Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Bab. 52. Rindu


__ADS_3

Anak-anak muda yang hadir di tempat itu juga ikut terkejut melihat adegan yang sangat aneh terjadi tepat di ujung hidung mereka.


Ini sangat aneh, para Penatua Sekte dan Patriark Sekte itu sendiri sudah seperti legenda bagi murid-murid Sekte Naga Langit. Mereka sudah sering berjumpa dengan Penatua Zhou, karena beliaulah yang mendidik mereka.


Sedangkan Patriark Song yang namanya seperti Legenda Naga, baru tadi pagi mereka tahu, setelah kehadiran beliau disitu dan kemudian bercakap-cakap dengan asyik bersama Penatua Zhou.


Namun, sekarang muncul seorang lagi, sosok dengan raut wajah sangat bijaksana.


Sosok yang sudah sangat banyak melewati generasi di atas mereka, dan bisa bertahan hidup ratusan tahun, entah pengalaman apa saja yang dilalui Kakek itu selama ratusan tahun, dialah Sang Patriark Generasi Ketiga, Song Bu kek.


Yang paling konyol di tempat tersebut, sudah tentu Gou Long. Dia telah menerima bimbingan kultivasi, berlatih teknik, dan berteman akrab dengan Kakek yang dikenal dengan sebutan Kakek Awan Putih itu.


Bahkan, kadang kala mereka bercanda dengan bebas selama dalam perjalanan ke bukit ini. Gou Long terbengong, dan hanyut dalam lamunan di tempatnya berdiri.


“Ha ha ha ... tidak kusangka, bocah sadis dan Song kecil sudah setua ini! Hemm ... siapa Patriark Sekte Naga Langit saat ini? Apa itu kau bocah sadis?” tanya Kakek Awan Putih pada Penatua Zhou.


“Patriark ketiga, Patriark keempat telah lama meninggal dunia, untuk mengisi posisi yang kosong, kami mengangkat cucu generasi muda anda sebagai Patriark baru ... Patriark Song inilah orangnya.” Penatua Zhou, menjelaskan seluk beluk sekte pada Kakek Awan Putih.


“Hah! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.!! Song kecil kau yang menjadi Patriark saat ini,” ucap Kakek Awan Putih, seraya menatap heran pada Patriark Song Ki.


“Sudahlah, terserah kalian bagaimana mengurus urusan sekte, aku sudah terlalu tua untuk campur tangan lagi ... ha ha ha. Bocah sadis! Muridmu yang ini, aku bawa saja, ya! Biar dia berlatih di bawah bimbinganku.” Kakek Awan Putih langsung memotong ucapan dan keheranannya sendiri, lalu mengutarakan keinginan hati untuk melatih Gou Long.


Mendengar alur pembicaraan dari Patriark Generasi Ketiga mereka, baik Penatua Zhou maupun Patriark Song berpikir, alasan dibalik berhasilnya Gou Long keluar dari Hutan Seribu Ilusi dalam waktu yang relatif singkat, pasti karena bantuan Patriark Generasi Ketiga.

__ADS_1


Mereka juga menerka-reka, sebab penyebab menghilangnya Patriark Generasi Ketiga dahulu, beliau mungkin terlalu bosan hidup di Dunia Persilatan.


Apalagi, saat itu beliau sudah tidak memiliki lawan yang setara dengannya.


Nama Bu Kek. “Tanpa Tanding.” Sangat cocok dengan beliau. Song Bu kek, atau Song yang tanpa tanding. Lantas kemudian beliau mengasingkan diri ke Hutan Seribu Ilusi, dengan harapan mendapatkan siluman sebagai lawan yang sebanding.


Apa yang diterka oleh kedua orang itu memang tidak dapat dikatakan salah sepenuhnya, karena hanya Patriark Generasi Ketiga yang bisa dengan nyaman keluar masuk ke Hutan Seribu Ilusi sesuka hati.


Namun, mereka tetap salah telah menganggap keberuntungan Gou Long yang kecil, anak muda itu benar-benar tidak mendapatkan bantuan dari Patriark Generasi Ketiga, hanya untuk keluar dari Hutan Seribu Ilusi.


Setelah berpikir sejenak Penatua Zhou kemudian berkata, “Kalau itu keinginan Patriark Generasi Ketiga, Junior rasa, bocah itu akan sangat cocok kalau Senior yang melatihnya.”


Sungguh lucu mendengar orang setua Penatua Zhou, membahasakan diri dengan Junior di hadapan Kakek Awan Putih.


Gou Long tersadar dari lamunan, karena perkataan Kakek Awan Putih yang ditujukan padanya. “Sebelumnya, bagaimana aku harus membahasakan diri denganmu, Kek. Apa tetap dengan Kakek Awan Putih, atau dengan Patriark Generasi Ketiga, atau Guru?”


Dari cara Gou Long bertanya, dia sudah menyatakan persetujuan untuk ikut berlatih di bawah bimbingan Kakek Awan Putih kelak.


“Ha ha ha, tidak perlu banyak adat, kau cukup menyapaku seperti dalam perjalanan kita sebelumnya,” jawab Kakek Awan Putih, singkat.


Begitulah kejadian di Bukit Air Mata Naga, setelah keterkejutan berganti dengan rasa senang dan saling berbagi cerita antara generasi yang berbeda.


Namun, kebahagiaan itu lebih besar dirasakan oleh seorang gadis belia yang sejak tadi hanya diam saja, memperhatikan kejadian demi kejadian sambil sesekali mengucek mata dan menghapus air sebening kristal yang terus-menerus mengalir pelan di kedua pipinya.

__ADS_1


Setelah sekian lama, akhirnya Gou Long menyadari kondisi dari gadis tersebut. Laki-laki jenis Gou Long ini, yaitu makhluk paling tidak peka sedunia. Ada gadis cantik yang sudah sejak tadi menangis haru untuk dia, ini orang malah baru sekarang sadar, haduh.


Melihat Hua Mei yang sedang berlinang air mata, Gou Long menghampiri dan menyeka air mata gadis itu. Yang ditanggapi oleh Hua Mei dengan memeluk Gou Long erat. Dia menghiraukan semua tatapan mata yang ada di tempat tersebut.


Hua Mei memang gadis yang polos, seperti gadis Dunia Persilatan pada umumnya, yang tidak terikat dengan tata krama. Dia memeluk dan membenamkan wajah yang penuh dengan air mata ke dada bidang Gou Long.


“Long Gege ... Long Gege ... Mei ‘er dan semua orang sangat khawatir pada Long Gege. Mei ‘er sangat rindu pada Long Gege ... Mei ‘er tidak mau pisah dari Long Gege lagi.” Hua Mei menumpahkan segala gejolak rasa rindu, serta kesedihan sambil terus memeluk Gou Long dengan erat.


Emosi dan rasa rindu yang diperlihatkan oleh Hua Mei saat ini, dapat dirasakan oleh semua orang yang melihatnya. Tapi tetap saja orang-orang yang hadir melihat Gou Long dengan ekspresi dan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.


Apa yang bisa dilakukan Gou Long di saat-saat seperti itu? Gou Long hanya bisa nyengir dan dengan terpaksa dia pura-pura tidak tahu, banyak pasang mata yang memandang.


Gou Long terus menenangkan Hua Mei dengan tepukan-tepukan dan bisikan halus.


Sampai akhirnya, Hua Mei mau melepaskan pelukan pada Gou Long, akan tetapi, dia tetap memegang erat tangan Gou Long tanpa mau melepaskannya.


Eira, yang dari tadi duduk tenang di atas bahu Gou Long, berbisik dengan menggunakan tenaga dalam sehingga hanya Gou Long yang bisa mendengarnya. “Bocah, entah ilmu apa yang kau pakai, dalam ingatanku, hampir semua gadis yang kita temui, semua terpikat padamu, ha ha ha.”


“Berapa orang istri dan pasangan yang ingin kau miliki kelak?” Eira mengejek dan mengolok-olok Gou Long dalam setiap bisikan.


“Kau ... rubah kurang ajar, apa kau sedang tidak ingin makan masakan ku?” Gou Long, balas mengancam Eira.


Ketika urusan makan disebut-sebut, Eira tidak bisa berkata apa-apa, dia langsung berhenti meledek Gou Long demi makanan yang sangat disukainya.

__ADS_1


__ADS_2