Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 169. Dendam Orang Sakti


__ADS_3

Pembangunan Gunung Teratai sudah mencapai lima puluh persen dari rancangan Hauri. Beberapa ruang utama telah siap dan sudah bisa dipergunakan, seperti halaman berlatih, ruang kultivasi tertutup, dan ruang penyimpanan harta dan Artefak.


Kehadiran Gou Long pagi itu di Gunung Teratai disambut dengan suara teriakan keras menggema ke seluruh Gunung, salah seorang pekerja rekonstruksi muda yang dilatih tenaga dalam oleh Gou Long lah  teriakan itu digaungkan.


“Master Paviliun telah kembali!”


Tenaga dalam yang telah meningkat dapat terasa dalam teriakan yang keras dan menggema tersebut.


Eira, Feng Yueying dan Leng Kun terlihat menyongsong kedatangan Gou Long dari kejauhan, “Selamat! Hampir dua bulan kau menghilang, pulang-pulang sudah melangkah ke Ranah Surgawi, pantas saja aku merasa terjadi peningkatan kultivasi dan kekuatan dari sehari yang lalu,” Eira yang berada dalam pelukan Feng Yueyin langsung berkata-kata begitu tiba di depan Gou Long.


Dia juga beranjak turun dari pelukan Feng Yueyin dan hinggap ke atas bahu Gou long, “Sekarang aku tidak merasa perlu masuk ke dalam kandang lagi, dengan ranah kultivasi yang meningkat, terjun ke pertarungan bersamamu juga bukan masalah.” Lanjutnya.


“Terserah kau saja.” Jawab Gou Long, singkat.


“Selamat! Master Paviliun telah berhasil melangkah ke Ranah Surgawi.” Leng Kun menimpali, ekspresi terkejut tidak dapat disembunyikannya. Andai Eira tidak berkata tadi, dia pasti tidak akan tahu Gou Long telah berhasil menembus Ranah Surgawi.


Feng Yueyin Juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, “Ge...” dia ingin mengucapkan sesuatu, namun ucapan Gou Long memotong ucapannya, “Hal itu dapat kita bicarakan di lain waktu, ada hal lain yang lebih penting ingin kusampaikan.” Dia langsung bergerak melesat masuk ke dalam lubang Gunung yang berfungsi gerbang masuk Paviliun.


Feng Yueyin dan Leng Kun mengikuti gerakan Gou Long.


Gou Long sudah menunggu mereka berdua di ruang yang biasa dia gunakan untuk berkultivasi secara tertutup.


“Sekilas tadi kuperhatikan pembangunan Gunung Teratai sudah sempurna hampir setengahnya, tak perlu aku bertanya, sudah pasti tidak ada yang mencari masalah dengan kalian di sini,” ujar Gou Long membuka percakapan.


Gou Long mengeluarkan berbagai cincin jarahan selama ini, menjejerkannya di atas meja batu.


Dia menatap Feng Yueyin dan Leng Kun bergantian, “Isi dari cincin ini belum pernah Twako lihat sebelumnya, Artefak dan harta di dalamnya bisa kita simpan sebagai Artefak Paviliun,”


“Jikalau ada kitab-kitab ilmu silat, maka kalian bisa mempelajarinya, lalu menyimpannya kembali di ruang Perpustakaan Paviliun.”


“Nanti akan Sioumei atur dan kelompokan dengan rapi, Gege tak usah merepotkan diri lagi.” Jawab Feng Yueyin.


Gou Long mengangguk pelan, tangannya kembali digerakkan lalu berjajarlah 15 peti besar, dia sengaja menyisakan 5 peti lain dalam cincin semestanya.


Leng Kun bergerak dan membuka peti itu, cahaya kuning emas menerangi ruangan tersebut, Leng Kun membuka peti-peti lain sampai akhir ke 15 peti tersebut terbuka semuanya.

__ADS_1


“I-ini... Bagaimana Saudara Gou memperolehnya?” dia tergagap, kesusahan bernafas dan berkata-kata melihat emas yang sebanyak itu.


“...” Feng Yueyin tidak berkata-kata, mencoba menutupi keterkejutan dan perasaannya, namun sorot mata yang berbinar tidak bisa menutupi hal itu.


“Kalian tahu Tanah Suci Para Pendekar? Selama ini aku berpetualang di sana, dan inilah keuntungan yang kuperoleh, ini akan menjadi Harta dari Paviliun kita,” jawab Gou Long.


Dengan sedikit gerakan, dia mengeluarkan pecahan batu dan memperlihatkan batu itu pada Leng Kun, “Dan ini! Kuyakin Saudara Leng pasti mengetahuinya. Ha ha ha...” Lanjut Gou Long tertawa senang.


Tangan Leng Kun bergerak cepat mengambil pecahan batu yang ada di dalam kepalan tangan Gou Long, “Ini Batu Magnet Nadi Bumi!...” teriaknya, lalu mengangkat batu itu dan meneliti setiap sudutnya, “Batu ini jika dipadukan dengan Array tertentu, bisa meningkatkan kepadatan hawa murni dengan cepat, sayang sekali hanya sebongkah ini...”


“Tidak hanya sebongkah Saudara Leng!” Gou Long memotong ucapan Leng Kun, dia kemudian mengeluarkan pecahan-pecahan lain dari batu tersebut.


Leng Kun hampir pingsan sambil berdiri, lututnya goyah melihat Batu Magnet Nadi Bumi sebanyak itu, “Kalau jumlahnya sebanyak ini kemudian dipasangkan dengan Array, hawa murni yang sangat padat di Gunung Teratai akan muncul, bahkan bisa lebih banyak dari hawa murni yang terdapat di Tujuh Klan Besar dan Enam Sekte Utama...” Lirih Leng Kun, dia tak sanggup berkata-kata melihat banyaknya batu tersebut.


“Tepat!...” Gou Long terlihat berpikir sejenak, “Aku yakin mengatur Array seperti itu akan menjadi kegembiraan tersendiri bagi Saudara Leng. Namun, aku juga ingin Saudara Leng mengatur Array khusus yang dipadukan dengan batu ini guna mempercepat pertumbuhan Herbal. Kita juga harus memiliki Kebun Herbal sendiri di Gunung ini.” Gou Long mengakhiri perkataannya serta menyampaikan maksud hatinya.


“Pilihanku untuk bergabung dengan Saudara Gou tidak pernah salah, dengan ini rasanya dua puluh tahun ke depan Paviliun Gunung Teratai bisa berdiri di puncak dan mengalahkan semua Sekte di Daratan Tengah ini, apalagi Master Paviliun Gou sudah berhasil melangkah ke Ranah Surgawi pada usia yang masih sangat muda.”


Leng Kun mengacungkan jempol dan memuji Gou Long setinggi-tingginya.


Percakapan yang panjang lebar itu juga segera berakhir, setelah Gou Long menyerahkan semua harta berharga yang dia peroleh di Tanah Suci Para Pendekar dalam pengaturan Feng Yueyin dan Leng Kun. Gou Long juga memperkenalkan Siauw Xiezi pada mereka.


Dengan alasan ingin memantapkan fondasi kultivasi, kembali Gou Long menarik diri dan berkultivasi secara tertutup di ruang tersebut.


***


Sambil menunggu anggota klan yang masuk ke Tanah Suci Para Pendekar keluar, Patriak Klan Ouyang juga mengutus dua orang Tetua Klan untuk mengikuti Gou Long, keduanya adalah anggota khusus bagian intelijen dari Klan Ouyang. Dengan menggunakan Teknik Mata Elang mereka berhasil melacak Gou Long.


Teknik Mata Elang yaitu; Teknik khusus yang hanya dimiliki oleh salah satu keluarga cabang Klan Ouyang, dengan memanfaatkan elang atau burung-burung lain, kesadaran spiritual dipecah dan dimasukkan ke dalam burung peliharaan, lalu dengan menggunakan peliharaan tersebut mereka melacak target dari jarak sangat jauh.


Jarak yang mereka gunakan untuk teknik ini adalah satu mil. Sehingga Gou Long tidak bisa mendeteksi kedua orang yang mengikutinya tersebut.


Dengan Teknik tersebut, mereka melihat semua yang dilakukan Gou Long saat Gou Long pulang ke Gunung Teratai. Termasuk kematian dari tiga orang Tetua Sekte Phoenix Suci telah mereka perhatikan seluruhnya.


Setelah mengikuti Gou Long, mereka tahu Patriak Klan pasti saat ini sudah tidak ada di Lembah Gunung Berkabut, karena portal dari Tanah Suci Para Pendekar telah ditutup.

__ADS_1


Berpikir seperti itu, kedua orang ini memilih untuk kembali dan memberi laporan saat sudah di Klan nantinya.


Apalagi setelah melihat pertarungan yang menyebabkan kematian tiga Tetua Sekte Phoenix Suci, mencari jalan aman dan hanya dengan menjalankan tugas saja sudah lebih dari cukup bagi mereka.


***


Menunggu sampai saat terakhir, putranya tidak kunjung keluar, Patriak Klan Ouyang telah menyimpulkan putranya benar-benar telah mati di Tanah Suci Para Pendekar.


Dalam kesedihan yang mendalam, Ouyang Sikuan memilih pulang ke Klan serta menunggu laporan lengkap yang akan disampaikan oleh dua orang Tetua yang diutusnya.


Jarak tempuh Lembah Gunung Berkabut dengan Klan Ouyang yaitu empat hari perjalanan bagi seorang kultivator, selama perjalanan ini Ouyang Sikuan  terus berharap tetua yang diutusnya segera kembali dan bergabung dengan rombongan, tanpa harus menunggu sampai tiba di klan.


Tangannya meremas surat misterius yang diberikan oleh salah seorang anggota klan tempo hari, “Shilin ‘er! Kematianmu pasti akan kami balas... Kau tenanglah di alam sana!” gumam Ouyang Sikuan.


Namun, sampai akhirnya mereka tiba di Klan, tetua yang ditunggu tidak kunjung tiba. Baru di keesokan harinya kedua orang tetua yang dikirim tiba dan melaporkan semua yang mereka lihat.


Memperoleh informasi yang dibutuhkan, Patriak Klan Ouyang membuat rapat dadakan klan, dan berdasarkan keputusan hasil rapat; mereka akan membalas kematian Ouyang Shilin, tapi mereka tidak akan turun tangan sendiri.


Mereka akan menyewa para pembunuh bayaran.


***


Tak jauh berbeda dengan Patriak Klan Ouyang, Patriak Sekte Phoenix Suci juga melakukan hal yang sama, namun yang menjadi target mereka adalah orang-orang Sekte Pedang Suci.


Dia mengutus tiga orang tetua yang mengundang Gou Long itu dengan tujuan memperoleh informasi lengkap terhadap pil yang diberkahi langit dan bumi.


Dia tidak mau terjebak dengan informasi samar-samar, dan pilihan untuk kepastiannya dengan langsung mengundang si peracik pil itu sendiri.


Pil tersebut jelas sangat menarik minat Patriak Sekte Phoenix Suci, jika dibandingkan dengan hal-hal lainnya, terlebih lagi karena di antara enam Patriak Sekte Utama lain, dialah yang terlemah dan hanya baru melangkah ke Puncak Ranah Surgawi dalam tiga tahun ini.


Namun setelah menunggu seharian penuh, tiga Tetua yang dia utus tidak kunjung kembali, akhirnya dia mengutus seorang Tetua lain, untuk melacak tiga Tetua terdahulu.


Empat hari berlalu, setelah Patriak Muda dinyatakan mati di Tanah Suci Para Pendekar, kegemparan kembali terjadi di Sekte Phoenix Suci, Tetua yang diutus Patriak Bok kembali ke Sekte, dengan memangku tiga mayat tanpa kepala dan semua murid Sekte mengenali, pakaian yang dipakai tiga mayat tersebut adalah para Tetua Sekte.


Patriak Bok sangat murka melihat tiga jasad tanpa kepala dari Tetua Sektenya, “Bocah keparat! Diundang malah membunuh orang! Bawa bocah itu kemari, tak bisa bawa orangnya, bawa mayatnya saja!” teriak Bok Tong Wa, dalam murkanya.

__ADS_1


__ADS_2