Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 193. Sepasang Iblis Hitam dan Putih


__ADS_3

“Tidak! Aku tidak sakit, hanya saja aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, semacam ada aura siluman yang lebih kuat menekanku sejak pagi tadi, aku tidak pernah merasakan tekanan seperti ini sebelumnya.” Jawab Eira, menjelaskan. Dia masih terlihat sangat gemetaran.


“Apakah kau merasakan aura dari Raja Siluman?” Gou Long kembali bertanya.


“Iya! Ini boleh dikatakan seperti itu, tapi tetap saja aku tidak tahu apa itu...” jawab Eira mengambang.


“Baiklah! Aku tidak akan bertanya lebih lanjut, sekarang bantu aku sebisamu, aku tidak akan memaksamu, aku hanya meminta padamu untuk memindai bau dari orang yang tadi melesat melalui arah ini, setelah itu kau sebaiknya kembali beristirahat dibalik jubah bajuku.” Ujar Gou Long, dia meminta Eira untuk melacak bau dari Ding Jia Li.


“Eemm!” Eira memukul-mukul lembut ekornya pada telinga Gou Long, “tidak apa-apa aku bisa bertahan, lagi pula sejak keluar dari halaman Asosiasi Alkemis, tekanan itu sudah berkurang banyak, aku akan terbiasa seperti biasa kembali...” Lanjut Eira, menjelaskan, dia menghentikan ucapannya seperti berpikir sejenak.


“Arah ini!..” sambil berbicara Eira menunjukkan arah pada Gou Long.


“Tekanan yang datang padaku, dan membuat aku menjadi seperti ini, itu bersamaan dengan sosok perempuan yang menekanmu dengan tangannya pagi tadi, aura perempuan itu terasa sangat sama dengan aura yang kumiliki, namun tekanan yang dia berikan membuat aku demam serta bergetar seharian ini.” Lanjutnya mengakhiri ucapan.


“Ooowh!...” Gou Long tidak menanggapi lebih lanjut, bergerak sesuai arahan Eira.


“Mungkinkah sosok perempuan misterius itu perwujudan dari Raja Siluman Roh Suci Ras Rubah Ekor Sembilan? Jangan-jangan sosok itu ibundanya Eira!” pikir Gou Long.


“Eira! Apakah kau mengingat masa kecilmu? Apa kau mengingat induk yang melahirkanmu? Atau sosok seorang ibu yang melahirkanmu?” tanya Gou Long.


“...” Eira tidak menjawab, dia terdiam lama, berusaha mengingat detail saat ia masih kecil dahulu. Menggelengkan kepalanya, “Tidak! Aku tidak mengingatnya sama sekali, saat aku berada di Hutan Seribu Ilusi terlalu banyak penggalan dari ingatanku yang telah hilang.” Jawab Eira bernada sendu.

__ADS_1


Gou Long tidak bertanya lebih lanjut, dia sangat paham bagaimana perasaan kehilangan sosok orang tua, sedangkan bagi Eira, jangan dikata sosok orang tua, ingatannya saja banyak yang tidak diingatnya lagi.


Dengan menggunakan penciuman dan mata tajamnya, Eira membimbing Gou Long bergerak sesuai arah yang diperkirakannya benar, setelah beberapa kali berganti arah, akhirnya arah yang Ding Jia Li pergi tempuh ditemukan juga.


Gou Long bergerak cepat sesuai petunjuk Eira, telinga tajam Gou Long dan Eira mendengar adanya suara pertarungan, mendekat ke arah pertarungan itu, suasana hati Gou Long sedikit memanas.


Dia telah melihat seorang kakek tua berkulit hitam legam bak pantat kuali tertawa besar, berjalan dan ingin membopong Ding Jia Li yang sudah tertotok.


Tangan Gou Long asal embat daun pohon yang ada di tempat tersebut, akurat dan tepat sasaran Gou Long melepaskan serangan senjata rahasia dengan daun tersebut, yang mengeluarkan suara berdesing membelah udara dingin dengan kecepatan lemparannya.


Beriringan dengan itu, Gou Long memforsir tenaga dalam sampai delapan puluh persen, mengalirkannya ke seluruh tubuh, lalu melesat dengan Teknik Memindah Jasad. Tubuh Ding Jia Li yang tertotok telah berada dalam bopong Gou Long.


Kecepatan ini tak dapat disaingi oleh orang tua yang berkulit hitam maupun kawannya yang berkulit putih.


Dia hanya bisa membelalakkan mata yang menyorotkan sinar kebahagiaan, “Rupanya dia mengejarku, kukira dia telah melupakan janji yang pernah dikatakannya dahulu.” Batin Ding Jia Li.


Kehilangan calon mangsanya membuat si orang tua berkulit hitam berang, “Keparat edan! Berani kau mengembat apa yang kuinginkan!?” teriaknya, seraya melepaskan sebuah pukulan telapak berwarna hitam serta berbau amis ke arah siluet bayangan Gou Long yang berkedip-kedip karena perputaran elemen petir yang membungkus tubuhnya.


Hanya berjarak tiga tombak, Gou Long berbalik menyambuti pukulan tersebut dengan Pukulan Telapak Arhat, elemen panas petir digunakannya dalam pukulan tersebut, keras melawan keras.


“Dhuarr!” Ledakan beradunya dua pukulan tersebut, memanfaatkan momentum ledakan itu Gou Long berusaha memperlebar jarak antara mereka.

__ADS_1


Orang tua berkulit hitam, memahami niat Gou Long, dia tidak membiarkannya begitu saja, “Ha ha ha! Hanya bocah baru beranjak dewasa sudah berani berebut denganku si Iblis Hitam ini...” dia menambahkan pukulan telapak hitam lainnya.


“Whooshh!” pukulan ini lebih menyengat dan hitam dari sebelumnya, si Iblis Hitam meningkatkan tenaga dalamnya pada pelepasan pukulan itu, “Bocah keparat! Rasakan Pukulan Arang Nerakaku! He he he.” Ujarnya, sambil terkekeh senang, dia sangat yakin Gou Long akan kalah dalam adu tenaga kali ini.


Lagi-lagi Gou Long berbalik, rasanya tidak akan bisa melepaskan diri kalau belum melenyapkan lawan tua itu, sebuah pukulan telapak dilepas menyambuti pukulan panas lawan, kali ini pukulan telapak dengan menggunakan hawa dingin.


“Dess! Cess!” hawa panas dan dingin saling membuyarkan satu sama lainnya saat keduanya beradu.


Untuk sesaat si Iblis Hitam terpaku di tempat keheranan, “Iblis Putih! Kenapa kau membantu keparat muda ini?” teriaknya, dia berpikir hanya Iblis Putih yang memiliki pukulan dengan hawa dingin, karena Gou Long sebelumnya telah melepaskan pukulan berhawa panas.


“Kau gila! Aku tidak pernah bergerak, dari tadi masih terus berdiri di sini, sudah nama Iblis Hitam, kulit hitam, hati hitam dan sekarang matamu pun rabun dan hitam. Ha ha ha!...” jawab Iblis Putih, tertawa senang mengejek kawannya.


Jeda saat Iblis Hitam terpaku di tempat dan percakapan antara Iblis Hitam dan Iblis Putih, sudah lebih dari cukup bagi Gou Long untuk melepaskan totokan di urat besar Ding Jia Li.


“Mundur ke belakangku dulu untuk sementara waktu! Jangan berlarian tanpa arah dan tujuan lagi! Akan kubereskan si hitam ini terlebih dahulu, baru hal-hal lain nanti kita bicarakan.” Perintah Gou Long lembut setelah membiarkan Ding Jia Li berdiri begitu ia terlepas dari totokan.


“...” Ding Jia Li tidak menjawab, anggukan kecil mengiringi gerak langkah kakinya ke belakang Gou Long.


Kesempatan itu juga dipergunakan Eira untuk meloncat ke dalam pelukan Ding Jia Li yang langsung disambuti dan dipeluknya, walaupun Ding Jia Li tidak tahu akan situasi Eira, namun ia telah melihat rubah itu di atas bahu Gou Long sejak awal Gou Long menyelamatkannya.


Kepatuhan yang diperlihatkan Ding Jia Li ini, mencoba menutupi kesalahan yang pernah ia perbuat, ia sadar telah melakukan kesalahan, yang membuat ia terjatuh dalam posisi diincar dan dijadikan mangsa oleh si Iblis Hitam. Seharusnya ia hanya perlu menahan diri dan tidak terbawa emosi.

__ADS_1


Gou Long tidak berpikir sejauh apa yang dipikirkan Ding Jia Li saat ini, Bagi Gou Long yang terpenting adalah dua orang tua di depannya saat ini, dari percakapan keduanya tadi, Gou Long menebak bahwa dua orang inilah yang disebut dengan Sepasang Iblis Hitam dan Putih.


Legenda dunia persilatan Daerah Selatan, kenapa berkeliaran di Daratan Tengah ini?.


__ADS_2