Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 261


__ADS_3

Pagi hari kembali tiba, ternyata Citta yang katanya akan kembali pulang tidak jadi. Karena Citra menginap di Apartemen yang memang Citra ketiduran dan Reval juga tidak membangunkannya. Karena tidak ingin mengganggu Citra.


Citra yang berbaring di atas tempat tidur membuka matanya dengan perlahan dan pandangan matanya langsung tertuju pada langit-langit kamar. Citra diam sejenak melihat di sekitarnya, melihat tempat itu yang tidak asing baginya.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" batin Citra dengan bertanya-tanya yang melihat ke sekitarnya dan Citra yang mencoba untuk duduk yang sebenarnya tubuhnya terasa begitu lemah.


Krekkkk.


Pintu kamarnya terbuka yang ternyata Reval yang masuk dengan Reval membawa nampan. Melihat Reval Citra jadi mengingat jika terakhir kali dia bersama Reval dan setelah itu dia tidak tau apa yang terjadi dan kenapa sudah ada di tempat itu.


"Kamu sudah bangun?" tanya Reval begitu lembut yang melangkah memasuki kamar dan langsung membantu Citra agar duduk nyaman dengan Reval meletakkan apa yang di pegangnya di atas nakas. Setelah Citra sudah duduk pada posisi yang tepat. Reval langsung duduk di samping Citra.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Reval dengan lembut.


Citra menganggukkan kepalanya, "kamu membawaku kemari?" tanya Citra dengan suara seraknya.


"Iya, kamu terus menangis dan lelah sendiri. Makanya aku membawamu kemari," jawab Reval dengan lembut.


"Maaf merepotkan," ucap Citra yang merasa tidak enak dan tumben-tumben nya bicara' begitu lembut dan tidak marah-marah.


"Tidak apa-apa. Sekarang kamu sarapan ya," ucap Reval yang pertama mengambil segelas air dulu dan membantu Citra untuk minum dengan jarak mereka yang begitu dekat. Reval terus melihat Citra, wajah Citra yang terlihat begitu sendu dengan mata Citra yang begitu sembab.


Tangan Reval langsung mengusap lembut pipi Citra membuat Citra melihat kearah Reval.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Reval dengan matanya yang terus menatap Citra. Pertanyaan Reval tiba-tiba saja membuat air mata Citra jatuh dari pelupuk matanya dan Reval langsung mengusap lembut air mata itu.


"Hey ada apa sebenarnya?" tanya Reval yang benar-benar begitu khawatir pada Citra. Namun Citra tetap diam tanpa menjawab membuat Reval langsung memeluk Citra dengan erat sembari mengelus-elus kepala Citra yang memberikan Citra ketenangan.


Tidak ada pemberontakan dari Citra. Justru dia sangat membutuhkan Reval sampai dia juga memeluk Reval dengan begitu erat. Reval justru semakin khawatir dengan Citra yang sangat takut Citra benar-benar sampai kenapa-kenapa.


"Citra kamu kenapa menangis terus. Katakan kepadaku ada apa Citra?" tanya Reval dengan lembut yang berusaha mencari tau apa yang terjadi pada Citra. Tetapi mungkin Citra masih butuh waktu untuk menceritakannya pada Reval yang makanya Citra masih menangis di pelukan Reval.

__ADS_1


*********


Panti Asuhan Sejahtera.


Reya dan Sean kembali mendatangi panti Asuhan tersebut karena mereka sudah di kabari pihak pantai. Setelah mereka sampai mereka langsung disuruh masuk dan langsung menemui ibu panti.


"Bagaimana Bu apa ada petunjuk dengan orang tua saya?" tanya Reya dengan perasaannya yang tidak tenang dan sangat berharap banyak.


"Ini!" ibu panti tiba-tiba memberikan satu map untuk Reya dan Sean.


"Apa ini Bu?" tanya Sean.


"Kamu sudah menemukan orang tua kamu yang menitipkan kamu di panti ini. Dan Alhamdulillah ternyata masih ada data-datanya," ucap ibu panti. Reya langsung membukanya dengan semangat.


Melihat tulisan nama ibunya, Suhartini yang menitipkan dia di panti Asuhan itu puluhan tahun lalu.


"Saat itu ibu kamu menitipkan kamu saat usia kamu dua tahun dan setelah 2 bulan kamu langsung di adopsi oleh Nyonya Erina. Kamu tidak sendirian ada adik kamu yang juga bersama kamu dan saya baru mengingat anak 2 anak perempuan yang datang kepanti ini yang 1nya 2 tahun dan adik kamu 1 tahun, dia juga seorang wanita," jelas ibu panti yang mengejutkan Reya dan Sean dan bahkan Reya mempunyai adik.


"Lalu apa ibu saya pernah datang lagi ke panti ini setelah dia menitipkan saya?" tanya Reya.


"Tidak pernah lagi dan saya juga sudah tidak mengingat lagi," jawab Ibu panti.


"Lalu bagaimana anak yang bersama Reya saat itu. Apa dia masih ada?" tanya Sean.


"Kalau saya tidak salah mengingat. Setelah Reya di adopsi anak kecil bernama Kasih itu juga di adopsi seorang ibu dan itu setelah 1 bulan Reya di adopsi," jawab Ibu panti.


"Jadi saya juga punya adik?" tanya Reya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Iya kamu punya adik," jawab ibu panti.


"Apa ibu tau siapa yang mengadopsi adik saya?" tanya Reya.

__ADS_1


"Saya sudah lupa dan kamu juga saya juga sudah lupa. Hanya saja kamu datang dan mengingatkan saya. Jadi saya berusaha untuk mengingatnya. Dan data-data adopsi dari gadis kecil itu juga sudah tidak ada," jawab Ibu panti membuat Reya merasa begitu kecewa mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan ibu saya. Apa ibu saya masih hidup?" tanya Reya yang terlihat sangat berharap.


"Di sana masih ada alamatnya. Kamu bisa mengecek langsung kesana. Meski sudah bertahun-tahun. Siapa tau masih ada harapan," jawab ibu panti.


Reya yang membuang napas beratnya menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Sayang kamu tenang ya, kita akan terus berusaha," ucap Sean menggenggam tangan Reya untuk menguatkan Reya. Reya menganggukkan kepalanya yang pasti mengharapkan hal itu terjadi.


Dia memang awalnya tidak berharap banyak. Namun sekarang dia sangat mengharapkan bertemu ibu kandungnya dan bahkan dia punya adik perempuan yang satu tahun di bawahnya. Pasti pikirannya Reya sudah entah kemana-mana.


***********


Reya dan Sean berada di dalam mobil yang mereka sedang menunggu macet dan Rey terlihat' Sanga murung dengan melihat terus kearah jendela.


Sean yang di sampingnya menghela napasnya melihat istrinya yang seperti itu membuatnya juga ikut kepikiran.


"Sayang!" lirih Sean dengan menggenggam tangan Reya, membuat Reya melihat kesebelahnya.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa. Aku benar-benar stres dengan semua ini. Aku tidak menyangka. Jika aku juga punya adik dan apa mungkin aku masih bisa bertemu dengan ibu dan adikku," ucap Reya dengan air matanya yang jatuh.


"Shutttt, sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Kita sudah sepakat akan mencari sampai ketemu dan juga sudah sepakat untuk tidak terlalu banyak berharap. Jadi kamu tidak boleh memikirkan terlalu berlebihan. Jika takdir sudah menentukan kamu untuk bisa bertemu maka akan bertemu dan jika tidak maka akan tidak. Kamu harus percaya kita manusia hanya bisa berusaha dan yang menentukan sang pencipta," ucap Sean yang mencoba memberikan Reya arahan.


"Iya kamu benar," sahut Reya yang mencoba untuk tenang.


"Kamu jangan sedih lagi ya, kita akan terus berusaha dan aku akan terus mendampingi kamu," ucap Sean mengelus-elus kepala Reya memberikan kenyamanan pada istrinya.


Reya mengangguk-angguk dan memeluk Sean dengan erat. Hanya itu yang di butuhkannya untuk menenangkan hatinya yang memang tidak baik-baik saja. Apa yang di hadapinya sekarang ini bukanlah hal yang mudah baginya dan pasti begitu sulit untuk di hadapinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2