Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 86. Salju Turun Di Gunung Naga


__ADS_3

Semua orang yang menonton pertarungan itu, benar-benar terpana dengan apa yang dilakukan Gou Long kali ini. Dia berjalan di udara dengan menyeret Siangkoan Hong yang tertotok seperti orang yang menyeret seseorang di atas tanah.


Secara diam-diam Gou Long mengirimkan suara pada Eira yang berada di sisi Hua Mei, “Setelah kepergianku, kita akan bertemu di bukit serigala. Akan kutunggu dirimu di sana.”


Masih tetap berjalan di ketinggian Gou Long berkata dengan keras.


“Kejarlah! kalau ada di antara kalian yang bisa mengejarku...” dia berhenti sejenak.


Lalu tertawa mengakak.


“Ha ha ha!...”


“Sebelum aku pergi, akan kuberikan hadiah kecil buat kalian.” Ucap Gou Long.


Lalu di depan mata semua orang Gou Long meremas tengkuk dari Siangkoang Hong, murid tertampan Sekte Naga Langit mati seketika itu juga, yang membuat banyak hati dari para gadis berduka.


Percikan tetesan darah membasahi bumi dan orang-orang yang berada di bawah mayat Siangkoan Hong yang masih dalam seretan Gou Long.


Mayat dari Siangkoan Hong dilemparkan Gou Long ke arah Penatua Mu Yuan sambil mengejek, “Kau boleh mendidik dia dari dasar awal pelatihan, kultivasi berikut jiwanya sudah kuambil. Ha ha ha!...”


Penatua Mu Yuan sangat geram melihat tindakan Gou Long, dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap lawan yang terbang melayang di udara.


Dengan mengabaikan semua tatapan kagum dan kebencian terhadapnya, Gou Long menendang udara beberapa kali dan melesat tinggi ke langit hampir mencapai 200 kaki.


Bayangannya terlihat seperti burung kecil dari perak yang terbentuk dari energi petir, berkedip-kedip tiada henti. Setelah mencapai ketinggian tertentu dia melesat turun sambil berteriak.


“INILAH HADIAH KECIL YANG KUKATAKAN SEBELUMNYA TERIMALAH!”

__ADS_1


Dua buah bayangan Telapak Arhat besar dengan membawa hawa yang berbeda melesat turun dengan cepat, seperti meteor besar yang akan meluluh lantakkan Gunung Naga.


Tekanan dari tenaga dalam yang dilepas Gou Long jelas dapat dirasakan semua orang yang hadir di sana. Padahal telapak besar itu masih tinggi dan belum benar-benar jatuh.


“Bahaya! Semua yang berada di dalam jangkauan telapak menghindarlah!” teriak patriak Song.


Patriak dan para penatua lain kembali melesat ke sisi Penatua Mu Yuan, mereka memasang kuda-kuda dan bersiap membuyarkan dua bayangan Telapak Arhat yang dilepaskan Gou Long dari ketinggian. Pukulan itu sendiri sudah sangat hebat, kemudian daya luncur dari ketinggian menambah kehebatan dari pukulan telapak tersebut.


Ketika semua orang sibuk menghindar, dari langit tinggi Gou Long menggemakan suaranya dengan puncak tenaga dalam sehingga berdengung keras di telinga semua orang.


“SAUDARA HE FEI, SAUDARA YE XUAN, SAUDARI MURONG QIU, DAN MEI ‘ER!... SELAMAT TINGGAL, KELAK KALAU BERJODOH KITA AKAN BERJUMPA LAGI.. KAKEK ZHOU! MAAF TIDAK BISA MEMENUHI HARAPANMU, SEPERTI YANG AKU KATAKAN DULU... SELATAN INI TERLALU KECIL BAGI KU... SELAMAT TINGGAL...”


“MULAI HARI INI SEKTE NAGA LANGIT DAN AKU TIDAK ADA HUBUNGAN LAGI... YANG MENCARI PERKARA DENGAN KU, PASTI AKAN KU KEMBALIKAN BERIKUT BUNGANYA!”


“Ha ha ha!....”


“Baankkk! Dhuaarr!” bunyi ledakan terdengar, pukulan panas buyar dan meledak di udara menciptakan bunga kembang api dari ledakan tersebut. Sekali lagi terdengar bunyi yang sama, pukulan berhawa dingin juga meledak dan buyar.


Lalu pemandangan indah terlihat di sana, butir-butir salju kecil seperti turun dari langit di atas Gunung Naga. Itu adalah uap udara yang membeku karena hawa dingin dari pukulan Gou Long.


Untuk sesaat semua orang seakan-akan melupakan pertarungan yang baru saja berakhir, dan juga ancaman yang diucapkan oleh Gou Long sebelum dia melarikan diri.


Semua orang yang ada di Gunung Naga menikmati keindahan bunga-bunga salju yang turun tidak di saat semestinya.


Akhir dari pra kompetisi sekte benar-benar menjadi di luar perkiraan semua orang, Patriak Song Ki dan Penatua Zhou hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.


“Permasalahan ini kalian dari Biro Penegak Hukum yang memulai dan tidak mengusut sampai tuntas, aku harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan tuntas,” Ucap Patriak Song pada Penatua Mu Yuan.

__ADS_1


“Satu hal lagi, ini dapat kujamin kebenarannya. Jangan terlalu berambisi dengan rumor manusia terkuat di Sekte Naga Langit, ingat di atas langit ada langit. Sudah tua masih saja berangasan.” Damprat Patriak Song Ki.


Dia segera berlalu dari situ setelah memberi peringatan seperti itu pada Penatua Mu Yuan, para Penatua yang lain juga segera meninggalkan tempat tersebut.


Dengan menghiraukan ancaman Gou Long, Penatua Mu Yuan memerintahkan beberapa murid elite yang dilatihnya secara pribadi untuk melacak arah kepergian Gou Long.


Murid-murid Biro Penegak Hukum yang masih ada di tempat tersebut diperintahkannya untuk membereskan kekacauan tempat itu. Lalu dia juga melesat pergi dan menghilang dengan cepat, sama seperti saat kedatangannya seperti itu pula saat dia menghilang.


***


Gou Long melesat dengan kecepatan tinggi di langit malam, pertarung tadi berjalan seharian penuh, rasa lelah dan penat serta hawa murni yang hampir tidak bersisa, tidak mengurangi kecepatan terbangnya. Gou Long sengaja memaksakan diri dan berputar arah dengan tujuan utama, sebagai pengecohan.


Cahaya keperakan dari tenaga dalam yang terus berputar di sekeliling tubuh ketika terbang, sangat memudahkan lawan untuk melihat posisinya. Dia sadar dari kejauhan terus melesat beberapa bayangan hitam yang bergerak melacak dan mengunci posisi arah dia terbang. Setelah merasa jarak sudah cukup jauh, Gou Long turun dan ganti strategi pelarian.


Gou Long mengembangkan Teknik memindah Jasad dan ilmu meringankan tubuh secara bergantian, cara ini lebih efektif untuk dan merendam kedipan cahaya perak tersebut.


Para pengejar seperti kehilangan orang yang mereka kejar. Untuk menghindari penyakit dikemudian hari Gou Long berhenti sejenak, lalu menghirup hawa murni dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. Dia berbalik, tak lupa memanggil Hauri kemudian ujarnya.


“Mari kita bereskan beberapa penguntit ini, lakukan dalam sekali serang jangan biarkan ada yang hidup. Baru kita bisa melanjutkan perjalanan dengan aman.”


Setelah berkata seperti itu, Gou Long segera saja membentuk pedang kecil dari pemadatan hawa murni dingin dan bergerak ke arah penguntit. Tak mau ketinggalan Hauri juga melakukan hal yang sama, mereka berdua seperti sedang bersaing saja. Dalam sekejap dan tanpa perlawanan, semua penguntit berhasil dibunuh oleh Gou Long dan Hauri.


Mayat-mayat dari penguntit itu dibiarkan begitu saja oleh Gou Long. Sejenak dia melihat topografi daerah, kemudian lagi-lagi Gou Long berputar arah, dan baru bergerak cepat tanpa berhenti. Gou Long tidak langsung menuju Bukit Serigala di malam itu, dia berputar dan menuju ke arah Lembah Gunung Petir, Goa di belakang air terjun merupakan tempat yang paling cocok untuk kultivasi pemulihan diri dan persembunyian sementara.


Gou Long terus mempercepat gerakan Teknik Memindah Jasadnya, sedangkan Hauri sudah kembali masuk ke dalam otot deltoid Gou Long, dia sengaja masuk agar mereka bisa bergerak dengan cepat dan tidak terganggu oleh percakapan yang tidak perlu.


Dari kejauhan Gunung Petir telah terlihat setelah Gou Long bergerak tanpa berhenti semalaman penuh. Mentari pagi yang malu-malu mulai mengintip memberikan kesegaran tersendiri di antara lelah dan penat yang dilalui Gou Long.

__ADS_1


Akhirnya Lembah Gunung Petir yang dituju Gou Long sampai juga.


__ADS_2