Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 296. Pernikahan Akbar


__ADS_3

Kemudian, suara keras pemandu resepsi acara pernikahan terdengar mengalun merdu berirama yang teratur. “Kepada ketiga mempelai, diminta untuk melakukan ikrar suci lalu melakukan sumpah pada Langit dan Bumi.”


Begitu aba-aba itu selesai, Gou Long, Hua Mei, dan Ding Jia Li, bangkit berjalan perlahan, mantap, anggun serta berwibawa ke depan meja altar. Di belakang ketiganya, beberapa perempuan pengiring mengikuti, mereka adalah keluarga dekat ketiganya.


Saat di depan altar, para pengiring tersebut berdiri rapi di dua sisi altar, sedangkan Gou Long, Hua Mei dan Ding Jia Li bersimpuh di atas lutut. Para pengiring memberikan kepada ketiganya hio sembahyang.


Dengan hio ditangan, Gou Long, Hua Mei dan Ding Jia Li mengucapkan ikrar suci serta bersumpah pada Langit dan Bumi. Proses ini berlangsung khidmat. Kemudian dilanjutkan dengan pertukaran cincin, serta pertukaran cawan arak di antara ketiga.


Setelah proses ini berakhir, teriakan keras menggetarkan Gunung Teratai terdengar. “Selamat menempuh hidup baru Master Paviliun! Bahagia sampai hari tua, langgeng sepanjang masa …” Ini adalah para murid Gunung Teratai yang serentak menggaungkan kalimat harapan-harapan tersebut.


Itu jelas mendatang aura kuat tersendiri, sehingga berkesan garang, kuat dan perkasa. Tidak hanya menggetarkan Gunung Teratai, bahkan itu menggetarkan hati setiap tamu hadirin, serta mendatang rasa ciut, kecil akan keberadaan diri sendiri, jika dibandingkan dengan Master Paviliun Gunung Teratai.


Teriakan-teriakan yang sama kembali terdengar beberapa kali, bahkan tanpa sadar para hadirin dan tamu undangan juga ikut meneriakkan ucapan pujian serta harapan bersama-sama dengan para murid Paviliun Gunung Teratai.


Tekanan aura Puncak Ranah Surgawi dipancarkan, itu adalah milik si pemandu acara resepsi, dia mengeluarkan aura tersebut guna menekan suara puja-puji dari para hadirin. 


Bersamaan dengan tekanan itu, suara si pemandu acara terdengar. “Selanjutnya, ketiga mempelai telah resmi terikat sebagai suami istri, di bawah ikrar suci serta sumpah pada Langit dan Bumi.”


“Ketiga mempelai diperbolehkan kembali ke tempat masing-masing. Tamu undangan dan segenap kerabat serta kenalan dipersilahkan untuk menikmati hidangan penutup yang telah disediakan.” Pemandu acara, secara samar menyatakan undur diri saat memancarkan ucapan tadi.


Begitu ucapan itu selesai, bagian ketiga dari pesta ini juga telah dimulai.


Yang menikmati hidangan, sibuk dengan hidangannya, sedangkan para kerabat terdekat satu persatu naik ke atas platform utama, memberikan hadiah dan ucapan selamat kepada ketiga mempelai.


Para hadirin yang tidak terlalu mengenali Hua Mei dan Ding Jia Li jelas sangat penasaran dengan karakteristik wajah serta kecantikan kedua wanita itu, namun itu jelas tidak mungkin terjadi, merupakan sebentuk penghinaan jika hadirin melihat wajah mempelai wanita di hari pernikahannya.

__ADS_1


Pesta terus berlanjut, orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada Gou Long dan kedua istrinya sudah berkurang banyak, bahkan ini hanya tinggal menunggu beberapa saat saja, sebelum hal tersebut benar-benar akan berakhir.


Hingga akhirnya, saat-saat yang sejak tadi ditunggu Gou Long tiba juga, setelah merasa bebas dari segala ucapan selamat dan tata krama, Gou Long bangkit. Hal ini sedikit banyak meninggalkan sorot mata heran dari Ding Jia Li dan Hua Mei.


Gou Long melepaskan aura tekanan Domain Puncak Ranah Surgawi, yang menekan kebisingan yang terjadi di pesta itu. “Mohon perhatian!” Pancaran suara dengan menggunakan puncak tenaga dalam diperdengarkan Gou Long.


Dalam sekejap saja, suasana pesta menjadi sunyi, ribuan pasang mata menatap Gou Long, semua orang jelas ingin mendengar apa kelanjutan dari ucapan si pengantin pria itu.


“Segenap murid Paviliun Gunung Teratai! Sebelum Master ini berkata-kata lebih lanjut, Master ini ingin bertanya dua hal pada kalian semua.” Gou Long menatap tajam setiap kepala di bawah platform utama, tidak terkecuali hadirin dan tamu undangan. Tatapan yang kembali membuat semua orang terasa menciut. “Betapa agungnya Master Paviliun Gunung Teratai,” batin semua orang.


“Apa kalian bersedia menjawab dengan jujur?” 


“Kami patuh! Kami bersedia, kami rela mengorbankan darah dan nyawa untuk Master Paviliun.” Suara garang, dan kuat, tak kalah keras dengan pancaran tenaga dalam Puncak Ranah Surgawi.


Suasana menjadi hening, semua orang menantikan apa yang ingin ditanyakan Master Paviliun. 


Karena keheningan itu, kewibawaan Gou Long dalam diam, semakin kentara, tebal dan kental. Para gadis yang hadir di resepsi pernikahan itu bahkan rela menjadi istri ketiga, keempat dan seterusnya dari si pemuda setelah melihat betapa gagah dan agungnya pembawaan pria itu. 


Kecemburuan pada Hua Mei dan Ding Jia Li tiba-tiba saja meledak dalam hati setiap gadis.


Cara Gou Long menggiring hati hadirin ini sangatlah luar biasa. Bagaimana tidak!? Hanya bermodalkan sedikit keheningan karena ucapan yang sengaja ditahan, kewibawaan yang terpancar dari sosoknya meningkat pesat.


Ketenangan itu pecah ketika suara Gou Long terdengar bertanya, “Bagaimana kalian menilai terhadap Master ini?”


“Master Paviliun adalah panutan kami, Master Paviliun adalah Master kami. Tidak ada yang lebih tinggi bagi kami kecuali Master Paviliun!” keras, bergema, yakin, mantap dan tak tergoyahkan.

__ADS_1


Itu adalah bentuk kepatuhan yang mutlak diperlihatkan oleh murid-murid Paviliun Gunung Teratai. Tidak ada yang mengajarkan mereka, akan tetapi, jawaban mereka serentak dan sama, bukankah ini kepatuhan yang muncul dari hati terdalam?


Para hadirin dan tamu undangan menjadi sangat kagum. “Bagaimana cara pemuda itu mengajarkan murid-murid? Kenapa bisa muncul kepatuhan yang begitu kuat.”


Andai mereka tahu, Gou Long hanya baru beberapa bulan saja melatih para murid, bahkan boleh dikatakan ia gagal dalam melatih murid. Para hadirin itu pasti akan mati berkali-kali jika tahu akan fakta ini, atau hal yang paling ringan mereka akan muntah darah karena jantung yang terasa seperti meledak.


Di atas platform utama, Gou Long terlihat melemparkan senyuman menawan karena jawaban yang diberikan para murid, kemudian raut wajahnya terlihat serius. “Bagaimana kalian menanggapi setiap perintahku?”


Raut lega terlihat di wajah setiap murid, pertanyaan kedua dari Master Paviliun, dengan penuh keyakinan, mereka menjawab bersama-sama. “Perintah Master Paviliun adalah mutlak, kami tidak akan membantah, bahkan walau harus mengorbankan nyawa.”


“Bersumpahlah!” perintah Gou Long, dia tidak ingin ada duri dalam daging di kemudian hari.


Segenap murid Paviliun Gunung Teratai mengangkat tangan dengan jari-jari yang merapat menunjuk langit, serta ibu jari yang sedikit ditengkukkan. “Kami bersumpah, demi leluhur, Langit dan Bumi akan mengutuk kami, kematian dalam lumpur kehinaan. Kultivasi yang tidak akan mengalami perkembangan, jika kami tidak patuh pada perintah Master Paviliun.”


Ini benar-benar sumpah yang sangat berat telah diucapkan oleh murid Paviliun Gunung Teratai.


Tamu hadirin, hanya bisa menggelengkan kepala, sebagian besar dari mereka kagum, sebagian kecil lainnya, tetap saja ada yang menyayangkan sumpah berat itu.


Saat sumpah berat itu keluar, sembilan puluh persen dari niat Gou Long sudah tercapai, dia hanya perlu terus melanjutkan pesta pernikahan ini, dan mengumumkan ketetapan hati, esok hari.


“Baik sekali …” berpikir sejenak, Gou Long berkata, “Aku perintahkan, seluruh murid Paviliun Gunung Teratai untuk berkumpul kembali di sini besok pagi … untuk saat ini, semua orang lanjut pesta! Tidak ada yang boleh pulang sebelum mabuk berat.” 


Gou Long menuangkan arak ke dalam cangkir. “Ini adalah penghormatan ku pada semua hadirin.” Ia meneguk habis arak yang ada di dalam cangkir.


Satu persatu para tamu, melakukan hal yang sama membalas penghormatan si pengantin pria.

__ADS_1


__ADS_2