Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 113. Pertarungan Tiga Sisi


__ADS_3

Setelah segala urusan di Mansion Penguasa Kota selesai, Gou Long berniat untuk segera pergi ke lahan yang baru saja dia beli, “Terima kasih untuk bantuan saudara Yu hari ini! Saudara Yu tidak perlu ikut kami ke Gunung Teratai...” dia mendekati Yu Jiang dan berbisik, “Sudah saatnya Saudara Yu kembali dan berjumpa dengan pujaan hati.” Lirih Gou Long disertai dengan senyuman menggoda.


“Kalau begitu! Sampai jumpa lagi Saudara Gou! Sampai jumpa lagi Saudari Feng!” ucap Yu Jiang, menyembunyikan perasaan malunya.


“Sampai jumpa Saudara Yu!” Feng Yueyin menjawab singkat sambil menangkupkan tangan di depan dada.


Gou Long dan Feng Yueyin yang melihat bayangan Yu Jiang sudah menghilang di kejauhan, segera melesat ke arah utara Kota Tian Yu, Gunung Teratai yang dibeli Gou Long terletak di pinggiran Kota dengan jarak tempuh sehari perjalanan dengan berkuda, akan tetapi bagi kultivator yang terbiasa menggunakan ilmu meringankan tubuh, jarak perjalanan ini hanya membutuhkan setengah hari perjalanan.


Dalam perjalanan ini Gou Long tidak menggunakan Teknik Memindah Jasad, dia hanya berlari biasa dengan sedikit menggunakan tenaga dalam, mengingat ilmu meringankan tubuh yang digunakan Feng Yueyin hanya ilmu tingkat dasar.


Mengikuti Gou Long tanpa berbicara, seperti ada jarak tertentu di antara mereka, “Kenapa Gege membeli lahan lagi? Bukankah kita bisa menetap di Asosiasi Alkemis?” Feng Yueyin berbasa-basi memecah keheningan sekaligus menyuarakan rasa penasarannya yang sudah ditahan sejak di Mansion Kota.


“Ha ha ha... Kenapa baru bertanya sekarang? Gege tahu kamu sudah sangat penasaran, tapi kamu selalu hanya patuh saja pada pengaturan Gege!”


“Gege sengaja tidak menjelaskan apa pun, Gege ingin melihat kamu menyampaikan pendapatmu juga, Ingat! Jangan merasa rendah diri, kamu manusia yang bebas!” tegur Gou Long dengan lembut.


“Baik Gege! Jadi kenapa Gege membeli lahan baru?” Feng Yueying mengulang bertanya dengan berani.


“Kita memang tidak pernah menetap, namun Daratan Tengah ini merupakan pusat dari Benua Hijau, setidaknya kita perlu lahan sendiri untuk pulang suatu saat nanti, lagi pula Gege merasa tidak cocok untuk bergabung dengan Sekte atau Asosiasi apa pun, bukankah lebih nyaman seperti ini menjadi pesilat lepas?” Gou Long mulai menjelaskan.


“Untuk sumber daya dan pengembangan ilmu silat, kita bisa sering berkunjung ke pelelangan kelak, banyak orang yang menjual kitab-kitab ilmu silat di pelelangan...” dia berhenti sejenak dan menghela nafas.


“Saat ini kita bisa membeli lahan ini dengan harga murah, dan hanya perlu berebut dengan 4 orang lainnya, suatu saat nanti bisa jadi lahan itu akan menjadi lebih mahal serta lebih banyak orang yang menginginkannya, dengan posisi dan bentuk unik Gunung tersebut,”

__ADS_1


“Dan yang paling penting, hidup di dunia kultivator tidak bisa menggantungkan diri pada Sekte, Guild atau orang-orang tertentu, kita harus membuat pijakan sendiri dan membuat nama besar sendiri, kita akan memulainya dari Gunung Teratai ini.” Gou Long mengakhiri penjelasannya.


“Jadi... Maksud Gege, Gege berniat mendirikan Paviliun dan mengelolanya sendiri! Begitukah?” Feng Yueyin menyimpulkan dan memastikannya lagi.


“Hemmm... Boleh dikatakan begitu...” jawab Gou Long samar.


“Ayo percepat gerakanmu! Gunung Teratai sudah terlihat!”


Di sisa perjalanan ini Gou Long mengajarkan ilmu meringankan tubuh Walet Menunggang Angin pada Feng Yueyin, dia juga mempraktikkan dan berulang kali memberi contoh agar Feng Yueyin bisa menyerap pelajaran itu dengan mudah.


Di kaki Gunung Teratai saat itu sudah ada dua orang lain yang terlihat sedang mengadu mulut, Gou Long dan Feng Yueyin yang baru sampai langsung berdiri di sana, sehingga mereka membentuk seperti segitiga, dan saling berhadap-hadapan.


Dua orang yang sedang beradu mulut itu terdiam dengan kehadiran Gou Long, “Ha ha ha... Tak disangka, Penguasa Kota Tian Yu juga menjual lahan ini pada pemuda bau kencur macammu!” orang yang berdiri di hadapan kiri Gou Long berkata mencemooh sambil menunjuk Gou Long.


Orang ini terlihat sudah memasuki usia tua, raut wajah dan tampangnya terlihat tidak bersahabat, dengan kulit berwarna kehijauan. Gou Long segera mengetahui bahwa orang ini adalah seorang ahli racun.


“Anak Muda! Orang bijak akan tahu saatnya mundur, sayangi usia mudamu!... masa depanmu masih panjang, aku akan berbaik hati padamu, plakat kepemilikan lahan milikmu kau bisa menjual lagi padaku!” lanjut orang tersebut menasihati Gou long.


Penampilan orang ini sederhana dalam usia paruh bayanya, beberapa helai rambut yang memutih dibiarkan terurai. Di pinggangnya tergantung kendi arak kecil yang diikatkan ke tali pinggangnya.


“Ha ha ha... Setan Arak! Tidak mabuk pun kau berbicara seenak perutmu! Aku tidak peduli siapa pun itu, mau kawan lama, orang baru, atau pemuda bau kencur. Gunung ini akan menjadi tempat berdiri Sekte Racunku! Plakatmu dan pemuda itu sudah pasti menjadi milikku...” balas Racun Tua dengan sengit.


Gou Long dapat melihat kedua orang ini sama-sama berada di tingkat kultivasi Ranah Surgawi, oleh sebab itu mereka berdua memandang sebelah mata padanya.

__ADS_1


“Buat apa banyak berbicara! Dari awal kita membeli lahan ini juga sudah di jelaskan oleh Penguasa Kota, bahwa lahan ini harus diperebutkan. Masing-masing kita sudah tahu risikonya... Ha ha ha! Kedua orang senior terlalu tinggi memandang diri sendiri, kalau memang berkemampuan silahkan merebutnya dariku!” ujar Gou Long menantang mereka berdua.


“Tidak perlu sungkan pada orang yang lebih muda... Karena aku tidak akan sungkan pada kalian berdua!” kemudian dia berbisik pada Feng Yueyin serta menyerahkan cincin budak tempat Eira beristirahat, “Yueyin Siomei mundurlah sebentar! Bawa Eira bersamamu!”


“Pedang Peri Ilusi!”


Setelah berkata seperti itu, Gou Long langsung berteriak memanggil pedang. Dia sadar pedang ini dapat menetralkan racun dari lawan yang jelas-jelas berkultivasi racun.


“Jiwa muda selalu meluap-luap! Ha ha ha.. Tampaknya pertarungan memang tidak dapat dielakkan!” ujar Setan Arak bijak.


“Lihat serangan!” teriak Gou Long memperingatkan.


Gou Long dengan Pedang Peri Ilusi di tangan bergerak menyerang Racun Tua dalam jurus Pedang Petir Membelah Langit, hawa pedang dan tenaga dalam elemen petir serta suara mencicit keras segera menyertai jurus serangan Gou Long.


Dia dengan sengaja menyerang orang yang disapa Racun Tua ini terlebih dahulu, merujuk pada pengalaman bertarungnya terdahulu, musuh yang menggunakan racun lebih susah dihadapi dibandingkan musuh dengan jenis kultivasi biasa.


Setan Arak yang melihat arah serangan Gou Long pada Racun Tua, tidak tinggal diam, dia mengeluarkan pedang dan juga ikut menyerang si Racun Tua. Namun begitu, dengan licik orang ini juga mencuri-curi kesempatan untuk menyerang Gou Long.


“He he he... Bagus! Bagus! Sangat Bagus! Kalian berdua bergabung menyerangku, ini tidak akan mudah!” ejek si Racun Tua, dia juga sudah mengeluarkan pedangnya yang berwarna hijau pekat.


Dengan pedang tersebut dia menangkis dan membalas serangan dua orang lawannya, “He he he... Bocah! Sebaiknya kau berhati-hati.. Setan Arak sangat licik! Dia hanya memperlihatkan sisi bijaknya padamu!” Sambil bertarung Racun Tua mengejek dan memperingatkan Gou Long.


Gou Long bukan tidak menyadari, dia sadar hawa maut yang dibawa Setan Arak lebih menekannya daripada menekan Racun Tua, walaupun serangan-serangannya lebih difokuskan pada si Racun Tua.

__ADS_1


Pertarungan sengit tiga sisi pun pecah di kaki Gunung tersebut, mereka saling balas menyerang dan bertahan, baik Setan Arak maupun Racun Tua segera menyadari, Gou Long bukanlah lawan yang mudah bagi mereka. Terlepas usianya yang muda atau tingkat kultivasi yang masih di Ranah Langit tahap menengah.


Beruntungnya dalam perebutan Gunung ini, dua orang pemilik plakat lainnya belum datang dan melihat Gunung yang telah mereka beli.


__ADS_2