
Citra keluar dari kamarnya yang menuruni anak tangga dengan membawa selimut. Citra berdiri di depan kamar tamu.
Toko-tok-tok-tok.
Citra mengetuk pintu kamar. Dan tidak lama pintu kamar langsung di buka.
"Citra," sapa Reval yang ternyata membuka pintu kamar.
"Ini kak Reval selimut untuk kak Reval," ucap Citra yang ternyata begitu perhatian.
"Makasih ya Citra," Icao Reval langsung mengambilnya, "kamu tau aja kalau tidak ada selimut di dalam," ucap Reval.
"Jadi benar ya bibi tidak menyediakan selimut?" tanya Reval.
"Ya seperti yang kamu lihat tidak ada sama sekali. Tetapi mungkin bibi belum mengantarnya," ucap Reval.
"Ya sudah kak Reval pakai itu aja," ucap Citra.
"Makasih ya Citra," ucap Reval tersenyum. Citra mengangguk yang juga tersenyum dengan wajah berbinar.
"Masih ada lagi?" tanya Reval heran melihat Citra masih aja berdiri di depan pintu kamar.
"Tidak ada," jawab Citra.
"Hmmm, kalau begitu kamu masih tetap mau di sini atau mau tidur di dalam?" tanya Reval yang mana Citra malah asyik berdiri di depan pintu.
"Oh iya, nggak kok, siapa yang mau tidur di dalam. Ya aku di kamarku lah," sahut Citra dengan gugup dan wajahnya sampai memerah, "ya sudah kalau begitu aku, aku kekamar dulu. Selamat malam," lanjutnya yang berbicara terbata-bata dan langsung buru-buru pergi yang salah tingkah jadinya. Reval hanya tersenyum miring melihat ulah Citra.
"Lucu," gumam Reval gemas sendiri.
Reval pun memasuki kamar dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur dengan ke-2 tangannya di lipat di bawah kepalanya Reval memejamkan matanya dan mengingat kejadian yang baru saja terjadi saat di dalam mobil bersama Citra.
Mereka berciuman romantis dan saling melepas ciuman itu dengan napas yang saling memburu dan mata mereka yang saling memandang, tangan Reval masih memegang pipi Citra dengan jempolnya yang mengusap bibir Citra.
"Aku mencintaimu, mari kita perbaiki semuanya, aku ingin memulai semuanya dari awal," ucap Reval dengan suara seraknya.
"Semua yang terjadi membuatku sangat sakit
Jika memang obatnya yang telah melukaiku. Maka aku akan memberi kesempatan itu," jawab Citra.
"Itu artinya kamu mau kita kembali lagi?" tanya Reval buruk kepastian.
"Aku memberi kesempatan untuk kita saling memberi kebahagiaan," jawab Citra.
__ADS_1
"Pasti Citra, aku berjanji akan membahagiakan mu," ucap Reval dengan matanya yang berkaca-kaca yang begitu bahagia dengan Citra yang memberinya kesempatan. Reva langsung memeluk Citra dengan erat.
"Aku tidak akan menyakiti mu lagi, aku janji itu," ucap Reval yang memeluk erat Citra dan Citra yang berada di dalam pelukan itu meneteskan air mata.
Ternyata hubungan Citra dan Reval sudah terjalin baik. Keduanya sepakat untuk saling menerima satu sama lain. Karena ke-2nya sudah tidak ada hubungan saudara lagi. Jadi tidak ada yang salah dengan hubungan mereka.
Pantesan Citra dan Reval seperti orang yang berbunga-bunga ternyata keduanya kembali kasmaran dan sudah baikan toh.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Setelah malam terlewatkan mereka sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing-masing yang hari ini Reval bergabung untuk sarapan bersama dengan yang lainnya.
"Ayo Reval kamu makan yang banyak," ucap Anggika dengan ramahnya.
"Iya Tante, saya bisa ambil sendiri," sahut Reval yang tidak ingin merepotkan Anggika yang ingin mengambilkan sarapan untuknya.
"Kami juga Citra. Jangan malas makan," tegas Anggika.
"Iya mah, kapan sih Citra malas makan. Mama jangan buat berita aneh-aneh deh," ucap Citra.
"Sudah-sudah sarapan aja yang benar dan iya Reval papa sangat suka kamu bisa menginap di sini. Lain kali kamu menginap di sini juga ya," ucap Argantara melihat ke arah Reval.
Reval tidak langsung menjawab dan hanya diam dan sepertinya belum nyaman dengan mengakui Argantara ayah kandungnya apa lagi memanggilnya papa dan itu asing untuk Reval. Kalimat sempotong itu cukup membuat suasana hening dan terlihat canggung.
"Lagi tidak selera makan ma," jawab Reya.
"Ya ampun kak Reya, harus sarapan dong, entar sakit loh," sahut Citra yang juga ikut mencairkan suasana dan Reval dan Argantara hanya diam dengan Argantara menghela napasnya yang harus sabar-sabar jika ingin bersama dengan putranya.
"Aku juga tidak mengerti, Reya sekarang sangat sulit untuk makan," sahut Sean.
"Sayang namanya juga tidak selera," sahut Reya yang ada saja jawabannya.
"Kalau sakit baru tau rasa. Lihat panas kamu saja belum turun," ucap Sean kesal.
"Kamu sakit Reya?" tanya Argantara.
"Hanya demam biasa ajah pah, kak Sean aja yang berlebihan," sahut Reya tiba-tiba jadi bete.
"Sudah-sudah jangan pada ribut, kalau kamu tidak selera untuk sarapan, bagaimana kalau makan buah. Kamu mau tidak?" tanya Anggika.
"Ya sudah Reya makan buah aja," sahut Reya.
"Biar mama ambilkan ke kulkas, di sini tidak ada buahnya," sahut Anggika.
__ADS_1
"Nggak usah mah, biar Reya sendiri aja. Lagian Reya juga mau pilih buah dulu," sahut Reya yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung ke dapur.
"Awas lo, galak-galak sama istrinya, ngambekan dia," ucap Citra yang menakut-nakuti Sean.
"Apaan sih kamu," sahut Sean.
"Sudah-sudah Sean mungkin aja imunnya Reya sedang tidak baik dan selera makannya tidak baik. Kamu jangan keras-keras. Tuh dia mau kan makan buah," ucap Anggika dengan lembut mengarah Sean.
"Iya mah, aku hanya khawatir dan takut Reya kenapa-kenapa," ucap Sean.
"Mama mengerti perasaan kamu dan itu wajar," sahut Anggika.
Pranggg
Tiba-tiba suara piring yang jatuh mengejutkan semua orang sampai semuanya tersentak kaget.
"Ada apa itu?" tanya Anggika yang memegang dadanya.
"Reya," sahut Sean yang langsung berdiri dan berlari menuju dapur.
"Reya kenapa Reya?" tanya Anggika heran.
"Kak Reya," Citra juga langsung panik dan langsung berlari kedapur dan semua orang yang di meja makan pun ikut ke dapur.
Setibanya sampai di dapur. Sean langsung di kagetkan dengan mendapati istrinya yang yang tergeletak di lantai.
"Reya!" pekik Sean yang langsung menghampiri Reya dan melihat kondisi Reya yang tidak sadarkan diri.
"Sayang kamu kenapa? sayang! sayang!" Sean membangunkan Reya yang tidak membuka matanya dengan menepuk-nepuk pipi Reya.
"Ada apa Sean?" tanya Anggika dan mereka semua shock melihat Reya.
"Ya ampun kak Reya," Citra langsung panik dan langsung menghampiri Reya, begitu juga dengan semua orang.
"Kak Reya kenapa kak?" tanya Citra.
"Kakak juga tidak tau," jawab Sean panik.
"Ayo kita bawa kerumah sakit," sahut Reval.
"Iya benar," sahut Argantara.
Sean mengangguk dan langsung menggendong Reya dan membawanya dari tempat itu menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung