Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 26 Kenak imbas.


__ADS_3

Tidak lama akhirnya mobil yang di kendarai Karin berhenti di depan Perusahaan. Citra dan Karin sama-sama turun dari dalam mobil dan ketika ingin memasuki Perusahaan tiba-tiba mobil berhenti di depan mereka yang membuat Citra dan Karin tidak jadi masuk.


" Bukannya itu mobilnya Barra. Kenapa dia ada di sini!" batin Citra heran yang mengenali mobil dari Barra.


Ketika mesin mobil Barra di matikan terbukalah pintu dari kanan dan kiri di bagian depan. Di mana Barra yang keluar bersama dengan Reya yang membuat Citra terkejut.


" Reya!" pekik Citra dengan matanya yang melotot.


Citra yang kelihatan marah dengan apa yang di lihatnya langsung menghampiri Barra dan Reya. Namun Reya yang melihat Citra tampak akan marah yang menghampirinya. Reya tidak peduli dan berjalan saja berpapasan dengan Citra.


" Hey, mau kemana kau?" tanya Citra dengan kesal yang menoleh kebelakangnya dan melihat Reya membuka pintu mobil Karin bagian belakang dan mengambil tas dan barang-barang dari dalam.


" Reya kamu tadi dari mana?" tanya Karin. Reya hanya melihat Karin sebentar dengan tatapan horor dan kembali melanjutkan langkahnya memasuki perusahaan.


" Reya tunggu! kau belum menjawab pertanyaan ku!" teriak Citra memanggil dan menyusul Reya. Namun Barra menahan tangannya.


" Citra tunggu kamu mau kemana?" tanya Barra.


" Lepaskan aku!" berontak Citra dengan menjatuhkan kasar tangan Barra.


" Citra kamu kenapa sih?" tanya Barra.


" Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kamu kenapa? Apa yang kamu lakukan hah! kenapa Reya ada bersamamu dan masuk kedalam mobilmu?" tanya Citra dengan marah-marah.


" Citra kamu itu salah paham. Tadi itu Reya tidak sengaja aku temukan di jalan dan dia kebingungan. Aku hanya mengantarnya ke mari," jelas Barra.


" Alah alasan. Bilang saja kau itu sudah tergoda dengan wanita pembawa sial itu," sahut Citra yang tidak mau mendengar penjelasan dari Barra, " Seharusnya aku tidak heran dia dan ibunya memang sangat ahli menjadi penggoda," desis Citra.


" Citra apa yang kamu bicarakan?" tanya Barra.


" Alah sudahlah. Aku tidak mau bicara lagi dengamu," sahut Citra yang sudah muak melihat Barra dan akhirnya memasuki Perusahaan.


" Citra tunggu!" panggil Karin yang langsung menyusul Citra yang memasuki perusahaan. Dia juga bingung dengan keadaan yang di depannya.


" Kenapa sih dia baru juga jadian kerjaannya sudah marah-marah. Ada-ada saja," batin Barra yang menggaruk-garuk kepalanya.


*********


Citra yang begitu emosi dengan rencananya yang tadinya sudah baik-baik saja. Namun apa yang terjadi. Reya yang seharunya luntang lanting malah tidak. Reya baik-baik saja dan pulang dengan pacarnya yang membuatnya emosi tingkat dewa.


Tetapi Citra tidak melabrak Reya. Karena takut membuat kekacauan di Perusahaan dan papanya yang adanya malah memarahinya nanti. Dia hanya berusaha untuk mengendalikan dirinya yang sekarang sedang bertemu dengan Sean. Juga ada Reya dan Karin di sana.


" Bagaimana semuanya apa lancar pertemuannya?" tanya Sean yang duduk di Sofa dan 3 wanita itu berdiri di depannya.

__ADS_1


" Lancar Sean. Santai aja semuanya beres. Kalau aku yang mengurus semuanya pasti beres," sahut Karin dengan percaya dirinya.


" Mana hasil laporannya?" tanya Sean tidak mau basa-basi.


" Tunjukkan Reya!" ucap Karin menggeser Reya dan Reya langsung membuka mapnya.


Reya terlihat membolak-balikkan mencari-cari apa yang tadi sebelumnya sudah di catatnya. Citra tersenyum miring yang pasti apa yang di cari Reya sudah di ambilnya.


" Reya buruan!" desak Karin.


" Laporannya tidak ada," sahut Reya dengan wajahnya yang resah. Hal itu mengejutkan Karin, Sean dan Citra pura-pura terkejut.


" Apa katamu?" tanya Sean dengan menahan suaranya dan melihat Reya tajam.


" Aku..." sahut Reya yang menjadi gugup


" Karin di mana laporannya?" tanya Sean yang pandangan matanya sekarang mengarah pada Karin.


" Ada sama Reya. Karena dia yang mencatat semuanya. Jadi semuanya ada padanya. Karena itu tugasnya," jawab Karin yang juga ikut cemas.


" Tapi tadi aku sudah mencatatnya dan aku tidak tau kenapa tiba-tiba tidak ada," sahut Reya membela dirinya.


" Alasan," desis Citra dengan sinis, " sudahlah Reya. Kau pikir aku tidak tau rencana busukmu hah! kau sengaja ingin ambil alih untuk event Perusahaan di Bali. Karena kau itu punya niat yang jahat untuk menggagalkan acara itu. Supaya kak Sean akan di salahkan papa. Kau sengaja membuat kak Sean tersinggir dari Perusahaan ini," tuduh Citra.


" Masih saja mengelak. Jelas-jelas kita ber-3 tadi menemui chef tersebut dan kau menulis di sana. Tetapi aku juga melihat kau hanya berpura-pura berkonsentrasi, sok menulis. Padahal kau tidak melakukan apa-apa. Dan sekarang pakai memberi alasan laporannya hilang. Sangat tidak masuk akal alasanmu itu!" ucap Citra yang memojokkan Reya.


" Kau jangan bicara sembarangan Citra. Aku jelas menulisnya dan aku juga tidak tau kenapa bisa tiba-tiba tidak ada," tegas Reya menekan suaranya.


" Cukup!" bentak Sean dengan suaranya yang menggelegar. Sean berdiri dari duduknya dan mendekati Reya berdiri di hadapan Reya yang mulai cemas melihat Sean yang terlihat emosi dengan wajahnya yang memerah.


" Kau pikir semua ini permainan. Kau pikir Perusahaan dan pekerjaan ini hanya sebagai leluconmu saja!" terisak Sean yang bicara tepat di wajah Reya.


" Mampus!" desis Citra yang menikmati pemandangan itu yang mana kakaknya yang memarahi Reya.


" Aku tidak mempermaikan pekerjaan ini aku sudah menyelesaikannya. Tugas yang di berikan Karin sudah aku selesaikan, aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba tidak ada," sahut Reya yang tetap membela dirinya.


" Kau masih mengelak. Reya semua orang mungkin bisa termakan kata-katamu itu. Tapi tidak aku. Aku tau mana yang benar dan tidak," teriak Sean yang semakin marah.


" Aku tidak mengelak. Apa perlu aku mengambil rekaman Cctv di Restaurant itu. Agar kau melihat aku jelas-jelas menulis semua apa kata Chef itu!" sahut Reya yang menegaskan dengan nada suara yang mulai keras.


" Kau menantangku?" tanya Sean dengan menekan suaranya, menatap tajam bola mata Reya yang berkaca-kaca.


" Aku tidak menantangmu. Tetapi apa yang aku katakan adalah kebenarannya. Dan mungkin kau tidak akan percaya kepadaku. Karena kau sangat membenciku," tegas Reya membuat Sean terdiam sesat.

__ADS_1


Kata-kata Reya mungkin benar karena kebencian Sean padanya membuat Sean tidak ingin mendengar apapun dan hanya menganggap Reya yang bersalah.


" Aku jelas melakukan pekerjaanku dengan semampuku dan seharusnya tanya kan padanya kemana laporan yang sudah aku tulis," ucap Reya dengan melihat ke arah Citra.


Citra melotot mendengar perkataan Reya yang membuat ke-2 tangannya terkepal.


" Apa maksud mu?" tanya Citra yang langsung emosi dengan napasnya yang naik turun.


" Aku masih membaca dan mengoreksi laporan itu saat di dalam mobil. Dan kalian berhenti di mini market. Lalu menyuruhku untuk keluar dari mobil. Begitu aku keluar dari mobil. Kalian meninggalkanku dan laporan dan barang-barang ku ada di dalam mobil dan seharunya itu ada pada kalian berdua!" ucap Reya.


" Reya apa yang kau bicarakan. Kau menuduh kami," sahut Karin.


" Aku tidak menuduh. Tetapi semuanya ada di dalam mobil dan kalian pergi meninggalkanku," ucap Reya.


" Reya. Kami itu pergi karena Citra ingin buang air kecil dan kami juga kembali tidak beberapa lama dan kamu tidak ada di sana. Dan masalah laporan. Kamu itu aneh sekali yang tiba-tiba mengatakan jika itu aku atau Citra yang mengambilnya. Reya jika aku melakukan hal itu untuk apa hah! itu hanya merugikan diri ku sendiri. Karena begitu banyaknya pekerjaan yang di berikan Sean kepadaku. Aku tidak pernah gagal dan apa yang aku lakukan ini hanya membuat namaku jelek," ucap Karin dengan panjang lebar yang jelas tidak terima di salahkan begitu saja.


" Wau pintar sekali kau membalikkan fakta. Aku sungguh salut dengan mu. Kau bisa-bisanya menuduh kami ber-2. Reya kami itu paling tau kalau semua pekerjaan tidak gampang dan kau malah membalikkan fakta untuk menutupi kesalahanmu itu," sahut Citra dengan geleng-geleng.


" Dan sekarang kau seakan berpikiran kami sengaja meninggalkan mu di mini market. Itu hanya trikmu yang menggunakan kesempatan. Baru beberapa menit kami pergi dan kembali. Tetapi kau sudah tidak ada di sana. Pasti kau menggunakan kesempatan dalam kesempitan supaya bisa keluyuran dan malas-malasan dalam bekerja," lanjut Citra yang semakin menuduh Reya.


" Aku tidak punya pikiran seperti itu. Kau jangan mengarang- ngarang cerita," bantah Reya.


" Aku tidak mengarang cerita. Tetapi itu kenyataan. Kau itu wanita picik," kecam Citra.


" Aku...."


" Hentikan!" bentak Sean yang membuat Reya tidak jadi bicara.


" Jangan bicara yang tidak masuk akal lagi di depanku Reya. Kau pikir aku ini orang bodoh yang bisa termakan dengan alasanmu. Dan kau sembarangan menuduh Karin dan Citra untuk menutupi kesalahanmu," sahut Sean yang tidak percaya dengan apapun yang di katakan Reya.


" Aku mengatakan apa yang sebenarnya," sahut Reya.


" Aku bilang hentikan!" teriak Sean yang membuat Reya tersentak dan terdiam yang tidak bisa bicara apa-apa lagi. Seharunya Reya sadar siapa yang di hadapinya. Yang di hadapinya adalah orang-orang yang ingin menyinggirkannya dan percuma mencari pembelaan pada Sean. Karena Sean tidak mungkin membelanya.


" Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan! kau menginginkan pekerjaan ini bukan. Jadi aku ingin melihat. Seperti apa kau bertanggung jawab," tegas Sean menunjuk tepat di depan Reya dan pergi dari hadapan Reya.


Karin pun pergi meninggalkan tempat itu dengan melihat Reya kesal. Karena dia telah di tuduh. Padahal dia tidak tau apa-apa.


Sebelum Citra pergi. Citra tersenyum sinis melihat Reya, senyum yang terkesan meremehkan dan langsung pergi.


Napas Reya naik turun dengan keadaan yang di terimanya. Sungguh hidupnya begitu sangat memprihatikan dengan semua yang terjadi. Reya meremas dadanya yang terasa begitu sesak dengan air matanya yang akhirnya menetes juga.


" Aku sudah mencoba untuk bersabar. Tetapi apa. Kesabaranku tidak terbalaskan. Semuanya tetap seperti ini. Aku semakin di perlakukan dengan tidak baik," ucap Reya yang sekarang meneteskan air matanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2