Pendekar Pengendara Petir

Pendekar Pengendara Petir
Chapter. 136. Tanah Suci Para Pendekar


__ADS_3

Begitu portal terbuka, berduyun-duyun kultivator melesat ke dalam portal tersebut, Gou Long juga bergegas masuk bersama dengan orang-orang Kuil Budha Emas dan murid-murid dari Sekte Pedang Suci.


Sensasi perpindahan dimensi kembali terasa.


“whoooss!....” Gou Long dapat merasakan terpaan suara angin di kedua telinganya.


Saat masuk tadi bersamaan, namun saat berada di dalam Tanah Suci ini Gou Long terpisah dengan orang-orang yang masuk bersama dirinya.


Di sana Gou Long benar-benar sendirian, tidak ada bayangan manusia, tidak ada hawa keberadaan siapa pun, bahkan setelah ia mencoba melacaknya dengan gabungan tenaga dalam dan kesadaran spiritual dasar.


“Apa yang terjadi? Apa aku tidak masuk ke Tanah Suci Para Pendekar? Ke mana Biksu-biksu yang masuk bersama diriku? Ke mana seniman bela diri lainnya?”


***


“Ranran! Bukankah itu calon adik iparmu?” Qiau Lien bertanya pada Hua Yan Ran.


“Iya! Itu memang dia. Setelah sekian lama tidak berjumpa dengan dia, akhirnya hari ini dapat melihat dia lagi,”


“Entah Mei ‘er juga akan berpartisipasi ke dalam Tanah Suci Para Pendekar ini, coba kalian lihat dari rombongan keluarga Hua? Apa terlihat wajah Mei ‘er di sana?” Hua Yan Ran menjawab pertanyaan sahabatnya, sekaligus meminta sahabatnya mencari posisi adik kecilnya.


“Mei ‘er pasti akan sangat bahagia kalau bisa berjumpa kembali dengan pemuda itu di sana.” Gumam Hua Yan Ran.


“Adikmu tidak akan salah pilih, lihatlah pemuda itu! Dia tidak hanya hebat dari segi tenaga dalam dan ilmu bela diri, ilmu alkemisnya rupanya juga sangat tinggi,” Ying Susu ikut menimpali percakapan itu.


“Iya! Di antara anggota Klan Hua terdapat adikmu di sana, dia juga bersama gadis yang kita temui di Lantai Ketiga Pagoda Dimensi Lain.” Lanjut Ying Susu.


Memang saat ini, Hua Yan Ran sudah lebih terbuka dengan dua orang sahabatnya, dia telah banyak menceritakan perihal tentang kehidupannya, termasuk itu kisah ia dan adiknya.

__ADS_1


Saat ini, dia dan Qiau Lien ikut bersama dengan anggota Klan Ying ke Lembah Gunung Berkabut, Hua Yan Ran juga memakai cadar tipis dari kain sutra sebagai penutup wajah, sehingga Klan Hua tidak mengenalinya.


Setelah melihat berbagai atraksi pamer tenaga dalam, dan berakhir dengan dibuka portal menuju Tanah Suci Para Pendekar. Hua Yan Ran, Qiau Lien, Ying Susu dan semua anggota Klan Ying yang lainnya segera melesat masuk ke dalam portal.


Sebenarnya bukan hanya Hua Yan Ran dan kawan-kawannya yang sudah melihat kehadiran Gou Long, kenalan-kenalan Gou Long yang lain juga melihatnya.


Termasuk Chung bersaudara, Han Zhong, Yu Yihua dan Yu Jiang, mereka ingin menyapa Gou Long, namun karena banyaknya orang-orang yang hadir di sana, terlebih lagi karena Gou Long bersama rombongan para Biksu, niat itu mereka urungkan.


Sampai akhirnya mereka melihat Gou Long melesat ke dalam Portal, dan hanya bisa berharap agar berjumpa di dalam sana.


Sementara di sudut lain, di antara kelompok anggota Klan Hua, Hua Mei dan Murong Qiu juga dapat mengenali Gou Long dari kejauhan. Namun, mereka tidak berniat menjumpai Gou Long.


Setelah hampir 3 bulan tidak bertemu, serta latihan ketat yang diterapkan Kakek Zhou, dan seiring bertambahnya usia, kedewasaan telah lebih mendominasi pikiran Hua Mei.


Dia sudah dapat mengontrol hatinya agar tidak menempatkan cinta secara berlebihan di dalam hati.


Apalagi anggota Klan Hua yang sebelumnya banyak meremehkan kualitas ilmu silatnya sekarang telah berubah banyak, setelah latih tanding terjadi antara Hua Mei dan Hua Jiang.


Kedua Gadis ini hanya dalam 3 minggu berada di Klan Hua, sudah mulai menjadi permata lain dari Klan, tidak hanya banyak pemuda Kota Zhenzu yang sudah mulai mengidolakan mereka, bahkan para gadis kota itu juga ikut-ikutan.


Keduanya sama-sama cantik, dengan pesona dan kelebihan masing-masing.


Ketika portal Tanah Suci Para Pendekar terbuka, mereka tidak langsung masuk. Tapi terlebih dahulu menunggu instruksi Patriak Klan Hua, sehingga mereka juga melihat Gou Long melesat masuk bersama para Biksu.


Perasaan Khawatir pada Gou Long tetap muncul dalam diri Hua Mei ketika dia melihat Gou Long masuk, Bahkan dia sampai berkata lirih, “Entah apakah dia juga memiliki peta Tanah Suci Para Pendekar!”


Mengenai peta ini juga hal lain yang tidak diketahui Gou Long, baik Klan Besar atau Sekte-sekte Utama, mereka memiliki peta khusus yang ditinggalkan oleh pendahulu mereka, peta wilayah yang sudah ditandai dengan logo-logo tertentu.

__ADS_1


Kekhawatiran itu segera ditepisnya, “Ahh! Sudahlah buat apa aku terlalu memikirnya, dia jelas lebih kuat dariku, dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri.”


Karena berpikir tentang Gou Long, Hua Mei menjadi tidak fokus terhadap keadaan sekitarnya, tarikan tangan dari Murong Qiu lah yang menyadarkan Hua Mei.


“Kita ikut masuk Mei ‘er! Anggota Klan Hua sudah bergerak masuk.” Ujar Murong Qiu.


“Iya Cici! Mari kita masuk.” Ajak Hua Mei.


Hua Mei dan Murong Qiu yang masuk sambil bergandengan tangan juga merasakan sensasi yang pernah mereka rasakan.


Berada di Tanah Suci Para Pendekar, Hua Mei dan Murong Qiu hanya berdua saja, sedangkan anggota Klan Hua yang lain menghilang entah ke mana.


Hua Mei dan Murong Qiu yang tetap bersama karena mereka berdua masuk sambil bergandengan tangan.


Begitulah keadaan sebenarnya dari Tanah Suci Para Pendekar. Masuk bersamaan, tapi ketika sudah di sana, mereka saling terpisah-pisah tidak dengan kelompoknya masing-masing, beruntung bagi yang memiliki peta sehingga bisa mengikuti petunjuk yang ada di dalam peta.


Merujuk pada peta yang dimiliki setiap sekte, Tanah Suci para Pendekar sangatlah luas, ini seperti gabungan dari 4 kota besar, dan membutuhkan 2 bulan penuh untuk menjelajahinya secara menyeluruh.


Tapi, jangka waktu yang telah ditetapkan semua Sekte dan Klan Tanah Suci Para Pendekar hanya dibuka selama sebulan penuh.


Seandainya tidak bisa keluar dari sana selama satu bulan itu, maka orang ini terpaksa harus menetap di sana, dan menunggu 10 tahun lagi agar bisa kembali ke Daratan Tengah.


Syukur-syukur kalau selama itu dia bisa bertahan, kalaupun mati maka dia akan termasuk ke dalam kategori salah satu dari sekian ratus ribu peninggalan Tanah Suci Para Pendekar.


Murong Qiu mengeluarkan petanya, “Patriak Klan Hua berpesan agar kita berkumpul di tempat ini.” Ujarnya sambil menunjuk arah yang sudah ditandai dalam peta.


“Kita bergerak secara terpisah dari Klan Hua saja Cici! Bukankah ini akan lebih tenang dan menyenangkan, walau bahayanya juga besar.” Ujar Hua Mei.

__ADS_1


“Cici ikut kemauanmu saja.”


Yang bergerak di Tanah Suci Para Pendekar dan meminta anggota Sekte atau Klannya berkumpul seperti itu bukan hanya Klan Hua, tapi juga Klan dan Sekte lain. Dengan bergerak seperti itu, tingkat keamanan akan lebih terjamin.


__ADS_2