Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 139. Salah Paham


__ADS_3

Sedikit penjelasan tentang Ras Peri, mereka adalah makhluk yang hanya jasadnya saja mati, sedangkan jiwanya akan selalu hidup, dan bagi yang jasad mati setelah ribuan tahun jasad itu dapat terlahir kembali melalui Pohon Peri Suci yang ada di Hutan Keabadian Peri.


Sedangkan peri seperti Hauri, dia memang belum mati, jasadnya tetap utuh, dikubur oleh ayahnya sendiri di bawah pohon tersebut.


Ketika jiwa Hauri dibawa mendekati pohon itu nantinya, jasad Hauri akan muncul sendiri di dalam kelopak bunga yang tumbuh dari pohon tersebut. Kemudian hanya perlu mengembalikan jiwanya saja.


***


Matahari pagi sudah mulai menerangi cakrawala dari Tanah Suci Para Pendekar, Gou Long yang sudah membuka kedua matanya langsung bergerak menurut arah yang sudah dihafalnya dengan baik berdasarkan peta Hauri.


Perut Gou Long masih terasa kenyang, sehingga dia tidak merasa butuh untuk mengisinya kembali. Arah timur yang dituju Gou Long juga melintasi sebuah sungai kecil yang sangat cocok digunakan untuk sedikit membersihkan diri.


Tak butuh waktu lama, setelah mengembangkan Teknik Memindah Jasad serta melesat cepat, sungai itu segera terlihat, tanpa pikir panjang Gou Long segera menceburkan diri ke dalam sungai.


“Byuuuuuuurr!” suara tubuh Gou Long yang menyemplung ke dalam sungai.


“Dasar cabul! Mampuslah!” geraman keras disertai serangan bayangan telapak berwarna kebiruan mengarah tepat pada Gou Long.


Tanpa sepengetahuan Gou Long, di dalam sungai tempat dia menceburkan diri tadi sudah terlebih dahulu ada seorang gadis lain yang sedang mandi.


Mendapatkan dampratan seperti itu, Gou Long merasa bersalah, dia mengelak dan berenang menjauh, “Maaf Nona, ini hanya kesalah...” kata-katanya terhentikan.


Gou Long terpesona dengan kecantikan dari gadis itu, rambut hitam yang tergerai indah, kulit yang seputih salju, disertai butir-butir air yang belum mengering bak mutiara terkena sinar mentari pagi. Dari wajah sampai bahu gadis itu terlihat jelas karena mengapung di dalam sungai.


“Cabul hina! Kau masih berani melihat?” kembali gadis itu mengeram.


Gagal dengan pukulan telapak, kali ini gadis itu menggunakan air sebagai media penyerangan.

__ADS_1


Dia menyentil bulir-bulir air sungai ke arah Gou Long seperti orang yang menyerang dengan senjata rahasia.


“Syuuuuut! Syuuuuuut!” butiran-butiran air tersebut dengan pesat melesat ke arah Gou Long.


Tersadar karena makian itu, Gou Long segera melesat dan kabur menjauhi sungai, serangan air itu dibiarkan saja mengenainya, apalagi dia telah melapisi tubuh dengan tenaga dalam.


“Maaf Nona! Ini hanya kesalahpahaman, anggaplah kita tidak pernah saling bertemu satu sama lainnya!” teriak Gou Long, dia sengaja terbang dan menjauh dari sungai itu.


Setelah bayangan Gou Long menghilang di kejauhan, gadis tersebut juga bergegas menyelesaikan mandi, “Awas kau! Kalau berjumpa sekali lagi denganku, kepalamu akan kutebas, dasar cabul!” lirih gadis itu, dia terus menggerutu sambil memakai kembali pakaian, lengkap dengan cadarnya.


Kemudian melesat ke arah sisi sungai yang lain, di sana sudah didirikan kemah-kemah kecil yang belum sempat dibongkar sehabis bermalam. Mereka adalah murid-murid perempuan dari Sekte Teratai Biru.


“Bereskan barang-barang! Kita akan berangkat ke arah timur, jangan sampai keduluan orang lain, guru sangat membutuhkan benda itu.” Perintah gadis tersebut pada teman-temannya yang lain.


Gadis ini bernama Ding Jia Li, dia merupakan murid pertama sekaligus pemimpin dari murid-murid Sekte Teratai Biru.


“Jia Li! Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat kesal?” tanya salah satu kawannya.


Gadis itu mencoba menutupi apa yang baru saja terjadi di sungai pada Na Hong-Hong, Ding Jia Li akan sangat malu jika hal ini diketahui oleh rekan-rekannya yang lain.


Mendapat perintah tegas seperti itu kawan-kawannya yang lain tidak berani membantah, mereka segera membereskan barang-barang dan melesat terbang ke arah timur.


Sementara itu Gou Long yang kabur dari sungai dan melesat ke arah timur, bergerak sedikit melenceng dari jalan utama yang awalnya akan dia lalui.


Hal ini tidak lain karena ketika dia sedang melesat, dia di hadang oleh 5 orang lain yang saling mengikat janji untuk menghadang, tujuan mereka sama, ‘pil yang diberkahi langit dan bumi’.


Entah bagaimana mereka membuat janji, padahal mereka tidak tahu berapa jumlah pil yang dimiliki Gou Long.

__ADS_1


“Saudara Muda! Tolong hentikan langkahmu! Ada yang ingin kami bicarakan.”


Teriakan itu terdengar tepat saat Gou Long sedang melesat, sedangkan di depannya telah berdiri 5 orang tersebut.


Gou Long sudah dapat menebak apa yang diinginkan orang-orang ini, dalam dua hari ini hampir semua tatapan mata yang ditujukan padanya seperti tatapan mata orang-orang ini.


“Apa yang ingin para senior sampaikan? Katakan saja.” Jawab Gou Long santai, tidak tampak kekhawatiran dari raut wajahnya.


Kelima orang itu saling tatap untuk sejenak, kemudian senyuman mengembang dari wajah mereka, “Ini berkaitan dengan Pil yang saudara muda racik saat di Kota Tian Yu, bolehkan kami melihatnya?” Salah seorang di antara mereka mencoba meminta dengan mudah.


Dalam pikiran orang ini, Gou Long adalah anak muda polos yang baru terjun ke dunia persilatan dan mudah untuk dibodohi atau ditakut-takuti.


“Ooo!... Kalian ingin melihatnya atau ingin memilikinya?” jawab Gou Long sambil mengulum senyum.


“Ya! Kalau saudara muda tidak mau memberikan terpaksa kami akan merebutnya... Hukum dunia ini begitulah adanya yang kuat akan selalu memaksa yang lemah,”


“Salahkan saudara muda sendiri kalau kami kesalahan tangan dan membuat saudara muda mati di sini... Ha ha ha!” kawannya yang lain menimpali dan langsung mengancam secara halus.


Gou Long menikmati saja permainan ini, bahkan dia ikut menimpali dengan ancaman halus ala orang-orang ini, “Sudah terlalu banyak orang yang berkata seperti itu padaku...” dia sengaja menghentikan kata-katanya.


Kemudian dia membuat gerakan tangan yang merendahkan lawan, “Tapi tidak ada satu pun dari mereka bisa hidup lebih lama dari hidupku saat ini.” Lanjut Gou Long, dengan wajah polos.


Orang-orang ini mana ada yang percaya, melihat kelakuan Gou Long seperti bocah yang tidak mengenal tingginya langit, tawa mereka tambah pecah.


“Bocah! Siapa yang akan percaya bualanmu? 5 orang Puncak Ranah Langit dapat kau kalahkan! Ha ha ha...”


“Sedangkan kau hanya berada di Ranah Langit tahap menengah, Pil itu serahkan saja pada kami, kau cukup meminum pil penyembuh sakit jiwamu itu bocah.” Dua orang lainnya juga ikut menyahuti.

__ADS_1


“Ha ha ha!” Gou Long juga ikut tertawa, namun suara tawanya menekan suara tawa kelima orang itu.


“Senior-senior sekalian boleh saja tidak percaya saat ini, tapi ketika para senior sudah berjumpa dengan Raja Neraka, para senior akan menyadari kebenaran dari ucapanku.” Jawab Gou Long, tidak terlihat raut kejam di wajah Gou Long hanya kepolosan yang diperlihatkannya yang membuat kelima orang tersebut tambah senang.


__ADS_2