
Kedua orang terakhir yang terkena jerat Gou Long ini adalah dua orang bersaudara yang bernama Peng Si Ran dan Peng Ku Ma, setelah menyadari ikut terkena racun, keduanya hanya memelototi dua orang lainnya.
Percuma saja mereka marah-marah, toh mereka sama-sama dalam kondisi tidak berdaya.
“Manusia bermarga Peng! Bagaimana perasaan kalian? Ha ha ha! Bukankah duduk diam seperti ini terasa menyenangkan? Hati kalian berdua pasti sedang panas membara?” Orang yang berangasan mulai memanas-manasi.
Tapi, kedua orang bermarga Peng tidak meladeninya.
Sementara itu, di dalam semak belukar It Hong Taysu berkata pada Gou Long, “Mari Sicu Muda! Kita langsung bergegas ke lokasi portal, dua orang lainnya tidak akan berani mengejar Sicu, sebentar lagi semua Patriak Sekte dan Klan besar akan muncul di sana.”
It Hong Taysu segera keluar dari semak belukar tersebut dan melesat ke arah depan, ini tidaklah jauh hanya berjarak 1 mil dari tempat itu.
Gou Long segera mengikuti It Hong Taysu, akan tetapi di terlebih dahulu mengejek dan mengancam mereka semua, “Yoo.. Manusia-manusia serakah! Bukankah menyenangkan bermain kejar-kejaran seperti tadi?”
“Bagaimana reaksi dunia persilatan kalau tahu orang-orang dengan kultivasi Ranah Surgawi dipermainkan oleh seorang pemuda tanggung?”
“Ha ha ha!”
“Lain kali! Hanya ada kematian bagi kalian!” sorot mata Gou Long menajam serta seringai jahat diperlihatkan Gou Long.
Orang-orang yang tersumbat meridian ini, mana mungkin dapat melihat sorot mata dan mimik wajah Gou Long, mereka hanya mendengar suaranya saja yang terdengar kejam.
Seperempat jam bergerak dengan ilmu meringankan tubuh, mereka sudah sampai di depan portal, di sana sangat ramai.
Mayoritas adalah kultivator di Ranah Langit, baik dari Sekte kelas kedua atau Sekte kelas pertama. Orang-orang ini pun bukan hanya dari Daratan Tengah, namun termasuk kultivator dari daerah lain.
Daya tarik dari Tanah Suci Para Pendekar begitu besar bagi kultivator yang masih tersendat di Ranah Langit, ini dapat dilihat di antara ribuan kultivator yang hadir di tempat itu, bahkan ada yang sudah memasuki usia tua.
__ADS_1
Bisa memperoleh sesuatu yang berharga, bisa memahami ilmu silat tingkat tinggi, atau bisa meningkatkan ranah kultivasi sesudah berpetualang di Tanah Suci Para Pendekar, itulah yang mereka pikirkan.
Angan-angan dan cita-cita yang tinggi menutupi bahaya besar yang ada di Tanah Suci Para Pendekar, tak ada rasa takut, tak ada jiwa pengecut, semua antusias menunggu dibukanya tempat itu.
Padahal ini bukanlah kompetisi, tapi tidak ada yang peduli, masing-masing kultivator tetap dengan pendirian dan jalan ilmu bela diri, mereka semua tidak takut mati.
It Hong Taysu dengan cepat bergerak pada rombongan biksu, yang berjumlah 10 orang, itulah murid-murid dari Kuil Budha Emas, Gou Long terus mengikuti It Hong Taysu.
“Hormat Guru!” ujar 3 orang yang memiliki tingkat kultivasi paling tinggi di rombongan itu, ketiganya di Puncak Ranah Langit.
Mereka bertiga adalah murid langsung dari It Hong Taysu, salah satu dari mereka murid preman atau murid yang tidak menjadi biksu dan masih memelihara rambutnya.
“Sanchai... Kalian semua sudah lama menunggu?”
“Kami juga baru sampai Guru.” Jawaban ini diucapkan oleh murid dari golongan biksu.
Melihat dari perawakan, usia dan cara dia berbicara. Gou Long menebak Biksu ini pasti murid pertama It Hong Taysu sekaligus pemimpin rombongan Kuil Budha Emas.
“Hu Kong! Pendekar Muda ini bernama Gou Long, dia menjadi teman perjalanan Lolap. Lolap sangat berharap kalian semua dapat menjadi teman baik ke depannya.” It Hong Taysu memperkenalkan Gou Long pada murid-muridnya.
“Hu Kong Taysu memberi hormat pada pendekar Muda Gou.” Ujar Hu Kong sambil menangkupkan tangan di depan dada, kemudian murid-murid lain juga mengikuti tindakan dari Hu Kong Taysu.
Gou Long membalas tindakan mereka dengan cara yang sama, tapi dia tidak berkata-kata dan hanya menganggukkan kepala. Setelah berbasa-basi sejenak dengan para Biksu ini, Gou Long dengan mudah mengingat nama mereka semua, karena hanya kata awalnya saja yang berbeda.
Para Biksu ini tidak menarik perhatian Gou Long. Dia merasa lebih cocok berbicara dengan murid preman It Hong Taysu dari pada murid yang lain. Pemuda itu bernama Huan Tay Seng.
***
__ADS_1
Di tengah-tengah ribuan kultivator yang menunggu dibukanya Tanah Suci Para Pendekar. Satu persatu anggota Klan dan Sekte besar mulai berdatangan, dan yang memimpin mereka adalah Patriaknya sendiri.
Walaupun para Patriak ini tidak bisa masuk ke tempat tersebut, namun kehadiran mereka juga sebagai ajang pamer kekuatan dan bakat-bakat muda dari pihak masing-masing.
Terlebih patriak dari Sekte dan Klan besar, yang rata-rata memiliki kultivasi Puncak Ranah Surgawi.
Hanya It Hong Taysu dan beberapa Patriak yang tidak terlalu tertarik untuk pamer dan datang dengan cara yang biasa, padahal mereka juga Kultivator Puncak Ranah Surgawi. Beberapa orang dari mereka, bahkan termasuk 10 pemegang kunci portal.
Pamer kekuatan ini diperlihatkan langsung oleh Patriak Sekte Phoenix Suci, di tengah-tengah banyaknya suara orang-orang yang sedang berbicara, tiba-tiba teriakan keras terdengar dilangit disertai guntur keras.
Kepakan sayap besar burung juga terlihat di atas kepala semua kultivator.
“HA HA HA! IT HONG TAYSU! HUA CU SIAN! SHI CHEN! QIAU FANG! YING NGO HENG! WANG BU SIE! SEKIAN TAHUN TIDAK BERTEMU, KALIAN BAHKAN TIDAK MEMPERLIHATKAN PERKEMBANGAN SAMA SEKALI!”
Suara teriakan ini menekan semua suara kultivator yang berjumlah ribuan orang, cara datangnya juga sangat luar biasa. 20 orang terlihat duduk di atas burung Phoenix besar, itu bukanlah Phoenix asli namun hasil dari pemadatan hawa murni dan membentuk domain tenaga dalam.
Pemilik domain itu sudah pasti Patriak dari Sekte Phoenix Suci, orang ini memang memiliki sifat sombong sejak usia muda, dan sampai usia setua itu masih saja sombong, datang-datang pamer kekuatan juga mengejek para Patriak yang sudah terlebih dahulu datang.
Dari nama-nama yang disebutkannya, para Patriak itulah yang sudah duluan sampai ke tempat itu.
“Huftt! Bicaramu terlalu sombong, padahal baru tiga tahun berhasil mencapai Puncak Ranah Surgawi!”
“Orang bermarga Bok! Mari kita lihat generasi muda mana yang paling banyak selamat dan berhasil keluar dari Tanah Suci Para Pendekar dalam keadaan hidup, apa kau berani bertaruh?” ujar Patriak Klan Wang, menantang Patriak Sekte Phoenix Suci.
“Bok Tong Wa! Aku juga akan bertaruh denganmu, taruhan yang sama seperti Saudara Wang.” Patriak Klan Hua tidak mau kalah.
“He he he! Ini akan sangat menarik, Tapi apa yang akan menjadi hadiah bagi yang menang taruhan?” jawab Patriak Sekte Phoenix Suci.
__ADS_1
“TUNGGU! KESENANGAN INI BAGAIMANA MUNGKIN KALIAN MELUPAKANKU!”
Kembali terdengar teriakan keras bergema.