
Mentari pagi yang cerah yang begitu membuat orang-orang semangat di pagi hari yang indah ini. Termasuk pengantin baru yang masih berbahagia itu. Citra yang sudah mandi aja di pagi ini dengan rambutnya yang basah yang sedang keramas yang duduk di meja rias dengan mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
Tidak lama Reval keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya yang juga Reval mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Reval tersenyum melihat ke arah Citra yang mana Citra pura-pura tidak melihat karena Citra masih sedikit canggung dengan Reval.
Reval menyunggingkan senyumnya dan menghampiri istrinya itu yang berdiri di belakang Citra dan mengambil hair dryer tersebut yang membuat Citra heran dengan apa yang di lakukan Reval yang ternyata Reval yang mengambil alih mengeringkan rambut Citra yang membuat Citra tersenyum tipis dengan saling menatap dengan sang suami dari cermin.
Ke-2nya terlihat senyum-senyum dan belum ada kata atau kalimat yang keluar dari mulut ke-2nya yang juga pasti sama-sama canggung, sama-sama bingung dengan apa yang harus mereka katakan.
"Bagaimana," ucap keduanya dengan serentak. Menyadari berbicara bersamaan membuat Reval dan Citra sama-sama tersenyum dengan ke-2nya yang kembali malu-malu.
"Kak Reval mau mengatakan apa?" tanya Citra dengan pelan.
"Kamu sendiri mau mengatakan apa?" Reval bertanya kembali.
"Kak Reval terlebih dahulu," sahut Citra yang malu-malu.
"Kamu yang duluan," jawab Reval.
"Citra hanya bertanya kak Reval mau sarapan atau tidak," jawab Citra pelan.
"Tetapi kenapa di awali dengan bagaimana?" tanya Reval dengan alisnya yang terangkat yang memang tidak nyambung dengan pertanyaan Citra. Mungkin saja Citra sudah lolag dan tidak bisa fokus lagi sampai apa yang mau di tanyakannya sudah buyar semuanya.
"Citra sudah lupa apa yang Citra tanyakan dan pertanyaan tadi pertanyaan tambahan," jawab Citra dengan gugup dengan wajahnya yang memerah yang membuat Reval mendengus tersenyum mendengarnya.
"Kalau memang lupa pertanyaannya ya sudah tidak apa-apa. Tetapi karena sudah di tanyakan mau sarapan atau tidak. Maka jawabannya mau," jawab Reval.
Citra tersenyum mendengarnya, "dan iya kak Reval tadi mau tanya apa sama Citra?" tanya Citra penasaran juga dengan apa yang di tanyakan Reval.
"Bagaimana tidur kamu? itu yang ingin aku tanyakan," jawab Reval.
Citra tersenyum dengan wajah yang merona pertanyaan itu tidak perlu di tanyakan jelas dia sangat bahagia dalam tidurnya. Reval pun membungkukkan tubuhnya dan mensejajarkankan kepalanya dengan Citra yang dagunya menempel pada bahu Citra dengan pipi mereka yang saling menempel.
"Katakan kepadaku apa kamu bahagia?" tanya Reval yang melihat Citra dari bayang cermin.
Perlahan Citra menoleh ke arah Reval yang membuat wajah mereka saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat tanpa jarak yang napas keduanya saling menerpa.
Citra mendekatkan mulutnya pada telinga Reval, "rasanya berbeda yang sudah halal dan yang belum," ucap Citra dengan berbisik membuat Reval tersenyum.
__ADS_1
Reval mengubah posisi dirinya yang sekarang berlutut menghadap Citra yang mana Citra masih duduk di bangku. Reval memegang pipi Citra sembari mengelus-elus nya.
"Aku tidak seharusnya melakukan hal itu yang dulu kepadanya. Maafkan aku Citra, aku gelap mata," ucap Reval yang tidak tau sudah berapa kali meminta maaf pada Citra.
"Kak Reval tidak perlu minta maaf pada Citra. Itu sudah masa lalu dan kita sudah sama-sama belajar dan tidak ada yang perlu untuk di ingat lagi," jawan Citra.
"Kita sudah menikah dan menjadi pasangan halal. Dan sekarang jika kita ingin melakukan hal itu lagi. Kita tidak perlu lagi melakukannya tanpa mengingat dosa. Karena kita sudah halal," ucap Reval.
"Iya kak Reval. Makasih sudah menjadikan Citra wanita yang jauh lebih baik dan sekarang Citra sudah menjadi istri kak Reval dan Citra sangat bahagia telah menjadi istri kak Reval," ucap Citra dengan senyum yang tidak bisa bohong jika dia memang sangat begitu bahagia.
"Aku juga sangat bahagia Citra dengan kamu yang sudah menerima ku," jawab Reval yang mencium lembut kening Citra.
"Ya sudah sekarang ayo kita sarapan," ucap Citra.
"Iya sayang," sahut Reval membuat Citra tersenyum.
Sarapan pertama di kediaman Argantara. Reval, Sean, Citra, Reya, Anggika dan pasti Argantara sendiri yang sekarang mereka sarapan.
Masih dalam suasana pengantin baru yang mencuri perhatian orang-orang yang ada di meja makan yang senyum-senyum sendiri seperti ada sesuatu yang tertahan di dalam pikiran mereka.
"Mama sama kak Reya kenapa sih senyum-senyum aja dari tadi?" tanya Citra yang terlihat risih.
"Memang nya Citra buta apa. Jelas-jelas Citra melihat mama dan kak Reya itu senyum-senyum dan pasti di hati kalian berdua itu berpikir yang aneh-aneh kan," ucap Citra dengan yakin.
"Nggak Citra," natah Reya.
"Sudah-sudah kalian berdua ini ya, jahil sekali dengan Citra. Jangan merusak mood Citra lihat dia sangat baik-baik aja dan sangat bahagia. Jadi kalian berdua jangan ganggu Citra," sahut Argantara yang membela Citra.
"Tuh dengerin," sahut Citra merasa senang ada yang memebelanya.
"Iya deh," sahut Reya yang kembali senyum-senyum.
"Sayang kamu ini jahil sekali, kamu sarapan cepat dan setelah itu kita ke rumah sakit. Bukannya kita harus periksa kandungan kamu," ucap Sean mengingatkan istrinya itu.
"Astaga aku sampai lupa. Baiklah sayang," ucap Reya.
"Oh iya Citra dan kamu Reval. Kalian berdua tidak punya rencana untuk bukan madu?" tanya Argantara yang tiba-tiba mendapatkan ide.
__ADS_1
"Bulan madu. Memang mau bulan madu kemana?" tanya Citra.
"Itu terserah kamu sama Reval Citra. Kebetulan mama sama papa sudah membicarakan hal itu dan jika kalian punya tempat untuk berbulan madu. Maka tinggal bilang aja. Nanti mama sama papa akan secepatnya mengatur waktunya dan mama dan papa juga yang akan mengurus semuanya," ucap Anggika.
"Tidak perlu repot-repot pah, mah, aku sama Citra kalaupun mau bulan madu akan mengurus sendiri nanti," ucap Reval yang merasa tidak enak.
"Benar pah. Citra juga tidak mau papa sama mama harus repot-repot. Citra dan Reval bisa kok melakukannya," sahut Citra.
"Citra ini kan hadiah dari mama dan papa. Jadi kamu sama Reval terima saja," sahut Sean yang mendukung orang tuanya.
"Benar kata Sean ini hadiah untuk pernikahan kalian. Jadi mama sama papa Ingi kamu sama Reval pergi berbulan madu kemana aja yang kalian mau," ucap Anggika.
"Ya sudahlah mah. Tetapi untuk sekarang ini Citra dan kak Reval belum ada kepikiran mau berbulan madu kemana dan kita baru memikirkan untuk mencari rumah," jawab Citra.
"Kalian mau pindah?" tanya Anggika.
"Karena sudah menikah sudah menjadi kewajiban saya membawa Citra," sahut Sean.
"Kenapa kalian harus tinggal sendiri. Reval Sean dan Reya saja tinggal di rumah ini. Jadi kamu sama Citra jangan pergi. Nanti kami kesepian," sahut Anggika yang terlihat lemas.
"Mah ini hanya rencana saja. Bukan dalam waktu dekat ini kok. Mama jangan sedih seperti itu," sahut Citra yang tidak ingin mamanya sedih.
"Ya sudah kalian berdua maupun Reya dan Sean. Jauhkan pikiran untuk hal itu dulu. Mama benar-benar tidak ingin rumah ini menjadi sepi," ucap Anggika.
"Iya-iya mah, nggak perlu juga sampai nangis seperti itu," goda Sean.
"Kamu ini ya Sean," sahut Anggika.
Argantara hanya gelang-gelang saja dengan selorohan di pagi hari itu. Semuanya kelihatan sangat bahagia.
Bersambung
...Jangan lupa untuk membaca novel terbaru saya. Novel ini lanjutan Novel Takdir Citra datang untuk Kiara & Kevin....
...Bagi kalian yang masih ingat dan sering menagih untuk season 2 nya dan sekarang sudah di up jam 5 sore nanti. Jadi silahkan di baca ya. Mohon suportnya vote, like dan komentar....
__ADS_1
4 episode.