
" Kau benar-benar menuduhku Reya," ucap Sean yang terlihat emosi.
" Aku tidak menuduhmu. Tetapi itu kebenaranya. Apa tidak cukup kau meniduriku. Apa tidak cukup kau menjadikanku orang yang paling hina, paling jijik yang tidur dengan sesama darah yang mengalir. Apa belum cukup semuanya," teriak Reya yang benar-benar lelah dengan keadaannya dengan kemarahannya yang air matanya terus mengalir.
" Kau jangan mengungkit masalah itu. Apa yang terjadi tadi tidak ada hubungannya dengan kejadian ini. Jadi jangan ungkit masalah itu?" tegas Sean dengan penuh emosi.
" Ya kau akan menganggap masalah itu hanya masalah biasa. Karena menurutmu aku pantas mendapatkannya. Aku pantas menjadi wanita murahan yang sangat hina makanya kau bisa melakukan hal serendah itu kepadaku!" teriak Reya dengan penuh emosi.
" Kau menyalahkanku atas apa yang terjadi. Kau dengar Reya aku juga tidak menginginkan kejadian malam itu terjadi dan aku tidak pernah punya niat untuk melakukannya. Kau yang memancingku yang melakukan semua itu. Kau lupa jika kau menahanku di kamar ini. Dan satu lagi. Kau tidak menolak sama sekali dengan apa yang aku lakukan kepadamu. Jadi jika bagimu itu kesalahan maka itu bukan kesalahan ku saja. Tetapi juga kau," tegas Sean menekankan kepada Reya.
Reya langsung mendorong tubuh Sean dengan ke-2 tangannya menjauh darinya dan otomatis selimut di tubuh Reya jatuh dan menampilkan tubuh Reya yang menggunakan bra tanpa lengan dan segitiga biru yang membuat Sean kaget dengan tubuh yang sebelumnya juga pernah di lihatnya. Sean langsung mengalihkan tatapannya kesamping.
" Kau benar aku yang salah. Aku yang salah semua kesalahanku. Karena membiarkan diriku datang kedalam ke kehidupanmu. Jika aku bertahan saja dengan ibuku yang membunuhku perlahan. Itu jauh lebih baik dari pada semua hal ini. Aku tidak akan pernah mengganggu keluargamu lagi dan atas kehancuran yang aku dapat karma yang katakan akan aku terima. Tapi sampai di sani saja. Karena aku sudah tidak tahan dengan semua ini!" ucap Reya dan berjalan menuju nakas dan terlihat membuka-buka laci dan benar saja Reya menemukan Pisau membuat Sean kaget.
" Reya!" Lirih Sean melihat Reya meletakkan pisau itu nadinya yang sekali tarik di pastikan nadi Reya akan putus.
" Dengarkan aku Reya!" Lirih Sean panik dengan tindakan Reya.
" Jangan mendekat!" teriak Reya, " ini yang kau inginkan bersama keluargamu. Aku tidak pernah mencuri kebahagian siapapun. Lalu kenapa aku harus mendapatkan semua ini. Apa salah aku hidup tenang. Apa salah semuanya," ucap Reya dengan matanya yang benar-benar kosong dan sementara Sean benar-benar panik dengan kondisi Reya yang mungkin bisa nekat.
Melihat Reya yang kehilangan akal dan Sean dengan cepat berlari menjauhkan pisau itu dari tangan Reya. Sean berhasil membuat pisau itu jatuh dan memeluk Reya dari belakang.
" Lepaskan aku! Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Lepaskan aku! aku capek hidup seperti ini! lepaskan aku," berontak Reya yang sudah kehilangan akalnya.
__ADS_1
" Jangan bodoh Reya, kau bisa kehilangan nyawamu," ucap Sean yang mencoba menenangkan Reya.
" Aku memang bodoh! Aku lebih baik mati dari pada menghadapi semua ini. Lebih baik aku mati," teriak Reya yang kehilangan akalnya yang sudah putus asa dengan semua kejadian yang di hadapinya.
" Maafkan aku Reya!" ucap Sean dengan pelan yang memeluk Reya.Jujur dia begitu takut dengan kejadian itu.
Akhirnya Reya dan Sean sama-sama terduduk dengan Sean yang terus memeluknya erat dan Reya yang menagis yang baru tersadar dengan kebodohannya yang hampir mati sia-sia.
" Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan!" ucap Sean dengan suara rendah.
Reya terkejut mendengar pernyataan itu dan melihat serius ke arah Sean, " Apa yang kau katakan bertanggung jawab hikss, aku ini adikmu. Apa kau sadar semua itu sangat memalukan," sahut Reya semakin sakit mendengar kata pertanggung jawaban. Mungkin reaksinya akan berbeda jika Reya dan Sean bukan adik kakak.
Sean memegang ke-2 bahu Reya dan membuat wanita itu menghadapnya. Sean mengusap air mata Reya dan mencium lembut kening Reya.
" Aku sudah mengatakan berkali-kali kau bukan adikku. Apa yang terjadi kesalahanku dan dan akan bertanggung jawab untuk dirimu. Aku tidak bisa membiarkan mu mengalami semua ini. Jadi biarkan aku yang bertanggung jawab untuk semua ini," ucap Sean dengan yakin menatap dalam-dalam Reya.
" Reya aku sungguh-sungguh akan bertanggung jawab untukmu," ucap Sean dengan keyakinan penuh bicara dengan begitu lembut dengan ketulusan yang sebenarnya.
" Ini salah. Tidak ada pertanggung jawaban dalam hal ini," sahut Reya.
" Ini tidak salah," sahut Sean.
" Sudah cukup Sean jangan membicarakan masalah itu lagi. Berhenti melakukan apapun kepadaku. Aku akan menganggap ini balasan atau karma yang seperti kalian inginkan," Reya menjeda bicaranya.
__ADS_1
" Mari lita lupakan apa yang terjadi di antara kita malam itu. Karena ini kesalahan. Hubungan ini terlarang. Kita adik kakak dan itu kenyataan bukan ilusi dan tidak mungkin ada pertanggung jawaban," ucap Reya yang mengingatkan Sean kembali. Reya merasa itu jauh lebih baik untuk melupakan apa yang terjadi dari pada ini itu dengan hal yang tidak perlu di lakukan.
Sean hanya menatap Reya yang bicara terus dan langsung mencium bibir Reya dengan dalam membuat Reya kaget. Namun memejamkan matanya dan ciuman itu hanya sebentar dan melepasnya saat itu.
Dia mana saat Reya membuka matanya yang langsung bertemu dengan mata Sean yang sangat berbeda menatapnya
" Apa yang kau lakukan Sean?" tanya Reya dengan suara seraknya yang tidak percaya jika Reya bahkan menerima ciuman itu.
" Terserah kau menganggapku sebagai saudaramu atau apa. Tetapi aku tidak. Aku tetap tidak mengakui mu sebagai adik. Tetapi aku adalah Sean yang menganggapmu Reya yang aku temui 5 tahun lalu. Dimana setiap bersamamu jantungku selalu berdebar Dan aku sudah mengatakan cinta padamu saat malam itu. Dan kau tau Reya perasaanku sangat tersiksa dengan keadaan kita. Keadaan yang mengubah segalanya yang membuatku tidak pernah tenang," ucap Sean yang bicara begitu dalam.
" Reya kedatangan mu kembali kedalam hidupku adalah bukti. Jika hubungan kita harus berlanjut. Bukan sebagai saudara. Tetapi sebagai pasangan yang mempunyai perasaan yang sama. Dan itu membuatku sadar sekarang sadar jika aku lebih baik tidak mengakuimu sebagai adik tetapi sebagai orang lain. Reya yang aku temui, Reya yang dulu dan aku adalah Sean yang menemuimu 5 tahun lalu," tegas Sean yang serius bicara pada Reya.
Sean memang tidak peduli lagi dengan status yang walaupun kenyataannya. Namun baginya itu tidak penting karena dia yakin dengan perasaannya dan tidak akan ada yang menghalanginya.
Reya merasa semakin gila dengan kata-kata kakaknya itu yang semakin lama semakin mengada-ada.
" Reya dengarkan aku apa yang terjadi malam itu bukan kau sebagai adikku. Tetapi kau sebagai Reya perasaanku ada padamu. Semua yang aku lakukan belakangan ini hanya ingin menguji perasaanku apakah aku masih menyukai mu atau tidak dan hari ini semuanya telah di jelaskan bagaimana aku yang masih mempunyai perasaan yang sama denganmu," tegas Sean yang bicara penuh dengan ketulusan.
" Itu tidak mungkin. Kita tidak bisa melakukan itu. Itu salah, itu terlarang, kita berdua...."
Reya tidak melanjutkan kata-katanya ketika Sean kembali membungkam mulutnya dengan ciuman yang menuntun.
Ya Sean seakan tidak peduli dengan apa-apa pun yang di katakan Reya. Mau Reya membantah atau apapun Sean tidak perduli sama sekali. Mula-mula tidak menerima Reya sebagai adiknya dan membenci Reya, berusaha membuat Reya jauh darinya, berusaha menyinggirkan Reya agar tidak ada di hidupnya. Agar perasaannya tidak tersiksa.
__ADS_1
Namun apa. Semakin dia berusaha untuk menjauhkan Reya, semakin menyiksanya. Dan dia tidak peduli dengan takdir. Pada nyatanya dia menyimpulkan sendiri perasaannya yang mencintai Reya. Wanita yang di kenalnya dulu dan di pastikannya Reya memiliki perasaan itu dengan pembuktian ciuman yang sekarang tidak di tolak Reya sama sekali.
Bersambung