Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 387. Masuk Ke Lautan Spiritual


__ADS_3

Gou Long tidak peduli pada sikap memelas yang diperlihatkan bandit itu, begitu juga Hua Mei dan Eira. Dua orang gadis itu sadar, andai Gou Long tidak lebih superior dari si penjahat, atau andai Gou Long tidak bisa mengalahkan lawan dengan teknik anehnya itu, sudah pasti saat ini mereka lah yang bernasib malang.


Berjalan mendekati lawan, urat gagu dari si lawan yang sudah tidak berdaya ditotok Gou Long. Keributan karena suara memelas dari orang tersebut hilang sudah. Suasana menjadi sangat tenang.


Itu benar-benar titik terlemah dari penjahat tersebut. Gou Long menyunggingkan senyum jahat, kesadaran spiritual di fokuskan ke satu titik di dahinya. Ujung jari telunjuk ditekan ke dahi lawan. Sesaat kemudian, baik Gou Long ataupun si penjahat sama-sama terdiam seperti patung layaknya orang yang bermeditasi.


Gou Long berhasil masuk ke dalam kesadaran spiritual lawan tanpa perlawanan. Kepingan ingatan si penjahat sedikit demi sedikit dibaca Gou Long.


Selama proses tersebut, waktu terus berjalan. Seperempat dupa ... setengah dupa ... itu menjadi kian lama. Entah berapa keping ingatan dari orang tersebut dilewatkan dan dipecahkan Gou Long. Berada di dalam kesadaran spiritual sang lawan, layaknya berada di lautan yang sangat luas. Saat masuk ke dalam, sangatlah mudah, akan tetapi, pada saat berada di dalam menjadi begitu rumit.


Mencari kepingan ingatan tentang Jurus Kecil Penghisap Bintang, seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami.


Raut wajah Gou Long dan lawannya terlihat sama, pucat disertai keringat yang terus berjatuhan. Gou Long menjadi sangat kelelahan, saat kesadaran spiritual terus digunakan seperti itu.


Sementara lawannya, merasakan penderitaan yang lebih parah. Satu persatu kepingan ingatan yang dipecahkan Gou Long itu pasti akan menyebabkan ia gila atau hilang akal untuk selama-lamanya, tapi itu juga sebentuk keberuntungan bagi dia, karena nyawa orang tersebut memang sudah di ujung tanduk.


Pada saat satu dupa hampir berakhir. Gou Long merasakan gelagat yang tidak baik di dalam lautan spiritual lawannya itu. Cahaya kehidupan yang kian meredup, menyadari hal tersebut Gou Long segera keluar dari kesadaran spiritual si penjahat.


Begitu ia membuka mata, sang lawan telah terkapar dan menggeliat sedikit, nyawa telah melayang untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Hua Mei mendatangi dan mengelap keringat di dahi Gou Long dengan sapu tangannya yang harum. Baik Hua Mei ataupun Eira menyadari, usaha Gou Long tadi benar-benar tidak berakhir seperti yang mereka harapkan. Keduanya yakin setelah melihat air muka yang ditunjukkan si pemuda terlihat lelah dan tidak ceria.


“Sudahlah Gege ... tidak semua hal yang kita inginkan akan selalu kita dapatkan.” Hua Mei menasihati dengan suara lirih. Menggenggam tangan Gou Long erat. “Mari kita melihat-lihat apa yang ada di perkampungan ini, apa masih ada orang yang selamat?!”


Setelah menghela nafas panjang, Gou Long mengikuti ajakan Hua Mei, keduanya berjalan santai. Eira telah menggali lubang besar, dan melempar kelima mayat tersebut ke dalam lubang itu setelah sebelumnya mengambil cincin penyimpanan serta Artefak Pedang Terbang mereka semua. Ia melesat dua kali, bergabung dengan Gou Long dan Hua Mei.


“Serahkan pada Mei ‘er saja kelima cincin penyimpanan itu.” Gou Long merasa tidak membutuhkan sumber daya yang terdapat dalam cincin penyimpanan para lawan mereka sebelum. Lagipula dia memang ingin agar Hua Mei yang mengelola sumber daya rampasan itu.


Eira juga tidak membutuhkan segala sesuatu sumberdaya yang ada dalam cincin tersebut, dia ikut saja apa yang dikatakan Gou Long. “Terima kasih, Cici!” ujar Hua Mei lirih.


Ketiga makhluk itu kemudian mengitari perkampungan tersebut. Tidak ada makhluk hidup yang bersisa, semua telah kosong melompong. Sebagian tempat masih menyisakan asap dan bau daging manusia yang terbakar. Hasil pekerjaan para penjahat itu benar-benar bersih dan tidak menyisakan satu makhluk hidup pun.


Mengeluarkan Artefak Spiritual Pagoda Ruang dan Waktu Dua Belas Lantai. “Mei ‘er sudah menyempurnakan seluruh Kaisar Qi di dalam tubuh, sekarang saatnya bagi Mei ‘er untuk menembus ranah. Kaisar Qi sangat berbeda dengan hawa murni, besar kemungkinan, Mei ‘er akan bisa langsung menembus Puncak Ranah Surgawi dalam waktu tiga bulan.”


Hua Mei dan Eira terus menyimak perkataan Gou Long, mata keduanya memandang kagum pada bangunan megah yang terlihat samar-samar di depan mereka.


Perkataan Gou Long selanjutnya memecahkan kekaguman mereka. “Jadi, sekarang Mei ‘er akan berkultivasi selama tiga bulan–”


“Selama tiga bulan?!” Hua Mei menjadi heran, terpaksa ia memotong ucapan Gou Long, gadis itu benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan suaminya. “Bukankah dalam sepekan kemudian Gege akan berpartisipasi di kompetisi empat keterampilan?! Jika Gege meminta Mei ‘er berkultivasi di sini selama tiga bulan, bukankah ini akan menghambat perjalanan kita ke Kota Yuan Long?!”

__ADS_1


Gou Long tersenyum lembut. “Tidak ... meningkatkan kekuatan Mei ‘er lebih penting, lagipula dengan adanya bangunan ini. Tidak akan menghambat sama sekali.” Gou Long menunjuk pagoda yang berdiri megah di depan mereka.


“Ini adalah Artefak Spiritual, ruang dan waktu. Setiap lantai memiliki interval waktu yang berbeda, tiga hari di luar sama dengan tiga bulan di lantai satu pagoda. Bukankah dengan demikian tidak akan menghambat sana sekali?!”


Hua Mei menganggukkan kepala berkali-kali, sorot mata bersinar gembira, tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam benaknya ada Artefak yang begitu luar biasa.


Eira juga tidak kalah kagum, sekarang ia telah paham terkait dengan teka-teki bagaimana Gou Long bisa berkultivasi dengan sangat cepat, hingga berhasil menembus Puncak Ranah Kaisar Surgawi? Hanya dalam empat pekan lebih sedikit “Rupanya dia memiliki Artefak seperti ini,” batin Eira.


Gou Long mengeluarkan tiga puluh kristal kaisar kelas tinggi, memasukkan ke lubang di pintu pagoda. Dia menekan pilihan lantai satu di panel array yang muncul.


“Mei ‘er! masuklah ke dalam sana, Gege akan berjaga di luar sini selama tiga hari.” Gou Long telah berbalik menggamit lengan Hua Mei lembut, dan mendorong gadis itu masuk ke dalam pagoda dengan perlahan. “Jangan khawatirkan apapun yang terjadi di luar sini, fokus saja pada kultivasi dan penerobosan ranah.”


Sebelum benar-benar masuk ke dalam pagoda, Hua Mei berbalik dan mengecup pipi Gou Long, baru kemudian ia terus berbalik menghilang di balik pintu.


Gou Long berbalik dan melihat Eira. “Aku tahu, engkau pasti sangat ingin tahu seluk beluk dari Artefak ini.”


Eira tersenyum cantik. “Kau memiliki waktu tiga hari untuk bercerita panjang lebar, dan aku akan sangat senang mendengar cerita mu.”


Keduanya duduk di depan pagoda itu, yang satu bercerita dan yang lain mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


__ADS_2