
"Aku tidak akan mengotori tanganku untuk wanita hina seperti mu. Wanita jahat yang berani-beraninya kau mencelakakai ku," ucap Citra dengan penuh emosi pada Rose.
"Maaf Citra, maaf," ucap Regina yang hanya bisa meminta maaf.
"Diam kau! simpan maaf mu itu. Aku tidak tau ya Regina apa sebenarnya yang ada di pikiranmu. Aku sudah muak denganmu. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi lada wanita sepertimu. Apa kau memang tidak mengerti cara berterima kasih, cara belajar dari kesalahan, atau kau tidak takut dengan apa yang kau lakukan," ucap Citra yang sudah kehilangan kata-kata menghadapi Regina.
"Aku tidak punya pilihan. Kau melakukan semua ini karena Barra....."
"Apa? karena Barra apa hah! apa Barra mengancammu. Barra melakukan apa kepadamu hah! apa yang di lakukan Barra. Ancaman. Jika dia melakukan ancaman itu karena kebodohan mu sendiri," ucap Citra menunjuk tepat di wajah Regina yang sudah mengeluarkan air mata.
"Kau ingat Regina. Jika terjadi sesuatu padaku. Itu karena kesalahanmu dan kesabaran ku akan habis. Aku benar-benar akan membawa masalah ini pada hukum. Jika kau masih berani menggangu ku," ucap Citra dengan penuh penegasan dan penekanan memberikan ancaman yang serius pada Regina yang terlihat Regina begitu ketakutan dengan kata-kata manis Citra.
"Aku rasa kau tau siapa aku. Jadi jangan membuatku harus melakukan itu. Karena aku tidak akan peduli lagi kepadamu. Aku tidak akan menjadi manusia jika kau tidak bisa di kasih tau. Jadi ingatlah dengan apa yang aku katakan. Karena kesabaran ku juga ada batasnya," tegas Citra.
Regina hanya diam yang tidak berani mengeluarkan kata-kata apa-apa lagi. Dia diam terpaku.
"Citra!" panggil Reval yang melihat Citra dan Regina membuat Citra melihat ke belakangnya.
"Ayo masuk. Busnya sudah mau berangkat!" ajak Reval.
"Iya ka Reval," jawab Citra dengan mengangguk.
"Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu. Jadi kau dengarkan apa yang aku katakan. Jangan melakukan kesalahan yang sama," tegas Citra memperingati Regina dan akhirnya pergi dari hadapan Regina menghampiri Reval.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Reval.
__ADS_1
"Hmmm, aku baik-baik aku hanya menanyakan apa yang di lakukannya dan juga memberinya peringatan," jawab Citra.
" Ya sudah kalau begitu. Ayo kita pulang!" ajak Reval. Citra mengangguk dan mereka berdua langsung pergi dan tinggallah Regina dalam ketakutan yang baru saja mendapat ancaman dari Citra.
Apalagi Regina sangat mengenal Citra, keluarga Citra yang punya kekuasaan dan terlebih lagi Sean yang pasti jika tau Citra mengalami hal itu lagi. Sean juga tidak akan mengampuni Regina dan belum lagi Reval yang belakangan ini membantu Citra. Jadi jelas Citra punya segala pegangan yang membuat Regina ketakutan yang dirinya benar-benar mendapatkan ancaman.
*********
Sementara di sisi lain. Reya dan Sean yang berada di dalam mobil yang mana mereka ber-2 duduk saling bersebelahan.
"Maafkan aku ya Reya. Aku sudah jarang menemui kamu," ucap Sean tiba-tiba sembari menoleh sebentar ke arah Reya.
"Tidak apa-apa Sean aku sudah sangat memahami apa yang terjadi. Jadi aku tau kamu juga tidak mengunjungi karena ingin menjaga kecurigaan papa," sahut Reya yang memang sangat mengerti.
"Iya dan aku baru bisa melihat kamu. Karena papa juga sedang ada perjalanan bisnis ke Luar Negri," jawab Reya.
"Aku tidak tau pastinya kapan. Tetapi aku akan gunakan waktu seninya untuk bersamamu dan juga anak kita," ucap Sean.
"Tidak apa-apa Sean. Kamu juga jangan sering-sering bertemu denganku dan iya kamu juga harus ingat Diki melihat kita waktu itu dan jangan sampai Diki mencurigai hal yang lebih besar lagi," ucap Reya yang memang harus hati-hati mulai dari sekarang.
"Iya kamu benar. Pokoknya kita berdua akan hati-hati kedepannya," sahut Sean.
Reya hanya mengangguk saja, "Sean sudah sampai," ucap Reya ketika melihat tempat tujuannya sudah sampai yang berhenti di depan supermarket. Yang pasti kalau sudah di sana pasti Reya akan berbelanja seperti biasanya di sana.
"Kamu tidak apa-apa sendirian?" tanya Sean.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lagian aku juga belanjanya tidak banyak dan kamu juga bukannya harus meeting. Jadi tidak apa-apa aku sendirian," ucap Reya.
"Ya sudah kamu masuklah. Nanti aku akan menyuruh supir untuk menjemputmu. Kamu telpon aja nanti kalau sudah selesai berbelanja. Nanti aku akan kirim supir untuk kamu," ucap Sean
"Iya Baiklah," sahut Reya, "aku masuk dulu kamu hati-hati meetingnya," ucap Reya. Sean mengangguk dan Reya langsung keluar dari mobil Sean masih menunggu Reya masuk dan setelah itu barulah Sean meninggalkan tempat itu.
Batu saja mobil Sean pergi. Tiba-tiba mobil Anggika sampai di depan supermarket yang mana Anggika seperti biasa di antar oleh supir.
"Pak tunggu di parkiran aja ya!" ucap Anggika pada supirnya.
"Baik nyonya," jawab pak supir tersebut dan Anggika pun langsung keluar dari mobil Alphard tersebut.
Supermarket tersebut adalah tempat langganan Anggika berbelanja kebutuhan dapur dan juga kemarin dia hampir bertemu Reya di tempat itu. Reya juga tidak jera-jera sudah hampir ketahuan masih nekat datang ketempat yang sama. Mungkin karena dekat dari rumah Reya. Jadi pilihan berbelanja di sana yang paling tepat.
Di dalam supermarket Reya mulai memilih-milih apa saja yang di butuhkannya. Tidak banyak yang di ambilnya hanya beberapa saja dan makanya tidak perlu Art untuk membantunya.
Reya juga buru-buru dalam berbelanja. Karena belakangan ini Reya memang tidak pernah terlihat tenang dan terus saja merasa khawatir dan tadi Sean mengatakan Argantara pergi ke Luar Negri yang artinya itu adalah yang cukup melegakan dengan kepergian itu.
"Apalagi ya yang kurang," batin Reya yang berada di bagian rak-rak minuman kaleng. Reya juga mengisi keranjang berbelanjaannya dengan minuman kaleng sampai rak itu kosong yang sepertinya minuman itu adalah favorit Reya.
Namun saat ingin mengambil lagi tiba-tiba Reya do kejutkan dengan Anggika yang terlihat berbelanja. Mata Reya terbelalak kaget melihat hal itu dengan kantungnya yang berdebar kencang.
"Tante Anggika," batin Reya dengan tangannya yang bergetar sampai apa yang di pegangnya terjatuh dan mengeluarkan suara bunyi yang membuat Anggika terkejut dan Reya juga terkejut dan melihat Anggika yang ingin melihat kearahnya dan Reya dengan cepat berbalik badan sebelum Anggika melihatnya.
"Suara apa itu?" tanya Anggika dengan kebingungan dan bahkan melihat punggung seorang wanita yang membuat tanda tanya. Anggika yang penasaran langsung melangkah mendekati rak tersebut untuk melihat apa yang terjadi. Anggika pun tiba di tempat yang di curiganya dan ternyata sudah kosong.
__ADS_1
"Tidak ada siapa-siapa sama sekali," batin Anggika.
Bersambung.