Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 116.


__ADS_3

Anggika yang berada di rumah yang duduk di ruang tamu terlihat sangat sibuk dengan beberapa kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya dan juga terlihat dia begitu serius yang tidak tau sebenarnya apa yang di kerjakannya.


"Sean membeli rumah!" batin Anggika yang tiba-tiba menemukan lembaran kertas yang kelihatannya sangat penting.


Anggika langsung mengambil ponselnya dan langsung menelpon salah satu kontak yang ada di ponselnya.


"Hallo Karin!" sapa Anggika yang ternyata sedang menghubungi Karin.


"Iya ada apa Tante?" tanya Karin.


"Saya menemukan data. Bahwa Sean membeli rumah tahun lalu. Apa itu rumah yang pernah di bicarakannya dengan saya?" tanya Anggika. Sebelumnya memang Sean sempat membahas itu sebelumnya dengan dirinya dan juga suaminya.


"Oh iya Tante benar itu rumah yang di beli tahun lalu. Hanya dalam sebulan sebelumnya rumahnya di renovasi," jelas Karin.


"Di renovasi," sahut Anggika yang kelihatannya sangat terkejut.


"Benar Tante. Rumahnya di renovasi. Sean 2 bulan lalu menyuruh saya untuk mencari arsitek yang tepat," jawab Karin.


"Kenapa Sean tiba-tiba merenovasi rumah tersebut. Apa dia mau tinggal di sana. Bukannya Sean mengatakan akan punya rumah jika sudah menikah," batin Anggika yang merasa ada yang tidak beres.


"Tante Anggika. Apa masih ada di sana?" tanya Karin yang tidak mendengar suara Anggika.


"Kalau begitu apa rumahnya sudah selesai?" tanya Anggika.


"Sudah selesai Tante dan bahkan bukannya sudah di tempati," jawab Karin. Dan jawaban Karin membuat Anggika terkejut.


"Di tempati maksud kamu?" tanya Anggika dengan dahinya yang mengkerut.


"Sean bahkan sudah memasukkan beberapa pekerja kerumah itu untuk bersih-bersih dan lain sebagainya dan seharunya melihat banyaknya pekerjaan. Itu berarti sudah di tempati," ucap Karin.


"Memang beberapa pekerja?" tanya Anggika.


"Kurang lebih sampai 6 sampai 7," jawab Karin.


Karin jelas tau dia Sekretaris Sean dan Sean pasti mengandalkannya untuk menyelesaikan hal itu tanpa Karin tau apa tujuan Sean. Karena setiap perintah Sean tidak perlu alasan dan penjelasan pada Karin.

__ADS_1


"Sean memperkerjakan banyak orang. Seperti ada yang tinggal di rumah itu. Apa memang benar ada yang tinggal di rumah itu. Tetapi bukannya Sean tidak pernah tidak di rumah," batin Anggika yang sekarang pikirannya sudah entah kemana-mana. Dia benar-benar penuh pemikiran.


"Tante Anggika!" tegur Karin yang tidak mendengar suara Anggika.


"Iya," sahut Anggika yang sedikit kaget.


"Tanya baik-baik saja?" tanya Karin.


"Hmmm," sahut Anggika dengan deheman, "ya sudah kalau begitu saya hanya menyalam hal itu dan kamu tidak perlu mengabari Sean. Jika saya menanyakan masalah itu pada kamu," ucap Anggika mengingatkan Karin.


"Baik Tante," sahut Karin.


Anggika langsung menutup telponnya dengan wajahnya yang kembali penuh dengan pemikiran.


"Ada apa sebenarnya. Kenapa Sean merenovasi rumah tersebut dan Karin bilang ada beberapa pekerja yang sudah bekerja. Rumah itu seperti di tempati. Apa memang ada yang menempatinya," batin Anggika dengan penuh pertanyaan tentang masalah yang terjadi.


Anggika merasa banyak hal yang tidak di ketahuinya. Banyak hal yang di sembunyikan darinya yang membuatnya bertanya-tanya.


*********


Sean dan Reya juga terlihat happy saat di taman yang sekarang mereka duduk di salah satu kursi dan Reya sedang menikmati bakso Aci kesukaannya yang terasa sangat nikmat dan begitu lezat.


"Kamu mau tidak?" tanya Reya yang tidak lupa menawarkan untuk Sean.


"Kamu saja yang makan. Aku lihat kamu sangat lahap makannya. Apa sangat enak?" tanya Sean.


"Iya ini sangat enak. Makanya. Kamu itu wajib coba," sahut Reya tersenyum lebar dan kembali menyodorkan pada Sean dan akhirnya mau tidak mau Sean pun memakannya.


"Enak kan?" tanya Reya.


"Iya enak," jawab Sean. Reya tersenyum dengan menghela napasnya kedepan.


"Sean kamu ingat tidak. Jika dulu. Kita juga pernah ke taman ini. Saat pulang sekolah. Kamu menjemputku dan kita mampir ke mari. Selain untuk mengobrol dengan menikmati makanan. Kamu juga membantuku untuk mengerjakan tugas-tugas. Kamu ingat tidak?" tanya Reya yang mengingatkan masa lalu.


"Iya Reya. Aku mengingatnya," jawab Sean, "aku sudah mengatakan kepadamu. Tidak ada satupun kenangan yang tidak aku ingat. Aku mengingat semuanya," ucap Sean.

__ADS_1


"Dan aku tidak percaya. Jika kita bisa ketempat ini lagi dan bisa bersama lagi," sahut Reya. Sean meraih tangan Reya dengan menatap Reya dalam-dalam.


"Itu artinya. Kita memang di takdirkan untuk bersama selamanya," ucap Sena dengan mencium lembut tangan Reya yang membuat Reya tersenyum.


Ternyata di sisi lain di tempat yang sama. Citra juga ada di sana bersama Reval. Taman yang sama yang menjadi tujuan Citra dan juga Reval.


Dan Reval dan Citra yang duduk di atas rumput. Yang ternyata Citra melihat Sean dan Reya dari kejauhan. Mengamati wajah kakaknya dan wanita yang tak lain saudara tirinya itu dan juga di katakan sang kakak sebagai wanita yang di cintainya.


"Kak Sean memang sebelumnya tidak pernah seperti itu. Kak Sean terlihat sangat bahagia dan caranya menatap Reya begitu tulus. Aku tidak membenarkan hubungan mereka. Tetapi aku juga tidak menyalahkan jika ada cinta yang besar di antara mereka. Karena mungkin memang benar takdir yang salah," batin Citra yang terus melihat Sean dan Reya.


Saat Citra melihat Reya dan Sean yang akhirnya juga Reya yang bersama Sean. Tiba-tiba matanya mengarah pada seseorang mencuri perhatiannya. Siapa lagi kalau bukan Citra yang sampai detik ini masih melihatnya.


Reya terkejut yang bisa saling bertatap muka dengan Citra. Walau dari kejauhan. Namun Reya harus menyadari. Jika tatapan Citra sangat berbeda kepadanya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Sekarang tatapan itu tidak ada kebencian. Namun bukan berarti juga menerima.


Reval yang di samping Citra heran dengan Citra yang sama sekali tidak mendengar suara wanita yang sejak tadi berisik itu membuat Reval menoleh ke arah Citra.


"Citra!" tegur Reval membuat Citra tersentak kaget dan langsung menghadap Reval.


"Kak Reval," sahut Citra dengan gugup yang terlihat menghela napasnya dengan perlahan kedepan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Reval yang melihat Citra seperti ada sesuatu.


"Oh iya. Saya baik-baik saja," sahut Citra dengan tersenyum.


"Saya tidak mendengar suara kamu makanya saya tanya," sahut Reval.


"Maaf kak. Tadi sedikit melamun," jawab Citra.


"Kamu mau jagung bakar tidak?" tanya Reval.


"Boleh," jawab Citra.


"Ya sudah tunggu sini. Saya beli dulu," ucap Reval.


"Saya ikut saja," sahut Citra. Reval mengangguk dan mereka sama-sama berdiri untuk segera membeli jagung bakar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2