana Citra tadi tergeletak.
*********
Ternyata Citra ada di dalam sebuah gubuk yang berbaring tidak sadarkan diri yang terbaring di lantai. Di luar gubuk terlihat Barra dan 2 temannya.
"Kalian berdua awasi tempat ini lihat dengan teliti dan jangan sampai satu orang menemukan tempat ini. Aku akan bersenang-senang dengannya dulu," ucap Barra.
"Lalu bagaimana dengan janjimu apa kamu akan mendapatkan hal yang lebih dari uang yang kau janjikan?" tanya salah satu temannya.
"Aku tidak pembohong. Aku akan memberikan kalian uang yang sesuai dengan nominal yang aku janjikan dan iya aku juga akan memberi bonus tubuhnya pada kalian. Tetapi setelah aku selesai menikmatinya," ucap Barra dengan menyinggung senyumnya.
"Bukannya kau mengatakan hanya ingin menikmati dan memilikinya sendirian. Lalu membaginya pada kami?" tanya temannya yang satu lagi.
__ADS_1
"Aku juga kalian ingin merasakan kenikmatan yang aku rasakan. Jadi tetap jaga tempat ini dan iya pastikan juga Regina tidak bocor masalah ini," ucap Barra menegaskan.
"Baiklah kalau begitu jangan khawatir. Masuklah dan nikmati dia," sahut teman Barra membuat Barra menyunggingkan senyumnya dan langsung masuk.
2 temannya itu saling melihat dengan mereka yang sama-sama tos.
"Tidak di sangkar kita akan bersenang-senang dengan primadona kampus," ucap Pria tersebut dengan mengusap mulutnya.
"Ini malam keberuntungan kita," sahut pria yang satunya yang mereka sembari tertawa-tawa.
Sementara Barra sudah berada di dalam gudang yang berdiri di depan tubuh Citra.
"Kau akan jadi milikku Citra. Aku akan membuatmu mengingat semua ini. Ini adalah pelajaran untukmu. Akibat penghinaan mu dan juga penghiyanat dirimu. Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan," ucap Barra dengan tersenyum miring sembari membuka satu persatu kancing kemejanya yang terus menatap tubuh indah Citra dari atas sampai bawah.
Barra bahkan sudah menindih tubuh Citra yang belum sadar dan membelai lembut pipi Citra, bahkan menciumnya yang membuat Citra tiba-tiba sadar dan merasa berat di atas tubuhnya yang refleks Citra mendorong dada bidang itu dengan matanya yang masih terpejam.
" menyinggir!" lirih Citra membuka matanya perlahan dan melihat tidak jelas sosok pria di depannya.
"Barra!" lirih Citra dengan cepat mengenali Barra.
"Iya sayang ini aku," sahut Barra tersenyum miring.
"Apa yang kau lakukan lepaskan aku!" ucap Citra mendorong tubuh kekar itu dengan sekuat tenaga yang padahal dia tidak ada tenaga lagi dan masih terasa sakit di bagian punggungnya yang tadi di pukul yang jelas Barra perlakukan.
"Kali tidak akan Citra. Kita akan bersenang-senang Citra," sahut Barra dengan mencekal pergelangan tangan Citra yang sejak tadi memberontak dengan memukul-mukul dadanya.
"Tidak lepaskan aku! jangan lakukan itu! pergi!" Citra berusaha mengelak saat Barra ingin mencium bibirnya. Citra hanya bisa memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri saat Barra berusaha meraih bibirnya.
Hanya pemberontak yang di lakukan Citra. Namun sangat sulit di balik dia sangat lemah dia tangannya juga di Cengkram kuat Barra sampai Citra Citra tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Bersambung