Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 67 Deg.


__ADS_3

Mereka sarapan bersama di mana Citra, Sean, Argantara dan Anggika yang mulai menikmati sarapan mereka.


"Bagaimana kuliah kamu Citra?" tanya Argantara.


"Biasa pah, lagi banyak-banyaknya tugas bikin pusing aja," jawab Citra.


"Harus di jalani dengan baik ya sayang. Supaya kamu lulus cepat," ucap Anggika memberikan masukan.


"Iya mah pasti. Oh iya mah. Kalau Citra lulus dengan nilai terbaik. Mama akan berikan Citra hadiah kan," tanya Citra.


"Pasti. Kamu ini tidak berubah dari kecil selalu mau hadiah," sahut Anggika.


"Kan biar Citra semakin semangat," sahut Citra.


"Papa juga akan berikan kalau begitu Biar kamu semakin semngat," sahut Argantara.


"Benarkah?" tanya Citra yang tidak percaya.


"Iya Citra. Papa mana mungkin mengingkari janji," sahut Argantara.


"Kak Sean bagaimana?"tanya Citra.


"Tanpa kamu minta bukannya selalu Kakak berikan," sahut Sean.


"Horeee," sahut Citra dengan cerianya, "akhirnya banyak yang memberiku hadiah Citra akan melakukan yang terbaik," ucap Citra bertambah semangat. Argantara, Sean dan Anggika saling melihat dengan tersenyum.


Tiba-tiba mata Sean melihat keranjang buah yang mencuri perhatiannya dengan salah satu jenis buah yang tidak asing baginya.


"Ini buah kecapi ya ma?"tanya Sean tiba-tiba yang mengenali buah itu.


" Iya Sean benar," jawab Anggika.


"Kamu hebat Sean bisa mengenali buah langka seperti ini, papa aja tidak tau," sahut Argantara.


"Ini buah yang di inginkan Reya kemarin. Akhirnya ada juga," batin Sean.


Ternyata Sean terus memikirkan keinginan Reya. Dan bahkan mencari tau buah apa yang di maksud Reya dengan melihat internet makanya Sean tau buah itu buah kecapi.


"Benar Citra aja tidak tau itu buah apa dan rasanya juga tidak tau. Mama kayaknya baru ini membelinya," ucap Citra yang terlihat penasaran dengan buah yang mencuri perhatian kakaknya itu.


"Kebetulan ini dari teman mama. Mama sangat suka sekali buah ini dan memang ini sangat langka dan dia mengirimnya dan hanya ada beberapa saja. Kamu coba saja biar tau rasanya. Ini sangat enak," ucap Anggika.

__ADS_1


"Baiklah. Citra akan mencobanya," sahut Citra yang langsung mengambilnya.


"Jangan Citra," Sean langsung mencegah membuat Argantara, Anggika dan Citra melihat Sean dengan serius.


"Why?"tanya Citra heran dengan sang kakak yang mencegahnya.


"Ini untuk kakak semua. Kakak butuh ini," ucap Sean yang langsung mengambilnya yang memang hanya ada 3 saja.


"Bagi Citra 1 aja," ucap Citra yang juga ingin buah itu.


"Tidak Citra. Kakak yang duluan, kamu makan yang lain saja," Sean tetap tidak mau. Karena dia memikirkan Reya. Wajah Reya saat itu sangat menginginkan buah itu dan Sean tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


"Kak Sean kok gitu," sahut Citra mulai merengut.


"Sudah-sudah, nanti mama minta sama teman mama lagi. Jangan meributkan masalah buah," sahut Anggika.


"Padahal hanya satu saja. Kak Sean pelit, Citra juga pengen makannya," sahut Citra kesal dengan wajahnya yang merengut.


"Maaf Citra. Tetapi kali ini kakak tidak akan membaginya pada kamu," ucap Sean yang tetap ingin ke-3 buah itu.


"Iya-iya ambil deh semuanya," sahut Citra yang harus mengalah. Anggika dan Argantara tersenyum dengan geleng-geleng melihat Citra dan Sean.


"Nanti papa Carikan untuk Citra," ucap Argantara.


"Iya sayang," jawab Argantara. Anggika tersenyum dengan Citra yang sudah kembali bermanja pada Argantara. Ya memang semuanya karena kejadian Reya yang tidak di terima Citra.


"Akhirnya aku mendapatkan buahnya. Sebelum kekantor aku akan menemui Reya dulu. Dia pasti menyukai buah ini," batin Sean yang terlihat begitu semangat.


*********


Reya terlihat memijat kepalanya saat bangun dari tidurnya yang mana Reya merasa begitu lemas.


"Kenapa aku terus pusing. Perutku juga tidak enak yang maunya hanya mual terus, makannya bukannya mau. Padahal sangat lapar," ucap Reya dengan memegang perutnya.


Sejak tadi malam dia memang merasa tidak enak pada suhu tubuhnya yang sangat berbeda tidak biasanya Reya merasakan perbedaan seperti itu.


"Mungkin aku demam. Aku pasti kelelahan karena mengurusi banyak pekerjaan. Ya sudahlah sebaiknya aku mandi supaya agak segar dan setelah itu aku istirahat kembali," ucap Reya dengan menuruni ranjang. Dia yang begitu lemas harus tetap semangat. Karena dia tinggal sendirian dan harus mandiri yang tidak boleh manja-manjaan.


***********


" Sean!" Panggil Argantara membuat Sean yang memasuki mobil menghentikan membuka pintu mobil dan menghadap Argantara.

__ADS_1


"Ada apa pah?"tanya Argantara.


"Reya baik-baik saja?"tanya Argantara.


"Dia baik-baik aja dan Sean rasa dia sangat nyaman dengan tempat tinggalnya sekarang. Papa jangan khawatir. Jika mama dan Citra tidak tau maka semuanya akan baik-baik saja," ucap Sean.


"Syukurlah kalau begitu itu yang papa harapkan. Papa tidak mau terjadi sesuatu nanti kepadanya," sahut Argantara.


"Iya pah sean mengerti. Jadi papa percayakan saja Reya kepada Sean. Sean akan menjaganya," ucap Sean dengan meyakinkan Argantara.


"Iya Sean," sahut Argantara dengan menepuk bahu Sean yang mempercayakan semuanya kepada Sean.


"Ya sudah kalau begitu Sean berangkat dulu," ucap Sean pamit.


"Iya Sean. Kamu hati-hati," ucap Argantara. Sean mengangguk dan langsung memasuki mobil.


"Syukurlah jika Reya baik-baik saja. Aku sangat lega dengan Sean yang akhirnya menerima Reya dan bahkan melindungi Reya seperti adiknya sendiri. Aku sudah menduga semua ini pasti semakin lama akan semakin membaik. Jika Sean sudah mulai menerima Reya semoga Citra juga akhirnya akan menerima Reya juga," batin Argantara yang penuh dengan harapan.


Dia tidak tau saja Sean mau menjaga Reya. Karena bukan menganggap Reya sebagai adik melainkan ada hubungan perasaan yang lain. Perasaan cinta layaknya pasangan kekasih.


"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menemui Reya. Karena aku juga tidak mau jika Anggika mengetahui hal itu," batin Argantara.


*******


Sean yang mendapatkan buah kecapi itu akhirnya langsung ke Apartemen Reya. Dia sudah tidak sabar untuk memberikan buah itu kepada Reya mengingat Reya sangat menginginkannya. Ketika sudah berdiri di depan Apartemenmu di mana Reya tinggal. Sena langsung memencet beberapa sandi dan langsung masuk saat pintu itu terbuka.


" Reya!" Panggil Sean memasuki Apartemen yang mencari-cari Reya.


"Di mana dia?" tanya Sean yang tidak menemukan Reya dan langsung menaiki anak tangga menuju kamar Reya yang pasti Reya ada di sana.


Sean yang terlihat buru-buru menuju kamar Reya dan ternyata pintu kamar Reya terbuka sedikit dan Sean ingin masuk tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat Reya yang berganti pakaian.


Sean harus menyaksikan tubuh polos Reya yang memblakanginya. Hal itu mengingatkan Sean pada kejadian panas mereka berdua waktu itu. Bukannya pergi Sean malah berdiri melihat Reya dengan menelan salivanya tanpa mengedipkan matanya.


Tidak lama Sean menggoyang-goyangkan kepalanya yang menyadarkan dirinya dan langsung pergi dari depan kamar itu.


"Reya!" panggil Sean setelah sudah tidak berada di depan kamar itu.


Reya yang sedang memakai dressnya terkejut dan buru-buru memakai pakaiannya.


"Iya sebentar," sahut Reya yang tergesa-gesa. Dia takut kalau Sean masuk. Padahal Reya tidak tau saja jika Sean sudah melihatnya berganti pakaian yang mampu membuat Sean frustasi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2