Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 201


__ADS_3

Argantara hanya mencoba memberi arah dengan kata-kata menurutnya sudah benar untuk menenagkan istrinya.


"Jadi Anggika makanlah. Jangan terus memikirkan Sean," ucap Argantara.


"Kamu bicara sangat mudah mas, kamu begitu mudahnya mengatakan jangan memikirkan Sean. Jika bukan Sean yang aku pikirkan lalu siapa. Apa kamu tidak melihat apa yang terjadi hah! Kamu yang menyembunyikan rahasia ini dan aku akan terancam kehilangan putraku dan kamu masih mengatakan tidak memikirkan, bagaimana mungkin mas aku tidak memikirkan semua ini mas. Ini sangat tidak mudah mas apa mas sadar," ucap Anggika yang naik darah dengan kata-kata Argantara yang membuatnya malah bertambah kesal.


"Anggika ini sudah masa lalu dan semuanya sudah terjadi mau bagaimana pun tidak akan ada yang bisa di kembalikan lagi, semuanya akan tetap seperti ini. Apa kamu mengerti itu," tegas Argantara yang juga lama-lama emosi dengan istrinya yang terus-menerus menyalahkan dirinya.


"Kamu yang menyebabkan semua ini seperti ini," sahut Anggika.


"Cukup Anggika. Aku berusaha berbicara baik-baik padamu. Tetapi kamu tidak mendengarkanku dan terus menyalahkan ku atas apa yang terjadi, dengar Anggika aku sudah mengatakan kepada kamu. Jika semua ini hanya masa lalu dan aku sudah jujur pada kamu. Jadi apa lagi yang kamu inginkan," ucap Argantara menegaskan pada Anggika.


"Jujur kamu sangat terlambat dan kejujuran kamu tidak ada artinya, semuanya justru menghancurkan segalanya," tegas Anggika menguatkan volume suaranya.


"Masih lebih baik aku jujur kepadamu Anggika. Kamu selalu menganggapku sebagai pendosa yang tidak pernah baik. Sekarang aku tanya kepadamu apa selama ini kau sudah merasa paling jujur, paling suci yang tidak punya kesalahan. Apa selama kau merasa tidak punya rahasia apa-apa," ucap Argantara membuat Anggika kaget mendengarnya.


"Apa maksudmu?" tanya Anggika tiba-tiba panik dengan kata-kata suaminya.


"Kenapa reaksimu seperti itu. Apa kau punya rahasia yang aku tidak tau sama sekali?" tanya Argantara yang membuat Anggika terkejut dengan kata-kata Argantara sampai matanya yang terbelalak kaget.


"Jangan mengalihkan pembicaraan dengan hal yang tidak penting dan seolah mencurigaiku," sahut Anggika yang berpura-pura tenang. Padahal sirinya sedang begitu gugup dan tangannya juga terlihat bergetar.


"Jika seseorang mencurigaimu, berarti ada hal yang benar-benar pantas untuk di curigai dan di curigai bukan hanya sekedar untuk di curigai jika tidak ada apa-apa," ucap Argantara yang membuat Asyifa benar-benar terkejut dengan menelan salivanya yang sangat gugup dan sangat panik.


"Anggika aku mungkin bersalah dan bukan suami yang sempurna. Tetapi aku rasa aku tidak pernah tidak jujur kepadamu. Aku selalu jujur kepadamu dan tidak pernah menyembunyikan apa-apa darimu dan hanya masalah Sean yang aku tutupi dan itu hanya demi kebaikanmu saja. Jadi jika aku sudah berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Maka alangkah baiknya jika kau juga menjadi orang yang jauh lebih baik dan terbuka," ucap Argantara yang berbicara seolah mengetahui sesuatu.


Sepanjang Argantara berbicara. Anggika hanya diam seakan mempunyai kesalahan dan tidak berani untuk berbicara yang membuatnya bungkam dengan seribu bahasa.


"Jadi masih banyak waktu. Kau bisa berpikir dengan baik dan makanlah untuk mengisi tenagamu dan aku berharap kamu juga terbuka kepadaku. Karena kamu pasti tau bagaimana rasanya yang mengetahui sesuatu yang di sembunyikan dari kita dan aku sangat berharap jika itu tidak terjadi," ucap Argantara yang selesai berbicara pada Anggika dan Argantara langsung keluar dari kamar itu.


"Apa yang di katakan mas Argantara. Tidak mungkin mas Argantara tau sesuatu. Tidak aku tidak mungkin juga memberitahu semuanya. Pernikahan ku bisa hancur, aku akan kehilangan semuanya," batin Anggika.


Anggika yang sekarang begitu panik dengan apa yang terjadi di mana dia sangat takut jika Argantara tau rahasianya dan bahkan dari perkataan Argantara sudah menjelaskan dia mengetahui sesuatu. Namun tidak jelas dan berharap sang istri memberitahunya. Walau dia juga tidak tau apa yang ingin di ketahuinya yang pasti rahasia terbesar Anggika.


**********

__ADS_1


Reya masuki kamar Sean dengan membawakan Sean makanan dia atas nampan yang sebelumnya di masalnya bersama dengan Citra. Saat memasuki kamar Reya melihat sang suami berdiri di depan jendela yang mana Sean terlihat murung pastinya. Karena masalah yang telah terjadi.


"Sayang!" ucap Reya dengan lembut memanggil suaminya itu membuat Sean langsung melihat kebelakangnya yang mana Reya meletakkan makanan dia atas nakas.


"Kita makan yuk, aku sudah membuatkan kamu sup buntut kesukaan kamu," ucap Reya yang membujuk suaminya dengan kata-kata yang begitu lembut.


"Aku tidak mau makan Reya. Aku belum lapar," sahut Sean yang menolak makanan itu yang langsung membuat Reya menghela napasnya dan menghampiri suaminya


"Mana mungkin tidak lapar, kamu belum makan sama sekali," ucap Reya dengan memegang lengan Sean.


"Tapi aku tiba-tiba tidak selera makan," ucap Sean.


"Melihat kamu seperti ini aku juga tidak selera makan dan aku juga tidak akan makan. Jika kamu tidak makan dan anak bagaimana. Apa dia tidak akan makan juga," ucap Reya dengan sendu membuat Sean jadi kepikiran dengan ananknya. Karena Reya mengungkit hal itu.


"Apa yang kamu katakan Reya. Jangan seperti itu. Kamu harus makan. Biar anak kita baik-baik aja," ucap Sean yang khawatir pada istrinya.


"Aku dan anak kita tidak akan makan. Kalau papanya tidak makan," ucap Reya. Sean menghela napasnya dan memegang bahu istrinya.


"Ayo kita makan!" ajak Sean yang mengalah demi anak dan istrinya.


Reya tersenyum dan mengangguk yang merasa lega akhirnya suaminya mau makan walau ada adegan ancam- ancam tadi. Karena jika tidak dengan begitu maka Sean tidak akan mau makan sama sekali.


"Jika kamu murung terus seperti ini. Citra akan bertanya-tanya ada apa dengan kakaknya," ucap Reya mengingatkan Sean.


"Kamu katakan saja kepadanya. Jika aku baik-baik saja," ucap Sean.


"Pasti aku pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi Citra juga tidak mungkin percaya begitu saja," sahut Sean.


"Aku tidak tau Reya harus mengatakan apa lagi. Aku tidak tau harus bicara apa pada Citra. Apa harus mengatakan sejujur-jujurnya. Atau bagaimana," ucap Sean yang tidak dapat berpikir dengan jernih masalah yang di hadapi dirinya.


"Aku hanya mendukung apa yang ada di hati kamu. Karena aku yakin apa yang ingin kamu sampaikan akan lebih baik jika mengikuti kata hati kamu. Kak Sean Citra adik kandung kamu atau tidak. Kamu yang tau identitas kamu atau tidak. Tetapi semua itu tidak mengubah apapun. Papa Tante Anggika dan Citra. Tetapi keluarga kak Sean dan akan selamanya menjadi keluarga kak Sean yang mana kak Sean sangat menyayangi mereka termasuk Citra akan menjadi adik kesayangannya kamu sampai kapanpun," ucap Reya yang selalu bicara dengan bijak.


"Kamu benar Reya. Statusku identitas ku tidak akan mengubah apapun dan seperti yang aku katakan sebelumnya. Jika semua ini justru berita bagus untukku di mana aku dan kamu benar-benar tidak ada halangan apa-apa. Hubungan kita sah dan ini bukannya hikmah," ucap Sean tersenyum.


Reya hanya menganggukkan kepalanya yang juga tersenyum dengan memegang pipi Sean.

__ADS_1


"Ini hikmah untuk hubungan kita. Aku bisa melihat kamu merasa lega. Tetapi aku juga bisa melihat kamu yang terlihat sedih dan hanya berusaha untuk menutupi sesuatu," ucap Reya.


"Aku baik-baik aja. Karena ada kamu yang selalu di sisiku," ucap Sean meyakinkan istrinya.


"Aku tau itu dan iya kak Sean. Kapan kak Sean akan menemui Tante Anggika dan juga papa. Aku melihat kemarin Tante Anggika juga sangat terkejut dan takut kak Sean pergi," ucap Reya yang tidak ingin suaminya justru lari dari keadaan itu.


"Aku pasti akan menemui mereka Reya. Hanya saja untuk saat ini aku belum siap," ucap Sean yang apa adanya jika dia belum siap sama sekali.


"Baiklah aku percayakan semua pada kakak dan aku yakin semua ini akan terlewatkan," ucap Reya. Sean menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kak Sean makan lagi ya," ucap Reya.


"Kamu juga harus makan," ucap Sean. Reya menganggukkan kepalanya.


*******


Reya dan Citra sedang berada di dalam mobil yang mana mereka berdua ingin ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan dapur mereka. Mereka berdua di antar oleh supir yang memang di sediakan rumah Sean.


Tidak lama mobil itu berhenti di depan supermarket.


"Ayo kita turun!" ajak Reya. Citra menganggukkan kepalanya dan langsung turun dari mobil yang mana mereka langsung memasukkan Supermarket yang mulai untuk belanja dengan Citra yang mendorong keranjang belanjaan.


"Tidak apa-apa kan kamu menemaniku untuk belanja?" tanya Reya pada Citra.


"Tidak apa-apa Reya. Aku juga di rumah bosan," sahut Citra yang tersenyum.


"Ya sudah kita lihat buah-buahan yuk!" ajak Reya. Citra menganggukkan kepalanya dan mereka berdua langsung berjalan untuk melihat buah-buahan tersebut.


"Kamu juga ambil ya Citra apa yang kamu suka buahnya karena aku belum terlalu tau apa yang kamu suka!" ucap Reya sembari memilih yang memasukkan kedalam keranjang.


"Iya Reya," shut Citra dengan mengangguk.


Reya dan Citra sama-sama mencari buah yang mereka inginkan dan tiba-tiba Citra yang sedang ingin mengambil buah sawo di rak buah tiba-tiba sebuah tangan juga mengambil buah tersebut sehingga membuat tangan mereka saling bersentuhan dan membuat Citra menoleh kesampingnya yang ingin tau siapa pemilik tangan tersebut.


Citra terkejut saat melihat orang itu adalah Reval dan Reval juga yang sepertinya tidak tau juga terkejut dengan kehadiran Citra yang tiba-tiba yang membuat ke-2nya sama-sama terkejut dengan mata yang tetap saling melihat.

__ADS_1


"Citra kamu mau Ceri tidak?" tanya Reya melihat kearah Citra dan Reya juga di kejutkan dengan Reval yang tiba-tiba ada di sana yang masih betah saling melihat dengan Citra.


Bersambung


__ADS_2