
Transmisi suara yang diperoleh Gou Long, sesaat menghentikan apa yang ingin disampaikan. Namun, kemudian dia hanya melemparkan senyum pada Leng Kun.
“Baiklah! Master Paviliun ini, sengaja mengumpulkan kalian semua hari ini. Pertama; sebagai bentuk terima kasih dan apresiasi dari Master Paviliun terhadap kesetiaan kalian pada Paviliun Gunung Teratai–”
Gou Long menarik nafas dalam setelah menjeda ucapannya sejenak. “Kedua; Master Paviliun, tidak hanya melihat kesetian dari para murid, tapi para pemimpin setiap aula juga akan Master Paviliun ini apresiasikan.”
Dalam sekali ayunan tangan, lima plakat tanda kepemilikan Gunung Teratai, terlihat muncul di dalam genggaman tangan Gou Long.
“Feng Yueyin! Leng Kun! Duan Ho Ya! dan Yu Yihua! Maju ke hadapan Master Paviliun ini.” Gou Long meminta keempat orang tersebut, tegas dan berwibawa. Membuat orang-orang yang dipanggil tidak bisa membantah.
Keempatnya menghadap Gou Long. “Berlutut lah!” perintah si Pemuda.
Tidak dapat membantah, keempatnya serentak berlutut. Suara Gou Long kembali terdengar menggema. “Seperti yang telah Master Paviliun ini katakan sebelumnya, Master Paviliun akan mengapresiasikan setiap jasa kalian semua.”
Gou Long terus berkata-kata, menyampaikan apa yang akan menjadi keputusan akhir, buah dari pemikirannya selama dua minggu ini. “Mulai sekarang, kalian berempat adalah pemilik utama Paviliun Gunung Teratai ini–”
Leng Kun, dan Feng Yueyin menengadah, mendongakkan kepala, dan menatap Gou Long, heran. Saat Gou Long sedang berbicara, mereka bertanya, “Master Paviliun–”
Namun, hanya sebatas itu saja, saat Gou Long memotong cepat. “Master Paviliun ini mengingat dengan jelas sumpah setia kalian, dan tidak ingin ada yang membantah.”
Begitu ucapan itu jatuh, Feng Yueyin dan Leng Kun, tidak hanya bisa terdiam pasrah serta menundukkan kepala dalam. Kedua telah mengingat kembali sumpah yang telah diucapkan, Gou Long telah mempermainkan mereka dengan sumpah tersebut.
Gou Long kembali melanjutkan, upaya yang sempat terputus tadi. Dia menyerahkan pada setiap Pemimpin Aula Paviliun, masing-masing satu plakat kepemilikan tanah. Khusus kepada Leng Kun, Gou Long menyerahkan dua plakat sekaligus.
“Kalian boleh kembali ke tempat semula, dan untuk Leng Twako, belum boleh beranjak dari sini. Bangunlah, Leng Twako!” Gou Long berkata lirih, hanya bisa didengar oleh empat orang tersebut.
Ia menatap setiap rambut kepala hitam Murid-murid di bawah platform utama. “Perhatian! Semua murid harus mendengarkan dengan seksama–”
Lagi-lagi Gou Long menjeda kata. Saat murid-murid keheranan dan menatap satu dengan yang lain, ucapan Gou Long selanjutnya membuat mereka panik gila, serta tidak percaya pada pendengaran mereka sendiri. “Mulai hari ini, yang menjadi Master Paviliun Gunung Teratai adalah Leng Twako, bagaimana kalian menanggapinya?”
__ADS_1
Namun, kesadaran penuh serta perasaan waras masih melekat di kepala setiap murid, membuat mereka teringat akan sumpah. Dalam keadaan panik gila, mereka serentak bersimpuh dengan satu lutut kanan yang diangkat. “Kami patuh, titah Master Paviliun lama adalah perintah mutlak.”
“Selamat, Master Paviliun Leng!”
“Master Leng adalah panutan kami!”
“Panjang umur, Master Leng!”
Suara puja-puji dan harapan digaungkan keras oleh seluruh murid Paviliun Gunung Teratai, menggetarkan Lembah, Gunung, dan membawa aura seram, merindingkan setiap bulu bagi orang-orang yang mendengar.
Itu tidak hanya diucapkan oleh segenap murid, bahkan termasuk; Feng Yueyin, Duan Hong Ya, dan Yu Yihua.
Leng Kun, berdiri bodoh di sisi Gou Long, seluruh kejadian yang terpampang di depannya ini, benar-benar tidak pernah terbayangkan sama sekali dalam benaknya. Dalam hati jelas ia mengutuk Gou Long berkali-kali, atas keputusan sepihak yang diambil Gou Long, tanpa bermufakat dengan mereka semua.
Sementara, Feng Yueyin dan yang lain, juga berpikir sama seperti Leng Kun.
Gou Long, tersenyum jahat, dia mengerucutkan bibir. “Tidak perlu membantah atau mengutuk dalam hati. Bukankah selama tiga tahun ini, Leng Twako dan kawan-kawan lain telah bekerja sangat keras demi memajukan Paviliun ini? Sedangkan aku ….”
“Aku …” Gou Long menghela nafas panjang. “Jangan dikata memberi kontribusi besar, sebagai pemain di belakang layar saja, tidak pantas.”
Leng Kun menyadari kebenaran dari perkataan Gou Long. “Tapi–”
Saat Leng Kun ingin membantah, Gou Long telah meneriakkan perintah lain pada murid-murid Paviliun, suara keras Gou Long menekan ucapan dari Leng Kun.
“Para murid sekalian! Bangkitlah, Master Paviliun lama ini, tidak bisa menjelaskan secara detail alasan dari peletakkan jabatan ini. Namun, dalam hati Master Paviliun lama ini, Paviliun Gunung Teratai adalah rumah … sehari rumah, maka seumur hidup rumah, satu kata mengajar maka selamanya guru.” Mata Gou Long berkaca-kaca saat ia mengucapkan kalimat tersebut.
Entah bayangan apa yang terlintas di kepala pemuda itu, saat ia selesai berkata-kata.
“Nah, untuk selanjutnya, Master Paviliun lama ini, memberikan kesempatan pada Master kedua untuk menyampaikan beberapa patah kata.” Gou Long tidak peduli dengan tanggapan murid-murid di bawah sana. Ia menepuk pundak Leng Kun yang terlihat bodoh. “Sekarang kesempatan Leng Twako, berusahalah!”
__ADS_1
Ia sendiri langsung melesat menjauhi platform utama, dan menggandeng tangan kedua Putri di sisi kanan dan kiri.
“Siauw Xiezy, Eira! Ikuti aku dan tunggu di bawah pohon pek Puncak Gunung Teratai, kita akan pergi dari Daratan Tengah. Kalian sebaiknya kembali ke bentuk kecil siluman.” Gou Long mentransmisikan suara pada dua makhluk yang terikat kontrak jiwa dengannya.
Kemudian …
“Kita bertemu di Kota Huang Feng, dalam sepuluh hari.” Gou Long juga mengirim suara tenaga dalam pada He Fei, Ye Xuan dan Murong Qiu.
Tanpa menunggu jawaban dari ketiganya, ia terus melesat ke Puncak Gunung Teratai. Saat semua orang sibuk mendengarkan setiap kata-kata sambutan yang disampaikan oleh Master Paviliun kedua Leng Kun.
Gou Long telah mengambil keputusan untuk meninggalkan Gunung Teratai sesegera mungkin, dia tidak ingin mengucapkan kata-kata perpisahan yang hanya akan mendatangkan rasa sedih dan keengganan untuk berpisah.
Keputusan ini, telah ia bicarakan dengan Ding Jia Li dan Hua Mei sejak pagi tadi. Kembali ke Puncak Gunung Teratai, Gou Long menuju kamar Feng Yueyin, ia mengeluarkan Pedang Phoenix Es dan meletakkan pedang itu di atas meja batu.
Gou Long juga meninggalkan secarik kertas ....
Tidak ada pertemuan yang tidak berakhir, tidak ada pertemuan tanpa perpisahan. Jodoh antara kita, harus Gege akhiri untuk sementara waktu … Gege tahu ini pasti akan membuatmu sedih. Namun, kita tidak boleh melihat ke belakang, masa depan harus dikejar.
Kelak, kalau berjodoh kita akan berjumpa kembali.
Leng Twako orang yang baik, Gege melihat Yueyin Siaomei sangat menyukai Leng Twako, menikahlah dengannya, berikan pada Gege banyak keponakan yang imut-imut dan cantik saat Gege kembali ke sini nanti.
Hemm ….
Terlalu banyak Gege menulis hanya akan menambah kesedihan pada diri Yueyin Siaomei.
Pedang Phoenix Es, hanya ini yang bisa Gege berikan padamu.
Selamat tinggal.
__ADS_1