Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 164. Niat Sen Sin-Hiong


__ADS_3

Hanya Gak In Liang dan Sen Sin-Hiong yang terus bertarung dengan sengit serta tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling mereka.


Pertarungan yang terhenti kembali berlanjut, masing-masing sadar kalah satu gerakan maka nyawa yang akan melayang. Sehingga tidak ada yang mau mengendurkan kewaspadaan.


Gou Long mendekati mayat Bok Wan Tek, mengerahkan tenaga dalam dan menghisap cincin Bok Wan Tek ke dalam telapaknya. Dia mengedarkan kesadaran spiritualnya ke dalam cincin.


“Hah! Tidak ada sesuatu yang istimewa, hanya beberapa keping emas dan pil penyembuh, orang ini benar-benar pemalas yang tidak punya motivasi berlatih. Bahkan isi dari cincin penyimpanannya hanya sampah yang tidak berharga.”


Kadang kondisi seperti ini yang disebut hidup tidak adil, kenapa kecerdasan dan bakat mumpuni harus hinggap di dalam tubuh dan jiwa yang seperti ini? Namun di sisi lain, inilah keadilan yang sesungguhnya.


Kalau bakat dan kecerdasan muncul dalam jiwa dan tubuh yang rajin, maka sungguh sayang orang-orang yang sudah berusaha keras karena pada akhirnya akan selalu berada di bawah.


Gou Long Kemudian berjalan ringan bergabung dengan Hua Mei dan Murong Qiu.


Kedua gadis itu setelah puas menonton pertarungan Gou Long, saat ini sedang mengalihkan pandangannya pada pertarungan Gak In Liang dan Sen Sin-Hiong.


“Menurut Gege, siapa yang lebih kuat antara mereka berdua?” tanya Hua Mei, begitu Gou Long sudah berdiri di sisi mereka.


“Baik Sen Sin-Hiong ataupun Gak In Liang sama hebat, sebenarnya kekuatan mereka berimbang. Pertarungan mereka bisa saja berjalan lebih dari 500 gerakan, tapi...”


“Tapi saat ini kekalahan sudah jelas diderita pihak Sekte Phoenix Suci, baik itu Sen Sin-Hiong ataupun kawan-kawannya yang lain...” ujar Gou Long


“Kalian berdua! Apa Cici ini hanya nyamuk di sini? Jawaban dari Long Gege mu, Cici yang sambung ya!” Murong Qiu memotong ucapan Gou Long, dengan nada godaan pada Hua Mei dan Gou Long.


“Boleh! Coba kita lihat tingkat kecerdasan dan analisis dari Cici Qiu yang cantik ini.” Jawab Hua Mei menantang dan memuji Murong Qiu saat bersamaan.

__ADS_1


“Murid Sekte Phoenix Suci jelas akan kalah, mereka telah salah menghitung pergerakan lawan. Pertama; Master Array mereka sudah tewas, padahal dialah inti dari pertarungan mereka,”


“Kedua; Orang yang dibanggakan mereka, dan diharapkan tampil secara menonjol juga telah mati, mental mereka jatuh ketika orang tersebut tewas,”


“Ketiga; Orang yang terakhir yang mereka harapkan sebagai pemecah kebuntuan juga tidak berkutik. Setelah tahu ada ahli racun dari Sekte Phoenix Suci, murid-murid Sekte Pedang Suci telah terlebih dahulu, meminum pil anti racun dan menutup mulut mereka dengan kain.”


“Bagaimana? Tepatkah penjelasanku ini Saudara Gou!” setelah berbicara dan menjelaskan panjang lebar, Murong Qiu memastikannya dengan minta penguatan dari Gou Long.


Gou Long mengangguk pelan, mengiyakan penjelasan panjang Murong Qiu.


“Wah! Cici semakin hebat saja.” Ujar Hua Mei.


Sementara itu, pertarungan antara Gak In Liang dan Sen Sin-Hiong sudah mencapai puncaknya, yang kalah menang sudah terlihat jelas, apalagi Gak In Liang terus dibantu oleh Gou Long dengan teriakan-teriakan yang menunjukkan sudut-sudut lowong dari tubuh Sen Sin-Hiong.


Orang yang melihat pertarung sudah pasti lebih dapat mengetahui ruang kosong dari orang yang sedang bertarung, apalagi orang yang melihat ini lebih hebat dari mereka yang bertarung.


Lagi pula jarahan yang ada dalam cincin penyimpanannya sangat banyak, sedangkan kawan-kawannya yang lain, salahkan mereka sendiri yang tidak berpikir seperti apa yang dia pikirkan, biarkan saja mereka mati di sini.


Ini juga sebuah solusi lainnya, di luar sana jelas aman serta tidak akan terjadi pertarungan lagi, segala dendam dan benci yang terjadi di Tanah Suci Para Pendekar pasti akan tertunda untuk sementara waktu karena kehadiran semua Patriak.


Siapa juga yang berani mencari perkara dengan 7 Klan Besar dan 6 Sekte Utama? Berpikir seperti itu, semangat Sen Sin-Hiong terbangkit kembali, kepercayaan diri muncul saat itu juga.


Permainan pedangnya dipercepat, energi murni yang membungkus pedang dan tubuhnya dipertebal, setiap serangan tebasan pedangnya selalu dibarengi dengan tebasan hawa pedang. Sen Sin-Hiong menyerang seperti orang yang putus asa dan mengajak mati bersama, sehingga usahanya ini membuahkan hasil dan berhasil menipu Gak In Liang.


Mendapatkan serangan-serangan seperti itu, Gak In Liang sedikit terperanjat, dia sebisa mungkin menghindar, kesempatan itu segera saja dimanfaatkan Sen Sin-Hiong.

__ADS_1


Hati Sen Sin-Hiong tertawa senang karena niat tersebut akan segera tercapai. Dia dengan cepat meninggalkan arena pertempuran dan melesat ke arah gerbang/portal keluar dari Tanah Suci Para Pendekar.


Namun, Gou Long yang sejak tadi terus berfokus pada pertarungan mereka, tidak terkecoh. Sekali melesat, tubuh Gou Long sudah berada di depan portal, menghadang arah kabur Sen Sen-Hiong.


“Ha ha ha! Sejak kapan murid Sekte Phoenix Suci menjadi begini pengecut dan berniat kabur dari pertarungan?” ejeknya.


Gerakan yang terhenti karena hadangan Gou Long. Sen Sin-Hiong tidak menjawab, dia menebas dengan hawa pedang keras dan menyilang ke arah Gou Long, di sana! Anak muda itu tidak mengelak, dia malah tersenyum, dan menangkis hawa pedang dengan golok berat yang tiba-tiba muncul ditangannya.


“Bukan aku yang seharusnya kau serang, tapi serangan yang datang dari arah belakangmu yang harus kau tangkis.” Lanjut Gou Long setelah menepis serangan hawa pedang lawan.


Sen Sin-Hiong berbalik dan menangkis serangan dari Gak In Liang, rencana yang gagal boleh dikatakan anak muda di belakangnya-lah punca dari semua masalah, dia sangat marah, dan melampiaskan rasa dongkol hatinya pada pertarungan dengan Gak In Liang.


“Keparat! Aku juga akan membawa salah satu dari kalian menghadap Raja Neraka bersamaku.” Ujar Sen Sin-Hiong sambil terus menyerang Gak In Liang dengan gesit.


Sejak tadi dia memang sudah kalah dan tertekan, di tambah dengan emosi yang telah menguasai hati, sehingga setiap serangan terlihat kasar dan tergesa-gesa.


Berbeda dengan Sen Sin-Hiong, Gak In Liang terus tenang dan bertarung dengan kepercayaan diri semakin tinggi, setiap serangan Sen Sin-Hiong semua ditepis dan dielaknya.


Kemudian baru dia membalas dengan satu serangan Niat Pedang, Gak In Liang telah menyiapkan serangan ini sebagai penghabisan, Niat Pedang yang dia keluarkan bukanlah gertakan, namun ini Niat Pedang yang sesungguhnya.


Whoossshhh!


Cessss!


Traaaannkk Traaaakk!

__ADS_1


Itu sangat dahsyat, pedang Sen Sin-Hiong yang menangkis patah, sedangkan tubuh orangnya terbelah dua, darah berhamburan memercik membasahi tanah serta menambah kengerian bagi yang melihat cara Sen Sin-Hiong mati.


__ADS_2