Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 46. Cambuk Vs Pedang


__ADS_3

“Kau bisa mencobanya Tuan Tikus, aku sangat yakin dengan kemampuan ku sendiri, lagi pula kucing peliharaan mu itu akan lebih menuruti perkataan ku dari pada dirimu, apakah kau mau percaya? Aku akan membuktikannya padamu ... ha ha ha ....”


Tidak kalah sengit, Gou Long juga membalas setiap ejekan yang diterima dari si Muka Tikus, dia juga tidak mau mengalah dalam mengeluarkan suara tawa yang menggema.


Gou Long berbisik pada Eira, untuk mengeluarkan aura agar kumpulan serigala itu jinak dan takut padanya. “Kalian diam di tempat!” ucap Gou Long dengan nada menekan.


Kumpulan serigala di belakang Gou Long, lantas diam dan dengan patuh, duduk di atas tanah seperti anjing yang takut dipukul dengan tongkat, sorot mata mereka menunjukan sinar ketakutan, suara geraman mereka juga menghilang entah kemana.


“A-apa yang kau lakukan pada mereka, keparat?” dengan mengeram keras, si Wajah Tikus bertanya.


“Baiklah, tidak penting apa yang telah kau perbuat pada sekumpulan serigala itu, kalau aku membunuhmu, mereka juga akan terbebas dari pengaruh mu ... ha ha ha ...” Menenangkan diri, si Muka Tikus kembali tertawa keras, lantas mengeluarkan senjata yang seperti cambuk panjang, si Muka Tikus langsung menyerang. “Lihat senjata!”


Dia bergerak dengan menggunakan senjata cambuk dengan lincah dan rapi, ujung cambuk mengeluarkan suara meletup-letup seperti ledakan, disertai dengan gerakan yang lincah seperti ular yang siap mematuk mangsa kapan saja.


Gou Long, juga segera membalas dengan Tiga Belas Pukulan Penghancur Tulang, jurus yang baru saja dipelajari, langkah-langkah kaki Gou Long bergerak lincah dalam gerak Jurus Walet Menunggang Angin, perpaduan kedua jurus ini segera saja dapat mengimbangi kelincahan cambuk lawan.


Suara cicit dari tenaga dalam elemen petir Gou Long, mengimbangi suara letupan-letupan ujung cambuk lawan. Walau bagaimanapun, cambuk lebih panjang dari sepasang lengan, gerak cambuk lebih lentur dari gerakan kaki, setelah bergerak dan berhasil mengimbangi lawan lebih dari dua puluh jurus, saat ini Gou Long mulai terdesak.


Lawan yang memakai senjata semakin lincah dan gesit, baik gerakan menyerang atau gerakan membelit. Terus-menerus terdesak, Gou Long memforsir tenaga sebanyak delapan puluh persen, sedikit mengambil jarak lalu dia melepaskan Pukulan Telapak Arhat, sambil berteriak, “Terima pukulan ini!”


“Whoosshh!”


Bayangan telapak berwarna kebiruan tercetak di udara, menekan segala sesuatu di tempat itu. Dengan gesit si muka tikus menerima Pukulan Telapak Arhat, Gou Long. Cara dia menerima sangat unik, dia memutar-mutar cambuk kencang, lalu efek dari putaran cambuk itu menelan Pukulan Telapak Arhat yang dilepaskan, Gou Long.

__ADS_1


Melihat pukulan yang dilepaskan tadi malah menghilang ditelan putaran cambuk, Gou Long hanya bisa menjulurkan lidah takjub.


“Ha ha ha ...” si Muka Tikus tertawa senang, tidak lupa mengejek Gou Long. “Apa kau sudah siap mati bocah?”


“Jangan senang dulu! Aku belum serius, tadi hanyalah pemanasan dengan jurus pukulan yang baru aku pelajari, ha ha ha ... akan ku bunuh kau dengan jurus yang kau lelang!” Tidak mau kalah, Gou Long juga balas meledek, dan dia berteriak, “Lihat pedang!”


Ketika dia berteriak, tidak tampak ada pedang di tangan Gou Long, namun dia bergerak dengan Ilmu Pedang Angin dan Petir, jurus pertama. “Jurus Pedang Petir Membelah Langit.”


Saat meleset ke arah lawan, dari mulut Gou Long terdengar ucapan lirih. “Pedang Peri Ilusi, Keluarlah!”


Sebatang pedang bersinar biru, tiba-tiba muncul di dalam genggaman Gou Long. Hawa yang sangat dingin segera terasa di tempat itu. Jurus Pedang Petir Membelah Langit, segera dimainkan Gou Long dengan menggunakan Pedang Peri Ilusi.


Jurus ini, mengutamakan kecepatan gerak dan mengunakan tebasan dari segala arah secara acak, bagaikan sambaran petir yang tidak dapat diprediksi. Disertai bunyi cicit tenaga dalam yang menyelimuti badan pedang, warna pedang yang kebiruan menjadi bertambah terang.


Cambuk itu termasuk Artefak Kelas Bumi, harga Artefak Kelas Bumi, bisa mencapai ratusan keping emas. Dan saat ini, Artefak hasil tabungan emasnya bertahun-tahun dirusak Gou Long dalam sepuluh gerakan.


Menggigit gigi sampai bergelutuk, si muka tikus berkata, “Bocah! Kau akan aku lenyapkan sampai tak bersisa.”


Kembali dia memainkan cambuk yang sudah mulai hangus, gerakan dan tenaga dalamnya dipadatkan sampai penuh. Jurus Cambuk, meletup-letup lebih pesat.


Tak lupa pula, tangan kiri mengirim pukulan-pukulan tangan kosong yang ganas, ke arah Gou Long.


Melihat musuh kalap, Gou Long malah tertawa lebih keras. Sudah jadi pengetahuan umum dalam setiap pertarungan antara pesilat tidak boleh terjebak dalam emosi pribadi. Ketika pesilat terjebak dalam emosi maka dia telah kalah.

__ADS_1


Gou Long bertarung dengan tenang dan berhasil menekan lawan dengan kecepatan pedang yang berhawa dingin. Kecepatan gerak Gou Long, sungguh menunjukan kelas, di mana cahaya biru berkedip di situ muncul Gou Long.


Gou Long seperti berteleportasi, dalam sekali kedipan mata, sudah berpindah tempat. Dengan mengunakan pedang, Gou Long seperti harimau yang tumbuh sayap.


Mereka terus bertarung dalam waktu yang lama, seratus jurus sudah terlewatkan. Nafas dan tenaga dalam mulai terkuras, masing-masing peluh mengalir membasahi baju. Goresan pedang sudah memenuhi hampir setiap bagian tubuh si Muka Tikus.


Tidak jauh berbeda dengan si Muka Tikus, pakaian Gou Long juga sudah mulai sobek-sobek. Namun, tidak ada luka di tubuhnya yang membuat si Muka Tikus semakin geram.


“Ha ha ha, apa kau kelelahan Muka Tikus? Baiklah, aku akan mengakhiri dengan jurus terakhir dari Ilmu Pedang Angin dan Petir.” Gou Long mengejek si Muka Tikus, yang membuat dia semakin naik pitam.


“Karena aku adalah cacing di dalam perutmu, maka aku tahu hatimu berkata. Keparat! Kenapa aku tergiur kitab sampai harus menguntit si Bocah Edan ini juga.” Gou Long terus mengejek si Muka Tikus.


“Ha ha ha ...” Lagi-lagi, Gou Long memperdengarkan suara ketawa yang menggetarkan tempat itu. “Saatnya kau mati, Muka Tikus.”


Gou Long melepaskan Pukulan Telapak Arhat dengan tangan kiri, tangan kanannya memainkan Jurus Pedang Naga Petir, ini adalah jurus ketiga dari, Ilmu Pedang Angin dan Petir.


Telapak Arhat yang dilepaskan Gou Long, berguna sebagai pengalih penglihatan. Si Muka Tikus yang sibuk membuyarkan Telapak Arhat tidak sadar ketika seekor Naga mini dari pemadatan energi melesat dengan cepat masuk ke dalam dadanya dan dengan cepat menghanguskan jantung.


Si Muka Tikus tewas, dengan tanpa mengeluarkan darah, seluruh tubuh pucat membiru.


Gou Long menghela nafas, dia mengambil cincin penyimpanan dari mayat si Muka Tikus. Tidak lupa pula, menggali lubang dan melemparkan mayat itu ke dalam lubang tanah agar tidak menjadi santapan serigala Gunung.


Setelah membereskan tempat itu, Gou Long segera melesat cepat menuju Sekte Naga Langit.

__ADS_1


__ADS_2