Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 197. Luapan Perasaan


__ADS_3

Sepasang Iblis Hitam dan Putih melihat Gou Long yang melesat jauh meninggalkan mereka di sana, juga tidak mengejar atau menghalangi kepergian dari pemuda itu. Mereka cukup sadar diri dengan kondisi fisik dan tenaga dalam mereka saat itu. Akan sangat lucu mengejar lawan sambil terus menempelkan salah satu dari lengan mereka.


Kalaupun melepaskan lengan yang saling menggabungkan tenaga dalam itu, lawan mereka yang muda tersebut jelas tidak akan memberikan kesempatan pada mereka untuk menggunakan pukulan gabungan yang berefek magis itu untuk kedua kalinya.


“Haaaah!” setelah menghela nafas panjang, “Apalah daya! Angsa tidak dapat, bocah unik juga menghilang, selama gunung masih menghijau jangan takut kehilangan kayu bakar, kelak bocah unik itu pasti akan jatuh ke tangan kita lagi, Ha ha ha!...” ujar Iblis Hitam, lalu tertawa mengakak di tengah hutan dan sisi sungai kecil itu.


Sangat aneh sifat kedua orang itu, setelah menghela nafas sekarang malah tertawa senang.


Memang dasar dari kedatangan mereka ke Daratan Tengah saat ini tidak lain karena pergerakan Organisasi Ordo Setan Hitam yang terus berusaha menguatkan diri dan menancapkan kaki lebih kuat di Daratan Tengah.


Mereka pun saat itu sedang menuju tempat yang akan dijadikan pusat dari area pergerakan dari Organisasi Ordo Setan Hitam. Dan kebetulan saja bertemu dengan Ding Jia Li, sehingga membuat si Iblis Hitam terangsang.


Kemudian tugas lain yang mereka peroleh yaitu menggaet sebanyak mungkin tokoh-tokoh dari golongan hitam, serta jika memungkinkan menggaet pula seniman bela diri golongan putih. Terlebih lagi setelah beberapa orang tokoh penting mereka kalah dan mati baru-baru ini.


Dengan status mereka sebagai petinggi, mereka berdualah yang harus bergerak duluan di Daratan Tengah ini, sebagai pengusung dari pergerakan organisasi.


Andai tadi mereka berdua mati, Gou Long pasti akan berhasil memecahkan semua misteri dari Organisasi Ordo Setan Hitam, sayang kemampuan pemuda itu masih belum memadai untuk melakukannya.


***


Terus melesat dengan sambil membopong Ding Jia Li di kegelapan malam, setelah melesat selama satu jam lebih, Gou Long meminta Eira untuk memindai adanya gua yang bisa digunakan sebagai tempat untuk bermalam.


Melakukan itu bukanlah hal sulit bagi Eira, sebuah gua dengan mudah didapatkan oleh Eira setelah beberapa kali memindai, Gou Long segera melesat ke arah yang dipandu Eira.

__ADS_1


Setelah mengedarkan kesadaran spiritual serta tidak melihat adanya bahaya di dalam gua tersebut, Gou Long bergerak masuk ke dalam serta menurunkan Ding Jia Li.


Eira juga keluar dari jubah Gou Long, dan berlarian ke luar gua menikmati salju yang turun. Dia telah kembali seperti biasa, tidak demam atau gemetaran seperti sebelumnya. Ini juga menjadi tugasnya untuk berjaga-jaga di luar selama kultivasi pemulihan Gou Long di dalam sana.


“Jia Li ‘er! Kita bermalam di sini malam ini!” ujar Gou Long lembut.


“...” Ding Jia Li tidak menjawab, dia masih bertarung dengan pola pikirnya sendiri, melunak atau terus ketus seperti sebelumnya.


Mengangkat kepalanya sedikit, Ding Jia Li saat ini dapat melihat raut wajah Gou Long memucat bekas terluka dalam, serta sisa lelehan darah di sela-sela bibir yang telah mengering.


Rasa iba dan kasih sayang muncul membuncah dihatinya, “Gege!...” sapanya lembut, ragu dengan kata-kata yang akan diucapkan selanjutnya, “Maafkan keegoisan Jia Li ‘er!” akhirnya kata maaf meluncur juga dari bibir indah itu.


Gou Long mendekat, menatap dalam pada mata Ding Jia Li, tanpa berpikir apakah Ding Jia Li akan menolaknya, Gou Long bergerak dan memeluk Ding Jia Li, tidak ada penolakan dari gadis itu, bahkan ia dapat merasakan adanya pelukan erat balasan dari si gadis.


“Sebelumnya ada banyak hal yang belum sempat Gege ceritakan padamu, akan menjadi sangat wajar jika Jia Li ‘er kesal, marah atau kecewa pada Gege...” lagi-lagi Gou Long menghela nafas, “Untuk segala sesuatu yang belum sempat Gege jelaskan, Gege meminta maaf darimu...”


“Gege tidak pernah melupakan apa yang telah terjadi di antara kita, Jia Li ‘er sudah menjadi istrinya Gege walau belum ada ikatan yang resmi, namun hal lain dari kita sudah terikat...” Gou Long coba memilih kata-kata terbaik yang bisa di ucapkannya.


“Di sisi lain, Gege juga tidak bisa menjadi pecundang dan mengabaikan sikap-sikap kegagahan dengan berlaku ingkar. Baik dirimu atau Mei ‘er sama-sama orangnya Gege, Gege tidak akan meninggalkan salah satu dari kalian! Maafkan Gege!...”


Hening dan lama... Gou Long kesusahan dalam menyusun kata-kata yang tepat.


Tubuh Ding Jia Li bergetar keras dalam pelukan Gou Long, isak tangis kecil perlahan mulai terdengar darinya.

__ADS_1


Ding Jia Li ini karakter yang sangat berbeda dengan Hua Mei, walaupun begitu hatinya tetap saja mudah tersentuh, apalagi setelah melihat Gou Long yang rela mengejarnya, bertarung untuknya, bahkan Gou Long sampai terluka dalam seperti sekarang ini karena dia.


Dan terakhir anak muda itu juga meminta maaf untuk segala kesalahan yang tidak dia sengaja, saat orang lain akan menganggap itu hanyalah hal biasa.


Setiap kata-kata Gou Long tidak didengarkannya, dia tenggelam dalam pikiran dan perasaannya sendiri.


Hati Ding Jia Li tersentuh dengan kelembutan yang ditunjukkan Gou Long, isak tangis kecil tak dapat ditahannya karena memikirkan semua itu, dia lebih seperti menyalahkan keegoisannya sendiri.


Mendengar isak tangis kecil dan merasakan getaran dari tubuh Ding Jia Li, dengan lembut Gou Long menggerakkan kedua tangannya dan menempelkan telapak tangan itu di kedua pipi lembut Ding Jia Li.


Suasana seperti ini, setiap kata-kata akan menjadi tidak berfungsi, lebih baik menyelesaikannya dengan tindakan.


Gou Long mendekatkan wajahnya pada wajah Ding Jia Li, ujung dari hidung mereka sudah saling beradu, pelan dan pasti Gou Long mengangkat wajahnya, dan mengecup lembut kedua kelopak mata dari gadis yang sedang menangis itu. Lama... kemudian kecupannya dinaikkan ke dahi dari Ding Jia Li.


Seakan menikmati sensasi kasih sayang yang diberikan Gou Long padanya, Ding Jia Li menerima itu semua dengan sepenuh hati, perlahan isak tangisnya terhenti. Tergantikan dengan rona kemerahan dari wajahnya.


Dia melepaskan diri dari pelukan Gou Long, “Gege!...” sapanya, seraya menundukkan pandangan, “Gege sedang terluka, sebaiknya Gege berkultivasi dan memulihkan diri dari luka dalam!...”


“Jia Li ‘er akan membantu Gege dengan penyaluran tenaga dalam...” ujar Ding Jia Li menutupi rasa malunya. Rona kemerahan dari wajahnya terlihat semakin jelas.


Jarak antara mereka memang masih sangat dekat, Gou Long kembali mengangkat wajah Ding Jia Li lembut dengan tangan kanannya, menatap lama dan dalam pada bola mata Ding Jia Li.


Tersenyum nakal, kembali dia memeluk Ding Jia Li, “Bukankah seperti ini lebih menyenangkan!” bisik Gou Long di telinga Ding Jia Li, “Suasana dingin musim salju, dengan seperti ini menjadi lebih hangat dan nyaman...”

__ADS_1


__ADS_2