
Setelah mendengar apa yang di sampaikan Argantara dan juga Anggika membuat Reya jadi kepikiran sampai dia tidak bisa tidur dan hanya gelisah di atas tempat tidur. Hal itu juga di sadari Sean yang sebelumnya sudah tidur. Namun harus bangun kembali karena istrinya yang gelisah.
"Sayang ada apa?" tanya Sean yang melihat ke arah Reya.
"Aku nggak bisa tidur," ucap Reya.
"Karena apa?" tanya Sean.
Huffffff
Reya menghela napasnya perlahan kedepan dan langsung duduk dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan Sean pun ikut duduk.
"Ada apa sayang?" tanya Sean lagi.
"Masalah mama dengan apa yang di katakan papa tadi," ucap Reya yang akhirnya menyampaikan apa yang di pikirkannya.
"Tante Erina?" tanya Sean. Reya menganggukkan kepalanya.
"Sayang papa sudah menjelaskan keadaannya kepada kamu dan papa juga sudah memberikan kamu masukan dan semuanya tergantung kamu dan aku sebagai suami hanya bisa mendukung kamu. Cuma aku juga pasti ingin yang terbaik untuk istriku," ucap Sean.
Reya masih diam yang tidak mengatakan apa-apa membuat Sean memegang ke-2 tangan Reya dan menatap Reya.
"Sayang tidak ada salahnya jika kamu melihatnya. Aku juga melihat tidak ada kebencian di hati kamu kepadanya. Mungkin kejahatannya sebesar lautan tetapi jangan lupa jika dia pernah menyayangimu dan aku tau kamu pasti merasakan itu. Jadi tidak ada salahnya jika kamu melihatnya dan dia juga ingin meminta maaf bukan. Walau aku tau kamu sudah memaafkannya," ucap Sean yang memberikan istrinya masukan.
"Jadi aku harus melihatnya?" tanya Reya yang butuh pendapat.
"Melihatnya tidak akan membuat kamu rugi dan bukannya kita ingin melupakan semua masa lalu. Jadi tidak ada yang salah. Jika kamu ingin melihatnya," jawab Sean.
"Iya kamu benar. Aku harus menemui mama, melihat keadaannya. Karena bagaimanapun aku adalah anaknya," ucap Reya yang sudah mantap atas apa yang di pikirkannya.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya. Besok pagi kita kerumah sakit dan melihat keadaan Tante Erina," ucap Sean. Reya menganggukkan kepalanya.
Sean mencium lembut kening istrinya itu dan mengajak istrinya untuk beristirahat dan mereka bisa tertidur. Mungkin perasaan Reya memang jauh lebih baik dari sebelumnya setelah berbicara dan mendengar masukan dari suaminya.
__ADS_1
***********
Mentari pagi kembali tiba. Citra memasuki kamar dan melihat Reval yang rapi-rapi yang ingin berangkat kerja. Cukup lama Citra menatap suaminya itu yang sepertinya ada yang ingin di sampaikannya kepada suaminya.
"Kak Sean dan kak Reya. Hari ini kerumah sakit untuk melihat Tante Erina. Kita tidak pergi?" tanya Citra dengan hati-hati.
Tidak ada jawaban dari Reval yang tetap rapi-rapi yang sekarang memakai dasinya dan sepertinya tidak ingin mengaggapi apa yang di katakan istrinya.
"Aku mengerti perasaan kamu dan kamu yang tau apa riasanya. Tetap tidak ada salahnya kita melihatnya karena bagaimanapun dia ibu kandung kamu," ucap Citra.
"Jangan membahasnya Citra," sahut Reval dengan suara dinginnya.
Citra menghela napasnya dan menghampiri suaminya itu dengan memeluk Reval dari belakang.
"Sayang tidak ada salahnya untuk melihatnya sebentar. Dia juga ingin bertemu dengan kamu dan mama mengatakan hanya meminta maaf saja. Jadi tidak ada yang salah sayang. Kak Reya juga mengalami hal yang menyakitkan dari Tante Erina. Tetapi kak Reya berbesar hati untuk melihatnya. Aku juga ingin kamu juga sama memiliki hati yang luas untuk Tante Erina," ucap Citra yang mencoba untuk membujuk suaminya.
"Sayang ayolah. Kita ikut bersama mereka. Bukankah tugasku sebagai istri harus mengarahkan suaminya untuk hal yang lebih baik. Mari kita lupakan semuanya dan Tante Erina juga masih dalam tahanan dia hanya ingin bertemu kamu. Jadi ayolah kita temui dia," bujuk Citra membuat Sean menghela napasnya dengan memejamkan matanya yang hatinya bergejolak apakah harus mengikuti egonya atau bagaimana. Reval penuh dengan kebingungan.
"Kamu tidak mendengarkanku?" tanya Citra.
"Baiklah aku akan menemuinya. Tetapi hanya kali ini saja dan ini yang terakhir aku menemuinya dan tidak akan ada dua kali," ucap Reval yang mengingatkan pada Citra agar lain kali Citra tidak menyuruhnya untuk menemui Erina lagi.
"Iya sayang," sahut Citra tersenyum.
"Ya sudah ayo yang lain sudah menunggu!" ajak Citra. Reval mengangguk dan mengikuti Citra.
*************
Bukan hanya Sean, Reya, Citra dan Reval yang menemui Erina ada juga Anggika dan Argantara yang ikut mendampingi mereka. Begitu sampai Polisi yang mengawasi Erina langsung mengarahkan Sean dan yang lainnya menuju ruang perawatan Erina yang kondisi Erina memang sangat parah.
"Silahkan!" titah Polisi yang membuka pintu mempersilahkan yang lainnya untuk masuk.
"Makasih pak," sahut Reya yang masuk terlebih dahulu dan pasti Reya sangat dek-dekan bertemu dengan mamanya setelah sekian lama dia tidak pernah menjenguknya.
__ADS_1
Masih berada di dekat pintu Reya melihat Erina yang berada di atas ranjang yang konsinyasi sesuai dengan apa yang di katakan Anggika dan Argantara kemarin. Bahkan Reya semakin jelas melihatnya saat Reya sudah berdiri di samping ranjang itu.
Matanya berkaca-kaca melihat Erina yang sangat menyedihkan dan Reval juga melihat ibu kandungnya itu seperti mayat hidup.
"Mah," lirih Reya dengan air matanya yang jatuh.
Erina membuka matanya perlahan saat mendengar suara itu dan langsung melihat ke sebelahnya.
"Re_Re_Reya," lirih Erina yang sangat sulit berbicara dan berusahalah untuk memegang tangan Reya dan Reya yang dengan cepat memegang tangan yang sangat kecil itu.
"Iya mah ini Reya," ucap Reya yang tidak bisa menahan kesedihannya.
Sebelumnya dari rumah dia hanya ingin biasa saja dan datar-datar saja saat. Nanti bertemu Erina. Namun di luar dugaannya hatinya langsung tersentuh dan belum banyak bicara air matanya sudah banjir terlebih dahulu.
"Maaf," ucap Erina yang menggenggam kuat tangan Reya. Reya langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya, Reya sudah memaafkan mama. Mama cepat sembuh ya. Reya sudah melupakan semauanya," ucap Reya.
"Maafkan mama Reya. Mama tidak percaya setelah kejahatan yang mama lakukan. Kamu masih memanggil mama. Mama benar-benar minta maaf yang sudah mengacaukan kehidupan kamu," ucap Erina yang berbicara terputus-putus dengan air matanya yang juga mengalir.
"Iya mah, Reya sudah memaafkan mama. Mama jangan mengatakan apa-apa lagi. Reya sungguh sudah melupakan semuanya mama sekarang hanya perlu Fokus pada kesehatan mama saja," ucap Reya.
Erina melihat orang-orang yang di belakang Reya, ada Reval, Sean, Citra, Anggika dan Argantara.
"Sean Tante juga minta maaf pada kamu dan makasih kamu sudah mencintai Reya dan selalu ada untuk Reya," ucap Erina.
"Tante tidak perlu berterima kasih kepadaku. Karena apa yang aku lakukan memang sudah seharusnya aku lakukan dan aku juga sudah melupakan masalah itu dan memaafkan Tante sama seperti Reya," sahut Sean.
"Terima kasih, kalian masih mau mengampuniku dan kamu juga Citra aku sudah mengacaukan semua hidup kamu," ucap Erina yang penuh penyesalan.
"Semuanya sudah masa lalu Tante dan sekarang saya juga sudah memaafkan Tante dan menjadikan masalah-masalah sebelumnya menjadi pelajaran saja. Jadi Tante tidak perlu minta maaf lagi," sahut Citra yang berlapang dada membuat Erina semakin sedih.
Karena semua orang yang di zdoliminya begitu baik kepada-nya. Hal itu pasti tidak pernah di duga Erina.
__ADS_1
Bersambung