Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 120


__ADS_3

Citra dan Rose sedang berbelanja di Mall untuk membeli perlengkapan keberangkatan mereka besok. Citra dan Rose lebih memilih untuk membeli sweater karena tempatnya lumayan dingin. Jadi mereka hanya membeli yang memang betul-betul yang di perlukan.


"Aku lihat yang itu dulu!" ucap Citra menunjuk pada sweater kuning.


"Baiklah! aku mau coba ini dulu," sahut Rose. Citra mengangguk dan langsung menuju sweater yang di inginkannya.


"Kayaknya bagus," gumam Citra mengambilnya dari gantungan. Saat ingin mencobanya ke kamar ganti. Tiba-tiba Citra melihat seorang wanita yang tidak asing baginya.


Wanita yang sebaya dengan mamanya yang juga melihat-lihat pakaian di tempat yang sama. Wanita itu adalah Erina. Namun Citra masih menelisik siapa wanita itu yang mungkin Citra tidak mengingatnya.


"Apa aku pernah bertemu dengannya?" tanya Citra yang terus melihat Erina. Citra berusaha keras untuk mengingat siapa wanita itu. Sampai akhirnya Citra membayangkan wanita itu yang tak lain adalah Erina. Ibu kandung Reya.


"Dia bukannya istri ke-2 papa," ucap Citra yang akhirnya mengingatnya. Citra sangat terkejut melihat Erina bahkan tubuhnya bergetar saat melihat wanita itu. Erina tiba-tiba melihat kearah di mana Citra berdiri dan Citra langsung membalikkan tubuhnya.


"Siapa dia!" batin Erina yang merasa wanita itu melihatnya. Namun tidak dapat melihat wajahnya. Apa lagi Citra sudah berbalik badan.


"Jadi bukan hanya Reya yang ada di sini. Tetapi juga dia. Itu artinya. Papa masih berhubungan dengan wanita itu. Papa diam-diam masih bersama wanita itu. Papa terus saja menghiyanati mama," batin Citra dengan mengepal ke-2 tangannya.


Matanya memerah yang menunjukkan kemarahan. Ketika mereka Argantara telah menghiyanatinya. Jika Reya ada. Mungkin Citra masih bisa menerimanya. Apalagi mendengar cerita Sean. Di mana Reya begitu menyedihkan. Namun jika ibu Reya ada Citra hanya berpikiran. Jika papanya juga menyembunyikan Erina dan itu artinya masih berhubungan.


"Papa jahat!" umpat Citra dengan penuh kemarahan yang langsung pergi dari tempatnya.


"Ayo Rose kita pulang!" ajak Citra yang langsung menarik tangan Rose.


"Bentar Citra kan belum selesai belanjanya," sahut Rose heran.


"Aku sudah tidak mood untuk belanja. Ayo kita pulang," ucap Citra dengan kesalnya dan langsung menarik tangan Rose dan Rose mau tidak mau mengikuti Citra. Walau dia tidak tau kenapa Citra dengan cepat berubah pikiran.


*********


Citra yang begitu penuh kemarahan. Langsung ke Perusahaan papanya. Di mana dia berjalan dengan cepat yang seperti ini melabrak papanya. Sampai dia berpapasan dengan Sean. Namun membuat Sean heran dengan Citra yang terlihat marah.


"Citra!" ucap Sean memegang lengan Citra yang berjalan melewatinya begitu saja, "kamu mau kemana?" tanya Sean.


"Kakak pembohong. Jahat, sama seperti papa, tega," umpat Citra membuat Sean heran dengan adiknya yang sekarang mengatainya.


"Apa maksud kamu?" tanya Sean.


"Argggg, sudahlah," sahut Citra kesal melepas tangannya dari Sean dan Citra langsung pergi.


"Citra tunggu!" panggil Sean. Namun Citra tidak meresponnya dan langsung pergi.

__ADS_1


"Kenapa sih tuh anak. Apa coba maksudnya. Marah-marah tidak jelas seperti itu," gumam Sean penuh tanya dan Sean pun langsung menyusul Citra. Karena takut Citra juga sampai kenapa-kenapa nantinya.


Argantara sendiri berada di ruangannya yang menandatangani berkas-berkas dan Diki sedang berdiri di depannya yang sepertinya menunggu berkas-berkas yang akan di tandatangani.


"Bagaimana Karin. Apa dia sudah menandatangani surat pemindahannya?" tanya Argantara melihat kearah Diki sebentar.


"Nanti saya akan tanyakan tuan," jawab Diki.


"Baiklah! saya minta kamu mengurus semuanya," ucap Argantara.


"Baik tuan!" sahut Diki.


"Kamu juga awasi Reya. Jangan sampai Anggika sampai mengetahui keberadaannya," ucap Argantara yang mengingatkan.


"Pasti tuan!" sahut Diki.


"Oh iya Diki. Selama ini kamu yang selalu mengawasi Reya. Menjaganya. Apa dia sering keluar?" tanya Argantara.


"Benar tuan, saya beberapa kali mengikuti Nona Reya. Dia beberapa kali keluar dan selalu bersama tuan Sean," jawab Diki yang ternyata selama ini juga mengawasi Reya dan mungkin ini tidak di ketahui Sean.


"Lalu kenapa kamu tidak pernah melapor pada saya dan saya juga ingin tau apa-apa saja yang di lakukan Reya kalau di luar dan bersama Sean?" tanya Argantara.


Diki terdiam. Diki terbayang dia mengikuti Reya dan Sean sebenarnya ada hal yang tidak masuk akal. Di mana Reya sangat dekat dengan Sean. Bukan seperti kakak adik. Melainkan sebagai kekasih. Karena Diki juga pernah menyangka Reya dan Sean berciuman. Yang membuat tanya untuk Diki. Namun tidak satupun kejadian yang aneh menurutnya itu di laporkan pada Argantara.


"Oh iya tuan. Maaf saya melamun," sahut Diki yang berusaha untuk tenang.


"Apa yang kamu pikirkan? apa ada sesuatu?" tanya Argantara.


"Tidak ada tuan. Saya rasa tidak perlu melapor karena kondisi Nona Reya baik-baik saja selama ini. Karena tuan Sean menjaganya dengan baik," ucap Diki.


"Baguslah kalau begitu. Jadi kalau ada apa-apa kamu katakan kepada saya dan kamu harus terus menjaga Reya," ucap Argantara memberi pesan pada Diki.


"Itu pasti tuan," sahut Diki.


"Aku akan bicarakan dulu dengan tuan Sean semuanya. Karena aku tidak mungkin mengatakan begitu saja pada tuan Argantara. Hal ini bisa menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak," batin Diki yang tidak mau bertindak gegabah.


Bruk.


Diki dan Argantara di kagetkan dengan pintu yang terbuka kuat dan menampilkan Citra yang terlihat marah.


"Citra!" lirih Argantara.

__ADS_1


"Papa pembohong, papa jahat!" sahut Citra yang langsung mengeluarkan makiannya.


Argantara bingung dengan putrinya yang datang marah-marah.


"Ada apa Citra. Apa yang kamu katakan?" tanya Argantara langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Citra yang masih berada di depan pintu yang sekarang sudah meneteskan air mata.


"Papa kenapa jahat sekali kepada Citra. Papa tidak pernah berubah, selalu seperti ini. Papa terus menghiyanati mama. Papa sangat jahat," Citra terus marah-marah sembari menangis.


"Citra kamu tenang dulu. Kamu itu kenapa sebenarnya?" tanya Argantara memegang tangan Citra dan Citra langsung melepasnya. Tidak lama Sean pun datang dan melihat Citra sudah menangis.


"Pah," sahut Citra.


"Sean, adik kamu kenapa?" tanya Argantara.


"Citra kamu kenapa sebenarnya?" tanya Sean panik.


"Kalian ber-2 sama saja. Sama-sama jahat," ucap Citra dengan kesal.


"Maaf tuan saya permisi dulu!" sahut Diki yang memang harus keluar. Karena itu akan menjadi urusan keluarga itu.


"Iya," sahut Argantara. Diki pun keluar dan langsung menutup pintu.


"Citra kaku coba tenang. Katakan pada papa apa yang terjadi," ucap Argantara.


"Papa jangan pura-pura tidak tau. Papa selama ini masih berhubungan dengan wanita yang menghancurkan keluarga kita. Papa bahkan sama menyembunyikannya, hidup bahagia bersamanya di belakang mama. Papa itu keterlaluan. Papa benar-benar sangat jahat," ucap Citra mengeluarkan isi hatinya membuat Sean dan Argantara saling melihat dan pasti tidak mengerti dengan apa yang di katakan Citra.


"Maksud kamu siapa Citra?" tanya Sean.


"Siapa lagi. Kalau bukan Reya dan ibunya. Kenapa Kalian berdua pura-pura tidak tau," kesal Citra dengan penuh emosi. Bahkan sampai berteriak.


"Citra apa yang kamu katakan, ibu Reya. Maksud kamu Tante Erina?" tanya Sean.


"Iya bukan hanya Reya yang ada di Jakarta. Tetapi juga ibunya dan kakak juga pasti ikut-ikutan menyembunyikan wanita itu dan kakak benar-benar bersekongkol dan memihak pada keluarga itu," ucap Citra. Sean terkejut mendengar perkataan Citra.


"Jadi kamu tau Reya ada di Jakarta?" tanya Argantara yang memang belum mengetahui kalau ternyata Citra sudah tau.


"Iya pah, Citra sudah tau. Tetapi tidak memberitahu pada mama. Sean belum sempat ceritakan ini pada papa," sahut Sean.


"Sudahlah, itu sudah tidak penting dan aku tidak akan menutupi ini lagi. Aku akan katakan pada mama. Jika Reya dan ibunya ada di Jakarta dan kalian menyembunyikannya," ucap Citra dengan emosi.


"Citra tunggu dulu. Tidak semua yang kamu pikirkan itu benar. Kita tidak menyembunyikan Tante Erina dan dia mana mungkin di Jakarta," sahut Sean mencoba menjelaskan dengan menenagkan adiknya.

__ADS_1


"Kaka pikir aku buta. Aku jelas melihat sendiri. Ibu Reya ada di Mall," tegas Citra yang mengejutkan Argantara dan juga Sean.


Bersambung.


__ADS_2